
Elvan membuka matanya. Dia menatap sekeliling. Ini di mana? Dia mencoba duduk. Badannya terasa sakit semua. Dia pegang kepalanya, ada kain yang melilit di sana. Dia perhatikan badannya banyak luka dan memar. Apa yang terjadi?
Elvan memperhatikan kamar ini. Kamar yang sangat sederhana. Bagian bawah dari tembok, bagian atas dari kayu. Lantai juga belum keramik, masih lantai tanah. Elvan menoleh ke pintu mendengar suara pintu dibuka.
"Sudah bangun, Nak?" Seorang wanita lebih dari setengah baya masuk kamar. Dia membawa segelas air di cangkir.
"Ibu siapa?" tanya Elvan. Dia memandang wanita itu. Mencoba mengingat sesuatu.
"Aku Bu Nanik." wanita itu memberikan cangkir pada Elvan. "Minumlah. Mungkin aneh rasanya. Tapi ndak pa pa, biar sakit sakit di badan kamu itu cepat ilang."
Bu Nanik duduk di kursi sebelah tempat tidur. Elvan meminum air di cangkir itu. Rasanya pahit campur getir. Dia hanya minum beberapa teguk.
"Sini cangkirnya." Bu Nanik mengambil cangkir di tangan Elvan dan ditaruhnya di atas meja. "Nanti diminum lagi, yo..." Dia memandang Elvan sambil tersenyum. Wajahnya cukup cantik, meski sudah banyak kerut di sana sini.
"Jenengmu sopo (namamu siapa), Le? Bocah bagus (anak ganteng)," katanya.
"Aku..." Elvan mengerutkan kening. Hei... dia bahkan tidak ingat namanya. Lagi dia berpikir keras. Kenapa pikirannya kosong?
"Aku tidak ingat," kata Elvan. Elvan memegangi kepalanya. Terasa sakit dan pusing.
"Lho... piye iki... (lho, bagaimana ini)?" Bu Nanik menatap Elvan. "Beneran kamu ndak ingat?"
Elvan balik memandang Bu Nanik. Dia menggeleng.
Di pintu muncul seorang lelaki agak tua, sedikit lebih tua dari Bu Nanik.
"Wis tangi, Buk (Sudah bangun, Bu?)" tanya lelaki itu.
"Iyo, Pak. Iki bocahe ora eling sopo jenenge, lo. Terus piye, Pak? (Iya, pak. Ini anaknya tidak ingat siapa namanya, lo. Terus bagaimana, Pak?)" Bu Nanik memandang suaminya.
Lelaki itu sekarang berdiri di pinggir tempat tidur memandang Elvan. Dia tersenyum.
"Kowe sopo? (Kamu siapa?)" tanya lelaki itu.
Elvan balas memandangnya. Seperti tadi, mencoba mengingat sesuatu, tapi kosong.
__ADS_1
"Aku... tidak ingat... eh,... tidak bisa..." ujar Elvan.
"Ya sudah, istirahat saja dulu. Nanti biar Ibu ambilin kamu makan, yo," kata lelaki itu. Kulitnya gelap dengan rambut sebagian sudah putih.
"Bapak siapa?" tanya Elvan. Dia masih memandangi suami Bu Nanik.
"Aku Pak Karno. Panggil saja Bapak. Hm?" jawabnya. Dia tersenyum lagi.
"Iya." Elvan mengangguk. Dia membaringkan tubuh pelan-pelan.
"Ayo, Buk. Melok aku. (ikut aku)" Pak Karno mengajak istrinya keluar kamar. Keduanya menuju ke dapur.
*Pak Karno dan Bu Nanik pakai bahasa Jawa, ya... cuma author ga mau nulis translate juga, he... jadi di-indo-kan saja. 😁*
"Bu, Gusti Allah dengar doaku," kata Pak Karno.
"Doa apa, Pak?" Bu Nanik tidak paham maksud suaminya.
"Anak kita kembali," jawab Pak Karno.
"Jaka kan sudah ndak ada, Buk. Lha, aku berdoa terus yo, minta Gusti Allah kasih anak. Ini, ini, dikirim bocah bagus kayak gini," ujar Pak Karno.
"Pak, Jaka itu sudah tenang di sana. Anak ini pasti punya orang tua. Kita harus cari keluarganya." Bu Nanik kaget mendengar kata-kata suaminya.
"Ndak, Buk. Anakku sudah kembali. Datang di depanku. Mana mungkin aku suruh pergi lagi?" Suara Pak Karno meninggi.
