Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 24 - Be With Me


__ADS_3

Waktu yang kita lewati adalah kesempatan


Hari yang kita jalani adalah perjalanan


Kesempatan yang kita rengkuh adalah petualangan


*


*


Ya, waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa sudah tiga bulan Melati menapaki dunia persilatan yang namanya kuliah. Menyelesaikan tugas dan tuntutan akademik cukup menyita waktu. Belum lagi tanggung jawabnya di kegiatan jurnalistik yang sibuk berkutat dengan mencari info, membuat artikel, dan hal-hal tulis menulis lainnya. Apalagi band yang dia ikut. Sudah beberapa kali manggung.


Red Sky Band, itu nama yang mereka sepakati. Ada Aji, pegang rythm, Toni di bass, Retha dan Alex di keyboard. Pemain drum akhirnya Alfaro yang dipilih. Karena Rudi pemain drum sebelumnya mengundurkan diri. Sedang Melati didaulat jadi vokalis. Melati senang saja dengan posisinya sekarang. Dia juga tidak begitu jago main musik.


Hari ini mereka akan tampil di acara peringatan Hari Sumpah Pemuda di kampus. Panitia juga mengundang salah satu band ternama, Armada. Melati selama ini ga begitu mengikuti band-band nasional, tapi dia tahu Armada Band. Tidak disangka dia akan sepanggung dengan mereka. Udah kayak artis tenar aja.


Di belakang panggung Melati bisa lihat personil band itu sangat santai. Mereka ngobrol sambil bercanda asyik. Mereka juga menyapa ramah kru dan semua penampil acara. Tidak segan memberi masukan dan tips gimana bisa tampil bagus. Wow, ini kesempatan langka, loo...


Dan sorakan begitu riuh saat bintang tamu tampil. Panggung benar-benar pecah. Hati Melati makin dag dig dug. Dia punya beban juga nih, bersaing sama band tenar. Tapi dia berusaha tenang. Toh mereka sudah persiapan matang untuk tampil hari ini. Melati menarik nafas dalam beberapa kali sebelum akhirnya gilirannya tiba.


Dua lagu yang dibawakan Red Sky band. Gebyar Gebyar dan Bendera. Ternyata tidak kalah heboh. Penonton juga bersorak meriah menyambut penampilan mereka. Ya, Melati dan band-nya sukses memeriahkan acara ini.


"Red Sky..... pecah, yesss....!!!!" Semua personil band angkat tangan tos di udara.


Mereka sudah ada di basecamp kegiatan band mereka.


"Mantappp... luar biasa hari ini," kata Aji. Dia tersenyum puas.


"Weehhh, permainan drum Alfaro yaa... ga kalah sama band tamu. Gila..." sahut Toni.


"Apalagi suara Melati, aduh... meledak tuh panggung," ujar Alex.


"Pokoknya kalian pecah habis hari ini." Arthur koordinator kegiatan band ikut menimpali. "Congrats buat semuanya. Dan masih ada acara besar nanti di akhir semester, festival band se-Jabar. Kalian siap-siap ya."

__ADS_1


"Oke, Bang. Asal jangan pas liburan. Udah ada jadwal mau liburan keluarga ke Jepang. Udah planning jauh hari, ni..." kata Retha.


"Ya, nanti kita atur itu... thanks hari ini, ya... kita bisa bubar sekarang." Arthur mengakhiri pertemuan mereka.


"Oke, guys... see you... bye..." seluruh personil membubarkan diri. Tinggal Alfaro dan Melati di ruangan itu. Melati memilih ganti kostum dengan kaos dan jeans sebelum pulang. Jadi dia masih membereskan barangnya.


"Iya.. aku sudah selesai... hmm... tunggu sebentar... Oke..." Alfaro bicara ditelpon. "Mel, aku duluan." Dia menegur Melati.


"Oke," jawab Melati pendek. Tak lama Melati mengangkat tasnya dan mematikan lampu ruangan. Kemudian dia tutup pintu dan meninggalkan gedung itu. Melati menunggu ojek online yang dipesannya.


Tak jauh darinya dia mendengar suara orang bicara. Melati menengok ke arah suara itu. Alfaro dan pacarnya. Ya, itu gadis yang dia lihat dengan Alfaro waktu di perpustakaan kapan hari.


"Alfa, kumohon maafkan aku. Aku tahu aku salah. Tapi aku ga mau kita putus," kata gadis itu.


