
Opening Rumah Garuda berjalan manis dan menyenangkan. Penampilan anak-anak untuk promosi kegiatan membuat decak kagum semua yang hadir.
Ayah, ibu, dan adik-adik Melati dengan senyum lebar menyaksikan setiap acara. Orang tua Elvan, Azka istri dan anaknya, Farel dengan kekasihnya Shitta, Pak Diko, Ranita dan Alfaro juga. Senyum mereka yang sumringah membuat Melati merasa sangat gembira.
Persiapan opening tiga minggu ternyata hasilnya memuaskan. Melati mengajari anak-anak beberapa lagu dalam formasi paduan suara dan vokal group. Dipadu penampilan solo dan duet. Lalu permainan band baik pengiring maupun instrumen juga tak kalah keren. Ditambah lincah dan anggunnya tarian dan dance modern. Sungguh tak terpikir anak-anak ini punya potensi hebat.
Wajah Elvan begitu cerah. Ini awal yang baik. Masih panjang pekerjaan yang dilakukan. Anak-anak yang terdaftar di Rumah Garuda sebagian masih anak Yayasan Kasih Lidya. Elvan ingin anak-anak lain juga bergabung. Jadi promosi akan gencar dilakukan. Dengan begitu kelas-kelas pelatihan akan makin penuh.
Hasil opening acara tidak disangka, tiga donatur yayasan juga bersedia membantu dana untuk pelaksanaan kegiatan rutin Rumah Garuda. Dan beberapa tamu lainnya juga siap jadi donatur. Hmm, rasanya makin tidak sabar mewujudkan impian yang lebih besar untuk anak-anak itu.
"Mel.... aku senang sekali di sini." Ranita dengan senyum cerianya memeluk Melati.
Melati membalas pelukan Ranita erat. Lama mereka ga ketemu. Ranita bolak-balik Malang Jakarta karena pekerjaannya. Lagi Alfaro juga menetap di Jakarta sejak lulus Sarjana.
"Aku kangen, Ran... kamu tambah cantik saja," kata Melati.
"Kamu juga, kok... Tambah anggun dan dewasa..." Ranita masih memeluk Melati. "Mel... kamu dan Elvan wow banget ya, bisa buat Rumah Garuda. Aku dan Alfaro pasti bantu."
"Elvan... dia yang pikirkan semua. Aku hanya mendukung saja. Dia yang membangkitkan hatiku untuk berani melihat sekeliling dan bisa lakukan sesuatu. Bukan sekedar di pikiran dan batin," tandas Melati.
"Hmmm... ga salah Tuhan menaruh kasih di hati kalian berdua. Sudah sejalan dalam harapan yang jauh ke depan juga," ujar Melati.
"Ya... dan aku sangat bersyukur untuk itu." Melati mengangguk mantap.
"Kamu tahu, waktu single kamu 'Tentang Kita' rilis, aku paling semangat share link YouTube kamu. Ke semua teman yang aku kenal. Teman SMP, SMA, kuliah, teman kantor. Siapa aja, deh... dan responnya selalu baik..." Ranita bicara sampai seperti tidak bernafas.
"Aduh, makasih banget... sahabatku ini ternyata fans aku, ya..." Melati tergelak.
"Dari dulu kali..." ujar Ranita.
"Mel, bulan depan aku dan Alfaro married. Boleh minta anak-anak isi di acaraku? Bisa promosi juga kan, biar lebih banyak yang tahu Rumah Garuda," kata Ranita lagi.
"Kamu yakin?" tanya Melati.
__ADS_1
"Hmm...." Ranita menyahuti cepat.
"Aku bicarakan sama Elvan. Kamu bilang Alfaro dulu. Oke? Kalau deal kita atur, deh..." jawab Melati.
"Oke. Sipp..." Ranita mengepalkan tangannya senang.
"Ada waktu ga? Kita jalan, yuk... ngobrol..." ajak Melati.
"Ayo... di Florian aja, ya... aku ke sana besok," kata Ranita.
"Hmm... oke." Melati mengacungkan jempol.
Keeaokannya siang jam 11 Ranita tiba di Florian. Melati sudah menunggu sejak pagi. Begitu Ranita muncul, segera keduanya bernostalgia. Mengenang perjalanan persahabatan mereka sejak masa SMA. Sama-sama masih culun, masih hanya suka senang-senang masa sekolah. Bercanda, bikin riuh kantin, pergi nonton, suka-suka sama teman lawan jenis. Sampai mereka kuliah di Universitas yang sama. Berbagai tragedi yang dialami, semua membuat mereka makin erat dan saling memahami.
