
Pernikahan Melati dan Elvan makin dekat. Erika yang paling semangat menyiapkan segala sesuatu. Dia mengajak Sekar untuk mendiskusikan berbagai hal agar hari istimewa putra putri mereka sangat berkesan.
Elvan kali ini manut. Dia tidak mau membantah mamanya lagi. Pesannya tamu jangan terlalu banyak. Itu saja. Maka Erika mengatur semua sedetil mungkin. Perjuangan Elvan dan Melati sangat penuh liku, mulai dari LDR, lalu Elvan menghilang hampir setahun. Ditambah lagi tragedi hotel Club bunga, itu membuat Erika ingin memberi hadiah spesial untuk Elvan dan Melati.
"Elvan, jangan lupa jemput Melati untuk pas baju pengantin nanti siang. Jadwalnya di butik jam 2. Jangan telat," pesan Erika waktu makan pagi.
"Iya, Ma. Melati juga kan sudah tahu. Malah nanti aku yang mungkin lupa," kata Elvan.
"Awas kalau lupa. Dan dua hari lagi jadwal foto prewed, ya. Mulai jam 10. Langsung di lokasi." Erika meletakkan piring berisi roti lapis di meja.
"Makan ya, Mas," katanya pada Tirta.
Tirta hanya senyum simpul melihat istrinya begitu semangat ngurus pernikahan Elvan.
"Girang banget. Kok seperti kamu yang mau nikah, Yang," kata Tirta. Dia melirik pada Erika.
"Seneng la, anak kita mau nikah. Setelah banyak kejadian yang dia lalui, sebentar lagi akan menggandeng wanita pujaannya. Akhirnya Melati akan jadi menantuku." Erika duduk di sebelah Tirta dan mulai makan.
"Kamu gimana sama kekasihmu, uda serius?" tanya Tirta pada Farel.
Farel yang hampir memasukkan roti ke mulutnya menoleh pada papanya. "Tahu deh, Pa. Makin ke sini ga yakin," kata Farel.
"Mama rasa dia kurang cocok sama kamu. Putusin aja," timpal Erika.
"Mama ini, ya... Sama Melati dulu langsung ok, kalau sama pacar Farel..." ucap Elvan.
"Beda, El. Mama kan bisa rasa to.. mama ini ngerti anak Mama kayak gimana.. dan bisa feeling, nih, cewek kayak apa yang sesuai kalau sama anak Mama," tandas Erika.
"Tenang aja, Rel. Kalau ga yakin ga usah dipaksa. Daripada gantung bikin kamu ga happy." Tirta yang bicara sekarang.
"Wah, Mama Papa malah meyakinkan aku buat putus nih, heee...." Farel terkekeh.
Sambil makan mereka terus bicara menikmati pagi yang cerah.
Di rumah Melati, mereka sudah selesai makan.
"Ayo, Jati. Agak cepat dikit, nanti aku yang telat kuliah," kata Damar.
"Iya, tinggal pakai sepatu, Kak." Jati mengikat tali sepatunya dan mengejar Damar yang sudah keluar rumah, menuju motornya.
"Kita berangkat, ya?" ajak Gilang. Sekar, Lily, dan Melati masuk ke mobil. Ayah akan antar ibu ke TK, lalu terus ke Florian. Lily kerja lepasan tapi dia sukanya ikut ke Florian. Katanya adem di sana nyaman buat kerja.
"Nanti kakak jadi ngepas gaun pengantin?" tanya Lily sementara mobil sudah menyusuri jalanan.
"Iya, abis makan siang," jawab Melati.
"Prewed mau di Florian aja? Ga coba lokasi lain?" tanya Lily lagi.
__ADS_1
"Emang kenapa? Mas Elvan yang mau, kok," ujar Melati.
"Kak Mel ga ditanya mau di mana? Konsepnya apa? Tiap hari di Florian, masa foto prewed di situ juga."
"Mas Elvan bilang mau yang dekat denganku."
"Dekat dengan Kak Mel gimana maksudnya?"
"Bunga."
"Nama kakakmu itu Melati. Nama bunga," sahut Sekar. "Florian kan taman bunga."
"Kok Ibu langsung nyambung ya.. hee..." Lily terkekeh.
"Iya laa..." Sekar tersenyum lebar.
Siangnya, jam makan siang Elvan sampai di Florian, dia mengajak Melati makan siang langsung menuju butik. Di sana mereka disambut ramah oleh pelayan di butik itu.
"Ini beberapa design terbaru kami. Ada 4 design yang paling up to date. Ukurannya saya kira sudah sesuai ya, Mbak," kata pelayan itu. Sesekali dia memandangi Melati lalu ke Elvan. Balik lagi ke Melati ke Elvan.
Melati merasa diperhatikan begitu jadi rasa ga enak.
"Mbak, aku coba dulu, ya..." Melati mengambil suatu gaun yang lebih simple. Warna putih tulang yang dia pilih. Yang satu panjang lengannya dan lebar di bawah tapi tidak banyak pernak pernik. Dadanya agak rendah.
