
Azka yang menyetir mobil untuk perjalanan keluarga Edgar camping kali ini. Papa dan mama kelihatan sangat gembira. Sudah lama mereka tidak pergi bersama seperti ini.
Tujuan mereka ke sekitar gunung Semeru. Di area kawasan wisata Bromo Tengger Semeru, di daerah Ranu Kumbolo. Perjalanan lumayan jauh tapi sangat menyenangkan dan menantang. Alam sangat indah di sekeliling danau yang cukup luas.
Siang hari mereka tiba di tujuan. Azka, Elvan dan Farel langsung mendirikan tenda. Erika dan Tirta menyiapkan makan siang. Karena bukan musim libur tidak banyak pengunjung yang datang. Biasanya area ini akan penuh jika liburan sekolah.
Menjelang sore, Elvan berkeliling di sekitar tempat mereka berkemah. Dia masih takjub dengan cantiknya padang luas yang ditumbuhi tanaman luar dengan bunga yang cantik. Lalu ada juga hutan di sekitarnya. Dia mengambil beberapa foto di pemandangan yang menarik hatinya.
"Kak, bukan asyik kalau kita buat api unggun?" kata Elvan pada kakaknya. Azka berdiri tidak jauh dari tempatnya.
"Boleh juga, tuh." Semakin sore memang terasa makin dingin.
"Aku cari kayu kering saja. Mumpung masih terang," ujar Elvan.
"Okelah. Aku bantu. Ayo," kata Azka. Mereka pamitan pada Tirta dan Erika akan mencari kayu kering untuk membuat api unggun.
Berdua mereka masuk lebih dalam ke hutan yang tak jauh dari lokasi tenda. Hutan tidak terlalu lebat. Masih bisa melihat langit di sela-sela pepohonan. Elvan terus berkeliling mengumpulkan kayu kering. Begitu juga Azka. Lumayan banyak yang mereka dapat.
Elvan melihat di ujung kiri ada pohon dengan ranting yang menarik perhatiannya. Dia berjalan mengikuti jalan menuju ke pohon itu. Azka masih agak jauh di belakangnya. Di pohon besar itu tumbuh anggrek yang cantik sekali. Elvan mengeluarkan HP-nya dan memotretnya. Dia maju beberapa langkah. Tanpa memperhatikan langkahnya karena dia melihat ke atas, dia tersandung akar pohon.
HP-nya terlepas. Elvan terhuyung-huyung justru kaki kiri terbelit kaki kanannya. Akhirnya dia terperosok ke dalam jurang. Dia terguling-guling dan menabrak pohon beberapa kali. Entah berapa meter dia meluncur ke bawah. Akhirnya dia terbentur batang kayu yang besar dan pingsan.
Azka sudah mengumpulkan banyak kayu. Dia mau mengajak Elvan balik. Tapi adiknya itu tidak kelihatan. Dia panggil namanya beberapa kali.
"Elvan!! Elvan!!" Tidak ada sahutan. Azka masuk lebih jauh. Tapi tidak nampak tanda-tanda Elvan di sana. "Elvan, ayo balik. Sudah hampir gelap!" Azka memanggilnya lagi. Tidak ada jawaban.
Azka mulai panik. Dia mencari ke sana sini. Tidak ada hasil. Hari semakin gelap. Lalu dia melihat benda putih tergeletak tak jauh darinya. Azka mengambilnya. Itu HP Elvan. Berarti dia tadi ada di sini. Tapi di mana dia?
"Elvan!!!!" Sekuat tenaga Azka memanggil. Dia mulai cemas. Dia maju beberapa meter. Ya, ada jurang di sana. Jangan jangan...
"Tidak. Elvan!!!" Lagi Azka berteriak dengan panik. Karena semakin gelap Azka memutuskan keluar dari hutan secepatnya dan mencari pertolongan. Karena tidak mungkin dia mencari tanpa alat bantuan.
__ADS_1
Sampai di lokasi tenda, Azka sudah pucat. Tirta dan Erika yang melihatnya berlari dengan panik jadi ikut bingung.
"Kenapa, Azka?" tanya Tirta. "Mana Elvan?" Dia ikut mulai panik.
Erika dan Farel yang depan tenda langsung berdiri.
"Pa, Ma..." Suara Azka gemetar. Dia mengangkat HP Elvan.
"Di mana Elvan?" tanya Erika. Kelihatan dia sangat cemas.
