Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 89 - Jangan Pernah Tinggalkan Dia


__ADS_3

Elvan dan Farel saling pandang. Apa yang terjadi dengan Tirta? Erika masih menunjukkan wajah cemas.


"Ma, bagaimana?" tanya Elvan lagi.


"Harus operasi pemasangan ring," jawab Erika.


"Haruskah?" Farel menyahut.


"Jika dalam dua hari tidak ada perkembangan signifikan, itu yang harus dilakukan." Erika menjawab dengan suara sedikit bergetar.


Mau bagaimana lagi? Dokter pasti tahu apa yang paling baik untuk kondisi Tirta. Ketiganya hanya terdiam. Terbawa pikiran masing-masing. Elvan kemudian memilih duduk di luar ruangan. Erika dan Farel tetap di dalam.


Pikiran Elvan bukan hanya dipenuhi papanya. Tapi juga Bondan dan Melati. Dia tahu lagi-lagi Melati marah dengannya. Bahkan hubungan mereka belum kembali baik. Bagaimana caranya dia mengatasi ini.


"Malam, Elvan." Terdengar ada yang menyapa.


Elvan menoleh. Azka datang bersama Mateo.


"Malam, Om." Elvan membalas sapaan Mateo.


"Bagaimana Papa, El?" kata Azka yang baru bisa ke rumah sakit.


Dia baru mendarat dari perjalanan luar kota dan mendapat kabar soal papa. Pulang sebentar lalu ke rumah sakit. Kebetulan dia bertemu Mateo di depan rumah sakit tadi.


"Tidak baik, Kak," jawab Elvan. Terdengar galau suara Elvan.


"Aku ke dalam dulu," kata Azka. Dia masuk ke dalam ruangan diikuti Mateo. Beberapa waktu kemudian Azka dan Mateo kembali keluar ruangan.


"Aku jadi kuatir dengan Papa." Azka berkata sambil


melangkah ke dekat Elvan dan duduk di sebelah adiknya itu.


Mateo ikut duduk tapi agak jauh. "Papamu harus istirahat total dari pekerjaannya. Bukan apa, dia sayang pekerjaannya, tapi mesti lebih sayang dirinya," kata Mateo.


"Benar, Om. Setelah ini saya akan urus perusahaan." Elvan menoleh pada Mateo.


"Oya, pengurusan surat-surat untuk Rumah Garuda hampir selesai, El. Dalam beberapa hari semua beres," ujar Mateo.


Elvan memang meminta Mateo mengurus surat ijin Rumah Garuda agar lebih resmi di mata negara dan bukan wadah liar.


"Baik, Om. Terima kasih banyak." Elvan pindah mendekati Mateo. Muncul ide dalam pikirannya sehubungan dengan Bondan.


Elvan kemudian menceritakan masalah yang terjadi pada Bondan. Dia minta nasihat Mateo bagaimana baiknya agar mereka bisa membawa Bondan tapi tidak menyalahi aturan. Maka Mateo pun menjelaskan dan memberi beberapa saran yang bisa dilakukan untuk itu. Elvan sedikit lega, dia bisa bertindak sekarang untuk menolong Bondan.


Azka dan Mateo meninggalkan rumah sakit sekitar jam 11 malam. Azka tidak menginap karena sangat letih dari perjalanannya. Selain itu Adista sedang hamil tua anak keduanya. Dia tidak mau sering meninggalkan istrinya itu.


Malam itu berlalu sangat lambat rasanya. Elvan hampir tidak tidur. Duduk di kursi sambil menyandarkan kepala ke tembok membuat badannya pegal semua.


"El, kamu pulang, ya... kamu harus ke kantor pagi ini. Jangan sampai kamu juga sakit nanti. Biar mama sama Farel jaga papa. Dia libur kok hari ini," kata Erika. Dia elus pundak Elvan.


"Baiklah, Ma." Elvan manut. Dia berdiri. "Kalau ada apa-apa cepat kabari aku."


"Iya, pasti," kata Erika.


Hampir jam 4 pagi. Elvan pulang. Lumayan dia bisa tidur setidaknya tiga jam sebelum pergi ke kantor.

