Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 35 - Rahasia Ranita


__ADS_3

Teman-teman di Red Sky dengan sangat terpaksa melepas Melati. Alfaro yang tahu situasi yang sebenarnya justru meredakan emosi teman-teman untuk bisa memahami pilihan Melati. Hak Melati untuk tetap bergabung di band atau dia memilih hal yang lain. Ketika mereka meminta Arthur untuk membujuk Melati, Arthur juga mengatakan hal yang sama seperti Alfaro.


Hari-hari berikutnya Melati sudah lebih tenang. Dia sibuk dengan tugas di perpustakaan dan jurnalistik. Untuk menyanyi dia makin selektif. Dia hanya akan terima job yang acara dilakukan siang hari atau sore. Dia beri batas jam 7 malam dia sudah harus di apartemen. Dia masih ada rasa takut keluar malam, apalagi sendirian.


Alfaro rutin menemuinya di perpustakaan dengan alasan kerja tugas. Tapi Melati tahu pria itu masih menyimpan harapan padanya. Melati tetap paham memberi batas bagaimana dia harus bersikap pada cowok itu.


Alfaro sendiri akhirnya tahu siapa pacar Melati dari Ranita.


"Elvan? Cowok tinggi putih itu kalau ga salah? Yang langsung terkenal karena jago basket dan pintar musik itu, kan?" Alfaro menegaskan Elvan yang disebut Ranita benar seperti yang ada dalam pikirannya.


"Iyaa.. keponakannya Pak Diko," jelas Ranita.


"Ah... iya... Berarti lebih muda dong dari Melati?" ujar Alfaro.


"Trus apa yang salah? Beda setahun doang kira-kira." Ranita merasa Alfaro masih penasaran dengan Melati.


"Sudah lama mereka jadian?" tanya Alfaro lagi.


"Kenapa kamu nanya mulu... kayak biang gosip tahu nggak? Yang penting mereka itu saling sayang. Mereka bahagia. Iya, kan?" Ranita melanjutkan. "Kamu sudah tutup pintu buat Melati, deh. Cari cewek lain. Pasti ada yang pas buat kamu."


"Hee... heee... nyesel aku ikut pindah dulu, Ran. Kalau aku ngotot kos di Malang waktu itu, kayaknya udah jadian aku sama Melati." Alfaro mengangkat bahunya.


"Percuma disesali. Kalau film bisa ganti skenario, kalau novel bisa dirubah alur ceritanya. Uda lewat jauh, Al.. Jangan ganggu Melati. Ntar dia malah ga mau temenan sama kamu baru tau rasa," timpal Ranita.


Alfaro juga sesekali lihat sosmed Melati dan Elvan. Tapi keduanya makhluk yang sama urusan dunia maya. Jarang upload, posting, bikin status. Jadi tidak bisa ketahuan hubungan mereka semakin dalam atau mulai runyam.


Sedang Melati ada yang mengganggu pikirannya sampai saat ini. Ranita masih saja sering pulang hampir tengah malam. Dia jadi tidak yakin dia benar-benar pergi untuk urusan kuliah. Apalagi kadang dia sudah pulang, hanya sebentar sudah pergi lagi. Dijemput tiga temannya itu. Atau pergi dengan Teddy. Melati mulai bertanya apa ada yang dia tutupi dari Melati? Sebenarnya apa yang dilakukannya di luar sampai malam? Ah, Melati menepis jauh-jauh pikiran buruk yang mulai berkeliaran di otaknya. Ranita pasti tahu menjaga dirilah.


Hampir setengah 6 Melati meninggalkan perpustakaan sore itu. Biasa mendekati akhir semester perpustakaan penuh sampai waktu tutup harus molor karena pengunjung enggan pulang. Melati rencana mau beli keperluan untuk di apartemen sebelum pulang. Dia naik angkot saja ke sana karena masih dilalui jalur angkot. Begitu turun dari angkot Melati mendengar tawa beberapa perempuan yang begitu lepas. Melati menoleh ke arah itu.


