
Dengan lesu Elvan menuju studio tempat tim latihan. Dia sengaja datang lambat. Bolak balik Tio chat dia memastikan dia pasti datang. Begitu masuk studio teman-teman bersorak girang. Mereka lega Elvan muncul akhirnya.
Latihan segera mulai. Fara yang dari awal Elvan datang menatapnya terus tidak dia lihat sama sekali. Elvan masih marah dengan sikap Fara malam itu. Dan sekalipun Fara mencarinya dia tidak pedulikan. Bahkan kontak Fara sudah dia blokir.
Usai latihan, Elvan cepat-cepat meninggalkan studio. Tapi Fara mengejarnya. Elvan tidak mau tahu. Gadis itu tertatih mengikuti langkah Elvan, Elvan pura-pura tak tahu.
"El, kamu mau aku keseleo lagi?" sentak Fara.
Elvan akhirnya berhenti. "Aku buru-buru," kata Elvan datar. "Apa maumu?'
"Aku tahu kamu keluar dari band karena aku. Apa kamu benar benci aku, El? Seburuk itu aku di matamu?" tanya Fara. Terdengar jelas di kesal pada Elvan.
"Dengar, aku tidak mau berpikiran buruk sama kamu. Aku tidak mau membuat situasi tambah ga baik di tim, maka lebih baik aku keluar. Karena hidupku bukan tim ini, Fara," jawab Elvan.
"Dasar picik," umpat Fara. "Kamu tidak profesional. Harusnya kamu bisa bedakan urusan tim dan pribadi, dong."
"Terserah pendapatmu. Kamu udah tahu, untuk apa minta kejelasan." Elvan mulai berjalan lagi.
"Hei, pria songong... " Fara mengikuti Elvan lagi. "Sejauh apa kamu lari, aku akan kejar kamu. Dengar itu!"
Elvan melambai tanpa menoleh. Dia makin mempercepat kakinya menuju parkiran. Fara menghentikan langkahnya. Sekarang yang ada di hatinya adalah kemarahan besar. Dia memang cinta Elvan. Tapi penolakan cowok itu membuat harga dirinya runtuh. Selama ini dia dapat yang dia mau. Papa mama dan kakaknya akan lakukan apapun untuk dia memperoleh yang dia inginkan. Sekarang gilirannya berjuang untuk dapat Elvan. Apapun caranya.
"Kamu pikir dengan menghindar masalah selesai?" gumam Fara. "Lihat saja, aku akan temukan cara membuatmu mau tidak mau terpaksa menerimaku." Dengan geram Fara mengepalkan kedua tangannya lalu meninggalkan kampus.
Akhirnya hari Sabtu, hari yang dinanti datang juga. Ini panggung terakhir Elvan. Acara pernikahan putri pejabat kota Malang. Dia juga salah satu orang terkaya di Jawa Timur. Sekaligus dia salah satu sponsor universitas Elvan berkuliah. Tak heran acara dibuat begitu megah. Undangannya mencapai 2000 orang. Dekorasi yang dipasang menakjubkan. Acara sangat meriah. Dua artis ibukota, Yuni Shara dan Judika tampil memukau. Memang kesempatan langkah juga bisa ikut tampil acara pesta begini besar.
Elvan yang kurang suka pesta, tidak terlalu pusing dengan sekelilingnya yang begitu riuh dibalut kemewahan. Dia lebih menikmati musik yang mereka tampilkan. Dia puas juga di sesi perpisahan ini performa mereka benar-benar maksimal.
Pesta usai jam 10 malam. Masih ada pihak keluarga dan relasi yang duduk bercengkrama di area pesta outdoor yang luas. Band sudah bisa istirahat. Diputar instrumen lagu romantis sebagai pengganti hiburan band. Elvan dan teman-temannya diberi kamar khusus untuk menginap malam ini. Tapi Elvan berencana pulang saja. Jarak Club Bunga ke rumah dia bisa tempuh sejam, tidak begitu jauh buat Elvan.
