
Siang itu waktu Melati jadwal jaga di perpustakaan. Biasanya siang begini Alfaro akan datang ke perpustakaan. Kalau biasanya Melati tak terlalu peduli Alfaro datang atau tidak, kali ini Melati berharap cowok itu datang.
Sudah lewat jam 2, tapi Alfaro belum muncul juga. Apa sebaiknya dia chat aja tuh cowok? Melati masih mempertimbangkan maksudnya. Sambil Melati mencatat laporan buku keluar di komputer.
"Hai, balikin buku." Melati menoleh mendengar itu. Itu Alfaro.
"Ah, iya." Melati tersenyum dan menerima buku dari Alfaro.
"Thank you, yaa..." Alfaro melangkah akan meninggalkan perpustakaan. Rupanya dia hanya mengembalikan buku saja.
"Al..." panggil Melati.
"Ya, Mel?" Alfaro membalikkan badan kembali ke counter.
"Lagi sibuk ka?" tanya Melati.
"Sebenarnya mau latihan, sih. Band mau tampil minggu depan. Kenapa?" Alfaro balik tanya. Tumben Melati menahannya.
"Aku mau minta waktu dan minta tolong," jawab Melati.
"Mendesak?" tanya Alfaro lagi.
"Bisa dikata begitu," ujar Melati.
"Hmmm... kalau jam 5?" usul Alfaro.
"Iya, bisa..." Melati mengangguk.
"Di kantin?" Alfaro mengangkat alisnya.
"Oke." Melati tersenyum. "Thank you."
Alfaro melambai. Dalam hatinya penuh tanya. Ada apa Melati perlu dia? Apa ini pertanda dia mulai buka kesempatan buat Alfaro? Atau Melati punya masalah? Entahlah.
Melati kembali melanjutkan pekerjaannya. Alfaro juga menuju studio untuk berlatih. Sejak Melati keluar dari Red Sky, band bersusah payah mencari penyanyi yang selevel Melati. Akhirnya dapat juga, tapi attitude-nya Alfaro kurang suka. Namanya Devina. Gayanya sedikit angkuh dan sok ngatur. Tapi mau gimana lagi? Dia yang paling bagus dari beberapa yang masuk kriteria.
Jam 5 kurang 10, Alfaro sudah sampai di kantin. Melati belum datang. Dia memilih duduk di pojok bagian belakang, menunggu di sana. Lima belas menit berlalu dan akhirnya Melati datang.
"Maaf ya, aku telat. Udah lama?" tanya Melati. Dia duduk di depan Alfaro.
"Ga juga. Mau makan apa?" tanya Alfaro. "Sekalian makan malam aja, ya..."
"Hmm, boleh deh. Mie ayam saja," kata Melati. Lalu mereka memesan makanan.
"Ada apa, Mel?" Alfaro akhirnya bertanya.
"Sebelumnya terima kasih kamu mau kasih waktu buat aku. Dan juga minta maaf karena aku akan meminta bantuanmu. Ini akan merepotkanmu, Al. Tapi aku tidak tahu harus minta tolong siapa. Kamu kenal aku lama. Kita berasal dari kota yang sama. Aku rasa aku bisa mempercayai kamu," kata Melati memulai pembicaraan mereka.
__ADS_1
Alfaro makin penasaran apa yang Melati mau.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Alfaro.
"Ini soal Ranita," jawab Melati. "Aku merasa dia..." Dan Melati menceritakan apa yang terjadi dengan Ranita akhir-akhir ini.
Melati sungguh kuatir dengan sahabatnya itu. Apalagi beban yang dia bawa dari Malang, permintaan orang tua Melati agar dia menjaga Ranita. Melati juga meminta bantuan Alfaro untuk menemaninya mengikuti Ranita.
Alfaro mendengarkan dengan serius semua cerita Melati. Dia cukup terkejut dengan semua ini. Tapi menurutnya juga wajar, seseorang bisa berubah dan terpengaruh lingkungannya.
"Mau kan, kamu menolongku?" pintar Melati. "Aku meminta bantuan sebagai teman. Dan kau pernah bilang kau mau menjaga temanmu. Please..."
"Kamu juga punya adik perempuan. Kurasa jika ini terjadi pada adikmu kamu juga akan kuatir. Maaf, bukan aku mendoakan..."
