
Pagi hari Melati bangun saat matahari sudah sedikit tinggi. Biasanya sebelum benar-benar langit terang dia sudah bangun.
Melati duduk di kasur bersandar di kepala ranjang. Kembali teringat kejadian tadi malam. Tanpa sadar dia mendekap dadanya sendiri. Tidak menyangka, Arthur yang begitu baik selama ini, salah satu pria yang dia kagumi karena kemampuan bermusiknya, tegas, dan pemimpin yang baik, ternyata bisa begitu menakutkan.
Dia tidak tahu apa dia bisa bertemu dengan laki-laki itu lagi. Dia pasti akan ketakutan begitu di dekatnya. Tapi tidak mungkin dia tidak bertemu. Lalu bagaimana caranya dia menghindari Arthur? Lelaki itu tidak selalu hadir waktu mereka latihan, tapi setidaknya dua minggu sekali dia akan sempatkan melihat band berlatih. Akan lebih sering kalau mereka ada event.
Melati menarik nafas dalam. Apa yang harus dia lakukan? Dia akan cari alasan untuk tidak datang latihan saja. Dia akan atur jadwal yang membuat dia tidak mungkin bisa ikut latihan. Untung hari ini tidak ada kuliah. Dia bisa menenangkan dirinya.
"Mel..." Ranita membuka pintu kamar dan masuk menemui Melati. Kamar memang tak pernah dikuncinya. Ranita mendekati Melati. Dia lihat wajah Melati kusut sekali. Matanya agak bengkak.
"Kamu kenapa?" tanya Ranita.
"Ga apa-apa," jawab Melati. Dia tidak mau Ranita kuatir, sementara dia lebih baik tidak cerita. "Aku hanya lelah saja."
"Kok kayak abis nangis lama gitu?" tanya Ranita lagi. Dia sudah duduk di sebelah Melati.
"Kangen rumah," ujar Melati. Suaranya parau.
"Bertengkar sama Elvan?" Ranita masih mancing. Dia rasa ada sesuatu.
"Bukan bertengkar. Kangen," tandas Melati.
"Iiihhh.. kangen sampai nangis parah?" Ranita menatap Melati. "Kamu uda cinta banget sama tuh cowok?"
"Iya kali, yaa..." Melati mencoba tersenyum. Tapi matanya sudah mulai basah di ujungnya.
"Ya telpon sana gi... vidcall... apa minta dia datang. Dia pasti mau laa..." Ranita mengusap mata Melati.
"Iya nanti aku telpon dia," kata Melati.
"Aku pergi, yaa... aku sudah masak. Nasi goreng sama telor ceplok." Ranita berdiri.
"Gaya... udah bisa masak sekarang, ya..." Melati tersenyum.
"Iya laa..." Ranita tertawa. "Aku pulang malam lagi."
"Kenapa hampir tiap hari pulang malam, Ran. Hati-hati. Kalau ga penting banget, cepat pulang. Jangan buat orang kuatir," kata Melati.
__ADS_1
"Iya, tahu... Tenang saja. Aku baik-baik, kok... Dah..." Ranita keluar dari kamar Melati.
"Maaf ya Ran, aku belum bisa bilang. Aku belum siap," bisik Melati.
HP Melati bergetar. Melati melihat di layar. Ayah telpon.
"Pagi, Ayah," sapa Melati datar.
"Sayang, kamu kurang sehat?" Ayah langsung tahu putrinya itu sedang tidak baik.
"Iya, kayaknya mau flu, Yah." Melati sudah menangis. Ingin sekali ayah di sini dan memeluknya, menenangkannya. Dia tahan agar tangisannya tidak keluar. Dia juga tidak mau ayah kuatir dengannya.
"Hmm... Terlalu lelah itu. Ambil waktu istirahat dulu. Jangan lupa minum vitamin," kata Ayah.
"Iya... Hari ini ga ada kuliah. Jadi banyak waktu istirahat," ujar Melati.
"Bagus kalau begitu. Ayah mesti berangkat ini. Cepat sehat, Anak Cantik," kata Ayah.
"Makasih, Yah." Pelan Melati berkata. Ayah memutuskan telpon. Melati sesenggukan. Makin erat dia mendekap dadanya. Dia juga tidak mau Elvan tahu. Cowok itu akan sangat panik. Sampai setengah jam kemudian baru dia turun. Pergi ke kamar mandi, lalu sarapan.
Hingga dua minggu kemudian, Melati tidak datang latihan. Dia alasan banyak tugas kuliah. Juga ada deadline tulisan di kegiatan jurnalistik. Teman-temannya maklum, toh mereka belum ada job.