Mereka masih ngobrol sambil makan.
"Gila... ga nyangka kita bisa main sekeren ini, ya." Dodi bicara sambil mengunyah makanannya.
"Hmm... bayangkan kalau Elvan ga mau ikut. Jadi apa band kita?" sahut Tio.
"Iya, Bro. Kita masih berharap kamu ga keluar la..." Ganti Reno yang ngomong.
"Udah ga usah cari alasan. Kita sudah sepakat ini yang terakhir," ujar Elvan. Dia baru saja menyelesaikan makannya.
Muncul Fara entah dari mana. Gadis ini tiba-tiba hilang pas mereka disuruh makan oleh panitia pesta.
__ADS_1
"Guys, bersulang , yukkk... buat kesuksesan kita..." Fara membawa nampan berisi minuman buat mereka. Dia bagi satu-satu ke teman-temannya.
"Weih... kamu perhatian juga, yaa... tapi betul ini mesti toss buat band kita. Malam ini mantulll!" kata Reno.
Mereka mengangkat gelas lalu minum bareng. Sorakan gembira terdengar dari mereka. Elvan merasa aneh dengan minuman yang dia minum tadi. Dia merasa pahit ketir di lidahnya. Apaan ya? Tapi terlanjur dia minum cukup banyak. Tak lama kepalanya mulai terasa pusing.
"Guys, aku masuk kamar dulu, ya... Mau vidcall sama pacar. Dia uda nunggu," kata Dodi. Dia langsung berdiri bersiap ke kamarnya.
"Eh, ikutan. Kita sekamar kan?" Reno menyusul.
Elvan menggeleng-geleng kepala. Lalu memijat-mijat keningnya. Makin pusing rasanya.
"El, kamu baik-baik?" tanya Tio.
"Tahu nih. Kok tiba-tiba sakit kepala," jawab Elvan.
"Sudah, ga usah pulang. Tidur sama aku. Besok kita mau lanjut jalan ke atas," ujar Tio. Memang teman-temannya berencana pergi ke Hutan Wisata Cangar.
"Ga. Aku pulang saja. Bentar lagi pasti mendingan," kata Elvan.
"Ya udah, aku masuk." Tio berdiri. "Fara, temani ya. Pastikan dia aman." Tio menoleh pada Fara yang duduk tidak jauh dari Elvan.
"Tenang aja," sahut Fara. Tio berlalu.
"El, kalau ga kuat istirahat di sini aja," kata Fara. "Tidur semalam, pasti baikan." Fara mendekati Elvan.
Elvan mengerjap beberapa kali. Dia mulai ga dengar jelas Fara bicara apa. Dan sekarang perutnya mulai mual. Elvan bangun.
"Kenapa?" Fara ikut berdiri.
"Aku mual. Eehhukk." Elvan membekap mulutnya. Badannya sempoyongan.
Fara cepat menahan tubuh Elvan. Bagus reaksi minuman itu hampir bekerja total. Fara memapah Elvan menuju kamarnya. Beberapa meter jalan, mereka hampir jatuh. Fara kesulitan menahan Elvan karena badannya yang tinggi itu.
"Mbak, saya bantu, ya..." Salah seorang pegawai hotel mendekati mereka. Pemuda itu memegang tangan kanan Elvan. Dia minta Fara melepaskan Elvan. Dia sendiri yang membantu Elvan. Karena badannya juga besar dia dengan gampang memapah Elvan yang terseok-seok.
"Ah... di mana ini? Aku mau pulang..." Antara sadar dan tidak Elvan bergumam tidak begitu jelas.
"Mabuk ya, Mbak?" kata pemuda itu.
"Kayaknya gitu, deh," ujar Fara.
__ADS_1
"Kamar berapa, Mbak?" Pegawai hotel itu bertanya sambil terus berjalan.
"109. Uda dekat, kok," Kata Fara. Fara mendahului dan membuka pintu kamar lebar-lebar.
