
"Kak Mela pulang!!!" Suara gembira Jati menyambut Melati datang. Senangnya rasanya bisa memeluk adiknya ganteng dan lucu itu.
"Heii... akhirnya..." Lily ikut muncul. Dia ikut merangkul Melati yang masih memeluk Jati.
Damar sudah di belakang Lily. "Oleh-oleh mana?" ujar Damar. Adiknya yang satu ini emang gayanya cool, sok cuek. Sejak mulai usia SMP dia paling ga suka dipeluk atau memeluk.
"Ayo, aku bawa oleh-oleh." Melati melepaskan pelukannya dari Lily dan Jati. Dia membuka tas bawaannya. Dia memberi hadiah gelang dan kalung untuk Lily. Sedang Damar dapat gantungan kunci. Jati dapat mainan tradisional.
"Wah, Mela sudah pulang. Bagi-bagi oleh-oleh, nih..." Ibu masuk rumah. Rupanya tadi ibu belanja. Dia letakkan tas belanjanya dan memeluk Melati.
"Yang ini buat Ibu." Melati memberikan tas kecil untuk ibu. Tas itu dari kain tradisional suku Sasak. Melati memilih warna biru dengan paduan ungu, warna kesukaan ibu.
"Terima kasih, yaa... cantik sekali." Nampak ibu tersenyum lebar menerima hadiah kecil itu.
"Sekarang ayo balik ke urusan masing-masing. Ibu harus menyiapkan makan malam," kata ibu lagi.
"Siap..." Anak-anak itu menjawab bersahutan. Lalu sudah sibuk dengan urusan sendiri-sendiri.
Melati membaringkan tubuh di ranjangnya. Masih terbayang perjalanan tiada tara dengan teman-temannya. Dia tersenyum sendiri mengingat semuanya.
Drrttt...
HP Melati bergetar. Dia keluarkan dari tasnya. Adik Kecil. Setelah tiga hari chat-nya masuk lagi.
Adik Kecil
- Sudah di rumah?
Melati
- Baru sampe
Adik Kecil
- Gimana perjalanan?
Melati
- amazing βΊπ
Adik Kecil
- coba ikut aku
Melati
__ADS_1
- masih kecil, belum boleh
Adik Kecil
- hehe... besok sekolah?
Melati
- libur, Senin baru masuk
Adik Kecil
- ok. take a rest ya
Melati
- π
Chat selesai.
Melati membayangkan wajah tampan Elvan. Postur tinggi tenang. Rambutnya lurus bagus dan hitam legam. Cool. Tapi teduh tatapannya dengan mata coklat gelap. Sedikit mirip Alfaro. Mirip pembawaannya bukan fisiknya. Alfaro? Kenapa tiba-tiba ingat cowok itu? Alfaro teman SMP-nya. Berlanjut di SMA yang sama. Dia memang naksir. Alfaro juga baik padanya. Beberapa kali ada momen yang buat Melati baper. Tapi belum sampai terjadi hubungan lebih dekat, Alfaro pindah waktu naik kelas 11. Ayah Alfaro dipindahkan untuk bertugas di daerah Kalimantan. Jadi sekeluarga ikut ke sana.
Ah, Melati sudah lama tidak memikirkannya lagi. Sudahlah. Sekarang dia harus fokus ke rencana studinya. Masih satu tahap lagi yang dia tunggu. Pengumuman lulus dan graduation.
Sampai sudah hari kelulusan. Anak kelas 12 boleh yakin, hampir semua yang yakin, kalau pasti lulus. Melati tahu dia pasti lulus juga. Hanya nilai yang dia agak sedikit kuatir. Karena waktu ujian akhir lalu ibu sakit. Situasi belajarnya memang terganggu karena itu. Tapi dia tetap berharap yang terbaik saja.
Untungnya waktu itu Melati dibelikan gaun warna biru langit sama ibu saat ulang tahun ke-17. Gaun itu sangat manis. Simple dengan sedikit renda putih di leher dan lengan, semakin nampak elegan. Melati tidak terlalu pintar berdandan dan memang dia lebih suka apa adanya. Tapi kali ini dia harus memoles sedikit wajahnya biar tidak pucat dan lebih segar kelihatannya nanti.
Ayah datang semalam. Dia ambil cuti khusus untuk hadir dalam acara graduation ini. Melati senang sekali. Harapannya terkabul, ayah bisa ikut mendampingi di hari istimewa ini. Jam 4 sore mereka sudah perjalanan menuju sekolah. Acara memang diadakan jam 5 sore. Ibu dan ketiga adiknya juga menunjukkan wajah gembira.
Di sekolah suasana meriah. Dekorasi di ruangan seperti suasana langit. Di panggung background warna langit dengan gambar beberapa awan ditambah dengan tulisan tema yang besar. Warna biru dan putih mendominasi ruangan. Bukan hanya kelas 12 yang mengenakan dress code biru dan putih, rupanya guru dan keluarga wisudawan juga ikut mengenakan kostum sesuai tema.
Acara berjalan sangat rapi dan menarik. Tidak bertele-tele tapi berkesan. Sebelum prosesi kelulusan ditampilkan paduan suara kelas 10-11 yang diiringi band sekolah. Lagi mereka begitu menyentuh hati. I Have A Dream dan Flying Without Wings. Isi kedua lagu itu intinya sama, mengejar mimpi untuk orang yang dicintai.
