
"Akhirnya tiga bulan berlalu. Aku puas banget bisa magang di Sunny TV." Sherly merentangkan tangan dengan lebar. Senyumnya cerah, secerah baju kuningnya.
"Ya, tidak terasa, ya... Sekarang kita tinggal fokus ujian akhir semester saja," timpal Melati. Mereka di perjalanan menuju kampus setelah acara perpisahan di tempat magang.
"Yang ga bisa lupa, pasti seumur hidup ini aku akan ingat... Acara live dengan Sandy malam itu. Waktu kamu dadakan jadi singer di sana. Mel, seluruh kampus bangga lo... kamu keren abis," sahut Rino, sambil memperhatikan jalanan. Mereka memang selalu naik mobil Rino ke Sunny TV jika bisa barengan.
"Hee... hhee... aku juga ga nyangka bisa jadi gitu, ya..." Melati tertawa kecil.
"Mbak Krista memang paling oke. Aku senang dia yang jadi mentor kita," kata Rino lagi. Mereka tahu ceritanya sampai Melati jadi pengganti malam itu.
Melati langsung diantar ke apartemen. Melati menaruh tas dan melepas sepatu begitu masuk apartemen. Ada Ranita sedang nonton sambil ngemil kripik kentang kesukaannya.
"Hai, singer kita datang. Gimana hari terakhir
di Sunny TV?" sambutnya dengan ceria.
"Senang dan haru," jawab Melati. Dia duduk di sebelah Ranita dan tangannya mencomot kripik juga.
"Ga nyangka sahabatku tersayang sudah mulai terkenal, nih..." goda Ranita. "Ada fans ga?"
"Apa sih, Ran... kamu mulai, deh..." ujar Melati.
"Lho, kan bener... penyanyi pasti punya penggemar laa... haa... haa..." Ranita mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Ada, sih... IG tambah banyak followers, hee...." Melati melebarkan bibirnya.
Langsung Ranita buka aplikasi IG. "Eh... iya Mel... lumayan ya, nambahnya... tinggal tunggu ada yang kontrak kamu buat single ini..." kata Ranita sambil terus scroll HP nya.
"Doakan saja..." Melati menimpali santai.
"Liburan pulang Malang?" tanya Ranita. Dia taruh HP lalu ambil remote dan pindah channel TV yang dia tonton.
"Iya... pas Ayah juga mau mulai opening usaha di Malang. Harus hadir, dong," jawab Melati.
"Bagus, deh... ikut senang aku," ucap Ranita. Lagi tangannya mengambil kripik dan memakannya.
"Kamu ke Palembang lagi?" ganti Melati yang tanya.
"Hmmm... dan perkataan kamu benar, Mel. Kak Arni ketemu pria baik yang sayang dia dan terima dia apa adanya. Ini lagi persiapan mau married," jawab Ranita.
"Serius?" Melati menatap Ranita setengah tak percaya.
"Iya, serius... Kak Arni juga baru cerita setelah dia yakin hubungannya ini akan jadi baik ke depannya," tandas Ranita. "Pria itu langsung sayang sama Carel. Secara dia suka anak-anak, dan keponakanku itu kan ganteng, imut plus gemesin."
__ADS_1
"Lega banget dengarnya." Melati tersenyum.
"Aku masih ingat yang kamu bilang, Tuhan bisa mengubah apa yang buruk jadi baik. Hanya tinggal tunggu waktu saja." Kali ini nada Ranita jadi serius.
Melati tersenyum. Semua akan jadi baik. Karena di balik semuanya Tuhan turut bekerja untuk kebaikan bagi orang yang sungguh-sungguh dengan hidupnya.
Dan hari-hari ujian segera menyapa. Membaca, mengerjakan latihan, melakukan presentasi, dan lain-lain diutak-atik lagi. Waktu memang cepat berlalu, tak bisa diminta berjalan sedikit lambat untuk penjelajah waktu ini rehat sesaat.
Begitu libur tiba Melati langsung berangkat ke Malang. Ayah sudah duluan beberapa hari. Kali ini Melati naik pesawat. Hasil lelahnya waktu magang dapat upah lumayan. Belum lagi dia dapat tambahan karena menggantikan Sisilia malam itu. Sampai di bandara Abdulrahman Saleh, Elvan sudah menunggunya.
Melati berjalan cepat-cepat menghampiri Elvan yang menanti dengan wajah berbinar penuh kerinduan. Begitu Melati dekat dia langsung memeluknya erat.
"Ihh... uda, diliatin orang, El," sergah Melati. Dia melepas pelukan Elvan. Elvan tertawa. Diraihnya ransel Melati dan dia bawakan di bahunya. Tangan kanannya menggandeng tangan kiri Melati dan mengajaknya menuju parkiran ke mobil.
"Kangen banget, Mel..." kata Elvan pas sudah di dalam mobil.
"Iya, tahu." Melati tersenyum.
"Jalan dulu, yaa..." ucap Elvan sementara mobil mulai berjalan meninggalkan parkiran.
"Jalan ke mana?" tanya Melati.
