
Kehidupan Bondan yang sangat menyedihkan terus berputar di kepala Melati. Dia terus kuatir jika anak itu akan mengalami kekerasan lagi oleh ayahnya. Dia masih belum mau bicara dengan Elvan atau yang lainnya. Elvan sedang menghadapi hari-hari sidang skripsinya.
"Hmmm... bagaimanapun aku tidak bisa lakukan ini sendiri. Jika ada apa-apa denganku siapa yang akan mendukungku? Kalau Elvan, apakah tidak ada apa bicara dengannya?" kata Melati dalam hati. Dia sedang di kantor, tapi pikirannya hanya pada Bondan saja.
"Bu Lidya dan Pak Hadi. Kurasa mereka bisa menolongku. Iya, bukankah mereka banyak pengalaman membantu anak-anak," batin Melati. Maka sore itu dia putuskan akan menemui Lidya dan Hadi di yayasan.
Saat tiba di tempat latihan Bondan ternyata datang hari ini. Melati lega sekali. Dia baik-baik saja. Bahkan tersenyum waktu melihat Melati datang.
"Kamu baik-baik?" tanya Melati.
"Iya, Kak. Bapak pergi. Belum pulang dari kemarin. Jadi aku ke sini hari ini." Bondan tersenyum. Manis sekali senyumannya.
"Baguslah. Berlatih yang semangat. Oke?" ujar Melati.
Bondan mengangguk lalu kembali bergabung dengan teman-temannya. Sedang Melati dia menuju tempat Lidya dan Hadi tinggal. Dia meminta waktu bicara dengan mereka. Bertiga mereka bicara di ruang depan. Melati pun bercerita tentang Bondan.
"Seperti itu, Bu, Pak. Saya tidak tega membiarkan dia di sana lebih lama," kata Melati, menutup kisahnya.
"Hmm, kasihan juga Bondan. Dia akan lebih aman di sini. Saya senang misal dia bisa tinggal di yayasan. Anak-anak juga sudah kenal dia lumayan akrab, ya," ujar Hadi.
"Namun bagaimanapun Bondan masih tanggung jawab ayahnya. Kita tidak bisa sembarangan ambil anak itu. Itu melanggar hukum. Kecuali kita bisa ajak dia bicara dan menyampaikan keinginan kita membawa Bondan ke sini," tambah Hadi.
"Saya sempat pikirkan itu. Tapi mesti waktu tepat, buat kesepakatan yang bagus agar dia tidak merasa tersinggung kita bawa Bondan." Melati berkata sambil berpikir bagaimana jalan yang lebih mudah.
"Bisa kita minta bantuan Komisi Perlindungan Anak. Karena dia mengalami kekerasan dalam keluarga. Sebisa mungkin kita selesaikan secara baik dulu." Kali ini Lidya menyampaikan pikirannya.
"Iya, Bu. Saya setuju soal itu." Melati mengangguk.
"Nak, bicarakan ini dengan Elvan. Dia tetap harus tau. Ini mengenai anak binaannya," tandas Lidya.
"Benar. Jangan sampai dia tahu belakangan malah tidak baik." Hadi memandang Melati.
Melati memikirkan kata-kata Lidya dan Hadi. Mereka memang benar. Baiklah, besok dia temui saja Elvan di kampusnya.
Siang sekitar jam 1, esok harinya Melati sampai di kampus Elvan. Dia menuju ke perpustakaan. Tadi di WA Elvan bilang masih belajar di sana. Melati naik ojek online saja, karena nanti akan pulang bersama. Hari panas sekali, jadi Melati bergegas menuju ke perpustakaan. Sampai di sana, lega rasanya. Masuk ruangan ber-AC, hawa sejuk mengganti panas yang tadi sedikit menyengat.
Melati masuk ke dalam perpustakaan dan mencari Elvan. Rupanya dia duduk di bangku agak belakang. Di sebelahnya duduk seorang gadis. Mereka seperti sedang berdiskusi atau mengerjakan sesuatu. Melati memperhatikan mereka. Keduanya sesekali saling menatap dan tersenyum. Si gadis seperti tersipu malu. Benar mereka belajar? Melati mulai merasa sesuatu yang tidak enak di hatinya.
