
Elvan menepuk-nepuk lengannya yang dia lipat. Hasan masih di dalam mendonorkan darahnya. Sudah lebih 20 menit. Elvan gelisah sekali.
"Elvan, ayo." Hasan menepuk baju Elvan.
"Akhirnya." Elvan berdiri. "Kamu ga apa-apa?" Elvan memperhatikan Hasan.
"Agak lemes," katanya.
"Ya sudah, aku yang nyetir." Elvan meminta kontak mobil. Hasan menyerahkan pada Elvan. Keduanya menuju tempat parkir.
Begitu masuk mobil, Elvan cepat menjalankan mobil menuju lokasi pernikahan.
"Aneh sekali hidupku ini. Mau nikah aja ribet banget. Lihatlah... Mobil dihias keren begini, bawa korban kecelakaan." Elvan melirik Hasan yang bersandar pada jok, duduk di sebelahnya.
Hasan nyengir. "Udah gitu nyetir sendiri ke acara pernikahan. Haa... haa... komplit banget drama hidupmu.."
"Dasar... malah ngakak. Empati dikit kek, sama penderitaan temanmu," kata Elvan tanpa menoleh.
"Kamu sudah kabari mereka?" tanya Hasan.
"HP-ku mati," ujar Elvan.
Hasan makin ngakak. "Haa.. haa...."
"Puas tertawa di atas kesengsaraanku... Melati tadi panik sekali waktu aku telpon," tukas Elvan.
"Aduh, maaf... bukan maksud meledek. Rasa lucu saja.... haa.." Hasan cepat menutup mulutnya, menahan tawanya.
"Telpon Kak Azka cepat. Biar mereka ga bingung," perintah Elvan.
"Siap, Boss..." Hasan mengeluarkan ponsel dan menelpon Azka memberitahu mereka perjalanan ke hall.
Sepuluh menit berikut mereka sampai. Elvan memarkir mobil dan secepatnya naik ke lantai 5. Dia tidak menunggu lagi Hasan yang belum pulih betul. Hasan cuma geleng kepala.
Sampai lantai 5. Elvan menuju ruang tunggu yang dia tahu Melati ada di sana.
"Mel..."
Dengan cepat Melati menoleh ke suara itu.
Elvan berdiri di sana. Di pintu masuk. Dengan wajah berantakan, jas di tangannya dan kemejanya, yang kotor karena bercak darah.
"Mas...." Melati membelalak tak percaya. Dia mendekati Elvan.
"Mas kenapa? Mana yang sakit? Apa Hasan baik-baik?" Melati memperhatikan Elvan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
__ADS_1
Melati menutup mulutnya dengan tangan kanan begitu melihat bagian dada dan perut Elvan. Di kemeja Elvan bertebaran bercak darah.
"Sakit perutmu, Mas? Luka dalam atau..."
"Mel... aku tidak apa-apa," ucap Elvan. "Bukan aku yang kecelakaan. Aku dan Hasan baik-baik saja. Kami menolong korban kecelakaan."
Melati, Ranita, Lily, Sekar, dan penata rias yang ada di rumah itu bertatapan.
"Jadi???" Lily memandang Elvan.
"Kami ga kenapa napa. Ayo, cepat bersiap. Kita sudah terlambat tiga jam." Elvan memegang kedua bahu Melati.
"Tapi, Mas... kami ga bawa baju ganti kemeja pria," kata mbak penata rias mereka.
"Tidak masalah. Tertutup jas tidak akan terlihat." Elvan mendekati meja rias dan merapikan rambutnya. Dia membersihkan wajah dengan tisu.
Lily keluar ruangan dan menuju gedung utama.
Dia memberitahu Elvan sudah datang. Gilang dan Azka bergegas menemui Elvan.
"Elvan..." Azka memandang Elvan.
"Hasan pasti salah kasih berita, nih. Kami tidak apa-apa. Kami menolong korban kecelakaan," kata Elvan. "Aman, Kak." Elvan tersenyum.
Azka menarik nafas dalam. Gilang menepuk pundak Elvan. Wajahnya yang tegang mulai terlihat tenang.
"Baik, Om." Elvan tersenyum.
Gilang menggandeng Sekar kembali ke rumah utama. Azka ikut di belakang mereka.
Lima menit kemudian Melati dan Elvan berdiri di depan ruang utama.
"Mel, aku sayang sama kamu... Terima kasih kamu mau sabar menunggu aku datang," bisik Elvan.
Melati mengangguk sambil tersenyum tipis. Tangannya menggandeng lengan Elvan. Semua sedih telah lenyap. Yang dia rasa bahagia mulai memenuhi rongga dadanya yang tadi begitu pilu. Ketika musik mulai berkumandang mereka melangkahkan kaki menuju altar.
Orang-orang yang mereka sayangi, orang-orang yang berarti di hidup mereka ada di sana, menyaksikan kasih mereka dipersatukan dalam pernikahan kudus.
