
Dengan tenang Elvan menyetir mobilnya. Dia menatap lurus jalanan yang agak ramai karena sudah jam orang pulang kerja. Apalagi ini malam minggu. Kira-kira setengah jam kemudian mobil berbelok ke sebuah kafe yang keren. AEF Kafe. Elvan memarkir mobilnya.
"Ayo, turun," ajak Elvan. Dia turun dari mobil. Melati mengikuti Elvan menuju dalam kafe itu. Suasana di kafe lumayan ramai. Terdengar alunan instrumen lagu lembut menyambut para tamu yang hadir.
Elvan langsung mengajak Melati ke bagian dalam, ruang VIP. Dia membuka pintu ruangan itu. Melati bingung kenapa harus masuk ruang khusus begini.
"Duduklah," kata Elvan. Dia sudah duduk di salah satu kursi di ruang itu. Ragu-ragu Melati ikut duduk berseberangan dengan Elvan.
Dari pintu muncul dua cowok ganteng. "Selamat ulang tahun ya, El." Itu Azka dan Farel. Azka memeluk adiknya itu. "17 tahun. Uda dewasa, Bro," kata Azka.
"Selamat ultah, Kak. Jangan usilin aku lagi, ya..." ganti Farel yang memeluk Elvan. Elvan ngakak. Dia ucel-ucel rambut adiknya itu.
"Ahh... berantakan rambutku..." Farel cemberut. Elvan malah mendekap kepala Farel di ketiaknya. Kontan saja adiknya itu malah teriak-teriak.
Elvan ulang tahun? Ke-17? Melati sama sekali tidak tahu. Dan ini, apa ada acara ultah Elvan si sini?
"Apa kabar?" Azka menyapa Melati. "Melati, kan?" Azka menyalami Melati.
"Iya, Kak." Melati mengangguk.
"Kamu bingung ya, ini tempat apa?" kata Azka. "Ini salah satu kafe yang aku bangun. AEF, Azka, Elvan, Farel." Dia mengenalkan tempat ini.
"Bagus sekali, Kak, tempatnya." Melati tersenyum.
"Kalau buka kafe sekarang mesti berani design interiornya, bertema, sehingga menarik orang datang," ujar Azka. Melati manggut-manggut.
"Ini acara ultah Elvan?" Melati memberanikan diri bertanya.
"Iya. Kamu tidak tahu?" Azka menatap Melati heran. Melati menggeleng. "Elvan itu paling bisa, emang..." Azka tertawa. "Kamu dijemput tapi ga tahu diajak ngapain. Kok kayak diculik ya, haa... "
"Nanti banyak tamu dong, Kak?" tanya Melati lagi.
"Nggak. Hanya sekeluarga saja. Elvan ga suka pesta. Dia lebih senang kalau orang terdekat saja yang merayakan ultahnya," jawab Melati.
"Mel... mau pesan apa?" Elvan memanggil Melati. Melati menggeser duduknya ke sebelah Elvan.
"Kenapa tidak bilang mau acara ultah kamu? Aku bahkan pakai baju kayak gini." Melati menunjuk dirinya. Dia hanya pakai kaos warna tosca dengan tulisan Like Be With You dan celana jeans biru gelap dengan sandal santai.
"Ga apa. Tetap cantik." Elvan tersenyum. Wajah Melati langsung merona. "Jadi mau minum apa? Kalau menu makanan masih disiapin."
"Terserah. Kamu pilih yang enak saja," jawab Melati.
__ADS_1
"Hmmm... ini aja, deh." Elvan memilihkan minuman istimewa kafe ini.
"Hai, Sayang... Selamat Ulang tahun, yaa..." Erika masuk ke ruang itu. Dia memeluk Elvan dan mencium kedua pipinya.
"Thank you, Ma," kata Elvan.
"Wah, jagoan papa yang kedua sudah dewasa sekarang." Tirta memeluk Elvan. Senyumnya cerah dan ramah.
Melihat orang tua Elvan datang, hati Melati jadi tidak karuan. Dia dan Elvan belum ada status jelas, meski Melati tahu Elvan mencintainya. Dan sekarang Elvan membawa Melati ke hadapan orang tuanya saat ulang tahun spesialnya. Apa kira-kira yang akan mereka pikirkan tentang Melati? Bahkan tidak ada satu teman Elvan pun yang datang.
"Hai... kamu Melati?" Mama Elvan mendekati Melati dan menyalaminya dengan ramah. Senyumnya manis dan anggun.
"Iya, Tante. Saya Melati." Melati tersenyum tipis dan mengangguk.
"Kamu datang waktu acara kami di rumah, ya. Tante masih ingat," kata Erika.
Melati tersenyum sambil mengangguk.
"Halo..." Tirta ikut menyalami Melati. "Apa kabar?" Tirta tersenyum.
"Baik, Om." Melati tersenyum.
"Ahh... Pa..." Elvan menyela. "Sudah, ga usah dibahas lagi," katanya.
Melati tidak mengerti yang mereka bicarakan. Dia menatap Elvan dan papanya bergantian.