Pegawai hotel itu membawa Elvan masuk dan membaringkannya di ranjang. Begitu Elvan terlentang pegawai hotel itu agak kaget.
"Elvan, kan?" bisiknya. Lalu dia melihat ke arah Fara. Ga mungkin ini istrinya. Pacar? Tapi Elvan seleranya ga norak gini deh, setau dia, waktu di sekolah dulu. Fara memang lagi-lagi mengenakan pakaian yang ga penuh kain di badannya. Dengan belahan rendah hampir menyembulkan bagian khusus di dadanya itu.
"Apa dia jadi berubah?" batin pegawai hotel itu.
"Saya tinggal, Mbak. Kalau ada perlu panggil saja," katanya ramah pada Fara.
"Iya, Mas... Hasan. Oke." Fara membaca name tag di dada pegawai itu.
Hasan keluar masih dengan keheranan. Di kamar Fara mencak-mencak senang. Dia lalu mendekati Elvan. Berbaring di dekat dada Elvan.
"El... kamu milikku sekarang. Aku sudah bilang, kan? Bagaimanapun aku akan mendapatkan kamu." Fara tersenyum lebar. Dia elus dada Elvan.
Cowok itu diam. Dia tidur apa pingsan, sih. Harusnya ga kayak gini. Bayangan Fara, Elvan akan menjadi liar dan melakukan sergapan, dekapan atau apapun yang akhirnya membuat mereka bercinta. Kayak di film-film atau novel-novel itu. Malah molor nih cowok.
"El..." Dia guncangkan tubuh Elvan.
"Mel... aku kangen..." gumam Elvan. Fara masih bisa mendengarnya.
"Sialan. Dalam keadaan gini masih cewek itu yang diingat." Fara duduk lagi. Lalu dia mau apa coba? Ah... foto... foto seru-seruan, biar ada bukti otentik Elvan tidak akan bisa kabur darinya.
Dia segera membuka jaket Elvan. Lalu kaos Elvan. Aduh, susah juga, ya... Kaos lengan panjang lagi.
"Kenapa pakai baju ribet gini, sih? Kayak tahu aja kalau aku mau kerjain," ujar Fara. Begitu selesai melepaskan kaos Elvan dengan susah payah, Fara mengambil HP dan mulai memotret Elvan. Hmmm... harus ada dirinya dong. dia merapatkan badan di dekat Elvan. Elvan merem saja. Crrtt, beberapa kali.
Fara memperhatikan hasil jepretannya. Harus lebih meyakinkan lagi. Hmm... ah, buka dikit bajunya, tunjukin pundak dan dada nongol dikit. Ya... lagi dia tiduran di dekat Elvan yang cuma merem itu. Dia ambil gambar beberapa kali.
Apa kurang hot, ya? Lebih seru kalau buka celana kali. Fara menaruh HP. Dia mendekati Elvan. Ih, kok ngeri juga, ya... Tapi... ini demi cinta, Fara... Fara mulai memegang jeans biru Elvan di pinggang. Baru dia sentuh Elvan bergerak.
"Mel... kangen.. Aku nyusul, yaa..." Lagi Elvan menggumam. Dia membalikkan badan jadi tengkurap.
"Ah... sial..." Fara cemberut. Dia lihat lagi foto-foto di HP-nya. Cukuplah.
"Sekarang?" Fara duduk di sebelah Elvan. Cowok itu tidur tengkurap dengan melebarkan kaki dan tangan. Kasur besar itu sudah jadi penuh badan Elvan. Mana bisa dia tidur di sana.
"Dasar," gerutu Fara. Dia pun pilih membaringkan tubuhnya di sofa di kamar itu yang lumayan besar. Kalau buat badannya masih muat berbaring di sana.
__ADS_1
Sambil berbaring di sofa, Fara senyum sendiri. Dia membayangkan gimana Elvan akan minta-minta maaf lalu dengan wajah melas mau menerima dia dan bertanggung jawab gara-gara kejadian malam ini. Fara terkikik. Pintar juga dia ternyata. Tak lama Fara tertidur.