
Elvan meninggalkan sekolah dengan hati galau. Bukan karena Melati. Dia tahu Melati hanya menganggapnya teman sejauh ini. Itu tidak masalah buatnya. Dan Melati juga nampak menjaga diri sekali untuk tidak dekat dengannya. Jelas terlihat dalam chat yang mereka lakukan, Melati hanya menjawab seperlunya. Elvan pun memilih hal yang sama.
Kalau dia mau dia bisa mengejar Melati, meyakinkan gadis cantik itu bahwa dia tidak main-main dengan hatinya. Tapi dia memilih membiarkan waktu yang akan membuka jalan.
Yang dia pikirkan sekarang adalah keluarganya. Di rumah sedang terjadi prahara. Kakaknya tertipu dalam bisnisnya. Dia semacam dijebak sehingga harus berurusan dengan polisi. Papa kebingungan mencari pertolongan. Mama sempat shock dan sakit.
Sedang Elvan, dia bisa apa? Anak usia SMA yang hanya tahu urusan sekolah. Benar dia pintar dan banyak bakat, tapi beda ceritanya kalau bicara masalah bisnis.
“Mas, bagaimana perkembangan masalah Azka?” Elvan baru masuk rumah. Dia mendengar Erika Feranti, mama Elvan bicara dengan Tirta Prasta Edgar, papa Elvan. Azka Adhyasta Edgar anak pertama keluarga ini.
“Masih sulit, Ma. Rekan kerja Azka benar-benar lihai mengatur supaya dia terlihat jahat. Sebisa mungkin hanya Azka nampaknya yang barus bertanggung jawab.” Tirta menjawab datar. Kedengaran lesu suaranya.
“Lalu apa yang mungkin dilakukan?” tanya Erika. Suaranya terdengar cemas.
“Mateo masih menyusuri rekam jejak Tanto. Sedetilnya dia akan cari tahu. Mungkin dari situ bisa diajukan sebagai pertimbangan. Juga masih perlu dipelajari cela mana yang bisa diajukan sebagai bukti kalau Azka hanya korban,” jelas Tirta. Mateo adalah orang kepercayaan Tirta di kantornya, sekaligus pengacara keluarga.
“Pa, Ma…” Elvan mendekati orang tuanya.
“Baru pulang, El?” ujar mamanya. Erika sudah lebih baik sekarang. Dia harus kuat mendampingi suami dan putranya yang sedang kena musibah.
“Iya,” jawab Elvan pendek.
“Kita berdoa saja. Benar, kita mencari solusi, tapi Tuhan lebih tahu semuanya. Biar Dia dengan cara-Nya akan buka jalan.” Tirta membesarkan hatinya. Juga untuk anak dan istrinya.
“Ya, Mas. Rasanya tidak berhenti hati ini terus menaikkan doa.” Erika menyahut pelan.
“Kamu jangan terlalu pikirkan ini, El. Fokus saja belajar. Bantu adikmu,” kata Tirta sambil mengelus pundak putra keduanya itu.
“Iya, Pa... Aku lihat Farel, Ma.” Elvan pamit meninggalkan orang tuanya. Dia ke kamar adiknya yang masih kelas 7. Anak itu sudah merapikan peralatan sekolahnya. Dia duduk main HP-nya.
“Selesai belajarmu?” Elvan duduk di sebelah adiknya.
“Udah,” sahut Farel Aditama Edgar, tanpa menoleh.
“Jangan main lama-lama. Cepat tidur, Rel," kata Elvan.
“Hmm…” Adiknya itu menjawab dengan ekspresi sama. “Kak, rumah jadi garing, ya...”
Elvan tahu, maksud Farel sejak peristiwa Azka, rumah ini jadi sepi. Semua orang tegang. Padahal sebelumnya semua ceria dan selalu penuh canda.
“Ya... gimana? Masih berat situasinya.” Elvan mengangkat bahunya. “Kita doakan saja ada pertolongan tidak terduga buat Kak Azka.”
“Iya… Apa Tuhan marah sama kita, Kak? Kok Kak Azka dibiarin celaka?” tanya Farel. Sekarang dia letakkan HP dan melihat ke arah Elvan.
