Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 20 - Sampai Jumpa


__ADS_3

"Kakak cantik sekali." Suara Lily di belakang Melati. Melati baru selesai bersiap-siap pergi ke rumah Elvan. Dipandanginya wajahnya, rambut, mata pipi. Sudah, aman.


"Thank you, Ly." Melati melirik Lily. Dia meraih tasnya, tidak lupa gantungan spesial itu.


"Kak Elvan pasti terpesona deh, lihat kakak kayak gini," kata Lily lagi. Dia berdiri di sebelah Lily.


"Terpesona? Bisa aja..." ujar Melati.


"Tahu, Kak, masih ga percaya itu siswa terpopuler SMA kita naksir kakakku." Senyum Lily mengembang.


"Ya mana kakak tahu... Ga kepikir..." ujar Melati. Dia melangkah keluar kamar menuju ruang depan. Lily nguntit di belakangnya.


"Sudah siap?" tanya ibunya yang sedang duduk membaca buku.


"Iya, Bu. Tinggal tunggu Rani," ucap Melati.


Dan mobil Ranita tiba di rumah mereka. Segera Melati dan Ranita berangkat. Papa Ranita menyetir, mamanya mendampingi di depan. Ranita dan Melati duduk di belakang.


"Tante senang Melati bisa ikut. Ranita jadi ada teman," kata mama Ranita, Dewita.


"Iya, Tante. Saya juga senang bisa temani Ranita. Kangen ketawanya." Melati berkata sambil menoleh ke arah Ranita.


"Ketawanya yang kayak halilintar itu, menggelegar," timpal papa Ranita.


Mama, Melati, dan Ranita tertawa mendengar itu. Perjalanan ke rumah keluarga Edgar kira-kira setengah jam. Jam segini jalanan cukup ramai jadi agak tersendat. Sampai di kediaman keluarga Edgar, mobil-mobil mewah sudah berderet-deret. Di luar pagar rumah juga penuh, apalagi di dalam.


Hampir jam 6 mereka tiba. Orang tua Elvan menyambut tamu dengan ramah. Tirta kelihatan gagah dan tampan, sangat mirip Azka. Erika juga anggun dan cantik. Penampilannya cukup sederhana tapi tetap kesan berkelas ada di sana. Wajah Elvan nampaknya perpaduan mama dan papanya. Sedang Farel lebih mirip mama, itu yang Melati lihat.


Elvan duduk di kursi untuk keluarga dengan Farel. Di sebelah mereka ada nampak beberapa keluarga lain, kakek dan nenek Elvan. Azka sedang bicara dengan beberapa orang, mungkin rekan bisnisnya. Dan ada pak Diko. Iya, dia kan omnya Elvan. Ada wanita cantik di sebelahnya memangku anak perempuan kira-kira lima tahun. Hmm, itu istri dan anak Pak Diko.


Begitu melihat Melati datang bersama keluarga Ranita, Elvan tak lepas memandang Melati. Dia ingin cepat-cepat menemuinya. Sayang MC segera memulai acara. Malam itu tidak ada yang terlalu spesial. MC hanya membuka acara menyampaikan maksud acara, meminta salah satu tamu untuk memimpin doa membuka acara. Lalu Tirta memberi ucapan selamat datang dan tujuan acara adalah ucapan syukur pernikahan perak keluarga Edgar. Juga bersyukur untuk Azka dalam bisnisnya. Tirta tidak menjelaskan detil masalah Azka tentunya.


Lalu MC meminta Tirta dan Erika memotong kue ulang tahun, memberikan pada orang terdekat. Orang tua dan anak-anak mereka. Setelah itu ketiga saudara, Azka, Elvan, dan Farel menyanyikan satu lagu untuk orang tuanya. Elvan main gitar, Farel main cajon, dan Azka memainkan biola. Ternyata mereka semua suka musik. Dan suara ketiganya berpadu, harmoni dan cantik. Melati sampai terpana. Ranita juga kelihatan begitu ceria melihat trio Edgar itu.