"Tidak apa, aku paham. Hanya Atika meninggal tahun lalu, karena DB," kata Alfaro.
"Oo... maaf, aku tidak menyangka." Melati melihat ke cowok itu. Ada tatapan sedih dari sorot matanya.
"Iya. It is ok." ujar Alfaro datar. "Aku akan bantu kamu. Kita harus buat rencana supaya Ranita tidak curiga."
Dan mereka pun mengatur bagaimana dan kapan mereka akan mengikuti Ranita. Alfaro lumayan populer di kampus karena ayahnya pejabat tinggi negara. Sehingga dia banyak kenalan. Dia bisa dengan mudah cari info tentang teman-teman Ranita termasuk, Teddy.
"Teddy tuh kelihatan baik, tapi dia buaya. Dia suka pergi ke club malam dan main cewek. Bisa jadi Ranita juga ke sana karena Teddy." Itu yang Alfaro katakan pada Melati setelah beberapa waktu mencari info.
"Aku akan mengikuti Ranita ke club dalam minggu ini. Aku pastikan aku dapat semua yang kamu perlukan sebagai bukti," kata Alfaro.
"Al, aku sangat berterimakasih. Kamu memang teman yang baik," ujar Melati.
Benar saja. Alfaro mengikuti Ranita sepanjang minggu itu. Untungnya tugas kuliahnya hampir semua kelar. Jadi dia punya banyak waktu untuk menyelesaikan misi dari Melati. Alfaro mengikuti Ranita dengan kendaraan sewaan. Dia juga sedikit melakukan penyamaran supaya teman-teman yang mungkin kenal dia tidak curiga.
Malam itu jam 8 Ranita dan teman-temannya datang di club. Ini club yang cukup jauh dari apartemen. Bukan club yang Melati sempat melihat Ranita waktu itu. Mereka ada party karena salah satu temannya ulang tahun.
Sebenarnya Ranita cukup berhati-hati. Dia tidak merokok, tidak minum alkohol dengan kadar yang tinggi, itupun sesekali saja dia minum. Dia lebih sering minum soft drink. Suasana club makin ramai. Apalagi ketika DJ sudah mulai beraksi, mereka pada melantai dan menggila.
Di tengah suasana itu, Ranita tampak tertawa-tawa bercanda dengan teman-temannya. Masing-masing mereka dengan pasangannya. Ranita juga terlihat berdua dengan Teddy. Teddy sudah mulai minum. Dalam keremangan dengan lampu sorot berputar ke seluruh ruangan, Alfaro bisa melihat Teddy makin merapatkan tubuh pada Ranita. Gadis itu tidak membalas sikap agresif Teddy. Tapi dia juga tidak menolak.
Beberapa saat kemudian, Ranita teralih pandangannya kepada temannya yang berbicara keras mengajak mereka bersulang untuk yang ulang tahun. Tepuk tangan, sorakan, dan tawa riuh menambah meriah pesta itu. Alfaro memperhatikan Teddy yang menuang minuman di gelas lalu menyodorkannya pada Ranita. Ranita tidak langsung menerimanya. Dia seperti menanyakan sesuatu sambil melihat minumannya. Teddy mendekatkan wajahnya dan berbisik ke telinga Ranita. Ranita lalu meminum dari gelas yang dipegangnya.
"Dasar buaya," umpat Alfaro. Tapi dia tidak bisa gegabah bertindak. Kalau dia memaksa Ranita keluar sekarang, dia cari mati. Akan terjadi kekacauan di club. Alfaro terus memperhatikan mereka.
"Hai, Ganteng. Sendiri? Melantai, yukk..." Seorang wanita mendekati Alfaro. Cantik, seksi, dan menarik.
"Sorry, aku nunggu seseorang," jawab Alfaro.
"Yakin? Kalau dia tidak datang cari aku, ya... hmm..." Wanita itu mengusap wajah Alfaro. Alfaro menepis tangan wanita itu.
"Pergi sana," kata Alfaro tanpa ekspresi.
__ADS_1
Wanita itu pergi sambil melambai kiss bye. Alfaro menoleh ke arah Ranita. Gadis itu sudah tidak ada di sana. Alfaro mencari-cari di antara banyak orang di ruangan itu. Itu dia! Nampak Teddy sedikit menarik tangan Ranita meninggalkan club. Secepatnya Alfaro mengikuti mereka.
