
Melati mulai takut mendengar suara Harun yang menunjukkan kemarahan.
"Dengar, sejak bayi Bondan tinggal di sini. Dia tumbuh normal seperti anak lainnya. Dia tidak ada kelainan. Kamu pikir aku ga sanggup ngurus anak itu? Aku ini bapaknya!" sentak Harun. Dia duduk lurus dan menatap Melati dengan tanpa kedip.
"Eh, maaf, bukan begitu maksud saya, Pak. Saya hanya ingin membantu supaya Bondan bisa..."
"Alasan saja! Apa aku percaya kalian orang berduit mau menolong orang melarat seperti kami?! Memeras tenaga kami yang iya. Menjadikan kami babu, tanpa perduli hidup orang susah seperti aku ini, kelihatan hidup tapi mati, terasa mati tapi masih hidup!" lanjut Harun. Emosi Harun jelas makin meledak.
"Pak, saya tidak ada maksud..."
"Sampai kapanpun Bondan akan tetap bersamaku. Sudah cukup ibunya saja yang kabur, tapi aku tidak akan biarkan dia pergi." Harun berdiri dengan tangan terkepal. "Anakku bukan urusanmu!"
Melati menelan ludahnya. Aduh, malah jadi ngamuk nih si bapak.
"Keluar!" sentak Harun sambil menunjuk pintu.
Melati berdiri. "Permisi, Pak. Selamat siang."
Melati meninggalkan rumah itu dengan hati sedih. Dia tidak bisa bicara dengan benar sepertinya. Malah membuat Harun marah. Dia tidak bisa bayangkan bagaimana Bondan akan jadi sasaran kemarahannya nanti.
Kembali dia pesan ojek online dan pulang. Hari itu bukan jadwal Melati melatih anak-anak. Dengan kondisi ini juga Melati merasa moodnya tidak baik. Pasti latihan jadi tidak akan seperti biasanya.
Tiba di rumah Melati langsung mandi. Baru kemudian dia cek HP. Ada banyak panggilan dari Elvan. Dia tidak berminat untuk menelpon balik. Ada chat masuk Melati bahkan enggan membukanya. Dia rasa lelah sekali. Beberapa waktu setelah berbaring Melati tertidur.
"Mel, ayo bangun. Melati... " Sekar membangunkan Melati.
Melati membuka mata dan duduk. "Sudah sore ya, Bu?" kata Melati.
"Ada Elvan di depan," kata Sekar.
"Hmmm..." Melati menjawab malas.
"Kalian ada masalah?" tanya Sekar.
"Dia bilang sesuatu sama Ibu?" ujar Melati.
"Iya. Dia ga bisa lama-lama marahan sama kamu. Bicaralah padanya. Kalian ini sudah lama pacaran. Jangan biasakan berlarut-larut membiarkan masalah," kata Sekar.
"Iya, Bu," ucap Melati lirih.
"Cuci dulu mukamu. Jangan ketemu pacar masih bau jigong." Sekar berdiri dan bersiap keluar kamar Melati.
"Ibu..." Melati memajukan bibirnya. Sekar keluar, Melati mengikuti di belakangnya. Melati ke kamar mandi beberapa menit kemudian dia ke ruang tamu.
"Mel..." Elvan menyapa Melati.
Melati duduk di seberang Elvan. Dia masih malas menanggapi cowok itu. Wajahnya menatap lurus ke depan.
"Melisa itu teman kuliahku. Kami akan sama-sama maju sidang beberapa hari lagi. Dia minta aku baca skripsi miliknya untuk edit penulisan. Hanya itu." Elvan mulai menjelaskan situasi antara dia dan Melisa.
__ADS_1
Melati tidak berkomentar.
"Mel... aku tidak bisa kamu diamkan begini." Elvan mulai gusar.
"Tapi yang kulihat beda, El," ujar Melati.
"Kamu melihat kami dari jauh. Dan yang kamu lihat itu bukan yang sebenarnya." Elvan menegaskan.
"Sudahlah. Aku masih ingin sendiri. Jangan ganggu aku. Dan aku juga ga akan ganggu kamu. Oke?" tandas Melati.
"Mel... terlalu banyak hal lain yang perlu kita urus. Jangan hal seperti ini justru menghambat," ujar Elvan.
