Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 100 - Memulai Lagi dari Awal


__ADS_3

Bondan terus mendekap ibunya. Tentu saja dia tidak mau kehilangan lagi ibu yang dia sayangi. Ita tidak bergerak. Dia hanya menangis. Dia juga tidak mau jauh dari Bondan. Tapi dia masih takut bertemu Harun.


"Ibu... uuhukkk.... jangan pergi, Bu.... aku mau Ibu di sini sama aku... Uuhuukk.." Tangisan Bondan keras sekali.


Elvan dan Melati yang ada di ruangan lain sampai mendengar. Mereka keluar ruangan dan ingin melihat apa yang terjadi. Saat melihat Harun ada di sana, mereka menghentikan langkah.


Sesuatu akan terjadi. Bisa buruk, bisa baik. Untuk keluarga Harun. Melati dan Elvan berpandangan. Mereka berdoa hal yang baik terjadi. Segera.


Harun sangat paham apa yang Ita rasakan. Sangat wajar jika Ita tidak mau menemuinya, jika istrinya itu sekarang membencinya. Kesalahan dan dosanya pada wanita yang dia cintai ini teramat besar. Dia akan terima jika seumur hidup Ita tidak mau memaafkannya.


"Ita..." Harun memberanikan diri mendekati istrinya.


Ita tidak menoleh, tidak menjawab, tidak melakukan apapun.


"Aku berdosa sangat besar sama kamu. Kamu pasti sangat membenciku. Memang aku pantas tidak dimaafkan," kata Harun.


Bahu Ita berguncang karena menangis. Harun ada di belakangnya. Bondan masih menempel di punggungnya.


"Walaupun begitu... aku memberanikan diri meminta ampun darimu. Bondan membutuhkan kamu, Ita. Kamu ibunya. Dia selalu merindukan kamu. Aku yang terlalu egois dan jahat.... sehingga kalian harus menderita karena kebodohanku... Aku mohon, Ita... maafkan aku..." kata Harun.


Tangis Bondan mulai mereda. "Ibu..." panggil Bondan pelan.


Ita yang dari tadi hanya diam, dia membalikkan badan dan memeluk Bondan. Bondan sudah jauh lebih besar dari waktu dia tinggal. Anaknya itu sudah besar. Dia mengerti apa yang terjadi antara dia dan ayahnya.


"Iya... Ibu tidak akan pergi lagi. Ibu akan temani Bondan," katanya. Bondan makin mengeratkan pelukannya.


"Ita..." panggil Harun lagi.


Ita memberanikan diri memandang wajah Harun. Bukan marah yang ada di sana. Bukan wajah yang garang dan seram. Tapi wajah lesu, sedih, dan penuh penyesalan.


Harun juga memandang Ita. "Terlalu naif jika aku katakan aku masih mencintaimu. Tapi aku tidak bisa menggantikan kamu dengan orang lain. Kamu masih istriku, Ita. Akan terus begitu."


"Kumohon ampuni aku. Kumohon pulanglah..." Harun menekuk lututnya. Dia berlutut di depan Ita Harun menangis. Dia dekap wajahnya dengan kedua tangannya. Bahunya naik turun dan badannya sedikit gemetar.


Ita terkejut. Sama sekali tak dia mengira Harun akan seperti ini. Ita melepaskan Bondan. Dia berjalan mendekati Harun. Ada masih tersisa rasa takut. Tapi dia juga masih mencintai Harun. Dia juga tak bisa melupakan bahwa Harun adalah suaminya, ayah dari anaknya. Tak mungkin lupa masa indah yang pernah mereka rengkuh bersama.

__ADS_1


Ita menyentuh pundak Harun. Harun tetap di posisinya. Masih menangis dengan mendekap wajahnya. Lagi Ita menyentuh pundak Harun.


"Mas...." panggilnya lirih. Seperti takut Harun mendengar panggilan itu.


"Mas..." Sekali lagi Ita memanggilnya.


"Tidak apa-apa selamanya kamu benci padaku. Tapi jangan pergi lagi. Demi Bondan," kata Harun. Dia tundukkan wajahnya dalam-dalam.


"Aku... tidak akan pergi... hanya... sulit rasanya..."


"Aku tahu. Pulanglah. Rumah itu atas nama kamu. Aku membeli rumah kecil itu untukmu. Aku janji aku tidak akan melakukan apapun padamu," kata Harun. Dia memberanikan diri melihat wajah Ita dari dekat.


Ita menemukan Harun kembali. Sekalipun masih sulit untuk yakin, dia tahu, Harun sudah kembali. Dia ulurkan tangannya memegang kedua bahu Harun. Dia berdiri dekat sekali di depan suaminya itu. Air mata memenuhi wajahnya. Yang masih tampan dan gagah. Lalu diusapnya pelan wajah Harun yang basah. Harun diam saja membiarkan Ita membersihkan wajahnya.


