
Sidang skripsi Elvan berjalan sangat baik. Skripsinya tentang Rumah Garuda mendapat hasil gemilang. Pasalnya bukan sekedar penelitian tentang sesuatu yang telah ada. Tetapi adalah proyek Elvan sendiri dan akan terus bertumbuh menjadi dampak besar untuk anak-anak bangsa. Semua penguji sangat puas bahkan bangga dengan pencapaian Elvan.
"Akhirnya... Lega sekali semua selesai. Setelah ini aku akan bereskan urusanku dengan Melati. Dia bahkan tidak mengirim pesan apapun. Apa dia tidak kangen aku? Tahan sekali dia kalau marah. Harus buat surprise besar ini..." batin Elvan.
Elvan meninggalkan kampus dan menuju Rumah Garuda. Sudah cukup lama dia tidak ke sana. Hari ini dia akan traktir anak-anak ice cream, syukuran keberhasilan sidang skripsinya.
Sampai di Rumah Garuda semua anak-anak merebut menyambutnya. Memeluknya beramai-ramai. Rupanya mereka kangen sekali dengan Elvan.
"Siapa mau ice cream?" tanya Elvan.
"Mau, Kak. Mau, ice cream... asyik... yuhhuu..." Suara ribut mereka mendengar ice cream.
Elvan tertawa senang. Dia membuka bagasi mobilnya. Tadi dia mampir beli ice cream tiga box besar untuk mereka. Elvan mengeluarkan box itu dan membagi-bagikannya.
Wajah anak-anak itu begitu riang. Sambil menikmati ice cream mereka bercerita, bercanda, saling menggoda. Rasanya kebahagiaan ini yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Melihat anak-anak itu bisa tertawa lepas.
Dan Bondan, Elvan memperhatikan anak itu. Sejak di sini dia kelihatan lebih segar dan sering tertawa. Hadi terus memberitahu perkembangan Bondan pada Elvan. Tapi Elvan tahu masalah Bondan belum selesai.
Sedang asyik pesta ice cream, Melati datang. Melihat kegembiraan anak-anak dia juga ikut tersenyum lebar. Elvan menatapnya dari jauh. Dia tersenyum dan melangkah ke arah Melati.
Hati Melati tiba-tiba berdegup kencang. Hampir dua minggu tidak bertemu. Dia rindu sekali kekasihnya itu. Wajah tampannya. Senyumnya yang khas dan suaranya yang lembut.
"Mel..." panggil Elvan.
Oh, my God... kalau dia sebut itu 'Mel', seperti meleleh hati Melati.
"Selamat buat sidang kamu. Good job," kata Melati.
"Thank you doanya, ya.." ujar Elvan.
"Aku..." Bareng keduanya membuka suara. Keduanya tersenyum dan saling menatap. Jadi awkward, kan?
"Bicaralah..." kata Elvan.
"Kamu dulu," ucap Melati.
"Eh... sebenarnya..."
"Bondan!!! Bondan!!!" Terdengar suara teriakan keras dari luar ruangan. Anak-anak tidak begitu memperhatikan karena sibuk bicara sambil makan ice cream.
__ADS_1
"Keluar kamu!!! Bondan!!!" Lagi teriakan itu makin keras.
Anak-anak saling berpandangan. Lalu menatap Bondan. Saking terkejutnya Bondan menjatuhkan ice cream di tangannya.
Di depan pintu Harun berdiri dengan wajah sangat marah. Dia mencari ke seluruh ruangan. Begitu dia lihat Bondan dengan cepat dia menarik anak itu memaksanya keluar.
"Kamu mau sembunyi di mana?! Hahhh!?" kata Harun dengan wajah merah dan mata melotot. Bondan langsung gemetar.
"Ampun, Pak... ampunn..." ujar Bondan. Dia kesakitan karena tangannya dicengkeram sangat kuat oleh Harun.
Melati dan Elvan bergegas menghampiri mereka.
"Lepaskan Bondan!" kata Melati. "Lepaskan dia!!"
"Hei... kamu pikir uangmu yang cuma beberapa lembar cukup untuk hidup? Jangan kamu suap seorang ayah yang kehilangan anaknya. Aku butuh Bondan, bukan uangmu. Jelas?" bentak Harun.
"Ayo, jalan..." Dia mendorong Bondan.
"Pak Harun!" Melati berlari dan menarik Bondan. Tapi tangan Harun lebih kuat. Dia mendorong Melati hingga hampir terjerembab. Untung Elvan menangkapnya.
"El, lakukan sesuatu," kata Melati.
Bondan sudah hampir menangis. Dia berulangkali menoleh pada Melati dan Elvan seperti berkata tolong...
"Elvan!!" sentak Melati. Dia jengkel karena Elvan diam saja.