Dilihatnya ada 4 gadis baru turun dari mobil mewah dan berjalan ke arah sebuah cafe besar. Dia merasa kenal gadis-gadis itu. Bukannya itu Ranita dan ketiga temannya itu? Ini kafe kata orang kafe plus plus. Malah ada yang bilang tempat itu night club hanya dikemas seperti kafe. Melati mempertajam penglihatannya.


Ya, itu Ranita. Kenapa dia pakai baju minim begitu? Gadis itu memang agak berani dalam berpakaian baik soal warna atau model dibanding Melati. Tapi selama ini masih dalam taraf sopan juga. Ini, dia pakai hot pan dengan kaos tanpa lengan. Mana kaosnya tidak menutup penuh bagian perutnya.


"Ya Tuhan..." mata Melati melotot. Jangan-jangan... Ah, mana mungkin seperti itu? Melati tidak bisa menahan pikirannya tetap positif. Dia juga tidak mungkin ke sana.


Nanti saja di rumah dia akan tanya pada Ranita. Sebaiknya dia bergegas belanja dan pulang. Tapi tentu saja pikiran Melati tidak bisa tenang. Sampai di apartemen Melati bahkan tidak bisa makan. Dia hanya menelan sepotong roti dan minum air putih.


Tiba-tiba dia merasa perlu cek kamar Ranita. Melati masuk ke sana. Kamar memang tidak pernah dikunci. Dia melihat sekeliling kamar untuk memasuki ada sesuatu yang bisa jadi petunjuknya. Di meja, di laci, semua aman. Melati beralih ke lemari baju. Dia cek pelan-pelan sampai dia temukan di bawah baju yang digantung ada kotak cukup besar.

__ADS_1


Melati mengambil kotak itu dan membukanya. Di dalamnya terlipat rapi tumpukan pakaian sejenis yang kurang kain itu. Melati terbelalak. Ranita menyimpannya di kotak tersendiri. Apa artinya Ranita takut Melati melihatnya? Jadi selama ini kalau Ranita pergi keluar malam itu...


"Ya, Tuhan... ya Tuhan..." Melati mulai merasa jantungnya tidak karuan.


Melati menyimpan kembali kotak itu. Sebisa mungkin dia tidak mengubah posisi isi kotak agar Ranita tidak curiga. Bagaimana ini? Apa yang harus dia lakukan?


Dia harus bicara dengan seseorang. Ya, Elvan. Dia ambil HP-nya dan menelpon cowok itu.


"Hai... Bungaku cintaku..." Terdengar suara Elvan riang.


"Hai, El. Lagi sibuk ka?" tanya Melati.


"Abis basket sama Kak Azka dan Farel. Ini baru mau mandi. Masih bau busuk," jawab Elvan.


"Aku mau bilang sesuatu," kata Melati datar. Dia agak ragu sebenarnya. Tapi dia tidak bisa tinggal diam.


"Sesuatu serius, ya?" Suara Elvan berubah ikut datar.


"Ranita..." Dan Melati mulai menceritakan tentang Ranita. Kebiasaannya pulang malam, apa yang dia lihat hari ini dan temuannya di kamar Ranita.


"Woowww..." gumam Elvan.


"Pertama, ajak dia bicara dulu. Lihat reaksinya gimana. Kedua, sambil terus ikuti dia. Pastikan kamu punya bukti yang tidak bisa dia sangkal," jawab Elvan.


"Kalau mengikuti dia aku ga berani. Itu kafe horor gitu..." tandas Melati.


"Hmm... kamu ada teman ga di sana yang bisa temani? Yang kamu percaya untuk jadi tim?" tanya Elvan.


"Kok kayak mau jadi mata-mata, yaa..." sahut Melati.


"Detektif laa... haa... haaa..." Tertawa.


"Yee.. malah tertawa." Melati cemberut.


"Sorry... sorry.." Elvan menyahut.


"Baiklah. Aku akan coba saran kamu, yaa..." kata Melati.


