
Lega rasanya. Ujian berakhir. Persiapan festival makin maksimal. Musik sudah mantap aransemennya. Vokal Melati juga sedang 100% oke. Dan mereka siap giving their best.
Jam 9 pagi festival dimulai. Peserta lumayan banyak lebih dari 30 band. Ini pun sudah diseleksi secara online. Setiap band sudah mengirimkan video pendek untuk audisi dan bisa tampil di festival hari ini.
Ranita ikut menemani Melati. Dia begitu girang dengan acara ini. Apalagi bintang tamu spesial nanti RAN, salah satu group favorit Ranita. Dia alam minta tanda tangan mereka dan foto bareng, harus dan wajib. Dan kesempatan itu datang saat mendampingi Melati di belakang panggung. Melati tampil setelah bintang tamu perform. Dan tanpa ragu Ranita mendekati mereka, berkenalan, bersalaman, dan minta foto bareng. Mereka ramah dan asyik orangnya. Melati pun ikutan diajak foto bareng, karena Ranita tidak mau Melati jauh darinya.
"Kita sambut Red Sky Band!!!" MC dengan lantang memanggil band Melati. Mereka pun naik ke panggung.
Melati menyanyi dua lagu. Satu lagu wajib lagu bahasa Indonesia, Sempurna lagunya Andra and the Backbone dan satu lagi lagu bebas, Melati menyanyikan lagu bahasa Inggris, Titanium dari David Guetta ft. Sia. Suara halus dan sedikit serak basah mengalun lembut, tapi mantap. Diiringi aransemen musik yang keren suara Melati makin menggelegar, membahana di udara. Apalagi kostum merah hitam yang mereka pakai menambah greget saja penampilan mereka.
Begitu selesai membawakan dua lagu itu, MC langsung naik ke panggung.
"Wwowww.... hhuuuhhh!!! Dahsyat... pecah!! It is amazing..." sambut MC. Suara tepuk tangan, sorakan, dan suitan bersahutan.
Dan di belakang panggung, Ranita langsung memeluk Melati erat.
"Ahhh.... you are so great!!" kata Ranita. Matanya berbinar memandang sahabatnya itu.
"Thank you..." Melati tersenyum. Tidak menyangka dia bisa melakukan ini. Salah satu impiannya memang ingin jadi penyanyi terkenal. Jika ada jalan terbuka dia akan ikut. Siapa yang tahu bagaimana jalan hidup akan membawa seseorang dari satu tujuan ke tujuan lainnya.
Anggota band lainnya juga sangat senang dengan penampilan mereka. Entah menang atau tidak, itu bukan masalah. Yang penting mereka sudah lakukan yang maksimal. Sambil menunggu hasil lomba mereka pergi makan ke ruang yang disediakan panitia.
"Kenapa nama band kalian Red Sky?" Ranita bertanya sembari mulai makan.
"Gara-gara kami semua suka sunset dan sunrise," jawab Melati.
"Oo..." Ranita membulatkan mulutnya.
"Kalau sunset dan sunrise kan langit kemerahan." tambah Melati.
"Bisa aja yaa, hee... gara-gara itu jadi nama band." Ranita tersenyum.
Sampai jam 7 malam, baru pengumuman pemenang. Tak disangka Red Sky juara kedua. Mereka senang sekali. Band ini tergolong baru tapi langsung berprestasi di ajang bergengsi ini. Arthur nampak sangat puas. Dia bangga dengan adik-adik kelasnya itu.
Jam 9 malam Melati dan Ranita sampai apartement. Mereka langsung mandi dan bersiap istirahat.
"Lumayan dapat juara... ada uang saku buat pulang, yaa..." goda Ranita.
Melati terkekeh. "Iya, nih... ga nyangka aja."
"Uda tidur yuk, besok aku dijemput papa jam 10 pagi. Kamu juga berangkat ke Malang, kan?" kata Ranita.
"Iya. Ayah jemput jam 1-an katanya," ujar Melati.
__ADS_1
Lalu mereka masuk kamar masing-masing, memulai tidur malamnya. Karena lelah keduanya tidak lama sudah terlelap.
Pagi hari Melati dan Ranita sudah sibuk menyiapkan keperluan untuk liburan dan membedakan apartemen. Ranita dekat sudah tidak canggung melakukan pekerjaan rumah. Dia justru senang bisa melakukan itu. Meski tetap Melati yang lebih banyak kerjanya.
Jam 10 papa Ranita benar sudah datang. Tanpa berlama-lama Ranita dan Radika Hardani berangkat. Sebelum jam 12 ayah sudah datang menjemput.
"Kok lebih cepat, Ayah," kata Melati.