"Kenapa kamu ga paham aku? Dasar cowok ga peka," batin Melati. Dia menatap lurus tidak mau memandang Elvan.
"Baiklah. Jika itu maumu. Aku takkan mengganggu kamu. Aku tunggu kamu siap kita selesaikan ini. Doakan saja sidang skripsi nanti lancar." Elvan berdiri. "Aku pulang."
Elvan mendekati Melati dan mengecup puncak kepala Melati. Cukup lama. Melati tetap diam tak bergeming. Elvan meninggalkan rumah itu dengan rasa galau. Entah kenapa dia tak bisa mengerti Melati kali ini.
Di dalam, Melati menangis tanpa suara.
"El, aku kangen kamu..." bisiknya. Ingin dia mengejar Elvan dan memeluknya. Tapi entah kenapa dia tak juga beranjak dari tempat duduknya.
Sampai berhari-hari kemudian Melati dan Elvan tidak ada kontak sama sekali. Elvan benar-benar memenuhi apa yang dikatakannya, tidak mengganggu Melati. Dan Melati juga masih ragu untuk memulai lagi komunikasi dengan Elvan. Sebenarnya Melati sudah memikirkan apa yang Elvan katakan, apa yang dilihatnya tidak seperti kenyataannya. Tapi dia sedikit malu mengakuinya. Dia menunggu Elvan yang memulai lagi, entah chat, telpon, atau datang dan bicara padanya.
Demi mengalihkan suasana tegang di antara mereka, Melati memikirkan bagaimana dia menolong Bondan. Sejak pertemuan yang gagal dengan Harun, Bondan baru sekali datang ke Rumah Garuda. Waktu Melati tanya apakah dia dipukul, Bondan bilang tidak, karena dia bawa uang cukup banyak buat bapaknya.
"Jadi dia akan senang jika punya uang banyak. Sepertinya itu kelemahannya. Tapi jika aku kumpulkan banyak uang agar Bondan boleh aku bawa itu sama saja memperjualbelikan Bondan. Ahh, itu menyalahi aturan. Kalau aku minta diadopsi juga ga mungkin. Aduh... pusing..." Melati menggeleng gregetan.
"Ada apa, ya? Apa ada kecelakaan?" batin Melati. Karena penasaran dia pinggirkan motor, memarkirnya dan mendekati kerumunan.
Terdengar suara seorang bapak sedang marah besar. Ternyata, itu Harun dan Bondan!
"Anak tak tahu diuntung! Cuma bisa nyusahin saja! Jam segini sudah mau kabur ga mau kerja?! Kamu mau jadi anak kurang ajar??!!! Hah?!!!!" Dan wajah kecil itu ditampar dengan keras.
Melati kaget luar biasa. Bondan sampai terhuyung. Melati cepat menerombol orang-orang itu dan memegang Bondan. Dia dekap Bondan di dadanya.
"Hentikan!" teriak Melati. Dia heran juga orang di sekitar ini hanya menonton tanpa berbuat apa-apa.
"Kamu lagi!!! Kamu biang kerok anakku jadi pembangkang!!" Harun membentak pada Melati.
"Tidak pantas seorang bapak memaksa anaknya bekerja seperti ini. Harusnya dia melindungi anaknya!" Entah kekuatan dari mana yang membuat Melati berani menantang Harun.
"Sinikan anak itu!" Harun mencoba menarik Bondan. Tapi Melati lebih dulu menyembunyikan Bondan dan di belakangnya.
"Tidak. Saya tidak mau!" bantah Melati.
"Kamu bukan siapa-siapa. Untuk apa kamu ikut campur urusanku?? Anak itu milikku. Kau tidak punya hak!!!" balas Harun.
"Setiap anak adalah milik negara. Negara berhak melindunginya dari tindakan kekerasan dan kejahatan." Melati mencoba menekan Harun.
__ADS_1
"Haa... haa...." Harun tertawa keras. "Negara?? Negara bullshit!!! Sejak aku lahir mana ada negara kasih aku makan!! Tidak juga kasih anakku makan. Aku yang urusss!!! Dia sudah tau cari duit wajar aku suruh dia bantu aku kerja. Paham, Nona Kaya?!!!"