Tirta dan Erika terus tersenyum bahagia. Tirta tak henti-henti memegang tangan istrinya dengan mesra. Semua yang hadir juga gembira dan haru melihat ketiga anak yang tampan dari keluarga Edgar itu mengungkapkan sayangnya pada orang tua mereka.


Usai itu tamu disilakan untuk menikmati jamuan. Orang-orang mulai menyerbu stand makanan. Nampak beberapa tamu juga membawa anak mereka. Ada yang seusia Melati, ada yang lebih dewasa atau juga lebih kecil. Sedang Melati dan Ranita memilih duduk santai saja. Mereka hanya mengambil salad buah. Masih antri, jadi ambil makanan utama nanti saja. Elvan mendekati Melati dan Ranita.


"Terima kasih sudah mau datang," kata Elvan kepada kedua temannya itu. Dia gagah sekali dengan kemeja biru gelap dan jas hitam tanpa dikancing. Dasinya sudah dia lepas, tapi tetap keren.

__ADS_1


"Iya, terima kasih juga dikasih kesempatan datang," kata Melati.


"Aduh, trio Edgar luar biasa, yaa... suaranya, main musiknya... tahu El, hatiku rasa dicabik-cabik mendengar kalian nyanyi." Dengan semangat Ranita bicara.


Melati dan Elvan tertawa. "Kenapa ga bikin band aja kalian? Sekalian keluarin single atau album, aku pasti pertama beli dan promosi, deh," ujar Ranita masih berapi-api.


"Wah, nggak mikir, tuh..." sahut Elvan.


"Eh, aku dipanggil mama." Ranita melihat mamanya melambai ke arahnya. "Aku ke sana dulu. Lagian kalian perlu waktu, deh, kayaknya." Dan dia bergegas menghampiri mama dan papanya.


"Kamu tidak makan?" Elvan melihat Melati hanya mengambil salad buah. Dan hampir habis di piring kecil di depannya.


"Tadi masih ramai. Jadi belum pingin makan," jawab Melati.


"Tunggu, ya..." Elvan pergi. Entah mau ke mana.


Melati melihat sekitarnya. Orang-orang asyik berbincang-bincang, tertawa dan senda gurau. Tidak pernah terbayang dia bisa datang ke acara keluarga berada begini.Tapi, meski terbilang orang kaya keluarga Edgar memang tidak menunjukkan yang berlebihan. Sebenarnya bisa saja mereka menyewa hall di hotel berbintang. Nyatanya mereka memilih mengadakan acara di halaman rumah, taman samping yang memang cukup luas dan indah.


Ranita tampak ngobrol dengan beberapa anak rekanan papanya sambil makan. Dia terlihat ceria. Dia selalu begitu. Melati juga melihat Pak Diko duduk dengan orang tuanya dan papa mama Elvan. Lalu Azka, dia nampak sedang bicara dengan seorang gadis imut. Itukah Adista? Gadis itu nampak malu-malu. Tapi tidak mengurangi cantiknya yang sederhana dan apa adanya.


"Kita makan, yuk." Elvan datang membawa dua piring makanan. Dia menyodorkan satu untuk Melati.


Elvan tersenyum. "Ayo ikut," ajaknya.


"Ehh... ke mana?" Melati berdiri dan mengikuti Elvan. Dia meninggalkan area pesta itu, terus mengitari rumah dan menuju taman belakang yang sepi. Ada kursi dan meja taman di sana. Taman ini lebih kecil, tapi tidak kalah cantik.


"Aku suka bosan lama-lama di pesta seperti itu. Apalagi teman-teman mama pasti pada pingin ngenalin anak ceweknya. Capek ngladenin mereka," kata Elvan.


Mereka duduk di sana dan mulai makan. Beberapa menu yang Melati jarang makan di rumah. Lumayan nikmat, apalagi memang sudah lapar ini.


"Kamu cantik," ucap Elvan sambil memperhatikan Melati yang masih sibuk makan.


Melati menaruh sendoknya dan melihat Elvan. Dia tersenyum tipis. "Thanks."


