Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 56 - Pembelaan Krista


__ADS_3

"Aku yang menyuruh Melati menggantikan kamu, Sil," Krista muncul.


Kontan tangan Sisilia turun dari jidat Melati.


"Tapi kamu tidak berhak memutuskan sepihak mengganti posisi orang," bantah Sisilia. Dengan amarah penuh.


"Aku tidak ada pilihan. Kamu datang sangat lambat. Lebih 10 menit kamu belum muncul. Sudah dua segmen berjalan. Aku tidak mau ambil resiko," jawab Krista tegas. "Seharusnya kamu berterimakasih pada Melati. Dia menolong acara berjalan baik."


"Aku tetap tidak terima dengan semua ini. Aku akan adukan kamu ke Pak Daniel. Ternyata karyawan terbaik yang dia banggakan bekerja tidak becus. Aku pasti bereskan ini," ujar Sisilia berapi-api.


"Dan kamu, kampus kamu akan dengar berita mahasiswanya ngelunjak tak tahu diri di tempat magang!" sentak Sisilia pada Melati lalu dia meninggalkan tempat itu.


Melati langsung panik. Bagaimana ini? Pak Daniel akan tahu ada masalah. Lalu kampusnya? Bisa-bisa dia diskors atau dapat konsekuensi lebih berat.


"Tenang saja, Melati. Kalau dipermasalahkan aku yang salah. Aku yang meminta kamu tadi. Dan aku yang ambil keputusan. Tunggu saja, tidak lama Pak Daniel akan memanggil aku," kata Krista. Entah kenapa kata-katanya begitu tenang meski masih tersirat marah.


Sementara Sisilia dengan sangat kesal meninggalkan Sunny TV. Dia sudah susah payah merangkak sana sini untuk karir menyanyinya. Dia baru berhasil selama setahun ini karena menjadi singer di acara talk show itu. Orang mulai kenal dia dan ada tawaran lain yang juga menjanjikan makanya dia tidak sia-siakan. Sekalipun dia harus pontang-panting mengejar waktu agar kontrak di Sunny TV tetap lanjut.


Dan sekarang, tiba-tiba saja anak magang itu dengan gampangnya tampil live di TV. Tepat sekali saat bintang tamunya Agatha Monita. Itu momen yang paling dia tunggu. Agatha harusnya melihat dia bukan Melati. Dan dia yang tadi harusnya dipanggil sepanggung dengan Agatha dan bukan Melati!


Apa yang dilakukan anak magang itu sampai Krista begitu suka padanya? Sepintar apa dia menjilat? Ini tidak bisa dibiarkan. Harus diberi pelajaran. Bukan hanya Melati tapi juga Krista.


Keesokan harinya dengan perasaan tidak tenang Melati berangkat ke Sunny TV. Semalam waktu pulang banyak sekali chat dari keluarga, teman-teman yang mengucapkan selamat karena dia bisa live di TV. Termasuk Elvan, yang kirim banyak chat dengan emoticon love. Tapi semua itu tidak membuat hati Melati tenang. Yang dia ingat adalah Sisilia. Apa yang akan dilakukannya? Benarkah dia akan melaporkan ke Pak Daniel dan juga ke kampus? Tapi di kampus tidak terjadi apa-apa. Justru ucapan selamat juga datang dari teman-teman kampusnya diterima Melati.


Jam setengah 2 siang Melati masuk kantor Sunny TV. Lagi dia akan bekerja untuk acara talk show Sandy. Melati berusaha menepis semua kegelisahan yang menggelayuti hatinya. Sebisa mungkin bersikap wajar kepada semua orang yang bekerja bersamanya.


"Melati, dipanggil ke kantor Pak Daniel." Salah satu karyawan menghampiri Melati yang sedang melakukan edit untuk script acara.


Melati mengangkat kepalanya. "Sekarang?" tanya Melati. Deg... jantungnya mulai berdegup kencang.