"Uang. Oke... Uang yang bapak mau." Melati mengeluarkan dompet dari tasnya. Dia mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dan dia berikan pada Harun.
"Aku ganti uang kerja Bondan hari ini. Ini. Aku bawa dia!" kata Melati.
Harun hanya melotot ke arah Melati. Melati tidak bisa menunggu. "Silakan ambil, atau bapak tidak dapat apa-apa. Aku tetap bawa Bondan," kata Melati tegas.
"Kau pikir aku ini..."
Melati melempar uang di tangannya. Dia tak bisa menunggu lagi. Harun kaget dan segera memunguti uang yang bertebaran itu.
Cepat-cepat Melati menarik Bondan, membawanya naik motor dan pergi dari sana. Dia tidak perduli lagi Harun yang berteriak-teriak marah. Tujuan Melati adalah Rumah Garuda.
Begitu sampai Melati langsung membawa Bondan untuk diobati. Sepertinya tadi dia juga dipukul di bagian lain tubuhnya. Melati minta bantuan Lidya untuk melihat kondisi Bondan.
Bondan kelihatan masih ketakutan. Dia berusaha tidak menangis. Dia nyengir beberapa kali saat Lidya mengobati lukanya. Pipinya mulai membiru dan ada luka kecil berdarah di ujung bibirnya.
Melati justru memilih pergi ke kamar mandi dan menangis di sana. Hatinya sangat marah dengan semua ini. Kalau saja bisa secepatnya masalah Bondan selesai. Setelah puas menangis Melati kembali menemui Bondan. Lidya sudah selesai mengobatinya. Anak itu sekarang sedang makan.
"Bondan, apa yang terjadi? Kenapa bapakmu sampai semarah itu?" tanya Melati.
"Dia butuh uang lagi. Dia kalah judi beberapa hari ini. Tadi aku mau ke sini, tapi ketahuan pas aku mau pergi. Jadi Bapak marah sama aku," kata Bondan lirih. Dia kelihatan lebih tenang sekarang.
"Kamu tinggal saja di sini. Di sini kamu aman," kata Melati.
"Bapak bagaimana?" tanya Bondan.
"Bagaimana apanya?" sekarang Melati yang tidak paham perkataan Bondan.
"Dia akan sendirian. Dia sering nangis kalau ingat Ibu. Dia juga ga selalu dapat kerjaan. Bapak nanti bagaimana kalau aku di sini?" ujar anak itu.
Melati makin kaget mendengar apa yang Bondan katakan. Dia masih memikirkan bapaknya setelah semua yang dia terima selama ini.
"Bondan, tidak seharusnya kamu diperlakukan seperti ini. Anak tidak ada kewajiban bekerja memberi uang untuk orang tuanya. Kamu masih terlalu kecil. Tugas kamu sekolah dengan baik, mengembangkan dirimu untuk cita-cita kamu," kata Melati.
"Bapak kamu adalah seorang pria dewasa. Dia pasti tahu apa yang harus dia lakukan dengan hidupnya. Kamu jangan kuatir," tambah Melati.
"Apa tidak apa-apa aku disini?" tanya Bondan.
"Tentu saja. Yayasan ini dan Rumah Garuda adalah rumah kalian. Kamu sudah kenal teman-teman di sini, kan? Mereka juga anak-anak yang hidupnya sulit. Ada yang tidak pernah kenal orang tuanya sama sekali. Ini keluarga mereka sekarang," jawab Melati.
Bondan memandang wajah Melati. Dia merasa aman selalu bila dekat Melati. Kadang dia membayangkan ibunya akan bersikap seperti ini buatnya. Berani membelanya, melindunginya dari bapak saat marah. Di mana ibu sekarang?
"Nanti Bapak akan cari aku di sekolah, Kak," kata Bondan.
"Hmmm... aku akan pikirkan. Bagaimanapun kamu harus tetap sekolah," ujar Melati.
Setelah bicara dengan Hadi dan Lidya, mereka sepakat Bondan akan diantar dan dijemput waktu sekolah. Mereka akan bicara dengan pihak sekolah untuk mengawasi Bondan supaya hanya orang dari yayasan yang akan jemput Bondan.
__ADS_1
Sementara situasi Bondan bisa teratasi. Melati sedikit lega.