
"Mela!!! Ayo sini, ditraktir es krim sama Vera. Dia ultah 17 hari ini." Ranita lari kecil ke arah Melati yang sedang duduk di kelas.
Kelas 12 masih masuk sekolah, tapi hanya persiapan untuk acara graduation nanti. Di akhir sekolah begini semua menikmati kebersamaan, karena sebentar lagi akan berpisah dan tidak tahu kapan akan bertemu lagi.
"Iya, ayo... Jangan sampai ketinggalan. Siapa yang ga mau es krim," sahut Danu. Cowok paling ngocol di kelas ini. Dia sudah bergegas meninggalkan kelas.
"Tunggu aku, Dan. Bagaimana bisa kau lupakan kawan gantengmu ini?" Arman mengejar Danu.
Mereka berdua memang seperti Sule dan Andre buat kelas Melati. Danu tidak ganteng tapi PD luar biasa dengan segudang keistimewaan di dirinya, meski nilainya bukan yang paling bagus. Sementara Andre selalu bangga dengan ketampanannya, suka gombalin cewek, tapi sekedar bercanda.
"Mel, kita yang ketinggalan ini..." Ranita menarik tangan Melati agar cepat menuju ke kantin sekolah.
Sampai di kantin suasana sudah ramai. Khususnya anak kelas 12. Terlihat Vera berdiri dekat stand penjualan ice cream.
"Ayo, siapa belum. Masih banyak ini!!" serunya sambil tersenyum lebar.
Teman-teman pada berdatangan dan memilih ice cream yang disukai. Tak ketinggalan Melati dan Ranita.
"Terima kasih ya, Vera. Happy sweet 17. Panjang umur dan bahagia selalu." Melati mengalami Vera, cipika cipiki.
"Thank you, Mel," kata Vera.
"Met ultah ya, Ve." ganti Ranita yang ngucapin selamat. "Besok ultah lagi aja... Kita senang dapat es krim tiap hari..." gurau Ranita.
Vera ngakak. "Haa... Haa... Kamu senang, aku yang bangkrut," ujarnya sambil nonjok lengan Ranita.
"Eh, dapat kado spesial apa dari cowok kesayangan?" tanya Ranita.
"Ada, deh..." Vera mengedipkan mata.
"Hmmm, jadi curiga ini." Ranita menatap dengan tajam ke mata Vera.
__ADS_1
"Sudah, ga usah kepo." Melati menarik Ranita mengajaknya duduk di kursi kesukaan mereka kalau di kantin.
Beberapa menit menikmati es krim, Ranita bangun dari kursinya. "Aku ke toilet dulu, ya. Jangan ke mana-mana," katanya.
"Hmmm..." Melati tidak menoleh, asyik menikmati es krim rasa coklat kesayangannya.
"Hai, Mela. Boleh duduk sini?" Seseorang memanggil. Melati menoleh cepat ke arah suara itu.
"Oohh, iya duduk saja." Melati agak kaget, Elvan ternyata.
Elvan duduk di sebelah melati. Seperti biasa dia minum es jeruk segar.
"Mela, aku ga tau gimana ngomongnya. Hmmm, aku suka kamu," ujar Elvan. Menatap sekilas Melati lalu menunduk.
Seketika Melati langsung tersedak dan batuk-batuk.
"Hah?" ujar Melati. Dia masih meyakinkan diri bahwa dia tidak salah dengar.
"Kurasa aku tidak perlu mengulanginya," kata Elvan. Dia mulai memberanikan diri memandang mata Melati.
"Jika aku tidak serius, aku tidak akan mengatakannya," ucap Elvan.
"Aku... Aku hanya... tidak mengira... Sungguh." Melati mencoba menenangkan hatinya. Selama ini dia bisa merasa walau sedikit jika ada yang menaruh hati padanya. Tapi Elvan? Sama sekali jauh dari bayangannya.
"Lain kali aku akan minta waktu kita bicara, ya. Sekarang bukan saat yang tepat, aku tahu. Tapi aku sudah tidak bisa menundanya," ujar Elvan. Dia meneguk es jeruknya. Wajahnya yang putih nampak memerah. Tapi dia kelihatan tetap tenang. Tampan, hidung bangir, bibir tipis. Memang benar tampan.
"Aku akan lulus, El. Dan jika sesuai targetku aku akan kuliah di luar kota. Lagian kamu adik kelasku." Melati menyampaikan situasi di antara mereka.
