Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 39 - Bisakah Kita Bersama?


__ADS_3

Malam semakin dingin. Ranita duduk di sebelah Alfaro menikmati jagung bakar bersama. Melati dan Elvan duduk agak jauh dari mereka.


"Gimana rasanya kembali ke Malang?" tanya Ranita.


"Sennaangggg baangettt..." jawab Alfaro. Ranita tertawa. "Malang kota paling nyaman untuk tinggal. Sejuk, tidak terlalu ramai. Butuh waktu cukup lama aku bisa terbiasa dengan kota lain waktu kami pindah ke Kalimantan dulu."


"Iya. Kamu benar. Aku juga senang bisa pulang," sahut Ranita. Dia menggigit lagi jagung bakar din tangannya.


"Aku masih nangis kalau ingat kejadian malam itu. Perasaan takut sesekali tiba-tiba datang. Apakah memang tidak bisa hilang, ya?" Ranita memandang Alfaro yang meneguk kopinya.


"Itu wajar, Ran. Tidak apa. Pasti perlu waktu untuk bisa melupakannya," kata Alfaro. "Yang jelas cowok gila itu tidak mengganggumu lagi, kan?"


Ranita menggeleng. "Tidak. Kurasa ancaman kamu berhasil."


"Aku tidak mengancam. Aku serius. Orang tua Teddy dan papaku sering kerja sama kalau tugas negara. Kalau sampai ketahuan Teddy begitu bisa mencoreng nama ayahnya. Tentu dia ga mau la. Lagi dia juga selalu dibanggakan ayahnya itu," jelas Alfaro.


"Hmmm..." Ranita mengangguk. Dia mengambil. gelasnya, minum teh panas. Dadanya terasa hangat.


"Al, Mama tanya soal kamu," kata Ranita.


Alfaro mengangkat wajahnya melihat Ranita. "Tanya gimana?" ujarnya.


"Apa ada sesuatu sama kita," ucap Ranita pelan.


Alfaro diam. Dia meneguk kopinya lagi. Ranita merasa tidak enak sekarang. Mungkin tidak seharusnya dia mengatakan ini. Memang Alfaro baik, bahkan sangat baik padanya. Tapi bukan berarti Alfaro mulai suka padanya, kan? Alfaro bisa saja masih menyimpan rasa buat Melati.


Ranita menyadari dia mulai melihat Alfaro dengan cara berbeda. Sejak malam dia menyelamatkan Ranita dari Teddy, dia melihat Alfaro adalah lelaki yang kuat dan hebat. Jiwa pelindungnya begitu nampak. Dan Alfaro mau berjanji melindungi dan menjaganya. Sampai sekarang dia masih melakukannya.


Alfaro menatap Ranita. Hati Ranita jadi tidak menentu. Dia terlihat gelisah. Tidak biasanya Ranita bersikap begini. Apa dia sudah mulai suka Alfaro?


"Kita memang makin dekat kan, Ran?" kata Alfaro. Matanya masih memandang Ranita yang pura-pura sibuk dengan gelasnya.


"Iya juga, sih..." pelan Ranita berkata.


"Menurutmu, apa kita bisa bersama?" tanya Alfaro, kalem.


Oo - ooh! Ranita kaget mendengar itu.. Maksudnya bagaimana? Ranita melihat wajah cowok itu. Ganteng dengan rambut ikalnya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu perasaanku padamu. Tapi aku nyaman dekat kamu. Aku ingin memastikan kamu selalu baik-baik saja. Aku tidak mau kamu terluka," kata Alfaro jujur.


"Oh, Tuhan... benarkah ini?" batin Ranita. Apa Alfaro akan menembaknya?


"Kita jalani sama-sama sambil kita saling memahami apa yang kita rasa," lanjut Alfaro.


Ranita masih diam. Ranita tahu dia belum jatuh cinta pada Alfaro. Tapi bisakah dia menolak?


"Kamu lihat aku gimana?" tanya Alfaro.


"Aku berhutang hidup padamu, Al. Yang sudah kamu lakukan untukku tidak bisa kubalas dengan apapun. Aku bersyukur Tuhan kirim kamu malam itu," kata Ranita. "Dan sejak itu, aku tahu akan akan aman jika bersama kamu. Karena kamu sudah melakukannya, menjaga aku."


Alfaro menggenggam tangan Ranita. Tangan gadis itu dingin sekali. "Jadi kamu mau?"


