Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 79 - Guncangan Besar


__ADS_3

Musim hujan mulai datang. Perubahan cuaca membuat orang harus lebih aware agar tidak mudah kena virus karena pancaroba. Panas dan hujan kadang datang tak menentu. Hari yang cerah dan panas tiba-tiba berganti mendung dan hujan.


Program besar Melati dan Elvan pelan-pelan digarap. Elvan membawa Melati ke studio di rumahnya. Dia tunjukkan lagu-lagu yang dia buat untuk Melati. Mereka mulai latihan dan mulai rekaman. Farel, Damar, juga diajak main musik sama Elvan. Tentu saja kedua anak itu senang sekali. Farel bagus main drumnya. Damar di keyboard. Jadi Elvan yang main gitar.


Untuk pelatihan bagi anak-anak sudah mulai dilakukan pembicaraan dengan orang-orang terlibat.


"Pertemuan dengan Bu Lidya dan Pak Hadi lancar. Beberapa teman yang aku hubungi juga setuju akan membantu. Dengan senang hati Bu Lidya dan Pak Hadi membuka yayasan jadi pusat latihan buat anak-anak. Pelan-pelan peralatan akan kita siapkan. Sementara latihan juga bisa mulai." Elvan menyampaikan pada Melati hasil rapat membahas rencana membuka tempat pelatihan kesenian anak.


"Sudah ada sepakat kapan akan dibuka?" tanya Melati. Mereka ada di rumah keluarga Adinata sore itu.


"Kita tidak buru-buru. Kita atur dulu baru kita mulai. Selanjutnya kita masih akan cari pelatih. Untuk musik paling tidak tiga orang, vokal dua, tari dua atau tiga. Panjang Mel, harus demi setahap," jelas Elvan.


"Para donatur lainnya tahu soal rencana ini?" Melati merapikan kaosnya yang sedikit miring lalu membenarkan posisi duduknya.


"Ya, mereka tidak masalah. Karena kan ini mengembangkan potensi anak-anak. Tidak ada pengaruh juga masalah pendanaan yang mereka alokasikan untuk yayasan. Pusat pelatihan murni dari dana yang aku usahakan," kata Elvan.


"Kamu mulai fokus di sini, gimana kantor? Om Tirta ga keberatan?" Melati meluruskan kakinya.


"Papa nggak masalah. Dia tahu hati aku, Mel. Selain itu kak Azka kan masih bantu di kantor juga." Elvan melepas jaketnya dan dia taruh di sebelahnya.


"Bagus deh, kalau begitu." Melati tersenyum.


"Oya, kamu ingat temanku yang bantu aku saat masalah dengan Fara? Yang bekerja di Club Bunga? Hasan namanya," kata Elvan.


"Iya. Ingat. Cuma aku kan belum pernah ketemu." Melati mengangguk.


"Nanti dia juga akan bantu. Tinggal dia sesuaikan dengan jam kerjanya."


"Dia bisa musik juga?"


"Gitar lumayan dia. Untuk mengajar anak-anak masih okelah."


"Mas, apa semua yang terlibat sudah paham kalau tempat pelatihan ini adalah kegiatan sosial? Maksudnya mereka yang membantu mengajar di sana ga dapat gaji?" Melati memastikan bahwa info ini jelas pada mereka yang akan bantu.

__ADS_1


"Tentu. Itu yang utama aku sampaikan. Jika mereka ada hati, mereka akan dengan sukacita bergabung."


Melati manggut-manggut.


"Single-mu hampir rampung, Mel. Mungkin bulan depan sudah rilis. Kita gerilya sendiri, yaa... kerja keras dari awal, dari nol. Tapi pasti bisa," kata Elvan.


"Ya... pasti bisa." Melati mengangguk mantap.


HP Melati berbunyi. Ibunya telpon. Dari siang ibu memang pergi ikut ayah ke Florian Park.


"Ya, Bu... Apa? Serius? Hah?? .... Ayah? Oohh... Ya Tuhan.... iya, Bu... iya..." Melati nampak kaget dengan kabar yang dia terima dari ibunya lewat telpon. Melati kelihatan pucat.


"Ada apa, Mel?" Elvan yang penasaran dengan berita ditelpon langsung bertanya.


