
"Sudah siap?" Ranita mengambil tasnya dan bersiap berangkat.
Melati bergegas keluar kamar. "Yes, ready," sahut gadis itu sambil menenteng tas kuliahnya.
"Let' go," timpal Ranita. Keduanya pun berangkat ke kampus. Masih pagi, jam 7 lewat beberapa menit.
Ini minggu ujian akhir. Ya, semester pertama akan segera selesai. Melati sangat bersemangat menghadapi ini karena tidak lama lagi dia akan pulang berkumpul dengan orang-orang yang dia sayangi. Ranita juga sama, dia akan segera bertemu mama papa, Arnita dan baby ganteng. Liburan kali ini dia akan ke Palembang.
Tak terasa ujian selesai juga, tepat jam satu siang. Melati menunggu Ranita di kantin. Sepuluh menit menunggu, Ranita datang. Dia berjalan dengan seorang cowok lumayan keren.
"Okey. Thank you... Bye..." katanya kepada cowok itu sambil melambaikan tangan. Cowok berjaket biru gelap itu balas melambai, tersenyum dan meneruskan langkahnya.
Ranita menghampiri Melati dan duduk di sebelahnya.
"Siapa itu?" tanya Melati.
"Teddy. Lumayan cakep, kan?" Ranita tersenyum sambil dia membolak balik buku menu, memilih makanan yang mau dia pesan.
"Iya. Keren juga. Orang sini, ya?" tanya Melati lagi.
"Orang tuanya asli Medan. Tapi dia lahir dan besar di sini," jawab Ranita.
"Kalian pedekate?" Melati malah semacam interogasi ini.
"Gitu, deh... orangnya baik. Salah satu yang populer di fakultasku. Ortunya kerja di kementerian, makanya beken," jelas Ranita.
Ranita memanggil pelayan dan memesan makanan serta minuman. Sedang Melati tinggal menunggu pesanannya.
"Kamu beneran suka?" Melati masih melanjutkan interogasinya.
"Gimana yaa... kalau mau jujur, belum yang buat debaran-debaran di dada, sih... tapi dia mantap punya. Kenapa enggak? Lebih baik disayang daripada kita sayang tapi dianya ga balas sayang kita kan?" ujar Ranita.
"Hmm... ga salah juga. Asal baik-baik saja jalaninya," ucap Melati.
"Iya, Mama. Promise." Ranita mengedipkan matanya. Melati tersenyum lebar.
Tidak lama pesanan datang. Mereka menikmati makan siang dengan terus ngobrol.
"Abis ini aku mau kerja tugas di perpustakaan. Kamu ikut?" tanya Ranita.
"Iya, tapi sejam saja. Aku lanjut latihan band," jawab Melati.
"Ah, iya... kamu mau tampil dua minggu lagi ya. Nanti aku harus nonton," tandas Ranita. "Ga boleh sampai gagal. Kayak waktu itu."
Melati tertawa. Ingat Ranita sakit perut gara-gara makan pedas dan terpaksa tinggal di apartemen.
Tuntas makan siang, mereka menuju perpustakaan. Akhir semester perpustakaan penuh. Semua berkejaran menyelesaikan tugas kuliah. Untungnya masih ada bangku kosong untuk mereka duduk. Lumayan satu jam Melati dapat mengumpulkan bahan untuk papernya. Dan dia meninggalkan perpustakaan lebih dulu untuk latihan band.
"Hai, nongol juga vokalis kita..." sambut Alex.
__ADS_1
"Hai semua..." sapa Melati.
"Aduh... cewek Malang ini makin cantik saja eiihhh... gue demen, nih..." gurau Tony.
"Jangan asal lu... play boy cap tomat!" sahut Retha. "Ati-ati, Mel, jangan mau digombalin tuh anak."
Melati hanya tertawa saja dengan candaan teman-temannya. Alfaro yang sudah duduk di belakang drum menatapnya terus. Melati sekilas melirik Alfaro. Deg... kenapa tuh cowok ngliatin dia terus, yaa... Udah ah, fokus!!
Latihan mulai. Kali ini lebih fokus dengan aransemen jadi Melati lebih banyak nunggu musik. Dua jam selesai sudah.
Mereka duduk ngobrol di depan studio sambil menikmati minuman dingin. Alex, Toni, dan Alfaro duduk dekat pintu masuk studio, melantai. Aji dan Arthur duduk di kursi dekat jendela. Sedang Retha dan Melati duduk di sofa di sebrang mereka. Karena kebersamaan hampir satu semester membuat mereka mulai akrab. Melati nyaman dengan teman-teman bandnya ini. Apalagi Arthur yang seperti jadi kakak bukan sekedar koordinator tim. Arthur sebenarnya alumni UI dan anggota band juga dulu. Saking cintanya dengan musik, dia masih mau terus bantu angkatan bawahnya untuk dibina.