"Gimana, Mas?" Melati menunjukkan pada Elvan.
"Coba yang satu, deh..." kata Elvan.
"Ga bagus, ya..." ujar Melati.
"Bukan..." Elvan mendekati Melati. "Yang ini bikin ga kuat." Elvan berbisik sambil menunjuk bagian dada.
Spontan Melati meletakkan kedua tangannya di dadanya. "Hee... iya.." Melati tersenyum.
Mbak pelayan itu masih saja memandangi mereka berdua dengan tatapan yang gimana gitu. Melati tidak memperhatikannya lagi, masuk fitting room dan mengganti dengan gaun yang satu lagi. Tidak kalah simple dengan yang tadi. Leher Sabrina dengan lengan panjang ketat bahan transparan, panjang di bawah dan tidak terlalu lebar.
"Kalau ini, Mas?" kata Melati. Dia berdiri dengan kedua tangan di depannya di bawah perutnya. Elvan menatapnya dan tersenyum. Dia makin mendekat pada Melati. Dia genggam kedua tangan Melati. Terlihat wajahnya senang. Melati justru gugup ditatap begitu.
"Yang ini ya, kalau uda ok aku ganti," ujar Melati.
"Tunggu. Duduk situ dulu." Elvan menyuruh Melati duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Melati manut.
Elvan ganti memilih baju dan jas yang pas dengan dirinya. Melati tidak memberi pendapat apa-apa. Elvan tahu sekali yang pas dan bagus buatnya.
"Gimana? Keren, kan?" Elvan tersenyum, melihat di cermin lalu menghadap ke Melati. Melati mengangguk.
Ya, dia makin mengagumi ketampanan Elvan. Makin dewasa, matang, tapi tetap keren.
__ADS_1
"Sini..." panggil Elvan. Melati berdiri dan menghampiri Elvan. Elvan mengeluarkan ponsel dan memberikan pada pelayan yang membantu mereka.
"Tolong difoto, ya... yang bagus," ujar Elvan.
"Siap, Mas." Pelayan itu menjawab mantap. Masih saja dia memandang dengan penuh tanya pada Elvan dan Melati.
Elvan merapatkan dirinya pada Melati, memeluk pinggangnya dan sedikit menyandarkan tubuh Melati padanya. Melati merasa kikuk, tapi dia nurut.
"Senyum, jangan tegang gitu," kata Elvan. Dia menempelkan pipinya ke wajah Melati. Elvan sedikit berjongkok. Melati tersenyum.
"Coba lihat hasilnya." Elvan meminta ponselnya. Dia lihat di layar. "Cakep..." Senyumnya mengembang.
Melati ikut memperhatikan dan tersenyum malu-malu. Bagus sekali hasilnya.
"Ini pemanasan foto prewed, Mel," gurau Elvan. Langsung dia ganti wallpaper dengan foto itu. "Aku kirim ke WA nanti ganti wallpaper kamu, ya."
"Iya..." Melati tersenyum.
"Mas saya pernah lihat di mana, ya..." Akhirnya mbak pelayan itu tanya juga karena penasaran.
"Eh... Elvan dan Melati. Ih, akhirnya bisa ketemu langsung." Seorang gadis masuk. Dia juga pelayan butik ini karena pakai seragam seperti yang satunya.
Elvan dan Melati menoleh padanya dan tersenyum. Gadis itu menyalami keduanya.
"Siapa, sih?" Si mbak yang satu masih mikir juga.
"Rumah Garuda. Kamu lihat di Sandy Talk Show, kan?" timpal temannya.
"Ya ampun... iya... minta foto, dong..." katanya dan mengeluarkan ponselnya.
Maka jadilah sesi foto dengan fans. He...
"Bangga lo, kota Malang bisa punya kalian. Sukses ya, buat Rumah Garuda. Kalau ada event pasti aku nonton," kata gadis yang masuk belakangan tadi.
"Ya, makasih doanya." Melati tersenyum.
Kemudian Elvan dan Melati mengganti pakaian lagi. Dan meninggalkan butik setelah berucap terima kasih.
"Eh, mereka ramah dan baik ya.. bukan cuma keliatan di TV."
"Pastilah... kalau galak dan jutek mana ada anak-anak mau datang ke Rumah Garuda."
"Seneng bisa dapat fotonya. Uda ganteng, baik, sayang banget sama calonnya. Mau aku dapat yang kayak gitu."
"Melati juga orangnya baik dan lembut. Ga cantik banget sih, kulitnya juga ga putih, tapi wajahnya unik gitu. Ada khas gimana, punya saya tarik sendiri, ya."
"Kurasa Elvan suka karena pertama karena pribadinya Melati, ya... wajah kan bisa dipoles. Tapi orangnya simple, tetap saja suka lihatnya."
__ADS_1
Keduanya masih asyik ngerumpi artis lokal, sementara Elvan dan Melati meluncur menuju ke Rumah Garuda. Sore itu mereka penentuan peran untuk event Natal dan tahun baru.