"Aku ganteng, kan?" kata Elvan sambil memainkan alisnya. Melati tertawa dan mengangguk. "Tapi tidak cukup membuatmu tertarik padaku, ya..."


Melati melirik Elvan dan tersenyum tipis. "Kamu ga tahu saja, hatiku bergulat karena sikapmu," batin Melati.


"Tetap dipertimbangkan, toh..." lanjut Elvan. Lagi-lagi Melati hanya tersenyum.

__ADS_1


"Kamu berangkat lusa?" tanya Elvan.


"Iya. Tiga hari lagi." Melati mengangguk.


"Baik-baik, ya..." kata Elvan lagi.


"Iya," ujar Melati tegas. Dia merasa ada nada galau di suara Elvan.


"Lanjut dulu, deh," kata Elvan lagi. Lalu mereka makan tanpa suara. Tidak ada yang bicara. Hanya sesekali terdengar suara sendok dan garpu bertemu piring.


Selesai makan Melati melihat sekeliling dan juga ke atas. Langit sangat terang dengan bulan hampir purnama. Kelihatan cukup banyak bintang dan awan tipis di beberapa bagian. Indah.


"Sekali lagi terima kasih ya, sudah mau datang. Semacam malam perpisahan kita, hee..." ujar Elvan. Dia berdiri.


"Sama-sama, El. Kita kembali?" tanya Melati. Kembali ke tempat pesta maksudnya.


"Pinginnya lebih lama berdua. Tapi Ranita bisa bingung mencarimu nanti," jawab Elvan.


"Iya, kamu benar. Dia tidak tahu kita ke sini, kan? " Melati ikut berdiri.


Baru saja Melati akan mengangkat piring bekas mereka makan, Elvan menariknya ke pelukannya. Melati kaget sekali. Dia tidak siap dengan ini. Dadanya berdegup kencang tiba-tiba. Elvan dekat sekali dengannya. Cowok itu menunduk karena postur tubuh mereka yang beda. Tinggi Melati hanya sedikit sampai di leher Elvan. Elvan menatapnya lekat. Meski remang-remang dia bisa melihat tatapan dalam lelaki tampan ini.


"Aku akan sangat kehilangan, Mel. Aku akan sangat rindu," katanya. "Sejak aku masuk SMA aku sering mengamatimu. Sampai aku yakin hatiku memang hanya memandangmu, baru aku katakan. Kita akan jauh, tapi kamu harus percaya aku tidak akan ke mana-mana. Dan kamu akan tetap di sini." Elvan menaruh tangan kanan Melati di dadanya dan masih menggenggam tangan kiri gadis itu.


Melati terdiam, tidak tahu harus bilang apa. Elvan sangat lembut. Ada sedikit rasa takut, tapi juga rasa nyaman menyapa hatinya yang dari tadi bergemuruh. Lalu Elvan mendekatkan wajahnya dan mencium kening Melati. Tidak lama. Dia lepaskan Melati.


"Maaf, maafkan aku," ujar cowok itu. Dia mengambil piring bekas makan mereka dan berjalan meninggalkan taman itu. Melati mengikutinya. Degupan hati Melati kembali kencang.


"Oh, Tuhan... dia mencium keningku. Aku diam saja. Apa ini?" Hatinya bertanya, tidak mengerti, tidak menentu.


Baru sampai di tempat pesta, Ranita melambai ke arah Melati dan Elvan. Melati mendekatinya.


"Kita mau pulang. Hampir saja aku menelponmu," kata Ranita.


"Iya. Kami makan di taman sebelah tadi," jelas Melati.


"Ayo, kita pamitan sama keluarga Elvan," ajak Ranita. Dengan papa mama Ranita mereka pamitan pada orang tua Elvan, Azka, dan Farel, Elvan juga Pak Diko. Elvan menatap Melati dan kemudian menyusulnya.


"Mel, sampai jumpa," katanya. Tanpa tersenyum.

__ADS_1


"See you..." Melati membalas. Lalu dia mengejar Ranita dan orang tuanya yang sudah ke arah parkiran.


__ADS_2