"Anak ini seperti ada malaikat pelindungnya. Dia jatuh dari jurang begitu, tapi tidak ada tulangnya yang patah. Hanya memar dan luka-luka. Pasti Gusti Allah mengirimnya padaku," lanjut Pak Karno.
Bu Nanik mengelus dadanya. Suaminya itu memang masih belum bisa terima dengan kematian anak mereka yang sulung. Dia meninggal karena tertimpa pohon di hutan waktu mencari kayu karena hujan badai yang datang tiba-tiba. Hampir empat tahun tapi Pak Karno belum ikhlas dengan kepergian Jaka.
"Aku masak aja. Anak itu nanti kelaparan." Bu Nanik berdiri dan mulai masak. Membuat pecel dan menggoreng tempe sama krupuk.
Sedang Pak Karno senyum-senyum sendiri.
"Bagus. Bocah bagus. Namamu Bagus aja," gumamnya sendiri.
__ADS_1
Setengah jam kemudian Bu Nanik sudah menyiapkan makanan untuk Elvan. Dia akan membawa makanan itu ke kamar.
"Bu, namanya Bagus. Panggil saja Bagus. Cocok sama wajahnya yang ganteng itu," kata Pak Karno. Bu Nanik mengangguk.
Dibawanya makanan dan minuman buat Elvan. Di kamar Elvan berbaring tapi tidak bisa tidur. Dia masih belum bisa ingat apa-apa. Kenapa tidak ada yang bisa dia ingat soal dirinya.
"Nak, kamu makan dulu, ya." Bu Nanik menaruh makanan di meja. Elvan berusaha duduk. "Ibu suapin saja sini. " Elvan mengangguk.
"Kamu ini ganteng sekali, Nak. Baru sekarang bisa ketemu anak seganteng kamu. Biasanya cuma lihat di tivi," kata Bu Nanik. "Kamu ini apa beneran anaknya orang Jawa?" Dia mulai menyuapi Elvan.
Kulit Elvan memang putih dan bersih. Rambutnya yang lurus itu juga tidak sangat hitam. Kalau tertimpa cahaya nampak kecoklatan. Apalagi matanya, coklat dan berbinar.
Elvan makan dengan lahap. Dia memang sudah sangat lapar.
"Enak toh, masakan Ibu?" Bu Nanik tersenyum. Elvan mengangguk sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Kamu dikasih nama Bagus sama Bapak. Ndak apa apa, yo. Cocok sama kamu yang ganteng," kata Bu Nanik lagi.
"Iya, Bu. Tidak apa-apa," jawab Elvan. "Sebenarnya aku kenapa?"
"Tadi siang Bapak ke hutan, cari kayu. Biasa buat kayu bakar di rumah. Pas pulang katanya melihat kamu tergeletak di hutan. Pingsan. Bapak bawa pulang," cerita Bu Nanik.
Bu Nanik terus memperhatikan wajah Elvan yang berusaha mengingat sesuatu. Dia kemudian menggeleng lagi.
"Sudah ndak usah dipaksa. Banyak istirahat saja. Mudah-mudahan kalau kepala kamu sembuh sudah ingat lagi, ya," hibur Bu Nanik. Dia tersenyum senang melihat Elvan makan sampai habis. Dia pasti kelaparan.
"Terima kasih, Bu," kata Elvan. Bu Nanik memberikannya minuman ramuan tadi. Elvan meminumnya lagi beberapa teguk.
"Sekarang coba tidur saja." Bu Nanik membawa piring dan gelas keluar. Dia tutup pintu dan membiarkan Elvan tidur.
Setelah beberapa lama berbaring Elvan tertidur. Dia bermimpi. Dalam mimpinya dia merasa terjatuh dan berguling-guling. Terjatuh dari tempat tinggi hingga ke dasar. Elvan tersentak dan terbangun. Dadanya berdegup kencang. Apa itu kejadiannya? Dia mengusap kepalanya. Lalu mencoba tidur lagi.
Lagi, dia bermimpi. Melihat gadis berkulit sawo matang tersenyum padanya. Manis sekali. Lalu dia lihat seorang wanita hampir setengah baya tersenyum cantik. Lalu Elvan terbangun. Siapa kedua wanita itu? Apakah itu hanya mimpi? Atau mereka ada hubungan dengan dirinya?
Kembali Elvan mencoba tidur. Akhirnya dia benar-benar lelap.
__ADS_1