"Aku sudah lelah, Delia. Ini ketiga kalinya kamu lakukan. Aku tidak mau lagi melanjutkan hubungan kita. Kalau memang kamu ga bahagia di sisiku, untuk apa dipaksakan?" sahut Alfaro.


"Nggak. Please, Maafkan aku... kalau kita putus apa kata papa mama? Mereka sudah sangat sayang kamu, seperti anaknya sendiri. Papa juga cuma percaya sama kamu. Alfa, tolonglah..." Delia menarik tangan Alfaro.


"Hatiku bukan terbuat dari batu. Pergilah. Urusan kita sudah selesai." Alfaro menarik tangannya melepaskan pegangan Delia. "Soal papa mama kamu, jelaskan sendiri pada mereka apa yang sudah kamu lakukan padaku."


"Mel... belum pulang?" tanya Alfaro. "Aku antar ayo.."


"Tidak usah, aku tunggu driver," tolak Melati.


"Di-cancel aja," bujuk Alfaro.


"Tidak apa. Kasihan batalin rejeki orang," tegas Melati.


"Mel..."


"Tuh, uda datang. Aku duluan. Bye..." Melati langsung menghampiri driver ojol yang menjemputnya. Dan segera motor itu berlalu.


"Mel... be with me..." bisik Alfaro.

__ADS_1


Sejak bertemu Melati di perpustakaan itu, Alfaro memang sering memikirkan Melati. Dia ingat sekali waktu SMA dulu, Melati suka padanya. Tapi gadis itu pintar menyembunyikan perasaannya. Dia tidak langsung terlihat ada hati dengannya. Dan ketika Alfaro mencoba mendekatinya, dia harus pindah sekolah ke kota lain.


Sedang Delia, dia sudah tidak ada hati padanya. Bukan karena kehadiran Melati. Tapi dari awal Delia yang menyukai Alfaro. Delia adalah putri dari atasan ayahnya. Saat ayah tahu Delia suka padanya, ayah memintanya menerima gadis itu, mengingat ayah Delia banyak berjasa untuk karir ayah Alfaro.


Alfaro tidak menolak, karena Delia memang ramah, baik, dan cantik. Setelah menjalin hubungan beberapa waktu, Alfaro mulai menyayangi Delia. Ternyata dia juga cewek yang mudah beralih hati. Ini ketiga kalinya Alfaro mendapati Delia ada hubungan dengan pria lain. Dan cukup sudah, Alfaro tidak mau terus dibodohi.


"Mel, aku tak tahu mengapa kita bisa bertemu lagi. Apakah ini pertanda aku harus mengembalikan hubungan kita yang bahkan belum dimulai?" batin Alfaro.


Ya, Alfaro merasa dia ada kesempatan untuk membawa hati Melati kepadanya lagi. Sekalipun mereka sekarang sering bertemu, Melati seperti menjaga jarak dengannya. Alfaro tidak tahu, itu karena Melati tahu dia punya pacar atau karena justru Melati yang punya pacar. Yang pasti dia akan mengejar kembali hati gadis itu.


Sementara Melati sudah sampai di apartemen. Jam 7 lewat 20 menit. Melati membuka pintu apartemen.


"Hai... muncul juga kamu. Gimana? Sukses?" Ranita menyambut Melati girang.


"Ya, sukses." Melati tersenyum lebar.


"Sayang aku ga bisa datang. Sakit perutku ini tak bisa diajak kompromi," kata Ranita. Ranita terkena diare dari kemarin.


"Belum baik juga?" tanya Melati.


"Mendingan sih, sehari ini hanya 4 kali buang air. Kemaren kan sampai lebih 10 kali," jawab Ranita.


"Aku mandi dulu, ya..." ujar Melati.


"Iya." sahut Ranita pendek. Baru beberapa menit Melati di kamar mandi, Ranita merasa perutnya mulas. Dia lari ke arah kamar mandi.


"Mell.... buka... sakit perutku..." Ranita menggedor pintu.


"Bentar..." sahut Melati dari dalam kamar mandi. Untung dia baru gosok gigi. Bahkan belum melepas bajunya. Melati segera keluar. Dan cepat-cepat Ranita masuk kamar mandi.


"Makanya makan pedas itu kira-kira!" kata Melati. Memang Ranita habis makan mie dengan pedas level tertinggi waktu di kantin kemarin. Dan inilah hasilnya.


"Iyaa.... kapok..." Suara Ranita dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


Melati pun ngakak...


__ADS_2