__ADS_1


*


Di kantor Florian Park.


Melati melihat ayahnya yang bertelpon dengan serius. Sepertinya ada sesuatu. Mereka baru sampai kantor. Gilang tadi memastikan jadwal rapat dengan beberapa rekan bisnis jam 10 pagi ini.


"Kenapa, Yah?" Melati bertanya begitu ayahnya selesai telepon.


"Pak Tirta masuk rumah sakit. Kemarin siang. Dan kondisinya tidak baik. Rapat akan diwakili Elvan nanti," jawab ayahnya.


"Om Tirta masuk rumah sakit, kemarin siang?" ujar Melati. Berarti waktu Elvan terima telpon dari mamanya itu. Kenapa Elvan tidak memberitahunya? Apa karena dia masih marah pada Elvan? Melati jadi merasa sangat tidak enak.


"Ayah, boleh aku ke rumah sakit?" tanya Melati.


"Pergilah. Mungkin Mama Elvan perlu teman di sana," kata ayahnya.


"Iya. Terima kasih, Ayah." Melati membereskan pekerjaannya. Sejam kemudian dia bergegas berangkat ke rumah sakit.


"Tante Erika..." Melati masuk ke kamar Tirta dirawat. Erika menoleh pada Melati.


Erika sendirian saja, Farel pulang tadi jam 7 pagi.


"Hai, Mel... terima kasih sudah datang. Pasti Elvan memberitahu kamu," kata Erika.


Melati tidak menjawab apa-apa. Tidak enak jika Melati bilang dia tahu dari ayahnya. Di ranjang Tirta masih tidur.


"Bagaimana Om Tante?" tanya Melati. Dia mandi ranjang Tirta.


"Belum ada perkembangan. Masih menunggu sampai besok," jawab Erika. Kelihatan wanita cantik ini sangat letih. Hatinya gundah melihat kondisi suaminya.


"Ya.. Tante cuma bisa doa, Mel. Pasrah dan minta yang terbaik," ucap Erika lirih.


"Mel..." Tirta ternyata sudah bangun. Dia melihat Melati.


"Om..." Melati menoleh pada Tirta. Dia maju mendekat pada lelaki yang terlihat begitu lemah.


"Duduklah..." kata Tirta pelan.


Melati menarik kursi yang ada di belakangnya.


"Apa kabar? Lama Om tidak bertemu kamu, Mel. Harus sakit dulu ya, baru Melati mau tengok Om." Tirta memandang Melati.


Benar. Lebih sebulan Melati tidak ke rumah Elvan. Selain sibuk di kantor dan Rumah Garuda, hubungannya dengan Elvan yang sedang buruk membuat Melati tidak berpikir ke rumah keluarga Edgar.


"Maafkan saya, Om," kata Melati. Dia merasa tidak enak sekali.


"Kamu sedang tidak ada masalah dengan Elvan, kan?" tanya Tirta.


Mengapa bertanya begitu? Apakah Tirta tahu sesuatu? Atau ini perasaan kuat seorang ayah?


"Mel... waktu pertama kamu ke rumah, di acara ulang tahun pernikahan Om dan Tante... Om masih ingat... Elvan belum bilang apapun tentang kamu... Tapi, malam itu... Om lihat dia mendekati kamu. Caranya dia... memandang kamu Om bisa tahu... dia sangat sayang padamu... Dia jatuh cinta padamu..." Tirta bicara agak terbata.


Melati mendengarkan saja. Meski ada sedikit cemas melihat lemahnya Tirta bicara.


"Lalu, waktu ulang tahunnya... yang ketujuh belas.. dia bilang, dia akan membawa kekasihnya... Om tidak kaget melihat Melati ada di kafe..." lanjut Tirta. "Melihatmu lebih dekat... Om tahu, kamu wanita yang baik... kamu bisa mendampingi putra Om... Om senang dia... menemukan kamu untuk hidupnya..."

__ADS_1


"Mas... sudah, ya... jangan dipaksa bicara banyak..." kata Erika. Dia berdiri di dekat kaki suaminya itu.


"Tidak apa, Sayang... aku tidak tahu apa waktuku masih cukup... sedikit lagi..." kata Tirta.


