Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 9 - Ingat Aku Terus


__ADS_3

Ayah sudah kembali ke Jakarta. Ibu juga sudah bisa mengajar lagi. Sementara Melati sudah bersantai menanti waktu kelulusan, adik-adik baru mulai ujian akhirnya.


Besok kelas 12 akan pergi rekreasi bersama. Katanya semacam acara perpisahan. Akhirnya kelas sepakat pergi ke pulau Lombok, karena hampir semua teman di kelas sudah ke Bali. Sedangkan yang ke Lombok belum separuh jumlah kelas.


Melati sedang menyiapkan keperluannya. Karena perjalanan hampir satu minggu pergi dan pulang. Melati memilih pakaian yang santai saja, karena perjalanan banyak ke pantai. Beberapa celana selutut dan jeans. Kaos oblong warna terang, topi, dan jaket tipis. Lalu sepatu kets kesayangannya warna putih dan sandal santai.


"Sudah siap semua?" Ibu masuk ke kamar Melati. Ibu duduk di pinggir ranjang. Sementara Melati memasukkan perlengkapannya ke dalam tas ranselnya.


"Sedikit lagi, Bu." Melati melihat sebentar pada ibu lalu melanjutkan kegiatannya.


"Apa kabar Elvan?" tanya ibu.


Tangan Melati yang akan memasukkan tumpukan kaos terhenti mendengar pertanyaan itu.


"Elvan?" Melati tidak menjawab. Malah berucap begitu karena agak kaget. Dia memasukkan kaos dalam ransel, lalu duduk di sebelah ibu.


"Kenapa Ibu tanya Elvan?" Kali ini Melati lebih serius.


"Dia suka kamu kan, Mela." Ibu tersenyum. Dia lihat wajah putrinya itu. Sudah bukan gadis belia lagi. Wajahnya menunjukkan seorang yang mulai dewasa.


"Ibu bisa tahu, yaa..." Melati tersenyum tipis. "Aku jarang ketemu, Bu. Dia kan agak jauh kelasnya. Lagian aku ga ada hati sama Elvan. Aku ga terima cintanya." Melati menyampaikan apa adanya pada ibu.


"Dia anaknya baik, yaa... sopan... Sepertinya juga tenang pembawaannya," ujar Ibu. Ibu memancing untuk memastikan perasaan Melati.


"Sekarang aku mau fokus untuk lanjut studi dulu. Aku belum mau mikirin hubungan seperti itu, Bu. Kalau nanti waktunya jodoh takkan ke mana," kata Melati.


"Wah, mantaappp... Anak Ibu ini luar biasa. Padahal Ibu ga pernah larang loo, untuk pacaran. Asal siap dan nggak mengganggu tujuan hidup yang kami ingin raih." Ibu berkata sambil membantu Melati menata beberapa barang yang sudah ada di ranjang.


"Iya. Makanya karena belum merasa siap, aku ga terima dia," tegas Melati.


"Hhmmm... baiklah. Apalagi yang harus disiapkan?" tanya ibu.


"Perlengkapan mandi. Nanti aku siapkan sendiri aja, Bu," kata Melati sambil menarik resleting ransel, menutupnya.


"Jodoh itu misteri Tuhan. Kita tidak pernah duga siapa yang akan jadi pasangan kita. Dengan cara yang unik Tuhan akan menyatukan hati dua insan. Pada saatnya keduanya dan Tuhan yang akan tahu pasti," nasihat ibu.


"Yang penting pasanganmu nanti harus memahami pilihan karirmu, tujuan yang kamu yakin Tuhan mau kamu lakukan. Begitu juga kamu pada pasanganmu. Kalau cari yang sempurna jelas tidak akan ketemu," tambah Ibu.


"Iya, Bu. Aku mengerti." Melati mengangguk. Ibu menepuk-nepuk pundak Melati lalu meninggalkannya di kamar itu.


Jam terus berjalan. Malam datang. Bulan dan bintang kembali bergulat dengan langit hingga akhirnya harus tenggelam ketika matahari menggantikan posisinya.


Melati dengan semangat sudah berada di depan sekolah. Dia paling suka melakukan perjalanan seperti ini. Hanya saja jarang bisa dilakukan. Dengan kaos biru cerah, sepatu kets putih, jaket hitam melingkar di pinggangnya, juga topi hitamnya, Melati melangkah mantap menuju kelas.


"Hai..." Seseorang memanggil.


Melati sudah hafal suara itu sekarang walaupun mereka jarang bertemu.


Melati menoleh. "Haii..." Melati menunggu langkah Elvan.

__ADS_1


"Selamat bersenang-senang, ya..." kata Elvan. Pagi ini dia cerah sekali.


"Thank you," jawab Melati pendek.


"Aku boleh chat kamu?" tanya Elvan.


"Boleh saja. Kita kan teman?" ujar Melati sambil merapatkan ranselnya yang agak turun di pundaknya.


"Iya. Kita teman." Elvan menyahut. Nadanya terasa kurang lega.


"Mel, aku pastikan kamu akan ingat aku terus selama perjalanan," lanjut Elvan.


"Kenapa begitu?" tanya Melati heran.


