
"Mel, sudah hampir setengah 9. Kamu aku antar pulang, ya..." kata Elvan. Dia ingat Melati harus sampai rumah jam 9 malam.
"Iya." Melati berdiri. "Aku ke toilet sebentar."
"Toilet di sebelah sana." Elvan menunjuk pojok sebelah kiri yang mengarah ke toilet. Melati mengikuti arahan Elvan.
Elvan pamit Azka, dia akan antar Melati pulang, lalu dia menuju ke pintu depan. Belum juga sampai pintu seseorang memanggilnya.
"Elvan... Selamat ulang tahun, Ganteng..." Seorang gadis bertubuh langsing dan tinggi menyalami Elvan. Lalu dia memeluk dan mencium kedua pipi Elvan. Elvan gelagapan.
"Fara?" ujar Elvan. Dia rasa risih dengan sikap Fara. "Kamu kenapa ke sini?"
"Ini kan hari spesial kamu. Tadi aku ke rumahmu, cuma ada bibi. Dia bilang semua ke kafe ini. Jadi aku susul, deh." Fara menjawab sambil tersenyum girang.
"Aku kan, mau kasih surprise buat kamu," katanya lagi. Dengan manja dia menggandeng tangan Elvan mengajaknya masuk.
Elvan melepas tangan Fara pelan. "Aku sudah mau pulang. Kami ga ada acara apa-apa," kata Elvan jengah.
"Iih... aku baru datang." Fara cemberut. "Ga apa, deh... ini kado buat kamu. Selamat, yaa.." Fara memberikan kotak cukup besar terbungkus rapi.
"Kenapa kasih kado segala?" Elvan makin tidak suka.
"Biar ingat aku terus kali..." Fara tersenyum. Lagi dia memeluk Elvan. Elvan lagi-lagi menarik tangan Fara pelan. Dia tidak mau kasar sama perempuan. Tapi dia tidak boleh kasih hati sama Fara.
Melati yang baru keluar toilet melihat pemandangan itu. Elvan dengan seorang gadis cantik, tinggi, putih. Melati tidak bisa melihatnya dengan sangat jelas karena posisi yang agak jauh. Tapi yang dia lihat mereka berpelukan, gadis itu memberi kotak besar kepada Elvan. Siapa dia? Apa pacar Elvan yang lain? Tapi tadi Elvan mengenalkan dia pada papa mamanya. Yang barusan dia lihat ini apa?
Melati merasa bodoh. Dia belum kenal Elvan dengan baik. Dia hanya sesekali berkomunikasi lewat chat atau telpon. Ketemu juga jarang. Kalau pun Elvan punya cewek mana dia tahu? Apa haknya melarang?
"Elvan, aku haus," kata Fara.
__ADS_1
"Minta minum sana," timpal Elvan datar.
"Temani," pinta Fara manja.
"Duluan aja. Aku taruh kado dulu di mobil. Sekalian ada yang aku mau ambil," kata Elvan lagi. Dia harus bisa kabur dari cewek ini.
Fara masuk ke dalam kafe. Elvan menoleh ke belakang dan dia lihat Melati. Gadis itu menatap dengan pandangan aneh. Tidak suka, bertanya, marah. Campur aduk nampak di wajahnya.
Sadar Elvan melihat ke arahnya Melati bergegas keluar. Begitu dekat Elvan, dia berkata, "Aku mau pulang." Melati terus keluar. Dia sudah berpikir lebih baik pulang sendiri.
Elvan mengikuti Melati. Gadis itu bukan ke parkiran tapi ke arah jalan. Elvan mengejarnya.
"Mel, aku antar kamu pulang." Elvan menarik tangan Melati.
Melati melepaskan pegangan Elvan. "Cewekmu pasti menunggumu," ucap Melati setengah bergumam. Tapi Elvan masih mendengarnya.
"Mel, aku yang jemput kamu ke sini. Aku bertanggung jawab pada orang tuamu mengantarkan kamu pulang dengan selamat." Elvan berkata tegas.
Melati nurut saja waktu Elvan membawanya ke mobil. Dan segera dia melajukan kendaraan mungil itu.
"Mela, kamu lihat cewek tadi?" tanya Elvan sambil tetap nyetir. Dia lirik Melati yang menatap lurus ke arah jalan.
"Namanya Fara. Dia adik salah satu teman bisnis Kak Azka. Kadang kami bertemu di kafe atau di acara yang memang keluarga diundang." Elvan menceritakan tentang Fara.
"Iya, dia suka aku. Tapi aku ga ada apa-apa sama dia. Dia orangnya memang begitu. Ramah, rajin menjamah. Gampang sekali meluk-meluk. Tapi ga mungkin aku kasar sama dia, kan?" lanjut Elvan.
"Kamu ga harus cerita kok sama aku. Kamu bebas mau pergi dengan siapa dan mau ngapain." potong Melati.
Elvan menarik nafas panjang. Dia tahu Melati marah. Cemburu. Cemburu? Berarti Melati memang sudah mulai sayang padanya. Ini bagus!!!
__ADS_1
"Mel..." Elvan tetap berusaha tenang. "Kamu kan kekasihku, kamu harus tahu. Kamu harus mengerti situasi yang sebenarnya. Aku ga mau ada salah paham."
Kekasih. Iya, dia kekasih Elvan sekarang. Kenapa rasa hatinya jadi meletup begini? Pingin marah melihat Elvan dengan gadis manja itu begitu dekat.
"Kamu harus percaya aku ga akan beralih hati. Apalagi papa mama tahu aku memilihmu. Itu tanggung jawab besar. Aku tidak boleh menyakiti kamu," lanjut Elvan.
"Aku tidak bisa melarang orang suka aku. Sama juga aku tidak bisa melarang orang suka kamu. Bahkan melarang kamu suka orang lain juga ga bisa, Mel. Aku hanya mempercayakan hatiku padamu dan mau kamu melakukan yang sama untukku."
Melati hanya diam. Kenapa semua kata-kata Elvan begitu dewasa? Dia sebut Elvan adik kecil, loo... Tapi dia begitu matang pikirannya.
"Kamu cemburu?" Pelan Elvan berkata.
Melati menoleh ke arah Elvan cepat. "Aku? Cemburu? Nggak. Jangan salah paham," bantah Melati.
Elvan melirik Melati. Wajah gadis kelihatan kesal. Elvan menepikan mobilnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Melati.
"Apa kata ayah ibumu kalau anak cantiknya ini pulang dengan muka ditekuk begitu? Aku kan membawa kamu untuk bergembira." Elvan memutar posisinya sedikit menghadap Melati.
Melati tidak menjawab. Elvan menatapnya. "Kalau kamu nggak cemburu kenapa masam mukanya? Maaf, ya..." Suaranya lembut sekali. Ini anak sabar banget, yaa...
"Mel..." panggil Elvan pelan. Melati menoleh ke arah Elvan. "I love you. Really. Just trust me."
Melati memberanikan diri memandang Elvan. Dia lihat matanya yang bagus itu. Dalam remang sekalipun terlihat bagus. Tatapan Melati tidak seketus tadi. Dia sudah melunak.
"Pulang, ya..." kata Elvan. Melati mengangguk.
Elvan kembali menjalankan mobilnya dan tidak sampai 10 menit mereka sampai.
__ADS_1
"Jam 9 kurang 3 menit. Ga telat, kok." Elvan tersenyum.
Dia mengantarkan Melati sampai masuk dalam rumah, bertemu ayah dan ibunya sebentar, lalu dia pamit pulang. Dan benar-benar pulang. Dia tidak ingat Fara menunggunya di kafe!!