"Nanti, kalau sudah turun hujan duit. Ya sekarang, Mel...." ujar karyawan itu sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


Melati justru tersenyum kecut. Dia cepat-cepat ke ruangan Pak Daniel. Dia mengetuk pintu. Dari dalam terdengar sahutan menyuruhnya masuk. Melati membuka pintu dan masuk ke dalam. Di sana Pak Daniel duduk di kursi besarnya. Di depannya ada Sisilia. Juga Krista yang duduk tak jauh dari Sisilia. Melati melangkah beberapa langkah ke arah meja Pak Daniel.


"Mel, duduklah." Pak Daniel menunjuk kursi di sebenarnya Sisilia dan Melati duduk di sana.


"Kamu pasti sudah tahu alasan kamu aku minta datang ke sini," kata Pak Daniel.


"Iya, Pak." Melati menundukkan kepala.


"Tuhan, kumohon... bantu aku..." batinnya.


"Aku menerima laporan Sisilia tentang kejadian semalam. Aku juga sudah bicara dengan Krista mengenai apa yang terjadi. Kamu, apa yang ingin kamu katakan, Mel?" tegas Pak Daniel berkata. Nada bicaranya yang berwibawa membuat Melati merasa antara nyaman dan takut.


"Sebelumnya saya minta maaf jika yang terjadi semalam membuat tidak nyaman bagi kru di acara talk show Pak Sandy." Melati mencoba setenang mungkin berbicara. Dia tidak akan mencari alasan membela diri atau menyalahkan Krista yang menyuruhnya. Dia akan mengatakan perasaan dan pikirannya saja.


"Acara semalam merupakan acara penting untuk Sunny TV. Saya sesuai instruksi melakukan yang saya bisa sejak bergabung dalam tim besar program ini. Semalam ada situasi mendesak yang harus cepat diatasi. Dan sebagai bagian tim saya menerima apapun keputusan agar acara tetap berjalan sampai tuntas. Jika apa yang terjadi tidak sesuai prosedur dan tidak berkenan, saya siap menerima resikonya, Pak," kata Melati.


Pak Daniel memandang Melati, lalu menoleh ke arah Krista dan terakhir pada Sisilia.


"Sisilia, memang Krista melakukan kesalahan menggantikan kamu dengan Melati. Apalagi tiba-tiba. Padahal kamu sudah berusaha sesegera mungkin ke studio. Dan Melati harusnya berani menolak karena itu menyalahi prosedur. Begitu, kan?" Daniel menatap Sisilia. Lalu melirik sekilas ke arah Krista dan Melati.


Sisilia tersenyum penuh kemenangan mendengar ucapan Daniel. Rencananya berhasil. Krista menaikkan wajahnya. Dia balas menatap atasannya itu. Sedang Melati langsung makin gugup. Dia menyatukan jari-jarinya berharap sedikit lebih tenang.


"Satu yang aku mau tekankan di sini." Daniel melanjutkan. "Penggantian posisi secara tiba-tiba memang perlu dilakukan melihat kondisi yang terjadi semalam. Keterlambatan satu orang dalam tim besar bisa mempengaruhi kepada keseluruhan rencana dan berjalannya program. Itu lebih diperlukan ketika kamu ada di posisi yang krusial dan harus ada di tempat pada waktunya. So, Krista did the way she needed to do."


Tatapan kemenangan Sisilia berubah. Wajah kemenangan menghilang berganti wajah penuh tanya.


"Benar, Sil. Krista mengambil keputusan yang tepat. 10 menit terlambat itu tidak bisa diterima. Apalagi dari laporan Krista ini bukan yang pertama kamu terlambat. Dan Melati, perfoma yang dia tunjukkan menurutku sangat profesional. Mendadak menjadi pengganti tapi dia buktikan dia menyelesaikan tanggung jawab dengan sangat, sangat baik." Daniel masih menatap Sisilia.


"Tapi, Om..." Sisilia protes.


"Aku tahu bagaimana Krista bekerja. Dia jelas tidak asal mengambil keputusan. Dia selalu menjaga apa yang dia planning berjalan dengan tepat. Dan pasti sebelumya dia ingatkan kamu soal keterlambatan kamu. Baru hari ini aku tahu soal itu, yang ternyata sudah terjadi berulang. Justru seharusnya dia sudah memberi peringatan keras padamu dan melaporkan padaku lebih awal. Dia masih memandangku karena kamu keponakanku. Padahal Krista tahu hubungan pertemanan atau kekeluargaan tidak boleh dicampur aduk dalam urusan kerja." Daniel dengan tenang sekali mengatakan semua itu.

