Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 75 - Bye Bye Sunny TV


__ADS_3

Kejarlah mimpimu setinggi langit


Bermimpilah, jangan takut, karena mimpi itu ga perlu bayar


Tapi ingatlah, terbang sampai ke langit perlu keberanian menantang angin yang makin kencang


Bermimpi, ada saatnya bangun dan hadapi kenyataan...


*


*


Sesuai dengan janji Melati, hari itu ditemani Elvan, Melati pergi ke Sunny TV. Jam 11 siang mereka tiba di stasiun TV yang makin mantap dan oke itu. Melati dipersilakan ke ruang koordinator acara Infotainment yang Melati jadi singer di sana. Harsa sudah menunggu di kantornya. Ternyata Daniel juga ada di kantor itu


"Mari, masuklah, Melati. Duduk silakan," sapa Harsa ramah. Harsa murah senyum dan sangat kebapakan. Beda sekali dengan Daniel yang lebih tegas dan berwibawa di mata Melati. Tetapi menurut Melati keduanya adalah pimpinan yang baik.


"Terima kasih, Pak." Melati tersenyum. Elvan ada di sisinya mengangguk dan tersenyum kepada Harsa dan Daniel.


"Ini siapa, Mel?" tanya Harsa memperhatikan Elvan. Daniel juga menunjukkan wajah ingin tahu.


"Saya Elvan, Pak." Elvan mengulurkan tangannya yang disambut hangat Harsa dan Daniel.


"Oya... silakan." Sahut Harsa. "Elvan adalah..." sengaja menggantung kalimatnya meminta penjelasan.


"Saya calon suami Melati." Elvan menjawab tegas.


"Hm... makanya Melati kok ga tergoyahkan ketika ada yang mendekati. Ternyata sudah ada calon, dan ganteng sekali. Haa... haaa..." Harsa tertawa lepas.


"Pak Harsa bisa saja." Melati jadi sedikit malu dengan kata-kata Harsa. Sedang Elvan tersenyum santai.


"Selamat atas wisuda kamu ya, Melati. Akhirnya selesai kuliah juga. Tidak terasa sudah hampir setahun kamu ada di Sunny TV." Daniel tersenyum.


"Terima kasih, Pak. Semua berkat bimbingan Pak Daniel dan Pak Harsa." Melati ikut tersenyum.


Setelah mereka duduk di kursi masing-masing, Harsa melanjutkan pembicaraan. "Nah, Melati, karena kamu sudah selesai kuliah dan sesuai pembicaraan kita yang lalu, aku menagih jawaban kamu."


Melati memandang Harsa dan Daniel bergantian. "Ah, Daniel memang aku minta ke sini, biar sekalian jadi saksi," lanjut Harsa.


"Iya. Kami menunggu kabar baik dari kamu. Kami tidak hanya akan meminta kamu jadi singer, tapi juga masuk tim kreatif di acara yang selama ini kamu terlibat." Daniel menyambung memberi penjelasan lebih jauh. "Kami sudah lihat kapasitas kamu. Kamu cepat belajar, pasti karirmu akan cepat bagus."


"Saya sangat berterimakasih untuk kepercayaan dan kesempatan yang diberikan pada saya." Melati tersenyum. "Tapi saya tidak bisa menerimanya, Pak. Saya sudah ada rencana lain," kata Melati mantap.


"Kamu yakin?" Harsa menatap Melati memastikan Melati serius dengan penolakannya.


"Apakah karena kalian akan segera menikah?" Daniel kali ini bertanya.


"Bukan, Pak. Kami masih ingin mewujudkan cita-cita. Kami sudah punya planning bersama," jelas Melati


"Elvan, pikirkan lagi. Melati punya potensi yang sangat besar untuk sukses. Dukunglah..." tegas Harsa, masih berusaha membujuk.


"Kami mengerti, Pak. Terima kasih banyak untuk itu. Tapi mohon maaf, memang kami ada rencana bersama untuk cita-cita kami." Kali ini Elvan ikut menjelaskan.


"Atau sudah lelah berjauhan? Ga mau nahan rindu lama-lama?" Harsa malah menggoda keduanya.