“Kenapa berpikir begitu?” Elvan merasa aneh tiba-tiba Farel menanyakan hal semacam itu.
“Aku pernah dengar kalau kita kena masalah bisa jadi karena kita buat salah dan itu teguran dari Tuhan buat kita,” kata Farel.
Elvan menatap adiknya. Dia tidak mengira adiknya ini juga sangat menguatirkan kondisi rumah.
__ADS_1
“Mungkin saja yang orang bilang itu benar. Tapi bisa jadi karena memang kita kurang hati-hati mengambil tindakan. Karena tiap tindakan ada resikonya, bukan?” jawab Elvan.
Jadi menurut Kak El, Azka bersalah?” tanya Farel.
“Tidak. Kak Azka bekerja keras untuk usahanya dari nol sejak dia kuliah. Sampai sekarang dia punya lima kafe kopi itu bukan hal yang gampang. Bisa jadi dia salah memilih rekan kerja untuk pengembangan usahanya dan jadi tertipu akhirnya,” jelas Elvan lagi.
“Hmm… iya…” Farel manggut-manggut.
“Aku ke kamar, ya… Jangan lupa doa kalau mau tidur," ujar Elvan. Dia acak rambut Farel lalu pergi ke kamarnya.
Farel hanya bisa menatap kakaknya itu sampai pintu kamarnya sudah tertutup dan melanjutkan main HP lagi.
Elvan masuk kamarnya, melepas jaketnya menaruh di sandaran kursi dan mengganti bajunya dengan kaos dan celana pendek. Lalu dia berbaring di kasurnya. Dia ambil HP yang dia taruh di meja. Jam di sana menunjukkan jam 9 lewat 20.
Elvan cari kontak WA. Bunga Hatiku. Itu nama kontak Melati.
Elvan
- Hai ☺
Menunggu…
Elvan lihat HP lagi. Belum ada balasan. Bahkan centang dua belum biru. Elvan memejamkan mata.
Ting! Elvan cepat buka chat. Bunga Hatiku. Elvan tersenyum.
Bunga Hatiku
Elvan
- Belum tidur?
Bunga Hatiku
- lagi balas chat, belum tidur laa ☺
Elvan
- salah nanya nih 😁
Bunga Hatiku
- kenapa tadi pulang cepat?
Elvan
- ya gitu deh
Bunga Hatiku
__ADS_1
- ???
Something wrong?
Elvan
- you see it yaa
Bunga Hatiku
- are you ok?
Elvan
- must be
Bunga Hatiku
- sorry, bukan mau sok tau
Elvan
- 🙄
Bunga Hatiku
- Hope you’ll be fine, soon
Elvan
- ya thanks
Elvan menaruh HP-nya. Lumayan panjang hari ini. Ya, lebih beberapa baris chat lebih banyak dari sebelumnya. Apa Melati merasa dia galau, ya? Ah, entahlah… Bukankah ini tanda bagus. Dia memperhatikannya! Elvan tersenyum.
Sementara…
Melati merasa bodoh setelah chat barusan.
“Kenapa aku tanya begitu? Ih… sok perhatian amat,” gumamnya. Dipukulnya dahinya beberapa kali.
Apa kira-kira yang Elvan pikir coba? Melati mulai membuka hati? Tapi, masa nanya gitu mesti karena buka hati? Adduhhhhh…. Entahlah… Tapi Elvan tadi memang tidak seperti biasanya. Dia seperti menahan sesuatu. Sudahlah… tidak usah jauh mikirnya. Lupakan… lupakan…
Melati berusaha secepatnya tidur melupakan chat konyol itu. Lebih baik mikir pencapaiannya sekarang. Terbayar semua lelah dan penat. Kuatir dan tangis yang tercurah. Jadi siswa terbaik waktu lulus.
“Semua karena pertolongan dan kemurahan-Mu, Tuhan,” batin Melati. “Terima kasih buat semuanya. Buat ayah dan ibu, adik-adikku. Terima kasih Ranita juga berhasil baik. Terus sertai kami. Juga Elvan…”
Melati tidak melanjutkan doanya. Dia heran sendiri, kenapa nama itu dia sebut lagi?
“Tuhan… aku kenapa?” Dalam hati Melati sudah berteriak.
__ADS_1
Malam terus bergulir…