"Ya... aku akan pulang..." kata Ita pelan.


Harun menatap Ita tak yakin.


"Ya, Mas... kita mulai lagi... mulai dari awal..." kata Ita. "Bersabarlah denganku... ini sangat berat untuk aku."


"Terima kasih... terima kasih..." tangis Harun terdengar lagi, lirih.


Ita memeluk Harun di pundaknya. Ya, lama sekali dia tidak merasakan sentuhan lelaki yang dia cintai. Terakhir sentuhan yang dia rasa adalah tamparan, tendangan diselingi cacian. Tapi sekarang dekapan lembut itu dia rasakan kembali. Tuhan begitu baik, batinnya.


Bondan maju dan memeluk ayah ibunya. dia tersenyum, bahagia. Mereka bersama lagi kini.


Melati dan Elvan yang dari tadi melihat adegan itu tersenyum. Elvan meraih tangan Melati dan mengajaknya kembali ke dalam ruang makan. Mereka turut merasakan haru dan bahagia untuk Bondan dan kedua orang tuanya.


*


Dua hari kemudian, Elvan dan Melati saatnya melakukan foto prewed mereka. Hari cukup cerah cenderung dingin. Melati dan Elvan memilih konsep kebun bunga dan garden party. Konsep pertama mereka mengenakan kostum simple dengan celana pendek dan topi. Sedang konsep kedua mengenakan dress yang panjangnya hanya sebetis warna coklat susu. Elvan mengenakan kemeja putih dengan bretel.


Fotografer mengarahkan dengan santai dan sesekali bercanda membuat Melati merasa rileks. Elvan sih cuek saja. Dia malah berkali kali menggoda Melati. Tapi semua berjalan lancar.


"Mbak Melati dan Mas Elvan ini bagus lo, kalau jadi foto model. Ganteng dan cantik. Fotogenik lagi. Ga usah dibuat macam-macam sudah bagus ekspresinya. Hasilnya foto terlihat lebih hidup," kata Mas fotografernya.

__ADS_1


"Kalau buat sendiri gini bagus. Tapi kalau nanti dicetak di majalah beneran, aduh rusak hasilnya. Kasihan bisa bangkrut majalahnya," sahut Elvan.


Mas fotografer tertawa mendengar itu.


"Terima kasih untuk hari ini, ya... semua berjalan baik," kata Elvan.


"Saya yang terima kasih sudah diberi kesempatan untuk menjadi bagian hari bersejarah Mas Elvan dan Mbak Melati. Artis baru yang menghebohkan," ujar Mas fotografer itu.


"Ah, bisa saja." Elvan tertawa. "Artisnya Melati, tuh..." Elvan menoleh pada Melati yang asyik dengan HP-nya.


"Kenapa, Mas?" ujar Melati mendengar namanya disebut.


"Kamu... Artis terkenal sekarang," tandas Elvan.


"Hee... di dunia maya... " Melayu tersenyum tipis.


"Tapi kan Mas Elvan produsernya." Mas fotografer ga mau kalah. "Sebagai penutup hari ini, saya minta foto bareng, ya..."


"Boleh..." Elvan berdiri. Melati juga. Dan jadilah foto bersama.


Setelah itu Mas fotografer pamitan. Melati dan Elvan memilih duduk di kantin Florian. Melati mengambil dua minuman dingin. Satu diberikannya untuk Elvan.


"Aku masih ga percaya rasanya, Bondan bisa kumpul lagi dengan ayah dan ibunya. Setelah apa yang mereka alami, kasih sayang di antara mereka pasti sangat besar," kata Melati.


"Benar. Kita juga rasa, kan? Setelah ada sesuatu terjadi antara kita, cintaku sama kamu tambah dalam. Lebih dalam dari samudra Pasifik dan Atlantik," Elvan melirik Melati.


"Rayuan gombal," ujar Melati. Elvan tertawa.


Oya, di tempat kerja apa Pak Harun baik?" tanya Melati.


"Ya, dia sangat bagus kerjanya. Disiplin dan tepat waktu. Kak Azka mau jadikan dia pengawas cleaning service. Sebenarnya mungkin dia punya keahlian lebih. Tapi Kak Azka mau lakukan bertahap biar dia lebih siap katanya," jawab Melati.


"Syukurlah. Senang mendengarnya," kata Melati.


Menjelang sore. Matahari mulai condong ke barat. Elvan dan Melati memperhatikan suasana sore di taman bunga yang indah. Menyenangkan.

__ADS_1


__ADS_2