Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 54 - Lily dan Fara


__ADS_3

Kampus itu terlihat ramai. Siang hari jam begini mahasiswa sudah selesai kuliah. Masih ada yang tinggal untuk kegiatan lainnya selain perkuliahan, tapi ada yang juga memilih langsung meninggalkan kampus.


Lily keluar kelasnya. Berjalan menuju gerbang depan. Terdengar klakson motor dari belakang. Lily menoleh.


"Hai, Kak..." Lily melambai ke arah cowok dengan motor gede yang berhenti di dekatnya. Senyumnya mengembang cerah.


"Pulang bareng, yuk..." Senyum cowok bermata coklat itu menghiasi bibirnya.


"Kak Elvan ga ada urusan lagi?" Lily merapikan rambutnya yang menutupi muka karena angin.


Elvan akhirnya kuliah di kampus yang sama dengan Lily, hanya beda jurusan. Elvan ambil bisnis dan Lily menekuni dunia gambar menggambar, design untuk animasi. Mereka masuk di tahun yang sama, gara-gara Elvan hilang dia telat setahun kuliahnya.


"Hari ini kosong," ujar Elvan.


Ya, deh. Lumayan bisa irit uang saku. Hee... hee..." Lily terkekeh.


"Ayo naik." Elvan memberikan helm pada Lily. Lily mengenakannya dan naik ke boncengan. Elvan pun berangkat. Sambil perjalanan mereka ngobrol.


"Kak, Fara nanyain kakak lo..." kata Lily.


"Tanya apa?" balas Elvan.


"Aku kok kadang-kadang bareng Kakak kalau ke kampus." Lily mendekatkan wajahnya ke baju Elvan.


"Oo..." sahut Elvan.


"Emang dia kenal Kakak lama, ya?" tanya Lily lagi.


"Beberapa tahun. Sejak kakak Fara kerjasama dengan Kak Azka, urusan bisnis kafe itu," jelas Elvan.

__ADS_1


"Anaknya lebih ribut dari aku. Aku aja yang rame sampai rasa bising kalau dekat dia," tukas Lily. Elvan tertawa mendengar itu.


"Tapi orangnya lumayan pintar dan banyak teman. Kreatif juga kalau kerja tugas bikin aku sampai melotot lalu komen, wowww amajinggg..." lanjut Lily. Elvan tambah ngakak mendengar cerita Lily.


Dunia ini sebegini luas. Tapi dengan kejadian-kejadian yang tak terduga dunia terasa sempit juga. Meski tidak selebar daun kelor seperti kata orang. Siapa yang mengira Lily sekarang sekelas dengan Fara di masa kuliah ini.


Dan seperti yang lalu, Fara akan cari cara untuk mendekati Elvan. Itulah kenapa Elvan sebisa mungkin bonceng teman kalau ke kampus atau pas balik. Karena Fara pernah numpang bareng, duh minta macam-macam. Belum makan la, mau dianterin ke mall, ada yang lupa dibeli, ada aja maunya. Gadis itu ga peduli meski tahu Elvan punya pacar.


Bagusnya juga Elvan masih terus bantu papanya di kantor. Tidak tiap hari memang. Jika kampus selesai dia sempatkan lagi belajar bekerja di kantor papanya. Dan papanya kasih dia fee juga untuk pekerjaan yang dia selesaikan. Semacam magang di kantor papa. Belum lagi dia atur waktu juga ke Depok menemui Melati. Setiap bulan satu kali weekend dia pergi atau pas ada tanggal merah. Dia ga mau lama-lama ga lihat wajah kekasihnya itu.


Melati sebenarnya melarang Elvan datang. Bukan berarti dia tidak kangen cowoknya, tapi dia merasa itu pemborosan dan Elvan juga lelah kalau jalan bolak balik begitu. Tapi bagi Elvan uang bukan masalah, lelah bukan masalah. Bisa bersama Melati biar hanya sebentar membuat dia semangat lagi melanjutkan perjuangan.


Hari itu dosen Lily memulai project untuk tiga kuliah. Dan mahasiswa dibagi dalam kelompok kecil berdua-dua. Lily dapat undi sekelompok dengan Fara. Dia senang juga karena tau kalau kerja Fara bagus dan maksimal. Hanya dia harus tahan dengan ributnya Fara.