"Kencan," ujar Elvan pendek tanpa menoleh.
"Hee... hee... tapi ke mana?" tanya Melati lagi.
Inilah Elvan. Selalu saja ada kejutan yang dia siapkan. Dan Melati menikmatinya. Itu cara Elvan menunjukkan sayangnya. Sedang dirinya masih suka malu bilang sayang, kangen, yang romantis begitu. Apalagi buat surprise. Mau buat surprise apa kalau kekasih ini lebih kreatif? Hee... Tapi hatinya sudah sangat dalam sayang Elvan. Dan akan terus begitu.
Elvan membawa Melati ke sebuah resto lesehan yang lumayan beken di Malang. Di bagian belakang langsung berhadapan dengan sawah yang hijau dan sejuk. Menenangkan sekali. Angin semilir menerpa di tempat mereka duduk. Karena jam segini belum waktu makan siang, resto tidak terlalu ramai. Suasana lebih tenang apalagi diiringi instrumen lagu nuansa tradisional Jawa.
Seperti biasa, Elvan memesan ikan bakar. Kali ini gurami. Melati memilih ayam bakar. Elvan tambah sayur dan udang asam manis. Memang membuat lidah tak tahan pingin cepat makan saja. Apalagi minumannya es kelapa muda. Hmmm...
Sambil makan mereka bercerita banyak hal. Berbagai kejadian yang mereka alami yang tidak tuntas disampaikan waktu chat atau vidcall. Tawa mereka sesekali terdengar sementara tangan terus mengaduk makanan dan menikmati dengan lahapnya.
"Ga sabar kita bisa terus sama-sama, Mel," kata Elvan. Dia sudah selesai makan. Piringnya bersih. Minumannya pun tinggal sedikit. "Masak dari jadian jauhan terus."
"Ga sampai dua tahun kok... ga lama, El. Waktu berjalan cepat. Lari malah menurutku." Melati menatap mata coklat bagus Elvan.
"Ah, kenyang bener. Paling enak gini tidur," ucap Elvan. Dia merebahkan badannya.
"Ih, malah tidur. Aku harus pulang, El," kata Melati.
Elvan menutup matanya. Tidak menjawab. Dia gunakan kedua tangannya sebagai bantal kepala.
__ADS_1
"Elvan..." Melati memanggil. Elvan diam saja. Melati mendekati cowok itu. Dia duduk persis di sebelah kepala Elvan.
"Elvan...." panggil Melati. "Ayo, pulang..." Melati pegang siku Elvan.
"Di rumah ga keburu ada acara, kan? Biar puas berdua kamu." Elvan membuka mata dan memandang Melati.
Wajah Melati memerah ditatap begitu. Dia mengalihkan pandangannya. Dia memperhatikan sawah yang menghijau. Burung-burung tampak terbang di antara padi yang belum menguning.
Elvan tersenyum melihat tingkah Melati. Entah kenapa dia masih suka malu-malu di dekatnya.
Apa kelamaan LDR, ya? Elvan duduk dan menjajarkan posisinya persis merapat ke Melati.
"Kok melihat ke lain? Lihat aku kenapa?" Elvan menggoda Melati. Melati ganti diam saja.
"Mel..." Elvan memegang kedua pundak Melati dan menghadapkan ke arahnya. Melati nurut tapi jadi gugup.
"Hee..." Elvan tertawa kecil. "Kenapa malu, sih? Aku memang terlalu ganteng, yaa..." Elvan menangkup kedua pipi Melati.
"El..." gumam Melati. Wajahnya makin merona.
"Haa...." Elvan tertawa lebar sekarang. Lalu dia peluk Melati dari samping. Dia gemes sekali dengan pacarnya yang masih canggung juga.
"Udah, ah..." kata Melati.
"Biar gini dulu," ujar Elvan. "Masih kangen."
"Dilihat orang, Elvan," ucap Melati. Dia lihat beberapa pengunjung menoleh ke mereka karena Elvan tertawa.
"Aku cuma peluk. Ga yang lain." Elvan mengeratkan rangkulannya.
"Hmmm..." gumam Melati.
"Percaya, aku ga akan aneh-aneh. Aku mesti jaga kamu sampai saatnya tiba. Itu akan jadi hadiah paling indah buat seorang lelaki," kata-kata Elvan sudah bukan candaan.
Melati merasa hatinya berdegup.
"Dan aku percaya kamu juga jaga dirimu sampai aku boleh minta apapun dari kamu," lanjut Elvan.
Melati memberanikan diri memandang Elvan. Matanya itu, bagus sekali. Tatapannya jujur, tulus.
"Janji, yaa..." ucap Elvan. Melati tersenyum dan mengangguk.
Setelah beberapa lama, akhirnya Elvan mengajak Melati pulang. Tidak lupa Elvan bawakan makanan juga ayam bakar dan ikan bakar untuk keluarga Melati. Calon mantu idaman banget ya, hee...
__ADS_1
Baru saja Elvan dan Melati keluar dari resto mau ke parkiran, seorang cewek memanggil Elvan.
"Mas Bagus!!"