
Beberapa hari begitu sibuk, membuat Elvan kelelahan. Di hari terakhir penampilan dan penutupan pagelaran, Elvan merasa badannya tidak enak. Tapi tetap dia paksa datang. Dia harus melihat anak-anak binaannya. Selama acara dia banyak duduk saja. Melati bolak balik memastikan apa dia baik-baik saja.
"Mas, masih kuat?" Melati menyentuh dahi Elvan. Badannya mulai panas. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya.
"Hmm..." ucap Elvan lirih.
"Jangan dipaksa. Ga apa-apa ditinggal. Ini sudah hampir selesai. Nanti biar diurus Hasan. Ada yang lain juga," bujuk Melati.
"Dikit lagi, ya... sampai tuntas. Masih bisa aku," kata Elvan.
Melati tidak beranjak dari sisi Elvan. Begitu acara selesai, Elvan memegang erat tangan Melati. Dia merasa limbung. Kepalanya berat dan sakit. Melati langsung memeluknya.
"Kita pulang, ya..." ujar Melati. Elvan mengangguk. Melati memanggil Damar dan Farel, meminta membantu memapah Elvan ke mobil. Melati cepat-cepat ke tempat parkir mengambil mobil. Setelah Elvan masuk, dia langsung menjalankan mobil dan membawa Elvan ke rumah sakit.
"Kok ga pulang, Mel?" tanya Elvan.
"Mas sudah separah ini, harus ditangani dengan benar," jawab Melati.
Elvan pasrah. Tiba di rumah sakit segera Elvan ditangani dokter. Melati berusaha tenang meski dia sedikit cemas.
"Bagaimana, Dok?" tanya Melati.
"Kelelahan. Kondisi secara umum baik. Hanya kurang istirahat. Jika istirahat penuh dalam tiga hari sudah bisa aktivitas normal," jawab dokter.
"Terima kasih banyak, Dokter," kata Melati.
"Iya, sama-sama. Setelah ini bisa pulang dan cepat istirahat ya, Pak." Dokter tersenyum. Lalu meninggalkan Melati dan Elvan.
"Tuh kan, aku ga apa-apa. Cuma capek saja," kata Elvan.
"Sudah sampai lemas gitu, kan jadi kepikiran aneh-aneh," sahut Melati.
"Sudah saatnya dapat vitamin yang lain, Mel," tandas Elvan. Dia coba duduk. Setelah disuntik badannya terasa lebih enak sekarang.
"Vitamin? Iya, nih di resep juga ada vitaminnya kata dokter." Melati menunjukkan resep yang dia pegang.
"Vitaminnya cuma kamu yang punya. Dokter ga bisa kasih," ujar Elvan. Melati melirik Elvan. Elvan memainkan alisnya sambil tersenyum nakal.
"Hmmm.... mulai, nih..." Melati paham arah bicara Elvan.
"Makanya, minggu depan aku lamar kamu ke rumah, ya..." kata Elvan.
"Sembuh dulu baru lamar anak orang." Melati mengusap keringat di dahi Elvan dengan tisu.
HP Melati bergetar. Ada vidcall masuk. Si Farel.
"Kak, gimana Kak Elvan?" tanya Farel begitu melihat wajah Melati. Melati mendekatkan HP ke Elvan.
"Hei.. di rumah sakit?" ujar Farel memperhatikan tembok belakang Melati dan Elvan. "Aduh, sakit apa?" Farel langsung agak cemas.
"Pingin kawin," jawab Elvan sekenanya.
"Ah... Mas ini..." Melati langsung merona.
Farel ngakak dengar jawaban Elvan. "Kasihan Kakakku yang satu ini. Haa... haa..."
__ADS_1
"Kak Elvan, cepat sembuh, ya..." Lira muncul di layar. Disusul Fandi, Radit, Anton, Sila, Bondan, dan banyak wajah anak-anak itu berjubel di dekat Farel.
