Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 77 - Selalu Ada Maaf


__ADS_3

Elvan menarik nafas panjang. Ini yang dia inginkan, bertemu Fara dan menyelesaikan situasi di antara mereka. Tapi ternyata tidak semudah yang dia pikirkan.


"Fara, apa yang terjadi waktu itu aku tahu sangat tidak menyenangkan. Tapi, aku tidak mau ada terus salah paham. Aku ingin melupakan semua. Kamu juga sama. Supaya kita tetap bisa berteman," kata Elvan.


Fara memberanikan diri melihat Elvan. "Kamu tidak membenciku?" tanya Fara. Dia hampir tak percaya yang dia dengar barusan.


"Aku sangat marah. Aku sangat kecewa. Karena aku merasa semua berantakan. Tapi aku tidak membencimu," ujar Elvan. Dia mengatakan dengan setenang mungkin.


"Kesalahan yang aku lakukan sangat besar, El. Aku membohongi semua orang. Dan membuat kamu dinilai sangat buruk. Hanya karena aku ga ingin kamu tolak. Aku marah karena kamu ga mau perduli perasaanku," ucap Fara. Dia menunduk. Nampak dia merasa sangat bersalah.


"Ya, kemarahanmu membuat kamu memilih cara yang salah untuk mendapatkan yang kamu mau. Aku hanya ingin kamu baik-baik, Fara. Kamu akan menemukan kebahagiaanmu dengan orang yang sayang kamu, pada saatnya," kata Elvan.


"Kenapa kalian tidak membenciku saja? Aku pantas mendapatkan itu. Kenapa masih baik sama aku?" Fara mulai menangis. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Melati yang sedari tadi diam makin bingung. Bagaimana ini?


"Fara... tidak apa-apa melakukan kesalahan. Kita semua pasti pernah melakukannya... Yang penting kita tahu kesalahan itu dan mau memperbaiki diri kita," kata Melati hati-hati.


"Kenapa aku tidak membencimu? Karena aku tidak pernah belajar membenci. Aku memang tidak suka yang kamu lakukan dan sangat marah. Tapi tidak bisa membencimu," tambah Elvan. "Setiap orang berhak memperoleh maaf. Selama masih ada kesempatan."


Beberapa lama Fara masih menangis. "Aku sangat malu. Karena itu aku menghindari kamu, El. Aku juga takut kamu pasti melihat aku begitu buruk." Fara masih menangis. Dia menekan emosi agar tidak menangis dengan keras.


"Sekarang kamu tahu yang aku pikir dan rasakan. It is ok," tandas Elvan.


Melati pindah duduk di sebelah Fara. Dia elus pundak Fara untuk menenangkannya.


"Sampai sekarang papa dan mama saja belum memaafkan aku. Mereka masih sinis padaku. Aku benar-benar bodoh bisa melakukan hal sekonyol itu." Air mata Fara masih mengalir sementara dia bicara. "Aku ga betah rasanya di rumah. Biasanya aku akan pulang agak malam, saat hampir waktu tidur. Capek sekali menghadapi ini."


Melati menjadi iba dengan gadis di depannya itu. Dulu dia sempat cemburu saat pertama melihatnya begitu manja pada Farel. Sekarang jelas dia menghadapi saat sulit bahkan dengan orang tuanya sendiri.


"Tidak apa. Selalu ada resiko dari pilihan dan keputusan yang kita buat, kan, Fara? Jadi harus siap dengan semua itu," kata Melati.


Fara memandang Melati. Tidak akan lupa betapa dulu dia sangat kesal pada gadis ini. Yang menurutnya sangat biasa tidak ada istimewanya. Sampai dia heran kenapa Elvan suka cewek macam begini. Sekarang baru dia paham, Elvan bukan melihat fisik semata dari seorang gadis, tapi dari inner beauty-nya kalau orang bilang.


"Melati benar, Fara. Semarah-marahnya papa mama kamu, tidak berarti mereka tidak sayang kamu lagi. Sabar saja. Cepat atau lambat mereka akan bisa menerima semuanya dan keadaan akan baik kembali," tambah Elvan.


"Iya. Aku tahu," ucap Fara lirih. "Tapi jadi sabar itu berat sekali..."

__ADS_1


"Semua perlu waktu, Fara." Melati menepuk pundak Fara.


"Jadi, kita berteman?" Elvan mengulurkan tangannya. Dia pandang Fara dengan senyumnya yang menawan itu.


"Gimana mau move on aku, yaa..." batin Fara. "Kamu seganteng ini, baik... banget malah..." Dia tersenyum dan menyambut tangan Elvan, mereka salaman.


Melati menangkupkan tangannya di atas kedua tangan Elvan dan Fara yang masih bersalaman. "Teman..." ujarnya sambil tersenyum lebar.