"Mela, gue rasa si Alfaro tuh suka ama lu, deh," kata Retha.
"Ha?" Melati menoleh menatap Retha. "Ah, kamu bisa aja."
"Serius. Palagi sejak dia putus sama ceweknya tuh, makin getol dia liatin lu pas kita barengan gini. Lu bener kagak rasa dia merhatiin lu?" ujar Retha.
"Nggak. Kita semua teman kan. Aku ga mikir aneh-aneh, la..." sahut Melati.
"Kalau lu ama dia, gue oke aja, Mel. Orangnya baek, cakep, pintar juga," tambah Retha.
Melati melihat ke arah Alfaro sekilas. Cowok itu sedang memperhatikan Alex yang serius bicara sambil dia teguk minuman di tangannya. Melati menunduk bertemu dengan tasnya. Di sana ada gantungan kunci dari Elvan. Dan wajah Elvan dengan senyumnya nongol dalam pikiran Melati.
"Kamu ini kejauhan deh, mikirnya," kata Melati.
"Emang selera lu cowok kayak gimana, sih?" tanah Retha.
"Ga gimana gimana juga. .. yang penting pas di hati..." jawab Melati.
"Jadi Alfaro belum pas, nih..." kejar Retha. Melati hanya tersenyum tipis.
"Udah ah, gue duluan, yaa.." kata Retha. "Ada janji ame nyokap nemenin belanja ke mall." Retha pun berdiri dan pamitan sama teman-temannya.
Yang lain ikut berdiri dan pada pulang. Melati dan Alfaro yang masih tertinggal. Melati masih mau balik ke perpustakaan karena Ranita katanya akan tunggu dia selesai latihan baru pulang bareng.
Ddrttt...
Melati lihat HP-nya. Dari Ranita.
Ranita
- Mel, maaf ya, aku udah duluan. Tadi diajak teman temani dia belanja, jadi aku sekalian pulang.
Melati
- oke
Melati menyimpan HP di tasnya dan beranjak keluar ruangan.
__ADS_1
"Mel..." Alfaro memanggilnya.
Melati tidak melanjutkan langkahnya. Dia menoleh ke Alfaro.
"Boleh bicara sebentar?" kata cowok itu dan sudah mendekati Melati.
"Kenapa?" tanya Melati.
Alfaro duduk. Terpaksa Melati ikut duduk lagi.
"Mel, aku mau jujur sama kamu. Waktu kita SMA kurasa kita sudah mulai dekat. Dan aku ada hati sama kamu. Dan hubungan kita tidak berlanjut karena aku harus pindah." Alfaro langsung menyampaikan maksud hatinya.
"Ketika kita bertemu di perpustakaan hari itu, aku benar-benar tak percaya kita bisa bertemu lagi. Dan sekarang jadi satu tim di Red Sky. Seperti dibuka lagi kesempatan kita bisa sama-sama. Mel, aku ingin kita memulai lagi dari awal," kata Alfaro.
Melati terdiam. Ternyata Retha benar. Tapi Alfaro baru saja putus sama pacarnya. Apa semudah itu dia beralih hati?
Ddrrttt... HP Melati bergetar. Dia mengambilnya dari tasnya. Adik Kecil. Sudah hampir seminggu dia tidak kontak dengan Melati. Kenapa dia bisa tahu gadis itu sedang didekati cowok lain dan WA sekarang?
"Maaf, aku cek HP dulu," kata Melati. Alfaro hanya mengangguk.
Adik Kecil
- Hai... yang lagi sibuk ujian... lancar kan?
Melati
- gitu deh
Adik Kecil
- pulang kapan?
Melati
- awal bulan
Adik kecil
- wait for my surprise ☺☺
Melati menyimpan HP-nya lagi.
"Mel... beri aku kesempatan untuk mengenal kamu lebih jauh," kata Alfaro.
"Al, maaf, aku tidak bisa..." Melati menunduk. Terus terang saja berdekatan begini dengan Alfaro tidak bisa dia pungkiri kalau rasa yang dulu bisa saja datang. Dia tidak mau mencobai dirinya sendiri.
"Kamu... ada pacar?" tanya Alfaro.
"KIta berteman saja, Al." ujar Melati. "Aku pulang dulu, ya." Tanpa menunggu menit berikut Melati langsung meninggalkan Alfaro, pulang.
__ADS_1
Alfaro masih terdiam di tempatnya. Melati menolaknya. Benarkah dia sudah punya kekasih? Tapi dia tidak pernah lihat Melati berduaan dengan cowok. Atau memang dia sudah tidak ada hati lagi untuk Alfaro? Alfaro meremas rambutnya. Dia membulatkan hati untuk terus mengejar gadis itu.