"Kak, semangat... we love you..." kata Sila sambil membentuk love ala Korea dengan jari telunjuk dan jempolnya.
"Iya, makasih, yaa..." Elvan tersenyum sambil melambai.
Selesai vidcall Melati langsung membawa Elvan pulang.
"Kenapa Elvan, Mel?" Erika kaget melihat Elvan pulang dengan keadaan lemas dan agak pucat.
"Kecapekan, Tante. Sudah dari dokter. Cuma perlu istirahat," jawab Melati. Mereka mengantar Elvan ke kamarnya.
"Perlu perawatan intensif istri, Ma," kata Elvan sambil mengambil baju ganti lalu masuk kamar mandi.
"Aha.... betul ini..." Erika menatap Melati.
"Dari tadi terus saja gangguin aku, Tan," ujar Melati.
"Tapi memang mesti cepat-cepat. Kapan kalian mau resmikan hubungan? Tunangan, kek? Lamar gitu..." Erika duduk di pinggir ranjang.
Elvan keluar dari kamar mandi dan naik ke kasur membaringkan badannya.
"Aku sudah lamar Melati. Sudah mau dia jadi istriku. Takut mau nolak," kata Elvan.
"Ha? Kapan? Kok ga bilang Mama Papa?" Erika kaget dengan kata-kata Elvan barusan.
"Di rumah sakit, waktu Papa mau operasi," jawab Elvan.
"Aduh, Mel... anak Tante yang satu ini bener-bener, yaa... Kamu mau dilamar model kayak gitu? Mana lihat jarimu?" Erika menarik tangan Melati dan melihat jari manisnya. "Ga dikasih cincin? Elvan... kamu ini...." Erika geleng-geleng dengan melakukan Elvan.
"Ya, yang romantis gitu. Diajak makan malam, dikasih bunga. Dinyanyikan lagu cinta... Kalau perlu pakai kembang api keluar tu, tulisan... will you marry me? Eh... malah di rumah sakit..." Erika masih ga paham sama Elvan.
Melati cuma senyum-senyum. Elvan mengarahkan pandangannya ke Melati. "Memang kamu mau gitu, Mel? Aku ulang lagi saja ta, melamarnya?"
"Sudah, ah... sudah bilang iya juga.." Melati tersipu-sipu.
"Kalau gitu pernikahan harus Mama buat acara heboh. Biar gantinya acara lamaran ga niat itu," kata Erika.
"Ma... aku niat laa..." sahut Elvan. "Minggu depan lamarin ke Om Gilang dan Tante Sekar."
"Yakin? Minggu depan?" Erika menatap Elvan.
"Iya..." Elvan mengangguk.
"Ohhh... bagus.. Mama senang sekali." Erika memegang kedua pipi Melati. "Mesti kasih tahu Papa." Dan dengan sigap Erika keluar kamar Elvan dan menemui suaminya di ruang kerja.
Elvan dan Melati tertawa.
"Maaf ya, aku melamar kamu begitu mengenaskan." Elvan memandang Melati.
"Buat aku itu romantis, kok. Aku menikmati setiap waktu denganmu. Setiap kata yang kamu bilang. Bukan dengan cara bagaimana yang penting hatimu buatku. Dan kesungguhanmu mau memberi cinta sepenuhnya," ucap Melati.
"Duh, Mel... kok tambah ga sabar pingin cium kamu, yaa..." Elvan tersenyum.
Melati ikut tersenyum. Ya, buat Melati tidak ada cincin bukan masalah. Tidak ada bunga juga tidak apa. Justru dia senang Elvan datang sebagai dirinya apa adanya, bukan dengan harta yang dia punya dan kelebihan lain-lain yang menempel di hidupnya. Yang dia rasakan ada cinta yang tak pernah surut buatnya. Dari Elvan dan keluarganya yang siap menerima dia. Itu sudah cukup.
