Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 50 - Kejutan Lagi dari Elvan


__ADS_3

Elvan menatap kakaknya. Melati, tentu dia rindu gadis itu. Dia ingin tahu bagaimana kabarnya?


"Dia sangat merindukanmu, El. Dia pulang beberapa kali, menengok papa dan mama. Melati memang gadis yang baik. Kamu memilih seseorang yang luar biasa untuk kamu cintai," kata Azka.


Elvan memandang kakaknya. Dia tahu apa yang Azka katakan pasti benar.


"Lihat HP-mu. Tiap hari dia kirim WA. Padahal dia tahu aku yang simpan HP itu," kata Azka lagi.


Elvan mengambil HP-nya. Banyak sekali chat dari Melati. Elvan membacanya. Hatinya berdebaran membaca pesan-pesan yang tak terbalas itu. Di sana Melati menyampaikan rindu, harapan, dan menceritakan apa yang dia alami.


Lama Elvan membacanya. Air matanya mengalir sesekali.


"El, kenapa kamu tidak telpon dia?" tanya Azka.


"Aku akan langsung datang menemuinya, Kak." Elvan melihat pada Azka.


"Memang kamu paling bisa, ya... Jangan sampai dia pingsan begitu melihatmu." Azka tersenyum. Elvan juga menarik bibirnya, tersenyum.


Beberapa hari kemudian Elvan sudah sampai di Depok. Dia berencana akan mengejutkan Melati dengan tiba-tiba datang di kampusnya. Tapi ternyata ada hal besar yang sedang terjadi di kampus itu. Mahasiswi yang tergabung dalam kegiatan musik, teater, dan paduan suara mengadakan kantata besar di akhir semester. Posternya dipasang di mana-mana. Wajah Melati ada di sana. Dia sebagai penyanyi utama dalam pagelaran itu.


Elvan pun menunda rencananya menemui Melati sampai hari pagelaran itu dilakukan. Elvan mencari info mengenai acara itu. Jam berapa, berapa lama, bagaimana bisa hadir di acara itu. Elvan akhirnya dapat tiket masuk.


Sedang Melati dia sibuk dengan persiapan acara itu yang dilakukan sejak sebelum ujian. Kegiatan ini cukup menyita waktunya. Dia suka alur cerita yang ditampilkan tentang kesetiaan seorang wanita pada kekasihnya. Bahkan sampai kekasihnya mati, wanita itu memilih menutup hatinya untuk cinta yang lain.


Mungkin mirip dengan kisahnya, tapi dia masih berharap Elvan akan kembali. Melati akan menutup kisah itu dengan lagu Lady Gaga, I'll Never Love Again. Hampir dua bulan persiapan acara besar itu. Di tengah kesibukan menuntaskan tugas kuliah dan ujian, latihan masih berjalan. Tapi semua rasanya terbayar ketika tiket sold out.


Selama persiapan acara, Melati tak urung bertemu dengan teman sebandnya dulu. Juga bertemu Arthur. Arthur tetap menjadi koordinator dan band masih kompak. Beberapa kali bertemu membuat rasa tidak nyaman pada Arthur menguap. Arthur juga sangat menjaga diri agar tidak sering bersinggungan dengan Melati.


Hari itu, sejak pagi semua personil yang terlibat nampak sudah ada di bagian masing-masing. Semua keperluan dicek ulang. Dari kostum, dekorasi, sound system, lighting, konsumsi, perlengkapan, dokumentasi dan hal yang lainnya. Kesibukan jelas sekali di gedung besar itu.


Acara mulai jam 6 sore. Pemain dan kru serta panitia yang terlibat sudah stand by di tempat masing-masing. Sebelum jam 6 pun gedung mulai penuh. Elvan ada di antara penonton yang hadir. Dia mengenakan kaos putih dengan jaket jeans hitam. Keren, seperti biasa. Hanya rambutnya belum dia cukur. Sudah mendekati bahu panjangnya.


Tepat jam 6 lampu padam. Lampu sorot mengarah ke tengah panggung yang besar. Host membuka acara menyampaikan tujuan dan apa yang akan ditampilkan. Lima menit berikut acara mulai. Sajian yang luar biasa. Para pemain sungguh mampu menghayati peran mereka. Permainan musik yang manis, dipadukan dengan berbagai alat musik tradisional dan modern, serta penataan cahaya yang menambah hidup alur cerita. Juga paduan suara dan lagu-lagu yang dikumandangkan sungguh menguras emosi yang hadir.


Decakan kagum, tepuk tangan, sampai suitan membahana memenuhi gedung yang begitu besar. Empat lagu yang Melati bawakan menambah naik turun suasana hati penonton. Suaranya yang lembut bercampur serak menyayat hati ketika menaikkan lagu sendu.


Di bagian akhir, di adegan terakhir, ketika pemain utama sudah menuntaskan dialognya, Melati muncul di tengah panggung, menyanyikan I'll Never Love Again. Dengan gaun putih panjang sampai di kakinya, rambut panjangnya terurai cantik, Melati dengan anggun mulai bernyanyi.


.......