"Nanti juga tahu." Elvan tersenyum lebar. "Take care. Save trip."


Melati melambai dan masuk kelasnya. Elvan masih lanjut menuju kelasnya. Di kelas Melati teman-teman sudah ramai. Seru sekali melihat mereka dengan gaya fashion masing-masing. Terlihat jelas gayanya beda seperti bukan anak sekolahan lagi. Pada keren dan cool.


Tak lama Pak Ardan memberi pengarahan untuk perjalanan. Ada tiga bus yang akan berangkat. Setiap bus akan didampingi tiga orang guru. Perjalanan akan menuju ke Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya. Lalu perjalanan dilanjutkan dengan naik kapal ke Lombok. Besok mereka akan sampai dan memulai petualangan di sana.


Semua antusias dengan perjalanan ini. Baik siswa maupun guru menunjukkan senyum gembira. Sisa-sisa kepenatan karena beratnya proses ujian akhir sudah lenyap dari wajah mereka.


Setelah kepala sekolah memimpin doa untuk menyerahkan perjalanan mereka, satu per satu siswa dan guru masuk ke bis sesuai absen mereka yang diatur oleh pengurus kelas. Tetap tertib meski diiringi seruan dan celotehan mereka yang tidak ada habisnya.


"Eh, aku sudah ga sabar mau berenang di pantainya. Katanya pantai di sana pasirnya putih. Dan juga ga lengket di kaki. Beneran, ta?" Ervin berseru dengan semangatnya.


"Aku maunya berjemur saja biar pulang jadi hitam," Ganti Leon yang ngomong.


"Leon berjemur? Bukan hitam hasilnya... hangus..." Suara Ranita ikut nimbrung.


Tawa meledak mendengar itu. Memang kulit Leon sudah hitam. Bagaimana bisa pingin berjemur lagi?


Melati mengangkat ranselnya yang tadi dia taruh bawah di depan kakinya. Dia mau ambil botol minumnya. Dia melihat sesuatu berbentuk bulat tersenggol telapak tangannya. Melati menariknya. Gantungan kunci? Warna hitam dengan garis tidak begitu beraturan berbentuk love warna putih. Melati memperhatikannya. Dalam bulatan putih itu tersamar warna perak garis kecil. jika dilihat lebih dalam itu inisial, E & M.


"Hah..???" Melati bingung. Dari mana gantungan kunci ini? Apa punya temannya. Melati berniat bertanya pada teman-teman, tapi HP-nya bergetar.


Nomor ga dikenal


- Sudah lihat?


Melati bingung, siapa yang chat dia? Dia buka foto profilnya. Senyum manis itu. Elvan.


Melati


- Lihat apa?


Nomor ga dikenal - Elvan


- Yang di ransel

__ADS_1


Melati


- Iya. Sudah. Kirain punya teman nyangkut. Thank you ya...


Jadi benar Elvan yang taruh. Kapan dia bisa pasang gantungan kunci itu di ranselnya? Tadi ketemu juga sebentar sekali. Ahh... pas dia rasa ranselnya melorot itu ka? Secepat itu?


Elvan - Melati mengganti nomor dengan nama pemiliknya.


- Ingat aku terus yaa...


Kenapa ini cowok jadi romantis gini ya? Atau sebenarnya dia seperti ini?


Melati


- Hmm... Sudah belajar sana. Jam sekolah ga boleh pakai HP. Tahu dari mana nomorku?


Elvan


- Itu untungnya punya om guru favorit. Ini juga di kantor, ijin dulu dong pakai HP.


What? Pak Diko? Apa guru favorit itu tahu Elvan sudah nembak Melati? Berarti Elvan dapat nomornya dari Pak Diko? Oh my God... kalau iya... Entah kenapa Melati jadi panas dingin.


Melati tidak tahu harus menjawab apa chat Elvan barusan. Dia rasa wajah dan telinganya panas sekarang.


Elvan


- Kok ga balas? Jangan kuatir, Om ga tau soal hatiku padamu. Aman.


Duh, Elvan bahkan bisa baca pikiran Melati. Tapi lega juga dengan chat terakhirnya. Hatinya langsung tenang.


"Kamu sibuk sekali dengan HP? Siapa?" tanya Ranita. Dari tadi dia berdiri di sisi kursi ngobrol dengan teman di sekitarnya.


"Orang rumah," jawab Melati, sekenanya.


"Kuatir amat sama kamu. Mau pergi jelong-jelong ini, bukan perang," kata Ranita. Sekarang dia duduk di sebelah Melati.


Melati


- Udah dulu yaa


Elvan


- Ok. 😊😊


Melati menutup HP dan menyimpannya di saku ransel. Lalu dia membuka botolnya dan minum beberapa teguk. Ah, Elvan bisa buat dia tiba-tiba panik gini. Mudah-mudahan dia ga sering chat nanti. Bisa curiga ntar Ranita.


Melati menyimpan kembali botolnya. Dia memperhatikan jalan dari jendela. Dia suka melihat pemandangan yang berganti cepat saat naik kendaraan begini.


Perjalanan ini pasti akan sangat berkesan.

__ADS_1


__ADS_2