"Oke. Mama yang akan berdoa buat Elvan, ya..." kata Tirta. Mereka menundukkan kepala. Mama memimpin doa bersama buat Elvan. Setelah amin, makanan datang. Ada berbagai menu yang membuat liur meleleh. Hm, tampilannya saja secantik itu apalagi rasanya.
Melati merasa sangat canggung. Dia satu-satunya orang luar yang diajak untuk acara keluarga ini. Aduh, jangan sampai salah bertindak. Kenapa Elvan lakukan ini padanya? Apa orang tuanya tahu hubungan mereka? Kalau melihat situasi ini sepertinya iya... Iihh, jadi malu sekali. Melati semakin tidak tenang.
Sambil makan mereka ngobrol dan bercanda. Ternyata keluarga ini sama seperti orang di rumahnya, akrab dan saling menggoda. Tapi itu yang membuat mereka jadi dekat.
Selesai makan papa dan mama pamitan. "Papa dan mama harus duluan pulang. Papa mesti menyiapkan untuk urusan besok. Kalian nikmati saja malam istimewa ini," kata Tirta.
"Thank you, Pa. Ma." Elvan melambai pada papa mamanya.
Azka sudah sibuk dengan beberapa pegawainya. Sepertinya ada yang harus dia kerjakan. Sedang Farel dia asyik main dengan HP-nya.
"El, kenapa kamu ajak aku tiba-tiba ke sini? Ini acara khusus keluargamu. Tidak seharusnya aku ada di sini," kata Melati.
"Mel, ini surprise buat kamu. Menyambut kamu pulang kembali," jelas Elvan. "Aku senang kamu baik-baik."
__ADS_1
"Apa yang orang tuamu pikir tentang aku? Hanya aku yang datang yang bukan keluargamu," ujar Melati.
"Aku akan jujur. Tapi kamu harus dengar baik-baik penjelasanku," ujar Elvan. Dia kelihatan lebih serius sekarang.
"Mama pernah bilang akan buat pesta besar kalau anaknya ulang tahun yang ke-17. Tapi aku tidak suka pesta. Buat aku ulang tahun itu sama seperti hari-hari yang kita lalui. Nambah umur tidak langsung membuat semua masalah kita kelar, kan? Kita masih orang yang sama yang banyak kekurangan." Elvan mulai menjelaskan lebih dalam.
"Yang penting berdoa dan bersyukur buat aku cukup," lanjutnya. "Mama lalu bilang, mama terima ga buat acara apa-apa, hanya makan bersama keluarga seperti permintaanku, tapi ada syaratnya."
"Syarat?" Melati memandang Elvan, meminta penjelasan lagi.
"Hmm... Syaratnya, aku harus bawa kekasihku ke hadapan mereka, ikut acara ultah keluarga," jawab Elvan.
"El...???" Melati seperti tidak percaya yang didengarnya.
"Maafkan aku," kata Elvan.
"Kamu memanfaatkanku, El. Dan ini bohong namanya. Aku bukan kekasihmu." Wajah Melati memerah. Bukan merona tapi marah.
"Melati, dengarkan aku." Elvan memegang tangan Melati. Melati menepisnya.
"Aku memang sayang kamu. Itu benar. Aku tidak memberitahumu soal ini karena surprise yang aku bilang tadi. Dan, aku, bagiku kamu kekasihku, Mel. Aku tahu kamu tidak bisa pungkiri, kamu juga ada hati buatku. Walau sedikit sekali." Elvan menatap Melati.
"Apa kata mereka tentangku? Mereka belum tentu suka kamu punya kekasih seperti aku?" sahut Melati ketus.
Elvan tersenyum. "Orang tuaku tidak pernah membedakan orang kalau yang kamu bicarakan tentang status sosial. Karena papa berjuang dari nol, dia dulu juga bukan orang sukses. Mereka percaya aku tidak akan asal memilih kekasih."
Melati hanya diam mendengar itu.
"Dan... kalimatmu yang terakhir seperti pernyataan kamu memang kekasihku." Senyum Elvan makin lebar.
Apa? Pernyataan yang mana? Melati kembali menatap Elvan.
"Mereka belum tentu suka kamu punya kekasih seperti aku?" Elvan mengulang kalimat Melati.
Melati membelakak. Lalu dia menutup wajahnya dengan tangannya. Dia menggeleng keras. Bukan itu maksudnya.
"Aku tidak..."
Elvan menarik kedua tangan Melati dan menggenggamnya erat. "Mungkin kamu ga sungguh-sungguh atau belum sayang aku. Tidak apa. Aku akan menunggu. Terima kasih sudah mau jadi kekasihku." Lagi senyum Elvan mengembang.
Aduh, kenapa tampan begini, sih... Melati rasanya tidak bisa membantah lagi. Dan apa ini artinya sekarang dia kekasih Elvan? Bahkan orang tuanya setuju? Aduh... kenapa begini? Terus, apa yang dia rasa? Melati belum yakin dengan hatinya. Tapi dia tidak mau menolak lagi. Apakah perkataan Ranita yang terjadi padanya? Lebih baik dicintai daripada mencintai tapi tidak dibalas?
__ADS_1