__ADS_1


"Jadi, menurutmu bagaimana, Sil? Sebagai pimpinan apa yang harus aku lakukan padamu?" Daniel memajukan wajahnya mendekat ke arah Sisilia.


Melati baru tahu, Sisilia ternyata keponakan Daniel. Dengan sikapnya itu, Melati makin kagum dengan Daniel. Dia tidak memihak, dia melihat secara obyektif.


"Om... aku sudah berjuang untuk karirku. Ketika aku masuk di sini aku juga harus mengikuti prosedur dengan audisi dan hal lainnya... Masa gara-gara anak magang harus buyar, Om?" Sisilia masih mencoba membela diri. Dia melihat ke arah Melati dengan tatapan marah.


"Bagaimana? Anak magang?" Daniel mengulang kata-kata Sisilia. Wajah Daniel memerah. "Kau masih belum paham cara kerja di TV ini rupanya. Setiap orang yang bekerja di sini punya tanggung jawab sama dan hak sama. Tidak ada itu namanya pimpinan atau karyawan atau anak magang jika berurusan dengan pekerjaan. Semua harus bekerja sesuai prosedur." Suara Daniel agak meninggi.


"Karena seseorang bisa jadi profesional itu dimulai ketika dia baru magang. Di situ diuji keseriusannya, ketangguhannya, dan kecakapannya. Jika Melati masih magang saja, pada situasi mendesak dia mengambil alih tugas yang bukan bagiannya, lalu melakukannya dengan begitu baik, kalau dia benar jadi karyawan di sini..." Daniel menggantungkan kalimatnya, lalu menoleh pada Melati. Dan kembali melihat Sisilia, "... ada banyak hal besar yang dia bisa lakukan nanti."


Sisilia kaget sekali dengan pernyataan Daniel. Bukan dia mendapatkan pembelaan, justru marah dari atasan yang juga omnya.


"Pikirkan semua yang aku katakan. Aku juga akan berpikir apa yang harus aku lakukan padamu," tutup Daniel.


Sisilia memandang lurus ke arah Daniel. Nampak ketidaklegaan dari wajahnya.


"Pergilah. Masih ada yang aku harus bicarakan dengan Krista dan Melati." Nada suara Daniel merendah. Terlihat dia mencoba menekan emosinya.


Tanpa bicara apa-apa Sisilia meninggalkan ruangan Daniel. Tapi kemarahan masih belum hilang di wajahnya. Daniel sekarang berhadapan dengan Krista dan Melati.


"Kamu tetap bisa diandalkan, Krista. Terima kasih untuk kerja luar biasa semalam. Dan Melati, secara pribadi aku minta maaf atas kejadian ini. Sebagai pimpinan, aku salut untuk perfoma kamu. Pertahankan itu, pasti masa depanmu akan sangat cerah," kata Daniel yang sudah mulai tenang.


"Terima kasih, Pak," jawab Melati pendek.


"Untuk Sisilia bagaimana, Pak?" tanya Krista.


"Tetap ikut prosedur. Aku akan buat surat peringatan. Biar dia selesaikan kontrak baru kita lihat bagaimana kemudian," jawab Daniel. "Oke, kalian bisa lanjut ke pekerjaan kalian."


"Baik, Pak. Terima kasih," ucap Krista. Dia keluar ruangan Daniel. Melati mengangguk kepada Daniel dan berterimakasih lalu cepat-cepat menyusul Krista.


Hati Melati jauh lebih tenang sekarang. Dia belajar banyak dari peristiwa semalam. Bagaimana menjadi pemimpin yang bisa bertindak cepat dan tepat menyelesaikan masalah yang muncul. Bagaimana menjadi pimpinan yang profesional tanpa melihat urusan personal. Bekal yang sangat baik untuknya di masa mendatang.

__ADS_1


Yang jadi bonus, Melati langsung dikenal seantero Sunny TV gara-gara itu. Anak magang, pemeran pengganti tapi top markotop.


__ADS_2