Ranita menatap Alfaro. Dia masih menunggu kepastian Alfaro.


"Mau jadi kekasihku?" lanjut Alfaro. Jantung Ranita langsung berdebaran. Wajahnya merona. Dia tersenyum dan mengangguk pelan. Alfaro makin memgeratkan genggamannya.


Malam terus bergulir...


**


"Siapa yang menyangka kamu sekarang jadian sama Alfaro. Ciee..." Melati menggoda Ranita.


"Hee... hee..." Ranita terkekeh. "Siapa bisa nolak coba, cowok baik abis gitu..."


"Aku lebih tenang jadinya. Karena Alfaro pasti akan selalu jaga kamu," kata Melati. "Apa, kamu benar suka dia, Ran?"


Ranita yang dari tadi bergulingan di kasur langsung duduk. "Aku tahu aku belum cinta sama Alfaro. Maksudku jatuh cinta yang orang bilang jantung meletup-letup, selalu ingin bareng, panas dingin kalau ketemu. Tapi aku merasa aman sekali kalau dia ada denganku. Aku tahu dia pasti melindungi aku."


"Apa jatuh cinta harus seperti itu? Meletup-letup? Bisa jadi dengan kenyamanan yang kita rasa itu sudah menunjukkan kita jatuh cinta pada seorang pria." Melati ikut duduk, dia bersandar di kepala ranjang.


"Kamu juga waktu terima Elvan belum yakin kalau jatuh cinta, ya? Tapi dijebak sama dia. Akhirnya terpaksa cinta. Haa... haa...." Ranita tertawa.


Melati ikut tertawa. Ranita benar juga. Elvan semacam menjebaknya dan memposisikan dia menjadi kekasih tanpa permintaan yang jelas. Tiba-tiba saja sudah diajak ketemu orang tuanya dan dikenalkan sebagai kekasihnya.


"Kamu juga, abis ini lebih aman. Ada Elvan kan, nanti," timpal Ranita. "Minggu depan kamu rencana balik kampus? Apa Elvan ke kampus barengan?"

__ADS_1


"Nggak la... Aku masuk lebih awal karena mesti menyiapkan buku di perpustakaan. Elvan rencananya awal bulan baru berangkat," jelas Melati. "Makan tuh kripik, jangan dianggurin aja."


Ranita mengambil kripik kentang di toples di atas meja dan memakannya.


"Hmmm, enak juga," ujar Ranita.


HP Melati bergetar. Vidcall Elvan Cintaku ❤.


"Hai..." Melati menyapa Elvan.


"Lagi apa?" tanya Elvan. Dia akan berangkat camping dengan keluarganya hari ini.


"Nih, terima tamu." Melati menggeser HP menunjukkan Ranita.


"Eiii.... Ada Rani. Bosan di rumah? Ga jalan sama Alfaro?" Elvan tersenyum lebar.


"Dia lagi acara sama keluarga omnya," kata Ranita.


"Oke. Aku berangkat, ya..." Elvan melambai. "Don't forget... just keep your heart for me." Elvan mengedipkan matanya.


Melati tersipu. "Iya. Baik-baik di sana. Salam buat semua." Melati balas melambai. Panggilan ditutup.


"Mel, waktu aku marah-marah sama kamu, apa yang kamu pikir?" tanya Ranita. Dia mengingat kembali kejadian semester lalu.


"Ya, sedih laa.... kamu berubah. Biasanya kamu mau dengar aku. Tapi hari itu kamu ingin aku pergi dari hidupmu," kata Melati.


"Aku jahat, yaa... merasa kamu sok ikut campur hidupku. Padahal aku yang egois dan bertindak bodoh," tukas Ranita. Dia mendesah. "Hampir saja kejadian Kak Arni terulang. Kenapa aku bisa begitu aku juga bingung."


"Iya gitu kali yang dibilang cinta itu buta," sahut Melati.


"Terima kasih karena kamu ga pergi waktu itu. Kamu sabar banget sama aku. Coba kamu ikut marah lalu ninggalin aku, gimana terus nasibku," ujar Ranita.


"Makanya jadi anak itu yang nurut." Ranita mencubit pipi Ranita.


"Aduh... iya... hee..." Ranita mengusap pipinya sambil tertawa.


*

__ADS_1


There is nothing on this earth more to be prized than true friendship.


Thomas Aquinas


__ADS_2