Di antara pemain musik Elvan kelihatan paling menonjol. Duduk di belakang keyboard dengan gagah dan tenang. Permainan musiknya yang mantap dan manis begitu terasa menyatu dengan harmoni di antara suara musik yang lain. Sesekali Melati menatapnya dan sekali dua kali pandangan mereka beradu. Jika sudah begitu Melati cepat mengalihkan pandangannya.
Begitu paduan suara selesai pesan dan kesan kepala sekolah diberikan.
"Rasa syukur tak terhingga untuk kelas 12 tahun ini. Kelas yang unik dengan segudang kecakapan dari setiap anggotanya. Perjuangan mereka berakhir manis. 100 persen dinyatakan lulus," kata kepala sekolah, Ibu Mariana Yulia Susandi, disambut tepuk tangan dan sorak yang meriah.
"Sekarang waktunya kalian mengejar mimpi. Kalian siap terbang ke langit mengejarnya meskipun kalian tidak bersayap. Tetapi mimpi itu menanti tangan kalian yang terampil dan mau bekerja keras untuk diwujudkan. Lakukan demi orang yang kalian sayangi. Orang tua, keluarga yang selalu mendukung, teman-teman dan juga tambatan hati." Makin riuh suara dan tepuk tangan di antara yang hadir.
"Terbanglah tinggi... ke langit, meriah harapan. Tapi jangan lupa kembali ke bumi dan jadilah manusia yang berguna bagi sesama dengan mimpi yang sudah ada dalam genggaman. Bangsa ini membutuhkan generasi hebat. Selamat buat semuanya!" Ibu Mariana mengakhiri pesan dan kesannya.
Semakin gemuruh terdengar sambutan dari semua yang hadir. Dan acara puncak saat satu per satu para wisudawan dipanggil. Suasana senang dan haru membaur memenuhi ruangan yang besar itu. Setelah semua menerima tanda tamat dan kembali ke bangku masing-masing, dipanggil siswa terbaik dari masing-masing kelas. Dan lagi Melati menjadi yang terbaik di kelasnya. Tak pelak sambil menitikkan air mata dia menerima penghargaan. Ayah, ibu, dan adik-adiknya terlihat sangat gembira.
__ADS_1
Begitu acara selesai orang tuanya dan ketiga adiknya berlarian memeluknya. Bahkan Damar juga!
"Selamat ya, Kak... Selamat..." Ucapan bertubi-tubi datang.
"Anak hebat." Ayah memeluk Melati. "Terima kasih sudah berjuang sangat keras selama ini. Tuhan memberkati. Selamat ya, Nak." Dan kecupan di puncak kepala Melati dari ayah.
Lalu ibu, dengan erat memeluk putri sulungnya itu. Air matanya sesekali masih menetes. "You are great. Really proud of you, Dear," bisik Ibu sambil tetap memeluknya.
Melati hanya tersenyum, dia tidak tahu harus bicara apa. Hatinya meluap dengan syukur, itu yang dia rasa.
"Melati... Melati putih harum mewangi, selamat yaa... benar sesuai namamu deh.. bikin harum kekuargamu..." Ranita menghampiri Melati dan merangkul erat.
"Thank you. Kamu juga lumayan, masih masuk 10 besar. Dan ga pake nyontek..." ujar Melati.
"Yess... Dan... papa mengijinkan aku kuliah ke univ yang aku mau." Suara Ranita lepas mengatakannya.
"Benarkah?" ujar Melati ikut senang.
"Yaa... karena melihat hasil kerja kerasku. Aku senang sekali." Ranita kembali memeluk Melati. "Apalagi papa tahu aku akan dekat dengan kamu nanti. Dia yakin dengan kamu di sisiku aku akan baik-baik saja."
"Ahhh... aku terharu." ujar Melati.
"Makan, yukk..." ajak Ranita. Melati mengangguk.
Acara itu memang diakhiri dengan makan malam bersama. Sambil menikmati jamuan, orang tua saling bercengkerama. Wisudawan saling bercerita tentang rencananya. Semua kebahagiaan tertumpah malam itu. Meski di hari esok perjuangan panjang babak selanjutnya akan segera dimulai.
Melati berjalan ke arah toilet. Dia merasa perutnya penuh, dia sudah minum hampir tiga gelas.
"Hai, Mel." Ah, suara itu. Melati menoleh. "Selamat, ya. Salut, you are the best." Senyum Elvan melebar.
"Thanks." Melati ikut tersenyum.
"Beautiful," kata Elvan lagi. Dia pandangi Melati lekat-lekat.
"Thanks." Lagi Melati menjadi pendek.
"Sudah bukan murid lagi, ya..." Elvan keliatan agak canggung.
"Gitu, deh," ujar Melati.
"Makasih masih pakai itu." Elvan menunjuk gantungan kunci yang ada di tas Melati. Di tas kecil kali ini, warna coklat muda. Gantungan itu Melati pindah dari ransel dan menaruhnya di tas ini.
Melati tersenyum. "Bagus, aku suka."
"Oke. See you next..." Elvan menepuk pundak Melati sekilas, lalu pergi meninggalkan gadis itu. Dia ternyata langsung ke luar ruangan. Pulang? Entahlah.
__ADS_1
Melati lanjut urusannya yang tertunda, ke toilet. Tidak lama setelah itu ayah dan ibu mengajaknya pulang. Hari mulai malam, sudah hampir setengah sembilan.