"Gila ga sih, Alfaro dulu kamu naksir, kan? Aku yang suka kasih ide biar kamu berani buka diri dan dekati Alfaro. Secara kamu cuma malu-malu kucing. Padahal berharap dia nyamperin kamu," kata Ranita. "Ternyata aku yang malah jadi sama dia. Memang benar kata Tante Sekar, jodoh itu misteri Ilahi."
"Itulah, Ran. Aku juga ga pernah mikir bisa makin sayang sama Mas Elvan. Padahal dulu aku ga ada hati sama dia. Kagum aja karena dia salah satu cowok kebanggaan sekolah. Bayanganku aku dapat jodoh yang usia sama atau lebih tua dikit gitu," ujar Melati.
"Kamu panggil apa? Mas Elvan? Haa... haa..." Ranita ngakak. "Lucu kali..."
"Maaf... aduh... kayak mak-mak jadul kamu, Mel... panggil Babe, kek... Say... Sayang... aduh..." Ranita masih berusaha menghentikan tawanya.
"Emas itu sesuatu yang sangat berharga. Buat aku Elvan itu berharga banget. Paham???" kata Melati.
"Oke. Paham," sahut Ranita. Dia melirik Melati.
"Awas tertawa!" Melati melotot.
Ranita menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia tertawa lagi, berusaha menahan supaya tidak keras suaranya.
Hingga jam 3 sore, selesai sudah acara kangen-kangenan. Lalu Ranita pulang dan Melati melanjutkan perjalanan ke Rumah Garuda. Dia jadwal melatih vokal sore ini. Melati pergi dengan motor. Elvan tidak bisa jemput. Dia ada bimbingan skripsi karena minggu depan maju proposalnya. Dia akan menyusul ke Rumah Garuda setelah itu.
10 menit sebelum sampai tujuan, Melati berhenti di lampu merah. Ada seorang anak laki-laki sedang mengamen dengan ukulele. Anak itu kira-kira berumur 10 tahun. Suaranya lumayan merdu, tidak fals, bahkan sangat pitch mencapai nada tinggi dan panjang. Permainan ukulelenya juga cukup apik. Melati tertarik dengan anak itu. Setelah selesai anak itu menyanyi Melati bicara padanya.
__ADS_1
"Dek, boleh Kakak ketemu sebentar? Kakak maju di sana. Kakak tunggu, ya?" kata Melati.
Anak itu agak bingung tiba-tiba ada gadis cantik mengajaknya bicara. Dia tidak menjawab apa-apa. Tapi dilihatnya Melati minggir setelah melewati lampu merah. Anak itu pun menyeberang jalan dan berjalan mendekati Melati.
"Ada apa ya, Kak?" tanya anak itu. Wajahnya kelihatan lusuh, penuh keringat. Pakaiannya dekil. Rambutnya agak panjang sedikit acak-acakan.
"Kamu pintar sekali main ukulele dan nyanyi. Belajar di mana?" tanya Melati balik.
"Lihat orang main, Kak. Ternyata ga sulit," jawab anak itu.
"Hebat, dong. Keren mainnya," kata Melati. Anak itu tersenyum.
"Siapa namamu?" tanya Melati lagi sambil memperhatikan wajahnya yang kelihatan lelah.
"Bondan Agung. Panggil Bondan saja, Kak," jawab anak itu.
"Aku Melati." Melati mengulurkan tangan mengajak salaman. Bondan memandang pada Melati. Melihat senyum ramah Melati dia menyambutnya.
"Kamu suka nyanyi dan main musik?" tanya Melati lagi.
"Iya, Kak." Bondan mengangguk.
"Mau ikut Kakak? Kakak punya tempat latihan buat anak-anak. Kamu bisa belajar banyak di sana," ajak Melati.
"Tapi aku harus ngamen, Kak," tolak Bondan.
"Hmmm...." Melati berpikir. Bagaimana caranya supaya Bondan mau.
"Hari ini kamu lihat dulu. Kalau kamu tidak suka tidak apa-apa," bujuk Melati.
Bondan terlihat bingung.
"Latihan di sana tidak bayar. Banyak anak seumur kamu belajar di sana. Kamu pasti suka." Melati masih mencoba membuat Bondan yakin dengan bujukannya.
__ADS_1
"Iya... hari ini saja, yaa..." Akhirnya Bondan setuju.
"Naik ke boncengan, sini," kata Melati sambil tersenyum.