Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 83 - Apa Tidak Apa-apa?


__ADS_3

Melati melanjutkan perjalanan ke Rumah Garuda dengan Bondan di boncengan. Tak lama mereka sampai. Melati mengajak Bondan masuk. Anak itu kelihatan bingung. Ini tempat apa? Banyak bangunan di sana. Tapi bukan sekolah. Rumah Garuda, itu tulisan di depannya.


"Ayo... aku kenalkan pada yang lain," ajak Melati.


Melati berjalan menuju ke suatu ruang yang luas. Bondan mengikuti Melati. Melati mengenalkan tempat ini. Dari satu ruang ke ruang lain sambil memberikan penjelasan fungsi semua ruang di sana. Bondan mencoba memahaminya. Dia juga dikenalkan pada anak-anak di sana.


"Bondan pingin belajar yang mana dulu?" tanya Melati setelah dia mengajak Bondan keliling.


"Musik... mungkin musik dulu," jawab Bondan ragu.


"Tidak apa. Mungkin masih canggung. Lama-lama akan biasa," kata Melati.


Lalu diajaknya Bondan ke ruang musik. Bondan berdiri di dekat pintu masuk. Hasan dan Farel di sana sudah mulai belajar dengan anak-anak. Bondan masih malu. Dia melihat dirinya kotor dan lusuh. Sedang anak-anak di sana rapi dan bersih.


"Tidak apa-apa aku pakai begini?" tanya Bondan pada Melati.


"Oo... tidak apa." Melati tersenyum.


"Adik-adik, Bondan akan ikut latihan di sini. Tapi karena tadi dia belum sempat pulang jadi belum rapi. Tidak apa-apa, ya..." Melati memberitahu pada anak-anak supaya Bondan tidak malu.


"Ayo, masuk saja." Itu Hosea. "Kau bawa ukulele, jadi kau mau coba main gitar ka?" Dia mendekati Bondan dan mengajaknya ke dalam.


Bondan mengangguk. Dan mengikuti Hosea.


"Kakak dapat dia dari mana?" tanya Farel pada Melati.


"Di perempatan tak jauh dari sini. Suaranya bagus. Main ukulelenya juga keren," jawab Melati.


"Ok. Serahkan pada kami." Hasan mengacungkan jempolnya.


Melati tersenyum. "Thank you. Aku ke ruang vokal dulu. Udah telat." Melati pun bergegas ke ruang vokal dan mulai mengajar anak-anak di sana.


Hati Melati benar berbunga. Rasanya dia menemukan mutiara di tengah jalan. Dia tahu Bondan akan memberi warna tersendiri pada Rumah Garuda. Penampilan keluar mereka pertama kali adalah pernikahan Ranita. Elvan dan Alfaro setuju anak-anak akan mengisi di resepsi pernikahan Ranita dan Alfaro. Tapi tentu tidak bisa semua anak. Akan dipilih yang paling siap.


Setengah jam kemudian Elvan datang. Begitu masuk rumah musik, matanya langsung tertuju pada Bondan.


"Siapa anak itu? Anak baru? Siapa yang membawanya? Dekil, tapi kelihatan cekatan dan antusias belajar," batin Elvan.


"San, siapa anak itu?" tanya Elvan, berbisik pada Hasan.


"Namanya Bondan. Melati yang bawa. Katanya dia ketemu di perempatan jalan ga jauh dari sini," jawab Hasan.

__ADS_1


"Lumayan bagus juga," ujar Elvan.


"Hm..." Hasan mengangguk.


"Rumahnya di mana?" tanya Elvan lagi.


"Entah. Ga sempat kenalan panjang tadi. Dia datang kita sudah mulai latihan jadi langsung gabung," jelas Hasan.


"Ooo... oke." Elvan manggut-manggut.


Sejam kemudian mereka selesai latihan. Elvan mendekati Bondan.


"Hai, Bondan, ya?" sapa Elvan ramah. "Aku Elvan. Panggil Kak Elvan. Selamat datang dan bergabung."


"Terima kasih, Kak." Bondan tersenyum malu-malu.


"Kamu suka di sini?" tanya Elvan.


"Iya, Kak. Apa latihan setiap hari?" tanya Bondan.


"Kalau mau setiap hari boleh. Misal seminggu bisa hanya dua kali tidak apa-apa. Sebisa kamu saja. Tapi biasanya setiap anak akan catat jadwalnya di papan sana." Elvan menunjuk whiteboard yang dipasang di dinding belakang ruangan.