Tiba-tiba gadis itu berdiri dan pindah ke sebelah kanan Elvan. Tangannya seperti akan memeluk kekasihnya itu. Sedang Elvan mendongak melihat wajah gadis itu. Ya, lebih jelas sekarang. Memang cantik. Wajahnya tirus dan bagus. Lalu, tangan Elvan menyentuh kepala gadis itu. Dielus rambutnya???
Melati mulai melotot. Wajahnya memerah dan darahnya mulai mendidih rasanya. Melati tidak pernah menyangka akan menemukan pemandangan seperti ini di depannya. Kakinya melangkah mendekati Elvan dan gadis entah siapa, Melati belum pernah melihatnya.
"Elvan..." panggil Melati.
Elvan kaget mendengar suara itu. Suara yang sangat dikenalnya. Tapi biasanya tidak kaku seperti ini.
__ADS_1
"Mel... sudah datang?" Elvan berdiri dan menghadap ke arah Melati. Gadis cantik di sebelahnya meluruskan posisi berdirinya dan memandang Melati.
"Hmm... ya, pemandangan menyenangkan di siang yang panas," ujar Melati. "Maaf aku mengganggu. Lanjutkan saja." Dengan ketus Melati berkata. Lalu membalikkan badan dan bergegas keluar perpustakaan.
Elvan langsung mengerti Melati marah. "Sorry, aku tinggal dulu," katanya pada cewek itu yang bengong dan bingung.
Secepat kilat Elvan mengejar Melati. Dia sudah di luar perpustakaan dan berjalan meninggalkan kampus.
"Mel..." panggil Elvan. Dia menarik tangan Melati. Terpaksa Melati berhenti.
"Hei... kamu marah?" tanya Elvan.
"Kamu sengaja suruh aku datang ke perpustakaan untuk melihat adegan romantis? Ga ada waktu aku, El," kata Melati gusar.
Oo.... panggilan spesialnya hilang. Elvan tahu Melati benar marah. Dia pasti cemburu melihatnya dengan temannya di perpustakaan tadi.
"Mel... jangan marah dulu. Ayo kita cari tempat duduk dan aku jelaskan," ucap Elvan.
"Kalau sekedar dengar alasan klise maaf, percuma. Aku lihat sendiri, Elvan. Ada hal jauh lebih penting harus aku lakukan daripada mikirin cowok sok baik, tapi mendua hati," sahut Melati makin marah.
"Astaga... kamu ini bicara apa, sih? Siapa mendua hati? Mel... Jangan kayak anak kecil, dong..." Elvan jadi ikut emosi.
Melati diam saja.
"Kita perlu selesaikan ini," kata Elvan.
Elvan meremas rambutnya. Kenapa jadi kayak gini? Kenapa tiba-tiba dia cemburu buta? Emang tadi Elvan ngapain?
"Ahhh... bikin pusing aja..." gusar sekali rasanya. Elvan balik ke perpustakaan. Dia tidak ada waktu sekarang. Melisa minta tolong dia edit skripsinya. Dalam beberapa hari mereka berdua akan maju sidang. Lebih baik biar Melati tenang dulu.
"Elvan, aku ga enak lo sama pacarmu. Sebaiknya kamu selesaikan masalah kamu. Aku ga apa lanjut sendiri," kata Melisa. Dia tahu Elvan sudah tidak fokus.
"Okelah..." Elvan mengalah. "Sorry, Lisa. Aku pergi."
Elvan meninggalkan Melisa. Dia coba telpon Melati tapi ga diangkat. Lalu dia kirim chat.
Elvan
- Mel, di mana? Kita perlu bicara. Mel, tolonglah.
Tidak dibaca. Apa masih di jalan? Elvan putuskan ke rumah Melati. Ternyata dia tidak di sana. Rumah itu sepi, belum ada yang pulang. Elvan telpon ke kantor Florian, dia juga tidak di sana.
"Ke mana dia? Baru sekarang dia bisa marah begini? Aku yang tidak kenal dia atau ada sesuatu yang membuatnya meledak?" ujar Elvan pelan.
"Rumah Garuda. Sebaiknya aku ke sana." Elvan memutuskan pergi ke tempat pelatihan anak-anak. Mudah-mudahan dia di sana.
