Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 15 - Akan Tetap Bersama


__ADS_3

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran


*


*


Hari penantian akan tempat perjuangan yang baru terjawab sudah. Melati diterima di Universitas yang dia dambakan karena prestasi akademiknya. Dia akan segera menjadi mahasiswa salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini, Universitas Indonesia. Begitu juga Ranita. Dia berhasil masuk UI dengan mengikuti tes.


Rasanya kebahagiaan saat graduation lalu belumlah lenyap telah dilimpahi lagi dengan tercapainya mimpi menempuh pendidikan di Universitas yang diidamkan segera jadi nyata.


"Sayangku... memang kita berjodoh, yaa... Selalu bersama. Dan akan tetap bersama." Dengan riang Ranita memeluk Melati. Melati membalas rangkulan Ranita sambil, tersenyum lebar.


"Ini hebat, kan? Kita nanti kos bareng. Asyik, ada teman..." Melati berkata dengan semangat.


Pagi itu mereka janjian ke sekolah ambil ijazah SMA.


"Bisa sombong sedikit nih, kalau ditanya guru atau adik kelas. Masuk univ mana? UI." Ranita kembali meluapkan kegembiraannya. Melati benar-benar tertawa sekarang.


"Sampai.... " ujar Ranita lepas. Mereka tiba di kantor sekolah. Mereka ambil ijazah SMA mereka.


Beberapa teman juga sudah di sana. Akhirnya terjadilah kehebohan di antara alumni baru SMA itu. Setelah mengantri kira-kira 15 menit, Ranita dan Melati dapat gilirannya. Tidak sampai lima menit kemudian mereka sudah keluar lagi dari kantor.


"Sekarang? Pulang atau jalan-jalan?" tanya Melati.


"Kantin laa... kangen aku duduk di kursi kesayangan. Apalagi sambil menikmati es atau jus. Lalu di sekitar ada pemandangan indah yang tak boleh dilewatkan," jawab Ranita. Mereka pun mengarahkan kaki menuju kantin.


"Pemandangan indah apa di kantin?" Melati heran dengan kalimat terakhir Ranita.


"Cowok-cowok kece... Kadang beberapa bertebaran di sana, kan?" Ranita menjawab sambil terkekeh.


"Dasar... kamu ini..." Melati jadi ngakak juga.


Sekolah sudah hampir berakhir. Ini sudah awal Juni. Semua kelas pasti tinggal menyelesaikan sisa tugas dan ujian, lalu minggu depan sudah mulai libur. Datang ke sekolah lagi membuat Melati ingat semua keseruan masa SMA yang baru dia tinggalkan.


Kantin tidak terlalu ramai. Karena memang belum jam istirahat. Tapi ada beberapa siswa di sana, mungkin mereka sudah bebas tugas. Melati dan Ranita langsung pesan snack dan minuman favoritnya. Dan seperti kebiasaannya waktu sekolah, setelah makanan dan minuman di tangan mereka menuju bagian pojok kantin.

__ADS_1


"Hmmm... sayang, yang indah-indah belum nongol," ujar Ranita sambil duduk. Melati memilih kursi di depannya.


"Ya udah tunggu aja, ga buru-buru juga..." sahut Melati. Dia mulai meneguk jus jambu di tangannya.


"Hei... memang rejeki takkan ke mana. Lihat, tuh..." Ranita menunjuk ke arah kantin bagian depan. Melati menoleh.


Elvan. Dia masuk kantin berjalan dengan seorang cewek. Kalau tidak salah itu Vinda. Anak kelas 10. Mereka jalan berdua sambil berbicara. Nampaknya serius karena baik Elvan dan Vinda tidak ada yang tersenyum. Mereka memesan minuman lalu duduk di kursi bagian tengah.


Apa Elvan jadi dekat dengan Vinda sekarang? Aneh juga, kenapa mereka bisa berdua jam segini? Ini bukan jam istirahat. Apa keduanya jam kosong di kelas? Ah, kenapa Melati jadi risau? Sah saja Elvan dekat sama cewek manapun.


"Samperin, yaa..." tukas Ranita. Tanpa menunggu sahutan Melati temannya itu sudah berdiri dan berjalan ke arah Elvan dan Vinda. Melati hanya memperhatikannya saja.


Sayup-sayup terdengar mereka bicara sambil sesekali tertawa. Ranita mungkin menyebutkan namanya karena Elvan sempat menoleh ke arah Melati dan mengangguk sambil tersenyum tipis. Melati hanya menatapnya tanpa ekspresi.


Tak lama Ranita sudah balik lagi ke kursinya. Dia langsung mencomot gorengan yang dia beli.


"Gitu ya, kalau jadi OSIS bisa dapat hak khusus keluar kelas dengan bebas," ucap Ranita sambil menangis gorengannya.


"Mereka ada meeting?" tanya Melati.


"Oo..." Hanya itu yang Melati katakan. Entah kenapa lega rasanya menyelimuti hatinya. Apa dia mulai ada rasa sama Elvan? Atau karena GR ada yang suka dan merasa tersisih ketika Elvan suka cewek lain? Hmmm, Melati tidak mengerti dirinya.