Melati memikirkan cara dan waktu yang tepat untuk bicara dengan Ranita. Dan untungnya dua hari kemudian Ranita sore hari tidak ke mana-mana. Melati gunakan waktu itu untuk bicara dengan Ranita.

__ADS_1


"Ran, kapan jadwal ujian?" tanya Melati pada Ranita. Mereka nonton TV bareng setelah makan malam.


"Minggu depan mulai. Bukannya kita jadwal sama, ya?" Ranita tanya balik.


"Kelasku ada yang mulai duluan minggu ini." Jawab Melati. "Tugas, semua aman, kan?"


"Gitu laa.. ada yang sudah ada yang belum." Ranita menjawab tanpa menoleh. Matanya lurus menatap TV.


"Bukannya hampir tiap hari kamu kerja tugas? Apa sesulit itu jadi belum kelar?" tanya Melati lagi. Dia memandangi sekilas Ranita.


"Fakultas kita kan beda, Mel. Jelas beda juga tuntutannya. Aku ini ga punya otak secerdas kamu. Aku perlu waktu lebih banyak untuk kerja." Suara Ranita meninggi.


"Iya... hanya memastikan aja kamu baik-baik," ujar Melati.


Diam.


"Apa kabar teman-temanmu? Siapa? Lila, Sonia dan..." Melati sengaja menggantung kalimatnya.


"Debra," sahut Ranita. "Mereka baik."


'Biasanya kalian abis belajar pergi jalan atau ngapain gitu?" tanya Melati lagi.


"Kenapa kamu tanya terus dari tadi?" Ranita menoleh ke arah Melati. "Kamu pikir aku macam-macam. Aku ini uda gede, Mel. Usia kita sama. Aku ga pernah urus apa-apa yang kamu lakukan. Kuharap kamu juga bisa hargai dong, aku mau apa. Aku tahu apa yang aku kerjakan."


"Ranita, bukan begitu... aku..."


"Kita ini tinggal di kota besar, mesti bisa menyesuaikan diri. Kalau kamu tidak suka, terserah saja. Kamu ga betah di sini dengan gayaku sekarang, kamu bebas kok, mau ke mana, tinggal di mana." Ranita membanting remote yang dipegangnya dan masuk ke kamar.


Melati terkejut. Ranita marah besar padanya? Apa dia salah menanyakan hal-hal tadi? Apakah terlalu berlebihan? Dan barusan, dia bilang apa? Melati bebas pergi kalau tidak suka dengan gayanya?


Melati masih bengong. Ranita berubah. Ini bukan sahabatnya yang dia kenal. Ranita biasanya akan mendengar kalau dia bicara. Dia akan terima dengan baik pendapatnya.


Diambilnya remote TV dan memencet tombol power, mematikan TV. Melati mematikan lampu utama dan masuk ke kamar. Dia mengganti bajunya dengan pakaian tidur. Lalu Melati duduk merenungkan apa yang barusan terjadi.


"Berarti aku harus cari bukti untuk menunjukkan pada Ranita bahwa aku tahu apa yang dia lakukan. Dan bahwa dia sekarang sedang melakukan hal yang bodoh dengan dirinya," gumam Melati.


Tapi, apa dia seberani itu pergi mengikuti Ranita ke kafe? Atau mungkin ke tempat lain yang biasa Ranita tuju? Dia perlu bantuan. Siapa yang bisa dia percaya?


Terlintas Alfaro di pikiran Melati. Alfaro kenal mereka lama. Dia juga dari kota yang sama sebenarnya kan, dengan Melati dan Ranita. Dia orang yang tepat untuk menolongnya. Tapi ini beresiko. Alfaro bisa saja merasa dimanfaatkan. Dia bisa pakai ini untuk mengikatnya nanti karena merasa berjasa.

__ADS_1


Ah, jangan pikirkan itu dulu. Melati akan minat bantuannya sebagai teman. Ya, sebagai teman.


__ADS_2