"Dia... Elvan... sepertinya jatuh ... ke jurang," ujar Azka terbata-bata.
"Apa???!!!" Serentak Tirta, Erika, dan Farel berteriak.
"Tidak! Azka, jangan bercanda." Tirta memegangi dadanya. Seketika rasa sesak menekannya. Tubuhnya sedikit limbung.
"Mas!!" Erika memeluk suaminya. Dia membantunya duduk.
Erika berusaha menenangkan Tirta. Azka berusaha tenang. Dia tidak boleh panik. Harus bisa tenang agar bisa berpikir. Azka melihat sekeliling. Agak jauh dari mereka kira-kira 300 meter jaraknya Azka melihat ada dua tenda di sana. Pasti mereka juga sedang berkemah. Azka memutuskan meminta bantuan mereka.
"Ma, aku cari bantuan," kata Azka dan bergegas pergi menuju tenda yang dia lihat. Hari semakin gelap.
Erika meminta Farel menyalakan lampu yang mereka bawa. Lalu dia memberi minum suaminya yang masih kaget dengan kejadian ini. Farel terlihat sangat kuatir. Tapi dia tidak tahu harus bicara apa.
Azka sampai di tenda itu. Mereka ternyata sekelompok mahasiswa pecinta alam. Mereka bersedia membantu. Mereka juga menghubungi Tim SAR dan penjaga hutan dengan alat komunikasi yang mereka bawa.
Malam itu juga mereka turun mencari ke jurang yang diperkirakan Elvan jatuh. Memang ada tanda seseorang terperosok, tapi tubuh Elvan tidak ditemukan. Sampai jauh malam mereka tidak mendapatkan apa-apa.
"Azka, Papa harus pulang. Dia tidak akan bertahan di sini," kata Erika.
"Ya Ma. Sebaiknya, Mama Papa dan Farel pulang. Aku akan di sini mencari Elvan," ucap Azka.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Tirta, Erika, dan Farel kembali ke Malang. Azka tertinggal di lokasi terus mencari. Sampai kembali malam tetap tidak ada tanda Elvan ada di mana.
"Terus terang, ada kejanggalan menurut aku, Mas. Dia seharusnya sudah bisa ditemukan. Hutan sudah kita jelajahi. Bahkan lebih tiga kali. Dengan jumlah tim cukup banyak, kita berlima belas, mestinya bisa ketemu. Adik Mas Azka raib begitu saja," kata salah satu tim yang membantu.
Azka tidak menjawab. Tapi kata-katanya benar.
"Besok kami akan cari ke pemukiman. Kita sebar foto Elvan, mungkin ada yang menemukannya. Siapa tahu ada yang menolongnya," kata salah satu anggota Tim SAR.
"Baiklah," kita lanjut besok.
Azka merasa sangat bersalah. Seharusnya dia tidak jauh-jauh dari Elvan. Seharusnya dia mengikuti anak itu. Kenapa dia harus fokus cari kayu saja? Ahhh...
Sepanjang malam, Azka tidak bisa tidur. Dia menangis tanpa suara.
"Kamu di mana, El? Apa kamu masih bertahan? Ayo, El, tunjukkan dirimu. Jangan sampai papa sakit karena mikir kamu." Risau, gelisah, rasa bersalah, tumpang tindih dalam hati Azka.
"Tuhan, Tuhan, Kau pasti tahu di mana Elvan. Beri aku petunjuk. Tolong, Tuhan... kembalikan dia pada kami," doa Azka tanpa henti.
Sedang Tirta terpaksa dilarikan ke rumah sakit lagi. Memang tidak separah waktu itu. Sehingga kondisinya cepat stabil. Walau begitu hatinya kacau. Mereka terus berdoa agar Elvan cepat ditemukan. Bagaimanapun caranya Elvan harus ditemukan.
Erika merasa dunianya diputar balik dengan kenyataan dia kehilangan seorang anaknya dengan tiba-tiba seperti ini. Makan tak enak, tidur tak bisa lelap. Belum lagi harus mendampingi Tirta yang terbaring sakit.
Farel, kembali jadi pendiam. Tak banyak bicara, tapi hatinya sangat sedih. Ada rasa takut kakaknya kemungkinan tidak akan pernah kembali.
*
Jika aku pergi, jangan lupakan
Satu kali akan ada waktu kita bersama
Entah di dunia ini atau dunia yang lain
__ADS_1
Sampai kapanpun jaga hatimu untukku....