__ADS_1
Ternyata Melati juga tidak ada. Dia bertemu Hadi. Lidya sedang belanja dengan pegawai yang membantu di yayasan anak.
"Apa Melati sudah bertemu Elvan? Ada hal penting yang dia mau katakan. Kemarin kami sudah bicara dan Elvan harus tahu soal ini," kata Hadi.
"Sebenarnya kami bertemu tadi, Pak. Tapi ada sedikit salah paham dan Melati pergi lebih dulu. Saya ke sini karena mengira dia ada di sini." Elvan menjelaskan. "Kalau boleh tahu soal apa, Pak?"
"Sebelumnya minta maaf, Elvan. Yang paling tepat bicara seharusnya Melati. Tetapi saya kuatir terjadi sesuatu jika Elvan terlambat tahu. Ya sudah, saya akan katakan saja." Akhirnya Hadi menceritakan kepada Elvan mengenai Bondan dan keluarganya.
Beberapa kali Elvan menarik nafas panjang mendengar cerita hidup anak yang manis itu. Ternyata benar-benar malang nasibnya.
"Begitulah, Elvan. Bagaimanapun kita harus lakukan sesuatu sebelum hal yang lebih buruk terjadi padanya," tutup Hadi.
"Iya, Pak. Tentu tidak bisa kita diam saja dengan keadaan Bondan. Secepatnya saya akan bicara dengan Melati untuk bertindak soal ini," ucap Elvan.
***
Melati akhirnya memilih pergi menemui Harun hari itu. Dia tidak mau lagi menunggu Elvan. Tidak ada perlunya. Biar saja Elvan sibuk dengan pacar barunya itu. Dia akan urus Bondan sendiri. Dia yang menemukan anak itu. Bondan adalah tanggung jawabnya.
Rumah itu tertutup. Melati mendekatinya dan mengetuk pintu. Tidak ada yang menyahut. Lagi Melati mengetuk pintu. Beberapa kali.
Pintu dibuka. Harun di sana. Begitu melihat Melati langsung wajahnya menjadi galak.
"Mau apa lagi?" tanya Harun. Dia ingat gadis ini yang datang beberapa hari lalu mencari anaknya.
"Eh... saya..." Melati agak ragu. Ada sedikit rasa takut juga mengingat sikap kasar laki-laki ini. Ada tato di kedua lengan atas kiri dan kanan. Tatonya terlihat karena dia hanya mengenakan kaos tanpa lengan. Menambah sangar saja penampilannya.
"Bondan tidak ada. Ini jam dia kerja. Pergi saja," kata Harun.
"Saya ingin bertemu Pak Harun," ucap Melati cepat.
"Hei, kamu bahkan sudah tahu namaku? Kamu niat mencariku?" Harun membuka pintu rumahnya lebar. Dia penasaran apa maunya gadis muda dan cantik ini.
"Masuklah," kata Harun tenang kali ini. Dia masuk dan duduk di kursi.
Melati masuk, duduk di kursi di sebrang Harun. Rumah sudah lebih rapi dibanding waktu pertama Melati ke sini.
"Cepat bicaralah. Mumpung pikiran aku masih sehat," kata Harun.
"Begini, Pak. Saya melihat Bondan punya potensi besar dalam dunia musik. Jadi saya ingin menolong dia mengembangkan kemampuan itu. Dan kami ada tempat untuk dia tinggal supaya bisa dibina di sana. Kami akan bantu semua biaya hidupnya. Biaya sekolah, kebutuhan sehari-hari, dan hal lain yang dia perlukan." Melati hati-hatj mencoba menjelaskan. Dia memilih kata yang tidak akan menyinggung perasaan Harun.
"Sebentar. Ini maksudnya kamu mau membawa Bondan? Tempat untuk tinggal, artinya dia pindah rumah, begitu?" Harun menatap Melati tajam.
Duh, tatapan matanya tajam sekali. Melati sedikit ngeri juga.
"Ehh... iya, Pak. Dia tinggal di sana dengan anak yang lainnya. Tempatnya rapi, bersih..."
__ADS_1
"Jadi kamu mau bilang rumah ini ga layak buat Bondan tinggal?!" Nada suara meninggi.