Wish I could


(Seandainya aku bisa)


I could have said goodbye


(Aku ingin dapat mengucapkan selamat tinggal)


I would have said what I wanted to


(Aku ingin dapat mengatakan apa yang ingin aku katakan)


Maybe even cried for you


(Bahkan mungkin aku akan menangis untukmu)


If i knew it would be the last time


(Jika aku tahu itu akan menjadi yang terakhir kalinya)


I would have broke my heart in two


(Aku akan mematahkan hatiku menjadi dua)


Tryin’ to save a part of you


(Mencoba untuk menyelamatkan sebagian darimu)


Don’t want to feel another touch


(Tidak ingin merasakan sentuhan lain)


Don’t want to start another fire


(Tidak ingin menjalin asmara yang lain)


Don’t want to know another kiss


(Tidak ingin tahu ciuman yang lain)


No other name falling off my lips

__ADS_1


(Tidak ada nama lain yang keluar dari bibirku)


Don’t want to give my heart away


(Tidak ingin memberikan hatiku)


To another stranger


(Untuk seseorang yang lain)


Or let another day begin


(Atau membiarkan hari lain dimulai)


Won’t even let the sunlight in


(Bahkan tidak akan membiarkan sinar matahari hadir)


No, I’ll never love again


(Tidak, aku tidak akan pernah mencintai lagi)


I’ll never love again


(Aku tidak akan pernah mencintai lagi)


When we first met


(Saat kita pertama kali berjumpa)


I never thought that I would fall


(Aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan jatuh cinta)


I never thought that I’d find myself lyin’ in your arms


(Aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan menemukan diriku bersandar di pelukanmu)


And I wanna pretend that it’s not true


(Dan aku ingin berpura-pura bahwa itu tidak benar)


Oh baby, that you’re gone


Cause my world keeps turnin’ and turnin’ and turnin’


(Karena duniaku terus berputar dan berputar dan berputar)


And I’m not movin’ on


(Dan aku tidak mampu pindah ke lain hati)


Don’t want to feel another touch


(Tidak ingin merasakan sentuhan lain)


Don’t want to start another fire


(Tidak ingin menjalin asmara yang lagi)


Don’t want to know another kiss


(Tidak ingin tahu ciuman lain)


No other name falling off my lips


(Tidak ada nama lain yang keluar dari bibirku)


Don’t want to give my heart away


(Tidak ingin memberikan hatiku)


To another stranger


(Untuk seseorang yang lain)


Or let another day begin


(Atau membiarkan hari lain dimulai)


Won’t even let the sun light in

__ADS_1


(Bahkan tidak membiarkan sinar matahari hadir)


No I’ll never love


(Tidak, aku tidak akan pernah mencintai….)


I don’t wanna know this feeling unless it’s you and me


(Aku tidak ingin tahu tentang perasaan ini kecuali itu kau dan aku)


I don’t wanna waste a moment


(Aku tidak ingin membuang waktu)


And I don’t wanna give somebody else the better part of me


(Dan aku tidak ingin memberikan yang lebih baik kepada orang lain)


I would rather wait for you


(Aku akan lebih baik menunggumu)


Don’t want to give my heart away


(Tidak ingin memberikan hatiku pergi)


To another stranger


(Untuk orang lain)


Don’t let another day begin


(Tidak ingin membiarkan hari lain dimulai)


Won’t let the sun light in


(Tidak akan membiarkan sinar matahari masuk)


Oh I’ll never love again


(Oh, aku tidak akan pernah mencintai lagi)


Never love again


(Tidak pernah mencintai lagi)


Never love again


(Tidak pernah mencintai lagi)


Oh I’ll never love again


(Oh, aku tidak akan pernah mencintai lagi)


......


Kata demi kata yang Melati lantunkan bukan sekedar lagu. Ini jeritan hatinya yang merindu pada kekasihnya yang pergi. Dan tidak akan ada lagi cinta dalam hidupnya. Tidak ada lagi hati yang akan merasa kasihnya. Sementara menyanyi, air mata gadis itu menetes.


Elvan tak berkedip memandangnya. "Mel, aku di sini..." bisiknya.


Ketika lagu berakhir, musik berhenti, dan adegan telah usai, riuh tepuk tangan yang hadir, Elvan berjalan ke arah belakang panggung. Dia akan menunggu Melati di sana. Dia minta ijin kepada kru untuk bertemu Melati.


Melati baru menapakkan kakinya turun dari panggung, air matanya bahkan belum sempat dia usap, dia mendengar sesuatu...


"Mel..." Suara itu... Melati menoleh.


Elvan berdiri di sana. Tersenyum. Melati tak bergeming. Dia menatap lurus ke arah Elvan. Benarkah ini? Ini nyata, kan?


"Mel..." Lagi Elvan memanggil.


Melati mulai sadar, ini bukan mimpi. Elvan ada di depannya. Melati menangis, tapi masih di tempatnya.


Elvan berjalan mendekatinya. Melati sesenggukan. Elvan memeluknya. Dia dekap Melati erat. Gadis itu tak bergerak, hanya menangis.


"Aku pulang," bisik Elvan. "Thank you coz your heart is still mine."


Tubuh Melati terasa lemas. Karena menahan emosi dengan tangisannya. Pelan dia lingkarkan tangannya di pinggang Elvan. Dia sangat rindu Elvan. Rindu suaranya yang lembut memanggilnya. Rindu senyum dan candaannya. Rindu pelukannya yang menenangkan.


Kejutan Elvan luar biasa. Ini benar Elvan. Bukankah ini yang selalu dia lakukan? Memberi kejutan untuk Melati? Ini kejutan paling indah, mengharukan, dan luar biasa darinya.


Cukup lama mereka hanya diam. Melepas rindu yang bertumpuk karena keterpisahan. Lama mereka hanya diam, melepas kegalauan dan ketidakpastian.

__ADS_1


Dari jauh Alfaro dan Ranita menyaksikan itu. Ranita ikut menangis. Alfaro sungguh terharu. Keduanya ikut bahagia untuk Melati.


__ADS_2