Bondan melihatnya dan mengangguk.


"Iya. Bondan pintar belajarnya," kata Elvan.


"Kak, aku belum tau kapan lagi aku datang," ujar Bondan.


"Kenapa? Kamu ada kegiatan lain?" tanya Melati.


"Bukan, Kak. Aku harus kerja," jawab Bondan.


"Kerja?" Elvan menatap Bondan.


"Eh... aku mengamen, Kak," kata Bondan.


"Oo... oke. Kamu pikirkan kira-kira hari apa bisa datang. Bisa bicara sama orang tuamu juga." Elvan mengamati wajah Bondan yang berubah lesu.


"Iya, Kak," ucap Bondan. "Aku harus pulang." Tiba-tiba Bondan bicara seperti orang cemas.


"Aku antar ayo..." kata Melati.

__ADS_1


"Tidak usah, Kak. Aku tahu daerah sini, kok," sahut Bondan. Dia bergegas pergi.


Melati mengejarnya. "Tunggu... biar cepat aku antar."


Bondan tidak menolak. Dia naik ke boncengan lagi. "Tunjukkan jalan ke rumahmu, ya..." kata Melati sembari menjalankan motornya.


Elvan hanya menatap keduanya yang berlalu dari pandangannya.


Bondan menunjukkan jalan menuju rumahnya. Beberapa kali belok di jalan raya, lalu masuk sebuah gang agak besar, terus di sebuah gang kecil dia minta berhenti.


"Di sini saja, Kak. Rumahku dekat, kok. Terima kasih," kata Bondan.


"Betul ga apa sampai sini aja?" tanya Melati.


"Iya." Bondan mengangguk.


"Kapan mau latihan lagi?" Melati melihat Bondan.


"Aku... belum tahu... Kalau bisa aku ke sana, Kak," ujar Bondan lalu cepat masuk ke dalam gang.


Melati hanya menatapnya sampai hampir tak terlihat karena gang agak gelap. Lalu Melati menjalankan motornya dan kembali ke Rumah Garuda. Melati berharap Bondan akan datang lagi ke rumah Garuda, dan segera.


Sampai beberapa hari kemudian, Bondan tidak muncul. Melati dan Elvan bertanya-tanya apakah dia harus benar-benar kerja keras sehingga tidak bisa datang. Padahal sore itu waktu dia ikut berlatih begitu semangat.


"Kalau sampai besok ga datang lagi aku tunggu di lampu merah itu. Kalau masih ga muncul juga, aku cari rumahnya. Setidaknya aku tahu gang yang mana rumahnya," gumam Melati.


"Masih mikirin Bondan?" Elvan duduk di sebelah Melati.


"Iya. Kenapa ya, kok ga balik?"


Elvan mengangkat kedua bahunya. "Ya tunggu saja mudah-mudahan besok datang."


Melati masih termenung. Padahal dia berharap sesuatu yang beda akan terjadi dengan kehadiran Bondan.


"Ayo, kita pulang," ajak Elvan. Elvan berdiri mengulurkan tangan pada Melati.


Melati menerima tangan Elvan dan berdiri. Lalu keduanya ke parkiran. Rumah Garuda sudah sepi. Elvan dan Melati biasanya memastikan semua rapi baru mereka akan pulang. Keduanya masuk dalam mobil dan segera menyusuri jalanan yang mulai sepi. Hari sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam.


Di dalam mobil keduanya diam. Terbawa pikiran masing-masing. Bunyi mesin mobil sampai terasa nyaring. Melati memperhatikan jalanan. Dia melihat ke pinggir jalan sesekali. Orang lalu lalang, toko-toko yang masih buka. Ada anak.... anak itu? Bondan? Melati melongok ke jendela. Dia memastikan pandangan matanya benar atau tidak.


"Ternyata bukan. Hanya mirip. Bondan masih lebih kecil dari anak itu. Lagian malam begini dia pasti sudah pulang," batin Melati.

__ADS_1


"Tidak apa, Mel. Tenanglah..." Elvan seperti tahu apa yang ada di pikiran Melati.


Melati kembali ke posisinya semula. Elvan terus konsentrasi menyetir. Tapi dia masih penasaran dengan Bondan. Berharap anak itu akan datang kembali.


__ADS_2