"Biarkan saja, Mel," kata Elvan.
"Apa maksudmu biarkan saja?" Melati kaget dengan ucapan Elvan. Susah payah dia bawa Bondan ke yayasan, sekarang dengan santai Elvan berkata biarkan saja? Mau anak itu disiksa tiap hari sama bapaknya?
"Harun adalah bapaknya. Dia punya hak membawa Bondan pulang. Jika kita tahan dia di sini, kita melanggar hukum. Bukan begitu caranya," jelas Elvan.
"Aku melihat sendiri bagaimana anak itu ditampar hingga hampir terjungkal. Harun itu berbahaya." Melati sangat marah.
Lagi, Elvan mengecewakan dia. Belum tuntas masalah yang lalu dengan Melisa sekarang dia buat Melati bingung dengan sikapnya.
"Iya, aku paham," sahut Elvan. HP Elvan berbunyi. Mama telpon.
"Halo, Ma... Oh...Apa? Oke... baik, Ma." Elvan menutup telpon.
__ADS_1
"El..." Melati merajuk.
"Aku harus pergi. Tolong anak-anak. Ini mendesak." Tanpa memperdulikan amarah Melati Elvan langsung pergi.
Melati makin kesal. "Apa kamu ga punya hati, sih? Bondan pasti sudah dipukuli lagi begitu sampai rumah," batin Melati.
Elvan mendapat kabar ayahnya mengalami sesak dan dadanya sangat sakit. Erika membawa Tirta ke rumah sakit. Jadi Elvan diminta menemani. Dua puluh menit berikut Elvan tiba di rumah sakit.
"Bagaimana, Ma?" Elvan mendekati mamanya. Dia lihat papa terbaring di ranjang dengan alat yang terpasang di dadanya. Nampak wajah Tirta kesakitan. Dia pejamkan matanya tapi dahinya mengkerut.
"Dokter sudah tangani. Obat akan bereaksi beberapa waktu ke depan," jawab Erika.
"Papa kelelahan pasti. Seminggu lebih aku ga ke kantor, papa harus urus semua sendiri. Tapi setelah ini aku bisa handle semua, Ma. Papa bisa istirahat total," kata Elvan.
"Ya...Syukurlah. Skripsi kamu hasilnya bagus, kan?" Erika sampai belum menanyakan itu.
"Ya, Ma. Tuhan tolong aku selesaikan semua dengan baik." Elvan mengangguk.
"Kamu pulanglah, minta Bi Wanti siapkan baju ganti Mama dan Papa. Lalu bawa ke sini. Mama akan jaga Papa selama di rumah sakit," kata Erika sambil merapikan selimut di tubuh Tirta.
"Iya, Ma." Elvan mencium pipi Erika lalu meninggalkan rumah sakit dan pulang. Sepanjang jalan dia berdoa Tuhan akan cepat pulihkan papanya.
Ini salah satu yang menjadi kekuatiran Elvan. Jika tiba-tiba papanya mendapat serangan jantung. Selama ini mereka sebisa mungkin menjaga papa agar tidak terlalu banyak pikiran dan lelah. Tapi mau bagaimana papa memang punya tanggung jawab besar sebagai pemilik perusahaan.
Itulah sebabnya Elvan bertekad selesai kuliah ini dia akan lebih maksimal di kantor. Rumah Garuda sudah bisa sedikit dia lepas. Ada Melati dan Hasan yang bisa handle bersama Lidya dan Hadi. Dia akan pikirkan konsep besar dan visi ke depan, sedang mereka akan jadi pelaksana dengan teman-teman lain yang membantu.
Dan malamnya, kondisi Tirta bukan semakin baik. Dia semakin lemah. Erika makin cemas. Elvan jadi tak bisa meninggalkan mamanya. Farel juga menyusul. Mereka juga kuatir mamanya down jika kondisi papa terus memburuk.
"Ibu Erika, boleh bicara sebentar?" dr. Prima yang menangani Tirta mengajak Erika bicara.
"Iya, Dokter." Erika mendekati dr. Prima.
"Melihat kondisi Pak Tirta kami perlu menjalankan penanganan segera." dr. Tirta menjelaskan semuanya, alasan dan tindakan yang perlu. Apa akibat dan semuanya.
Erika memperhatikan seksama penjelasan dokter. Dia memahami kondisi Tirta yang makin serius. Dia serahkan yang terbaik menurut dokter. Dia hanya ingin suaminya sehat.
Elvan dan Farel
"Ma? Bagaimana?" tanya Elvan begitu mama kembali ke kamar.
__ADS_1
Erika melihat ke ranjang, suaminya sedang tidur. Tapi dia dalam bahaya. Dia mengalihkan pandangan pada Elvan dan Farel. Wajahnya kelihatan cemas.