"Kantor Florian Park kebakaran. Aku harus ke sana." Melati berdiri. Tapi terasa tubuhnya gemetar.


"Kebakaran?" Elvan menatap Melati.


"Iya... tim pemadam... baru sampai lokasi." Suara Melati terbata-bata.


Melati masuk ke dalam pamitan adik-adiknya. Lalu bersama Elvan bergegas pergi ke Florian Park. Sepanjang jalan Melati terus berdoa agar tidak terjadi sesuatu yang lebih mengerikan.


"Bagaimana Om dan Tante?" tanya Elvan sembari dia menyetir.


"Ibu dan Ayah baik-baik. Tapi ada tiga karyawan yang jadi korban. Belum tahu akan selamat atau tidak," jawab Melati.


"Ya Tuhan.... tolonglah... tolonglah..." doa Melati tidak putus-putus.


40 menit kemudian mereka tiba di lokasi. Api nampak masih menyala tapi tinggal sedikit. Ada dua mobil pemadam di sana. Di sekitar ada orang-orang ikut melihat kejadian. Ada yang penduduk sekitar, ada yang pengunjung area wisata ini.


Melati dan Elvan mencari Sekar dan Gilang. Gilang sedang bicara dengan petugas. Tapi Melati tidak melihat ibunya.


"Ayah..." panggil Melati. Dia mendekati ayahnya. Elvan ada di belakangnya.

__ADS_1


"Mel, kamu sudah datang," kata Gilang. "Elvan..." Sekarang melihat Elvan.


Nampak ada sorotan tegang dari mata Gilang. Tapi dia tetap berusaha tenang.


'Iya, Om." Elvan mengangguk.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Melati.


"Ada masalah dengan listrik dari bagian belakang. Begitu cepat kejadiannya, tiba-tiba terdengar ledakan dan api sudah membara," jawab Gilang.


"Ayah dan Ibu tadi sedang mengantarkan tamu melihat area. Mereka rencana mau buat pesta ultah pernikahan di sini. Jadi Ayah dan Ibu cukup jauh dari kantor. Tiga karyawan terluka. Ibu ikut mendampingi ke rumah sakit," lanjut ayah.


"Ayah..." Melati seperti tidak tega melihat wajah ayah. Kelihatan lesu dan sedih. Melati tahu betapa perjuangan ayah ingin membangun tempat ini. Bertahun-tahun hanya impian. Sempat ayah sudah menyisihkan harapan untuk Florian Park ketika harus bekerja di Jakarta.


Dan baru mulai ada hasil yang jelas dari semuanya harus mengalami ini. Melati tahu ini guncangan besar buat ayah. Dada Melati tiba-tiba terasa penuh dan berat.


"Ayah, aku temani Ibu, ya..." kata Melati. "Ayah tidak apa-apa aku tinggal?"


"Pergilah. Ibu mungkin lebih membutuhkan kamu. Di sini ada Pak Nano dan Tiana," kata ayah. Pak Nano adalah asisten ayah. Dan Tiana pengawas pegawai.


Melati menarik tangan Elvan mengajaknya segera pergi.


"Saya antar Melati, Om," pamit Elvan pada Gilang.


Melati cepat menuju mobil. Begitu masuk dalam mobil, Melati langsung menangis. Elvan meraih kepala Melati dan meletakkan di dadanya. Melati mendekap Elvan. Dia mencari rasa nyaman di sana. Hatinya pilu melihat apa yang ayah bangun harus tiba-tiba habis.


"Kenapa Tuhan ijinkan ini, Mas? Aku sangat sedih," kata Melati di tengah tangisnya.


Elvan mengusap kepala Melati. "Tetap yakin Tuhan tidak salah mengijinkan ini terjadi. Kita sabar saja, yaa..." ujar Elvan.


Melati mengangguk pelan.


"Kita berangkat sekarang." Elvan mengangkat muka Melati dan menghapus air matanya.

__ADS_1


Melati kembali ke posisi duduk semula. Elvan menyalakan mobil menuju ke rumah sakit tempat tiga pegawai itu dirawat.


Elvan ikut merasa miris dengan kejadian ini. Tapi siapa yang tahu jika akan mengalami musibah seperti ini. Elvan berharap semua segera baik lagi. Dengan rasa galau Elvan terus menyetir menuju rumah sakit.


__ADS_2