"Jarak dan usia bukan alasan. Aku juga tidak bisa memaksa. Tapi kamu bisa memikirkannya, aku akan berterimakasih jika diberi kesempatan." Elvan berdiri.
Melati hanya memandangi cowok yang berpostur tinggi itu, lebih 175 cm.
__ADS_1
Elvan menoleh lagi, "Nanti aku temui kamu lagi." Dan dia meninggalkan Melati yang masih terbengong-bengong dengan apa yang barusan terjadi.
Elvan bukan sedang mengerjainya, kan? Melihat sikap anak itu selama ini, meski boleh dibilang Melati sekedar tahu cowok itu dan bukan kenal, tidak mungkin dia main-main dengan hal seperti ini.
Di sekolah sekalipun dia salah satu cowok terkeren tidak kelihatan suka jalan bareng cewek, atau cinta ganti gebetan. Aduh, Melati harus bagaimana? Dia memang ada rasa salut pada Elvan. Tapi suka? Tidak. Jatuh hati? apalagi. Bagaimana ini? Mau jawab apa coba?
"Hei... Melamunnn... Mikir apa? Atau mikir siapa?" Ranita sudah balik dari toilet. Dia duduk lagi di kursinya.
Melati gelagapan. "Ga apa. Hanya tidak terasa saja, kita sudah hampir wisuda. Masa SMA segera akan kita tinggalkan. Waktu cepat sekali berlalu, yaa..." Melati menjawab datar. Berusaha setenang mungkin. Pintar juga dia mencari alasan mengalihkan pikirannya dari kejutan barusan.
Melati tidak mau bilang soal Elvan, karena Ranita memang naksir cowok itu di samping dia ada simpati sama teman cowok lainnya. Dia tidak bisa membayangkan kalau Ranita tahu. Mungkin gadis itu akan mencak-mencak. Bisa saja dia akan berkoar-koar dan seluruh kelas akan ramai. Berabe kan, ceritanya nanti...
"Kamu benar, Mel. Cepat sekali waktu berlalu," ujar Ranita. "Ingat nggak, hari pertama masa orientasi, aku terlambat gara-gara salah masuk kelas. Aduh, kalau ingat itu aku masih malu, tahu."
Melati tertawa. Tidak mungkin dia lupa kejadian itu. Dengan pedenya Ranita masuk kelas 11. Semua orang dalam kelas memandanginya heran. Mereka kira ada anak baru di kelas 11. Sampai waktu guru datang dan bertanya baru ketahuan ini murid kelas 10 yang nyasar.
"Ran, gimana Kak Arnita?" tanya Melati.
"Masih di rumah. Memang papa dan mama akan mengantarnya ke Palembang. Masih tunggu waktu yang tepat untuk ke sana. Mama sebenarnya tidak tega. Tapi tidak mungkin membujuk papa untuk mengijinkan Kak Arnita tetap di sini," jawab Ranita.
"Lalu, Kak Arni baik-baik?" tanya Melati lagi.
"Dia masih menangis setiap hari. Meratapi kebodohannya. Dia beberapa kali bilang ingin mati saja. Mama jadi ekstra mengawasinya. Dia pernah hampir memotong pergelangan tangannya dengan pisau. Untung ketahuan mama sebelum kejadian," cerita Ranita.
"Sungguh? Sampai seperti itu?" Kaget juga mendengar ini. Mungkin Arnita sudah putus asa dengan apa yang dia alami.
"Tapi sekarang dia sudah lebih pasrah dan mau menerima semuanya. Mama terus menguatkan dia supaya tidak menyerah dengan keadaan. Bagaimanapun anak yang dia kandung tidak bersalah. Justru dia korban kesalahan Kak Arni dan pacarnya, kan?" jelas Ranita lagi.
"Iya. Mudah-mudahan Kak Arni tetap kuat, ya..." Melati berkata lirih.
"Sudah ah, ayo pulang," ajak Ranita.
__ADS_1
"Oke. Sore ini Ayah mau ajak kami jalan-jalan. Sebelum hari Minggu papa balik ke Jakarta." Melati berdiri. Meraih tasnya dan meninggalkan kantin yang mulai sepi.
Ranita mengikutinya. Teman-teman yang lain sudah mulai meninggalkan sekolah juga. Masih ada anak kelas 10 dan 11 yang belajar. Tapi ini sudah jam terakhir, artinya kurang lebih sejam lagi sekolah akan usai.