Ketika mau mengembalikan buku ke counter petugas perpustakaan Melati melihat di papan ada selebaran tentang lowongan untuk menjadi petugas perpustakaan. Melati tertarik. Sepertinya ini bisa jadi alasan dia untuk tidak ikut band. Iya, tepatnya dia keluar dari Red Sky.
"Kak, apa lowongan menjadi petugas perpustakaan masih ada?" tanya Melati.
"Wah, kebetulan. Memang selebaran baru dipasang. Kamu mau jadi petugas perpustakaan?" tanya petugas itu. Namanya Rima.
"Iya, Kak." jawab Melati.
"Ayo ikut ke ruang pengawas," ajak Rima. Melati mengikutinya. Ruang pengawas ada di sebelah perpustakaan di lantai atas. Di sana Melati bertemu Ibu Siska. Beliau langsung senang waktu tahu Melati melamar. Dia ingat Melati karena dia penyanyi kampus. Dan dia langsung setuju Melati jadi petugas perpustakaan. Karena dari catatan pengunjung Melati termasuk yang paling rajin datang. Dan Melati bisa langsung bertugas esok hari. Bu Siska minta Rima langsung mengatur jadwal Melati bertugas.
Melati lega sekali. Segera dia chat di group Red Sky, dia mengundurkan diri. Dia mohon maaf pada semua dan menyampaikan kesulitannya tidak bisa ikut band karena penuhnya jadwal kuliah dan lainnya yang dia ikuti. Tentu saja group langsung heboh. Semua kaget. Apalagi Alfaro. Dia langsung japri Melati. Tapi Melati tidak menanggapi semua chat yang masuk. Dia biarkan saja. Melati menyibukkan diri dengan belajar.
Jam lima sore Melati sampai di apartemen. Ada Alfaro di sana. Lagi ngobrol dengan Ranita. Jelas Alfaro menunggunya. Apapun yang terjadi dia harus teguh, tidak boleh terbujuk.
"Aku tidak menyangka kamu sampai memilih keluar dari band," kata Alfaro.
__ADS_1
Melati diam saja. Dia masih berpikir harus bicara apa agar Alfaro mau terima.
"Sebegitu bencinyakah kamu sama aku? Sampai kamu korbankan band? Kamu lepaskan passion kamu? Mel, aku tahu kamu ingin jadi penyanyi terkenal. Dan kamu sudah memulai jalanmu." Alfaro tampak emosi.
"Aku berubah pikiran," ucap Melati. "Maafkan aku, tapi bukan karena kamu aku keluar. Aku sudah memutuskan fokus ke studiku."
Alfaro terus berusaha membujuk tapi tidak berhasil. Bahkan sampai beberapa hari ke depan teman-temannya, bukan hanya Alfaro, mencoba membujuk tetap tidak berhasil.
Alfaro akhirnya menemui Arthur dan memintanya membujuk Melati. Di luar dugaan Arthur mengatakan hal yang tak pernah Alfaro sangka. Arthur menceritakan kejadian malam itu. Alfaro langsung naik pitam. Dia menempeleng Arthur sampai memar dan bibirnya berdarah. Arthur diam saja. Dia tahu dia salah pada Melati. Bahkan dilaporkan ke polisi juga pantas.
"Aku kecewa, Bang. Aku ga nyangka Abang segila itu.. Melati gadis lugu dan polos. Bisa-bisanya abang buat gitu sama dia!" sentak Alfaro masih marah.
"Gue khilaf, Al. Gue mabuk. Gue sedang kacau diputusin cewek gue. Dia selingkuh. Makanya gue minum lumayan banyak malam itu. Padahal sudah lama gue kagak minum, Al," jelas Arthur.
Alfaro mendengus. Tangannya mengepal kuat. Rasanya masih pingin nonjok muka Arthur lagi.
"Lu yang paling dekat sama gue di band. Makanya gue bilangin lu. Gue malu, merasa bodoh, jahat. Gue masih belum berani ketemu Melati," kata Arthur.
"Kalau kayak gini, gimana bisa bujuk Melati balik? Band ini belum tentu terus jalan kalau dia keluar, Bang," sahut Alfaro.
"Ya, gue tahu itu. Gue hancurin apa yang gue sendiri bangun. Gue sudah ga punya muka." Terdengar penyesalan yang dalam dari suara Arthur.
"Lu harus minta maaf sama Melati, Bang," kata Alfaro. "Wajib hukumnya."
"Menurut lu, dia masih mau ketemu gue?" tanya Arthur.
"Gue akan atur. Tunggu kabar dari gue," jawab Alfaro.
Alfaro merasa ikut kacau. Belum juga rencananya dekatin Melati jalan baik, malah tragedi ini terjadi. Benar-benar sial!!!
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa komen dan like ya... thank you sudah baca ☺☺❤🙏