"Om..." Melati meraih tangan Tirta dan menggenggamnya. Hatinya sangat terharu. Dia tidak menyangka sejak awal pria bijaksana ini memperhatikan dirinya.


"Mel... berjanji pada Om... jangan pernah tinggalkan dia... jangan pernah... tinggalkan Elvan..." Suara Tirta makin lemah.


"Om..." Melati makin cemas. Wajah Tirta memucat.


"Mel... berjanjilah.." Hampir tak terdengar lagi suara Tirta.


"Iya... saya janji, Om... Saya janji apapun yang terjadi saya akan bersama Elvan..." Sambil berkat air mata Melati sudah mengalir di pipinya.


Tirta tersenyum tipis lalu dia mendekap dadanya. Wajahnya makin pucat. Tangan dan kakinya begitu dingin. Badannya mulai gemetar.


"Mas..." Erika mendekati Tirta. Dia sudah tidak bereaksi. Cepat Erika menekan tombol panggilan darurat. Erika terlihat begitu cemas.


Segera dua perawat datang. Mereka lihat kondisi Tirta. Kemudian salah seorang lari keluar.


"Suster..." kata Erika.


"Ibu, bisakah tunggu di luar? Kami akan tangani pasien," kata perawat itu.


Erika dan Melati keluar dengan perasaan campur aduk. Tak lama perawat tadi datang dengan dokter. Mereka masuk ruangan dan melihat kondisi Tirta.


Di luar ruangan Melati dan Erika hanya bisa berdoa. Tidak tahu harus bagaimana.


"Ma? Papa kenapa?" Elvan muncul. Dia tahu sesuatu terjadi. Karena kamar ditutup sedang Erika ada di luar. Dan... Melati... Elvan melihat Melati, lalu menoleh pada mamanya lagi.


"Makin buruk." Erika menangis.


Elvan memeluk mamanya. Wanita yang biasanya tegar itu kini menjadi rapuh. Hatinya sangat sedih. Beberapa kali Tirta keluar masuk rumah sakit. Tapi kondisi ini yang paling buruk. Dia sangat takut jika harus kehilangan suaminya. Dia tidak mau, dia belum siap.


Elvan memeluk mamanya erat. Dia juga ikut menangis. Air matanya mengalir di ujung matanya dan dia usap. Melati menatap ibu dan anak itu. Hatinya juga sangat sedih. Elvan adalah pria yang sangat dia cintai. Erika adalah wanita yang sangat baik dan lembut. Dia bahkan merasa menemukan ibu yang lain dalam diri Erika sekalipun statusnya dengan Elvan masih pacaran sampai saat ini.


Dengan perasaan yang juga cemas, Elvan mengajak mamanya duduk. Melati mengambilkan minum untuk Erika yang dia bawa di tasnya. Setelah beberapa waktu Erika mulai tenang. Elvan tetap di sisi mamanya dan membiarkan Erika bersandar di bahunya.


Melati duduk tak jauh dari Elvan dan Erika. Hatinya terus berdoa agar sekali lagi Tuhan berikan keajaiban untuk Tirta. Dia ingin Tirta melihat janji yang dia ucapkan hari ini akan terjadi. Ya, apapun yang terjadi dia akan tetap di sisi Elvan dan mencintainya sepenuh hati.


"Ibu Erika..." dr. Prima keluar ruangan.


"Dokter..." Erika berdiri. Dia mendekati dokter. Elvan mengikuti di belakangnya.


"Sementara kondisi Pak Tirta cukup stabil, meski masih lemah. Kami akan lakukan operasi malam ini. Sebelum kondisi makin buruk. Bisa Ibu ikut untuk mengurus administrasi? Ada beberapa surat harus ditandatangani," kata dr. Prima.


"Baik, Dokter," ujar Erika.


"Kamu di sini temani Papa." Erika berkata pada Elvan lalu menyusul dr. Prima.


Elvan memandang Erika dan dr. Prima yang berjalan menjauh.


"Kenapa tidak bilang kalau Om Tirta masuk rumah sakit?" Melati mendekati Elvan.


Elva menatap Melati.

__ADS_1


__ADS_2