__ADS_1
Jadi, akhir minggu itu, datanglah keluarga Edgar ke kediaman keluarga Adinata. Dengan keributan yang berujung Elvan menang antara Erika dan Elvan, mereka melamar Melati dengan cara sederhana. Erika ingin buat pesta meski tidak indah banyak kolega. Inginnya ada kesan khusus buat hari itu. Tapi Elvan ngotot mau sederhana saja.
Gilang dan Sekar senang akhirnya anak pertamanya akan segera masuk ke kehidupan baru, menata keluarganya sendiri. Sesuai yang mereka sepakati maka pernikahan akan diadakan dua bulan ke depan. Sebelum Rumah Garuda memulai lagi pagelaran mereka di akhir tahun. Erika yang berulang kali minta maaf karena tidak memberi sesuatu yang berarti buat Melati dan keluarga Adinata.
"Aku benar minta maaf, Sekar, Elvan itu memang begitu, yaa... Dari kecil ga suka pesta, acara yang ribet. Sampai ga enak rasanya, kok ga menghargai keluarga besan," kata Erika.
"Ga apa, Mbak Rika. Yang penting anak-anak serius dengan hubungan mereka, mereka bahagia. Melati itu sama seperti Elvan, suka yang simple dan praktis," ujar Sekar. Dalam hati Sekar hanya terima kasih yang mengalir. Bagaimanapun suaminya punya usaha makin maju tak lepas dari bantuan Tirta. Hubungan mereka makin baik juga karena hal itu.
Sekalipun sederhana tetap Elvan menyiapkan cincin kali ini buat Melati. Cincin imut dengan berlian kecil menghiasinya. Agak lega juga Erika melihat itu.
Cincin itu melingkar di jari manis tangan kiri Melati sekarang. Elvan juga memakai cincin di jarinya. Cincin dengan model yang sama.
"Kamu suka cincinnya?" tanya Elvan pada Melati. Orang tua Elvan dan keluarga Edgar sudah pulang. Elvan memiliki pulang belakangan.
Melati memperhatikan jari manisnya. Akhirnya ada cincin melingkar di sana, tanda dia sudah diikat seorang pria. Pria yang begitu istimewa buatnya.
"Iya, imut, simple. Thank you." Melati mencium pipi Elvan sekilas.
Elvan terkejut dan menoleh memandang mata Melati. Ada siratan senang tapi tersipu malu pada wajah cantiknya itu.
"Cium lagi?" Elvan memajukan pipinya yang sebelah. Melati malah mundur dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Beraninya mencuri. Kalau dikasih malah takut," ujar Elvan.
"Love you," bisik Melati.
Elvan menggenggam tangan Melati. "Love you too, Mel." Elvan tersenyum.
"Panggil lagi..." pinta Melati.
"Mel..." ucap Elvan.
"Lagi..." kata Melati.
"Mel..." Elvan merasa aneh kenapa Melati minta dipanggil terus.
"Adem banget kalau kamu panggil begitu," ujar Melati.
"Hmm... bukannya semua orang panggil begitu sama kamu?" tanya Elvan heran.
"Beda suaranya, beda intonasinya. Kamu panggilnya gimana gitu... membuat lumer hatiku..." kata Melati.
Elvan tersenyum. "Mel..." Dia panggil ulang. "Mel... ya, panggilan itu yang mengingatkan aku sama kamu waktu aku masih di rumah Pak Karno."
Tiba-tiba Elvan ingat kejadian waktu dia hilang ingatan.
"Bukan karena janji kita..."
"Sebelumnya, Mel. Sebelum aku ingat janji itu, wajahmu sering muncul di kepalaku dan aku panggil Mel... tapi aku tak ingat nama panjangmu," kata Elvan.
Melati mengeratkan genggaman tangannya dan memandang mata Elvan.
"Aku akan undang Pak Karno dan Bu Nanik waktu kita menikah, yaa..." ujar Elvan.
Melati mengangguk. Dia tahu, kedua orang tua itu sangat berarti buat Elvan.
__ADS_1