Siangnya sehabis kuliah Lily dan Fara langsung mulai berembug untuk pengerjaan project itu. Selagi asyik ngobrol, HP Lily berbunyi. Melati telpon.


"Hai, Kak.... Hmm... iya, lagi kerja tugas... Oohh... hmm... oke... iyaa... beres, Kakakku yang cantik... Melati harum mewangi di taman hati... haaa... haa... bye..." Lily meletakkan telponnya.


"Iya..." jawab Lily. Dia taruh HP nya dan mulai memandangi catatan di depannya.


"Namanya Melati?" tanya Fara lagi. Dia merasa sesuatu dengan nama itu.


"Iya." jawab Lily lagi. "Ayah memang beri anak perempuannya dengan nama bunga."


"Oo... eh, Li, aku merasa Elvan ada hubungan dengan nama Melati, ya... eh..." Fara menggantung kalimatnya.


"Emang Kak Melati pacarnya Kak Elvan," kata Lily menjelaskan.


"Ooo... ok..." tandas Fara.

__ADS_1


Kebetulan banget. Misi mengejar cowok idaman harus terus dilanjutkan. Bagus nih. Fara makin meyakinkan diri mesti bisa dekati Elvan. Nanti biar si Lily akan jadi pembawa berita buat Melati. Kalau dia nempel terus sama tuh cowok, pasti Lily mengadu dan akan ada perang, lalu buyar dah hubungan kasih.


Fara tersenyum sendiri. Lily memperhatikannya. "Kenapa senyum sendiri? Sudah panas kepala?"


"Mikir aja. Bisa, yaa... aku temenan sama Elvan. Lalu Kakakmu jadian sama Elvan. Sekarang kita jadi teman juga. Kata orang dunia sempit ada benarnya, deh."


"Heemmm... iya juga, yaa..." sahut Lily. "Udah ah, lanjut nih urusan project. Keburu sore."


Keduanya kembali fokus pada apa yang tadi sedang mereka lakukan.


Begitulah, Fara makin getol cari cara biar bisa ketemu Elvan. Akhirnya dapat juga kesempatan, dia ikut kegiatan musik yang Elvan juga ikut di sana. Fara ga bagus-bagus amat soal musik, tapi dia masih bisa mengikutinya. Elvan bersikap biasa saja. Tidak mau terlalu pusing dengan cewek centil dan ribet itu.


"Elvan, pulang bareng, dong." Fara mendekati Elvan. Latihan memang baru selesai. Elvan bersiap meninggalkan ruang musik.


"Aku mau mampir-mampir dulu, ga langsung pulang. Bukannya kamu biasanya bawa mobil?" tanya Elvan.


"Lagi malas. Tadi diantar sopir," kata Fara. "Ya... nanti aku turun di mana gitu yang dekat ke arah rumah."


Elvan tidak menjawab. Dia terus berjalan menuju parkiran. Fara menguntitnya.


"Bisa sampai malam, Fara," ujar Elvan.


"Ayolah... jangan pelit. Kamu biasanya juga bonceng teman. Bonceng Lily juga." Mulai jurus manja dipakai nih.


Elvan masih ga menjawab. Sampai di tempat parkir Fara mengambil helm di motor Elvan dan memakainya. Elvan cuma geleng-geleng melihatnya. Tanpa bicara dia menyalakan motor. Fara naik di belakang Elvan. Elvan akhirnya mengantar Fara pulang. Sepanjang jalan Elvan tidak bicara banyak. Fara ngoceh sana sini dia tidak begitu mendengarkan.


Tiba di rumah Fara. Begitu cewek itu turun, Elvan mengambil helmnya dan pergi.


"Ih... gitu banget sih, jadi cowok. Super cuek..." Fara menyentakkan kaki marah lalu masuk dalam rumah.

__ADS_1


"Sabar Fara... perjuangan yang sulit akan membuahkan kebahagiaan," ujarnya melempar tas ke meja dan meloncat ke kasur.


__ADS_2