"Untuk merayakan pertemanan, kita makan bareng aja. Aku traktir," kata Elvan. "Kalian tunggu di sini."


Elvan masuk ke dalam dia pesan makanan dan minuman untuk mereka.


"Maafkan aku ya, Mel. Aku hampir saja menghancurkan hubungan kamu dan Elvan." Fara melihat ke Melati. Ternyata Melati memang manis sekali wajahnya. Ada aura menarik yang khas dari gadis ini.


"Iya, Fara. Semua sudah selesai. Buatku lewat kejadian itu adalah pembuktian keseriusan hatiku dan Elvan." Melati tersenyum.


"Beruntung memang Elvan dapat kamu. Kamu sabar sekali. Apa kamu benar-benar tidak benci aku? Sama sekali? Atau mungkin sempat benci Elvan?" tanya Fara.


"Tidak tahu ya, bukan benci yang kurasa. Kecewa saja. Tidak menyangka bisa kejadian kayak gitu. Sama kamu juga tidak. Malah yang aku pikir, waktu itu, Elvan justru harus bersamamu karena tidak boleh meninggalkan kamu begitu saja setelah kejadian itu," jawab Melati.


"Aduh, aku jahat sekali, yaa..." Air mata Fara mengalir lagi. Dia usap matanya.


Sambil mengusap matanya yang basah, Fara mencoba tersenyum.


Elvan datang dengan nampan, membawa makanan dan minuman mereka. Dia menaruh di meja lalu membagi untuk Fara dan Melati, dan juga untuk dirinya sendiri.


"Oke, selamat makan, Nona-nona..." ujar Elvan dan memulai makan.


Melati dan Fara mengikuti Elvan menikmati makanan di depan mereka.


Suasana McDonald makin ramai. Ya, waktunya makan malam. Ada yang datang berdua, ada yang rombongan. Ada yang membawa anak kecil, ada yang nampak sejoli yang kasmaran. Semua sibuk di tempat duduknya atau di counter pemesanan atau anak-anak yang riuh di Playground di pojok ruangan bagian dalam.


Melati, Elvan, dan Fara terlihat bicara sambil sesekali tersenyum atau tertawa. Wajah mereka memancarkan kelegaan. Khususnya Fara, rasanya beban berat yang menggunung di pundak dan punggungnya seperti terlepas dan menggelinding sejauhnya. Dari peristiwa itu Fara belajar, tidak semua yang dia mau harus dia dapatkan. Kemarahan yang tidak diredam hanya akan mencelakai dirinya. Bahkan merusakkan hubungan dengan banyak orang, terlebih keluarganya.


Habis makan, mereka meninggalkan McDonald. Fara pesan taxi online untuk pulang. Elvan dan Melati kembali ke Gramedia karena motor Elvan diparkir di sana.


"El, aku bangga sama kamu," kata Melati dari boncengan ketika motor sudah menyusuri jalanan yang masih ramai.

__ADS_1


"Aku kenapa, Mel?" ujar Elvan. Dia tidak menangkap utuh kalimat yang Melati katakan.


"Nggak. Seneng aja punya pacar kamu," kata Melati.


"Hmmm, dulu ga mau karena aku adik kelas. Anak kecil. Sekarang kok lain, yaa..." mulai Elvan muncul jahilnya.


"Abis adik kelas ini ga ada duanya. Langka, susah dapat yang kayak gini," balas Melati.


"Wah, sejenis barang antik, dong!" sahut Elvan.


"Emang... paling antik dari yang pernah ada." Melati juga ga mau kalah.


"Ga boleh nyesel, ya... uda kecatet tuh, kata-kata kamu di dada," tandas Elvan.


"Dicatat segala. Emang mau buat laporan apa?"


"Mel... aku ini kan calon suami kamu. Kepala keluarga nanti, toh..."


" Hmm... terus kenapa?"


"Panggil enakan dikit napa sama calon suami?"


"Maksudnya, El? Aku kan panggil normal aja selama ini."


"Ga ada sebutan mesra, gitu..."


"Ihh... risih..." Melati manyun.


"Haa... haa..." Elvan ngakak.


Elvan belok ke kanan dan beberapa meter kemudian sampai di rumah Melati. Melati turun dari motor. Elvan mengantar Melati ke dalam rumah. Langsung pamitan ayah dan ibu, karena sudah agak malam.


Melati mengantar Elvan di teras. "Terima kasih ya, Mas," kata Melati pelan.


Elvan menoleh pada Melati. Dia tersenyum. "Mas Elvan..." ucapnya. Rasa aneh dengan panggilan itu. Tapi dia tahu itu bahasa Melati menghormati dia dan tanda sayangnya.


Melati tersenyum malu-malu.

__ADS_1


"Mas Elvan pulang dulu, ya... Sayangku tidur yang nyenyak." Elvan mengelus pipi Melati lalu naik ke motornya dan pulang.


__ADS_2