"Pekerjaan Ayah lebih cepat selesai," jawab Ayahnya. "Sekalian kita makan siang dulu. Biar ga buru-buru. Kereta nanti jam 6 sore."
Melati dan Gilang meninggalkan apartemen itu. Selama perjalanan Melati bercerita banyak dengan ayah tentang kuliahnya dan berbagai kegiatan yang dia lakukan. Gilang senang mendengar semua yang Melati ceritakan. Melihat putri sulungnya itu penuh semangat Gilang jadi ikut gembira. Dan semakin rindu dengan keluarga di rumah.
Perjalanan panjang dengan kereta berakhir. Ayah dan Melati naik taksi online ke rumah. Kebetulan juga hari Sabtu, adik-adik Melati juga libur sekolah. Begitu melihat Melati dan ayah datang mereka berebutan merangkul. Teriakan gembira bisa berkumpul lagi tak bisa ditahan. Melati sampai menitikkan air mata. Keluarga yang dia rindukan, ah... paling nyaman memang bersama mereka.
Ibu dengan senyum manis dan lembut memeluk Melati dan ayah bergantian. Ibu sudah menyiapkan makanan kesukaan keluarga. Mereka sarapan bersama sambil melepas rindu. Saling bercerita apa saja yang mereka alami saat berjauhan.
Setelah itu Melati istirahat di kamar. Kamarnya yang kecil tapi nyaman. Tempat dia dulu melepas lelah, belajar, dan menoreh banyak kenangan tentang hari-hari yang dia lalui.
Drrt... Melati melihat HP-nya.
Adik Kecil
- Di mana?
Melati
Adik kecil
- oo... good
Melati
- ☺
Adik Kecil
- see you 😀
Melati
- 😊😊
Melati menaruh HP dan tak lama terlelap. Perjalanan dengan kereta cukup melelahkan. Dia sering terbangun waktu di kereta. Makanya begitu membaringkan tubuh maunya tidur saja.
__ADS_1
Lily membangunkan Melati. Dia tidur lama sekali. Dari jam 11 sampai sore, hampir jam 4.
"Kak, bangun... Kak... ayo cepetan." Lily menggoyang-goyang badan Melati.
Akhirnya Melati membuka mata. Dia duduk sambil mengusap wajahnya.
"Kenapa?" ujar Melati.
"Ada tamu," kata Lily.
"Tamu? Cari kakak?" Melati agak melotot. Heran aja kenapa ada tamu buat dia. Dia juga baru datang.
"Hmm..." Lily beranjak dari kasur.
"Siapa, Ly?" tanya Melati.
"Lihat aja sendiri." Lily keluar kamar sambil mengedipkan mata.
Melati penasaran. Dia keluar kamar menuju ruang tamu. Begitu melihat yang datang Melati langsung membelakak.
Elvan di sana. Melihat Melati muncul dia tersenyum lebar, mengacungkan dua jarinya membentuk V.
"El..." Melati langsung deg degan. Aduh, dia bahkan baru bangun. "Aku mandi dulu," kata Melati.
Dia langsung masuk ke dalam, mandi dan berganti pakaian. Memakai pelembab dan bedak, menyisir rambutnya rapi, terurai hingga punggungnya. Melati kembali ke depan, ibu di sana sedang bicara dengan Elvan.
"Ini sudah rapi," ujar ibu begitu melihat Melati datang.
"Tidak apa saya ajak Melati, Tante?" kata Elvan.
"Boleh. Asal jangan malam pulangnya," jawab ibu.
"Jam 9," ucap Elvan. Ibu mengangguk sambil tersenyum.
"Ibu masuk dulu, ya..." kata ibu lagi. "Kalau berangkat langsung saja. Ayah sedang tidur ga perlu pamit ayah." Lalu ibu masuk ke ruang dalam.
"Pamit? Ajak aku?" Melati heran. "Emang mau ke mana?"
"Surprise..." Elvan tersenyum. "Ayo..." Tanpa menunggu lagi Elvan langsung bangun dan keluar rumah. Melati mengikutinya.
Elvan ternyata membawa mobil. Dia membuka pintu dan menyilakan Melati masuk. Melati yang masih bingung nurut saja. Elvan masuk ke mobil juga di belakang setir.
"Pakai seatbelt-nya," kata Elvan.
__ADS_1
"Mau ke mana?" tanya Melati lagi. Dia tidak menyangka cowok ini sudah bisa bawa mobil juga. Apa sudah cukup umur dia?
"Surprise..." jawab Elvan tanpa menoleh. Dan dia menjalankan mobil meninggalkan rumah keluarga Adinata.