Di luar tidak kelihatan mereka. Alfaro menggaruk-garuk kepalanya. Kemana mereka? Parkiran. Ya, Alfaro bergegas menuju parkiran. Sepi. Alfaro mencari-cari di deretan mobil yang berjajar. Dia memastikan mereka masih di sana.
"Ahh... jangan..." sayup-sayup Alfaro mendengar suara. Dia cepat-cepat mengarahkan kakinya ke arah suara itu.
"Lepas.... uhhuuhkkk.. tolong, lepas.... Uuhhuukkk..." Suara itu makin jelas.
"Tenang, Sayang... ini tidak akan sakit. Atau kamu mau aku main kasar. Hmm..." Dan jelas itu suara laki-laki.
Itu dia. Persis di sebuah mobil mewah. Pintu mobil bahkan tidak ditutup!!
"Aku.... aku... tidak... mau..." Ranita berusaha mendorong Teddy yang sudah menindihnya. Tapi dia sudah lemas sekali. Entah minuman apa yang Teddy berikan. Dia merasa sangat pusing. Seperti tidak ada tenaga.
"Kamu bilang kamu cinta padaku. Buktikan, Sayang... jangan omdo..." Dengan kasar Teddy mencium Ranita. Lalu menarik kaos minim gadis itu. Ranita langsung menjerit lirih, berusaha berontak, bercampur tangis yang meledak.
Ranita ketakutan. Tapi dia bisa apa! Dia tidak menyangka lelaki baik yang dia cintai ternyata sejahat ini.
Tiba-tiba, seseorang menarik Teddy dengan kasar. Dia sampai terjerembab ke lantai. Dia terkejut. Ranita menguatkan dirinya dan berusaha bangun.
"Tolong... tolong aku..." katanya lirih. Tubuh gadis itu gemetar. Wajahnya pucat pasi penuh air mata.
Alfaro langsung menghajar Teddy tanpa ampun. Teddy bahkan tidak sempat bangun. Dia tempeleng berkali-kali, dia tendang, sampai Teddy menggeliat kesakitan dan hanya bisa merintih minta ampun.
"Bajingan! Kalau mau gila jangan sama gadis yang masih polos. Cari yang sama bejat macam kamu," kata Alfaro marah.
"Dengar baik-baik. Kalau sampai aku lihat kamu mendekati Ranita, habis kamu. Dan bapakmu pejabat yang kau banggakan akan tahu kalau anaknya cuma seorang penjahat kelamin." Sekali lagi Alfaro menendanganya. Teddy mengerang keras.
Lalu dia cepat membantu Ranita. Tubuhnya lemas sekali. Alfaro mengangkat Ranita dan membawanya ke tempatnya memarkir mobil. Ranita hanya menurut. Tapi jelas dia masih ketakutan.
"Kamu... siapa?" katanya lirih. Alfaro memakai hoody yang ada penutup kepalanya. Dia dia tutupi kepalanya agar tidak ada yang mengenalinya. Dan juga memakai masker yang menutupi mulut dan hidungnya.
Karena sudah di dalam mobil, Alfaro membuka masker dan penutup kepala hoodynya. "Aku, Ran," katanya.
Ranita membesarkan matanya. "Al..." ucap Ranita pelan. Dia langsung menangis. Dia menutup mukanya dengan kedua tangannya. Ada kelegaan luar biasa meraup hatinya.
Alfaro melepaskan hoody dan memakaikannya pada Ranita. Karena kaos yang dipakai Ranita sudah sobek. Lalu dia peluk Ranita untuk menenangkannya.
Ranita menangis sesenggukan. Dari tangisannya Alfaro bisa menangkap penyesalan, kelegaan, dan rasa terima kasih.
"Terimakasih, Al," kata Ranita pelan.
"Kita pulang," ajak Alfaro.
Ranita menggeleng. "Aku tidak mau Melati melihatku seperti ini," katanya.
"Melati sudah tahu," ujar Alfaro.
__ADS_1
"Maksudmu?" Ranita bertanya. "Aah.... kepalaku..." Ranita memegangi kepalanya. Rasa pusingnya makin menjadi dan menusuk-nusuk.
"Nanti saja ceritanya," kata Alfaro dan dia langsung menjalankan mobil membawa Ranita ke apartemen.