Muncullah beberapa siswa lagi bergabung dengan Elvan dan Vinda. Ah, itu anggota OSIS lainnya. Tidak lama mereka sudah kelihatan mulai pertemuannya.


Suara lagu terdengar dari HP Ranita. Rupanya ada yang telpon. Ranita menerimanya.


"Halo, Pa.... hmm, iya... ohh... baiklah... Ya, setelah ini... iya, Pa. Terima kasih." Ranita menutup telponnya.


"Mela, aku harus pulang. Papa ada mau bicara penting. Tapi harus ajak kamu," kata Ranita.


"Aku? Kenapa?" tanya Melati agak bingung.


"Nanti papa jelaskan. Soal kuliah," jawab Ranita. Dia langsung menghabiskan sisa gorengannya dan meneguk habis esnya. Melati juga cepat menghabiskan jus jambunya.


Lalu keduanya berjalan meninggalkan kantin. Sekilas Melati melihat ke arah Elvan. Cowok itu sedang menjelaskan sesuatu kepada teman-temannya. Wajahnya nampak tenang dan ada wibawa muncul di sana. Kayak seorang direktur mimpin rapat saja, hee...

__ADS_1


Ranita dan Melati sudah meluncur di jalan menuju rumah keluarga Arnanda. Dua puluh menit perjalanan mereka sampai. Di rumah, papa Ranita sudah menunggu di ruang kerjanya. Rumah Ranita tergolong besar dan mewah. Tapi tidak yang berlebihan menurut Melati. Dia suka paduan klasik dan milenial yang ditampilkan pada design rumah dan interiornya.


"Duduklah," sapa Radika Arnanda, papa Ranita.


Melati dan Ranita duduk di depan Radika. Lelaki setengah baya itu masih mengetik di komputernya beberapa saat. Lalu dia memandang kedua gadis yang mulai dewasa itu.


"Papa langsung saja ya, karena pekerjaan hari ini cukup banyak. Nanti selesai makan siang ada meeting penting," kata Radika. Dia membetulkan posisi duduknya.


"Melati, Om rasa Melati tahu kejadian di keluarga kami beberapa waktu ini. Kamu sahabat Rani, jadi dia pasti cerita padamu. Awalnya Om dan Tante kuatir melepas Ranita kuliah jauh sendiri. Tapi setelah tahu Melati juga kuliah di tempat yang sama, Om merasa lega. Om tahu, kalian bisa saling menjaga. Khususnya kamu bisa awasi anak Om yang centil dan manja ini." Radika menjelaskan tujuannya meminta Melati datang menemuinya.


"Iih... Papa..." Ranita langsung manyun.


Radika tertawa melihat ekspresi Ranita. "Jadi, nanti kalian tinggal di apartemen yang Om sewa. Biar aman. Dekat kok dari kampus. Om minta tolong Melati bersedia ya, menemani Ranita di sana. Supaya Om dan Tante yang di Malang tenang melepasnya."


"Eehhh..." Melati tidak tahu harus bilang apa. Ini permintaan yang susah-susah gampang. Tapi jujur saja sangat menguntungkan Melati. Dia tidak harus bayar kos sendiri. Dan tinggal di apartemen gitu lo... Tak pernah dia pikirkan.


"Mau, yaa... Mela..." Ranita mengguncang baju Melati melihat temannya bengong begitu.


"Iya... eh, iya. Baik, Om," kata Melati akhirnya.


"Oke. Om bisa lega sekarang. Oya, boleh Om minta nomor HP mama atau papa kamu? Om juga perlu bicara soal ini dengan orang tuamu," ucap Radika.


"Baik, Om. Tapi papa di Jakarta, kerja di sana," ujar Melati.


"Benarkah? Wah, baiklah. Jadi kamu dekat papamu, ya... bagus... Ini lebih dari yang Om harapkan. Terima kasih." Radika nampak sangat lega. Wajahnya jadi lebih cerah.


Melati memberikan nomor HP papa dan mamanya pada Radika. Setelah itu Radika mengajak mereka makan siang. Dengan mama Ranita juga, yang baru datang. Tadi dia ada keperluan keluar rumah. Usai makan siang, Radika berangkat ke kantor. Melati juga pamit pulang.


"Kita akan terus sama-sama, ya. Kalau pasangan itu katanya mau menua bersama, hee..." kata Ranita. Mereka di teras menunggu ojek online buat Melati.


"Menua bersama... haa..." Melati malah tertawa.


"Serius, Mela. Buatku kamu itu sudah lebih dari sahabat. Saudara rasanya," kata Ranita lagi. "Apapun yang terjadi nanti kita tetap sama-sama. Hadapi semua sama-sama."


"Iya. Aku juga senang punya saudara menggemaskan begini." Melati mengusap kepala Ranita. Keduanya tertawa bersama.

__ADS_1


Ojek online datang. Melati pamit pulang.


__ADS_2