Melati dan Elvan tersenyum. "Kami punya beberapa pengalaman yang tidak menyenangkan dengan berjauhan, jadi lebih baik ganti haluan pak, dari LDR jadi CDR," ujar Elvan.


"CDR? Bukan itu vitamin?" tandas Harsa.


"Close Distance Relationship, Pak," kata Elvan.

__ADS_1


Harsa dan Daniel tergelak. "Kekasihmu ini lucu juga, Mel." Daniel masih tersenyum lebar.


"Ya, baiklah... apa boleh buat. Tawaran kami kalah dengan rasa cinta." Harsa menepuk meja dengan kedua telapak tangannya.


Daniel tertawa lagi. "Permintaan terakhir dan tidak boleh ditolak. Kamu ikut shooting, ya... yang terakhir kali," kata Daniel.


Melati menengok ke Elvan. Elvan juga memandangnya.


"Nanti sore, Mel." kata Daniel lagi.


"Hmm, setuju." Harsa mengangkat jempol kanannya.


"Hari ini?" Melati memandang kedua bapak luar biasa di depannya itu.


"Yaa... mau kapan lagi karena setelah ini mungkin saja ga bisa ketemu kamu, Mel," ujar Harsa.


Melati menoleh pada Elvan. Elvan juga menoleh pada Melati. Tatapan mereka seperti berpikir antara iya atau tidak.


"Buat kenangan terakhir," bujuk Daniel.


Melati memandang Elvan lagi. Elvan mengangguk tanda setuju.


"Great... mari kita atur dengan penanggung jawab acara di lapangan," kata Harsa senang. Senyumnya lebar menunjukkan dia girang dengan kesediaan Melati.


Jadi siang itu sambil makan siang bersama, Melati dan Elvan ikut breafing terakhir sebelum persiapan acara jam 4 sore. Singer yang dijadwal hari itu adalah Rainer. Ya, Rainer akhirnya diminta juga membantu di Sunny TV, karena setelah beberapa kali datang menemani Melati pihak stasiun TV mengetahui kemampuan Rainer dan dia ditarik jadi singer.


Tema acara kali ini adalah 'endless love' dengan bintang tamu artis jadul yang masih eksis, suami istri yang tetap saling setia. Maka, sebagai pembukaan acara Melati dan Rainer duet menyanyikan lagu 'My Endless Love' yang memang legendaris.


Persiapan cukup singkat, tetapi semua berjalan lancar. Ketika acara dimulai, panggung di tengah studio gelap dan lampu sorot mengarah ke tengah kepada Melati dan Rainer. Musik mulai terdengar, lagu dilantunkan. Sungguh syahdu, teduh, dan romantisme merebak di seluruh ruangan. Apalagi ketika suara Melati dan Rainer bersahutan dengan ekspresi maksimal keduanya mengucapakan syair demi syair. Berkali-kali penonton harus menahan diri tidak bertepuk tangan karena arahan dari pengarah lapangan penonton baru boleh kasih applause di akhir lagu.


Rainer memang sangat percaya diri dengan suara merdu dan penampilan gagah, tampannya ala artis dari barat. Melati juga mengimbangi. Di tengah lagu mereka bergandengan, bahkan Rainer memeluk pundak Melati dari belakang di penghujung lagu.


Selama acara berulang kali Elvan memperhatikan Rainer yang duduk di sisi Melati. Dia memastikan apa cowok itu masih ambil kesempatan di sebelah pacarnya. Untungnya Rainer tidak aneh-aneh.


Ketika acara kelar, cepat-cepat Elvan menghampiri Melati. "Bisa kita cepat balik?" katanya.


"Hm? Langsung pulang?" Melati balik tanya.


"Iya. Yuk," ajak Elvan.


"Oke, aku ganti kostum ini dengan bajuku ya. Bentar," kata Melati.


"Lima menit saja, "ujar Elvan. Melati mengernyitkan dahinya. Ini cowok kenapa tiba-tiba kaku begitu. Apa dia sakit mendadak?


Melati segera mengganti kostum dengan bajunya sendiri dan balik menemui Elvan.


"Mel, ini makan malamnya. Yuk sama-sama, mumpung masih di sini." Rainer mendekati Melati dan Elvan. Dia membawa tiga kotak makan, dua dia berikan pada Melati.