Berdiri berdampingan saling mengucapkan janji, berkomitmen sampai mati akan selalu bersama. Inilah hari yang Melati nantikan.
Dia ingat kembali semua perjalanan cintanya dengan Elvan. Elvan Bukan pria pertama yang padanya dia jatuh hati. Tapi dia pacar pertama dan terakhir buat Melati. Dia bersedia jadi kekasih dengan jebakan sayang Elvan, kini membuat Melati bersyukur Elvan melakukan itu padanya.
Elvan memang memaksanya untuk mencintai dirinya. Tapi Melati tahu dia melakukannya bukan untuk kesenangan semata jika memiliki kekasih. Elvan melakukannya karena dia ingin memberi kebahagiaan dalam hidup Melati, mewujudkan impiannya dan harapannya di masa depannya.
Menyematkan cincin di jari manis masing-masing sebagai janji cinta mereka akan tetap utuh, tidak berpangkal tidak berujung. Sampai kapanpun, apapun yang akan terjadi cinta mereka akan tetap sama.
__ADS_1
Kemudian doa dipanjatkan, agar kebahagiaan dan keberhasilan menyertai perjalanan cinta mereka. Keduanya tetap saling mengasihi dalam segala musim hidup yang akan berlaku.
Di ujung mata Elvan, titik air sudah siap menetes. Dia buka cadar yang menutup wajah cantik kekasihnya itu. Akhirnya, mereka telah sah menjadi suami istri. Elvan menatap Melati dengan senyum bahagia dan penuh kelegaan.
Dengan lembut Elvan mendaratkan ciuman di kening Melati. Lalu kedua pipinya. Semua bertepuk tangan bahagia. Ketegangan karena tragedi pengantin pria terhambat gara-gara kecelakaan di jalan raya membuat suasana sukacita makin riuh.
"Akhirnya... putriku... selamat, Sayang..." Sekar memeluk dan mencium pipi Melati.
Erika tidak mau kalah. "Mulai sekarang panggil aku Mama. Yaa..." ujar Erika sambil memeluk Melati.
"Dan Elvan, ini Ibu, ya.. bukan Tante." Sekar sekarang melihat Elvan.
Elvan tersenyum. "Senang bisa memanggil Ibu."
Tirta, Gilang dan keluarga yang lain juga ikut memberi ucapan selamat. Termasuk, Dewi, Pak Karno dan Bu Nanik.
"Bagus..." panggil Bu Nanik.
Elvan sedikit menunduk agar Bu Nanik tidak kesulitan memeluknya. Tidak ada kata yang Bu Nanik ucapkan. Tapi Elvan tahu wanita tua yang lembut ini sangat senang dan bahagia untuknya. Lalu Pak Karno, dia memeluk Elvan erat. Elvan bisa merasakan kasih yang besar dari pria tua ini.
Gilang merengkuh bahu Elvan. "Putriku sekarang milikmu. Jaga dia seperti aku menjaganya selama ini."
"Iya, Om." Elvan membalas pelukan Gilang.
"Ayah... aku ayahmu sekarang." Gilang tersenyum.
"Ayah..." ucap Elvan. Wajahnya memancarkan kebahagiaan.
"Putraku yang selalu membuat jantung Papa berlarian hampir lepas... Akhirnya..." Tirta sekarang ganti memeluk Elvan. "Maafkan Papa yang pernah meragukanmu. Papa sangat bangga kamu adalah putraku."
"Aku sayang Papa," kata Elvan. Dia peluk papanya erat. Kehangatan yang sama dia rasakan sejak dia kecil.
"Mana putriku?" Tirta meraih bahu Melati dan memeluk gadis itu dengan kasih dan senyum kelegaan.
"Anak Papa... terima kasih kau penuhi janjimu... tidak meninggalkan Elvan," bisik Tirta.
"Aku sayang dia, Pa... aku tidak mungkin pergi darinya," ucap Melati.
Dan kini, Melati menghambur ke pelukan ayahnya. "Ayah..."
Gilang mengecup kening Melati. "Sudah jadi istri orang, Anak Ayah. Jadilah pendamping yang baik, lakukan dengan tulus semuanya. Berikan cintamu seutuhnya."
Melati mengangguk.
Ucapan selamat terus mengalir dari semua yang datang. Luapan syukur dan sukacita nampak tergambar jelas di wajah Elvan dan Melati.
__ADS_1
Dan segera acara resepsi dilakukan. Di bagian inilah panggung Rumah Garuda dibuka. Tamu disuguhi penampilan atraktif anak-anak binaan Elvan dan Melati. Tarian, nyanyian, musik, semua menyajikan tampilan terbaik, menceritakan kasih dan cinta kedua insan yang sedang menjadi raja dan ratu sehari itu.
Rasanya senyum tidak lepas dari bibir Elvan dan Melati. Hingga acara usai jam 8 malam, keduanya pun masuk ke dalam kamar di hotel itu. Mereka akan beristirahat malam ini, besok pagi akan terbang untuk bulan madu.