Melati menerimanya. "Eh, kami sebenarnya...." Melati belum selesai bicara dan..


"Wuih, duet kalian maut, dah... coba dari dulu, ya..." Harsa muncul dan menyalami Melati dan Rainer dengan riang.


"Trimakasih, Pak." Melati dan Rainer menjawab bareng sambil tersenyum.


"Ayo kita makan bareng," ajak Harsa.


"Maaf, Pak, kami langsung pamit. Karena masih ada keperluan," sergah Elvan.


"Begitu, wah sayang... ya, baiklah. Terima kasih banyak untuk semuanya Melati." Sekali lagi Harsa menjabat erat tangan Melati. "Mudah-mudahan satu kali nanti ada kesempatan kita kerja bareng lagi."

__ADS_1


"Iya, Pak." Melati mengangguk.


"Dan tanda kasih seperti biasa cek saja di rekening, ya..." Harsa tersenyum lagi. Melati tersenyum simpul dan berucap terima kasih.


Elvan menyalami Harsa dan Rainer pamit. Lalu mereka pamit Daniel dan Krista serta kru lainnya. Bagaimanapun ada banyak kenangan Melati di tempat ini. Ada banyak pelajaran berharga dia dapat sejak magang hingga dia diberi kesempatan bernyanyi di sana.


Di tempat parkir sebelum masuk mobil Melati memandang gedung tinggi itu. Ada rasa haru mengalir di hatinya mengingat semua yang dia alami di sana.


"Bye bye, Sunny TV," bisiknya pelan. Lalu dia masuk ke dalam mobil. Elvan menjalankan mobil meninggalkan tempat itu.


"Senang banget ya, bisa duet sama cowok sekeren Rainer," kata Elvan waktu mereka sudah di mobil dalam perjalanan pulang.


"Kenapa, El?" tanya Melati. "Oo... iya, dia memang bagus suaranya. Vokalnya matang. Jadi asyik nyanyi bareng sama dia."


"Pantesan maunya lanjut nyanyi di sini. Ga pingin pulang Malang," ujar Elvan dengan pandangan tetap lurus ke jalan.


Melati melirik Elvan. Ini kenapa kok nada suaranya rasa garing, ya...


"Ya bukan karena Rainer, El... aku memang ingin berkarir di nyanyi," kata Melati tenang.


"Tapi kalau nyanyi ga usah dekat gitu bisa, kan? Pegangan tangan segala..." Suara Elvan makin ketus.


Melati membulatkan mulutnya. Dia tahu, Elvan cemburu dia dengan Rainer di panggung tadi. Melati tersenyum, menutup mulutnya, takut tertawa.


"El, kan cuma gaya panggung. Jangan marah, yaa..." ucap Melati. Dia masih menahan ingin tertawa.


"Siapa marah? Ga bagus saja dilihat," geram Elvan.


"Sayang, itu cuma akting panggung laa... Aku sama Rainer ga ada apa-apa." Melati memegang lengan Elvan.


Mendengar kata sayang, Elvan langsung menoleh. "Apa barusan kau bilang?" Tanya Elvan.


"Cuma akting. Kami hanya teman," tegas Melati. Dilihatnya wajah Elvan memastikan cowok ganteng ini sudah melunak.


"Bukan. Kata pertama tadi..." ujar Elvan.


Melati memicingkan mata. Yang pertama? Kata... 'sayang' Ha??? Melati membelalak.


"Ingat?" kata Elvan. Melati tertawa kecil sementara wajahnya berubah warna merona.


"Hmmm, ternyata harus cemburu dulu baru mau panggil sayang..." Elvan melirik Melati.


"Elvan..." Melati mencubit lengan Elvan.


"Aiih... sakit..." sentak Elvan. "Perempuan kenapa ya, sukanya nyubit."


Melati tertawa. Mobil terus melaju di jalanan yang masih ramai.


Melati mengerti dia memang harus pulang. Jika Elvan tidak suka dia sepanggung dengan orang lain, akan sulit dia berkembang nanti. Pasti akan jadi masalah buat dia dan Elvan.


*


*


*


*


❤ thanks sudah baca 😊

__ADS_1


jangan lupa kasih like, komen, vote yaa... 🙏


__ADS_2