Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 65 - Perjuangan Hampir Berakhir


__ADS_3

Senyum kelegaan terpancar di wajah Melati. Dia baru saja bertemu dosen pembimbingnya. Semua hasil kerjanya untuk skripsinya cukup memuaskan. Dosennya senang dengan apa yang dia tulis. Tinggal bersiap untuk ujian skripsi awal bulan depan. Itu artinya tidak sampai dua minggu dia akan maju sidang skripsi. Harus semangat!!


"Hai, Mel..." Melati mendengar suara seseorang di belakangnya.


Melati menoleh. Rainer, mahasiswa fakultas hukum. Dia kenal karena beberapa kali ada event agar seni di kampus. Rainer salah satu penyanyi tenor andalan di paduan suara. Akhir-akhir ini dia sering komunikasi dengan Melati.


"Hai, Rain." Melati tersenyum.


"Mau pulang?" tanya cowok berambut ikal warna kemerahan. Ya, Rainer blasteran Eropa.


"Masih mau ke Sunny TV," jawab Melati.


"Ah, jadwalmu isi acara di sana?" tanya Rainer lagi. Dia sudah menjajari Melati yang berjalan keluar kampus.


Melati memang masih diminta jadi singer untuk acara di Sunny TV. Bukan Sandy Talk Show. Tapi salah satu acara Infotainment di sana. Dia bersedia seminggu dua kali. Itupun lepasan bukan kontrak, mengingat dia masih kuliah dan sedang menyelesaikan tugas akhir.


"Iya," jawab Melati pendek.


"Boleh aku antar?" pinta Rainer.


"Antar?" Melati menoleh ke arah Rainer. Dia manggut-manggut. "Ga lagi sibuk?" tanya Melati.


"Ga juga. Aku penasaran kalau di stasiun TV kayak gimana kegiatannya? Aku kan suka nyanyi. Siapa tahu rejeki juga bisa jadi singer di sana. Hee... hee..." ujar Rainer. Senyumnya mengembang. Lesung pipinya yang dalam muncul kiri dan kanan.


"Oke, deh." Melati tersenyum juga.


Rainer mengantar Melati dengan mobilnya. Perjalanan menuju Sunny TV kira-kira 30 menit. Selama di jalan Rainer banyak cerita tentang dirinya dan kegiatannya. Rainer ternyata menyenangkan. Sering sekali membuat Melati tertawa dengan candaannya.


Tiba di lokasi Melati langsung persiapan. Sedang Rainer dia bisa nonton acara dari bangku penonton. Acara dimulai jam 4 sore dan selama dua jam berjalan seru dan asyik. Banyak tawa dan canda diselingi berita tentang selebriti dan info-info menarik. Usai semua, Rainer mengantar Melati pulang. Tapi sebelumnya mereka pergi makan dulu. Rainer mengajak Melati ke restoran Seafood.


"Asyik juga ya kerja di lingkungan TV. Banyak sekali yang terlibat, saling berkaitan, dan jelas tujuannya pada suksesnya acara. Seru..." kata Rainer sembari menusuk udang dengan garpu di tangannya.


"Ya, ada ketegangan tapi ga sedikit ketawa juga." timpal Melati.


"Aku sempat GR ya tadi, ada yang tanya, pacar Mbak Melati ya, Mas?" Rainer ngakak.


Melati terkekeh.


"Mau aku jawab iya, bukan. Tapi jawab bukan kok kayak pacar ngantar kekasihnya gitu." Senyum Rainer masih lebar.


Melati masih tersenyum. Dia paham arah bicara Rainer.


"Bahaya kalau bilang iya. Yang punya pacar bisa marah," ujar Melati.


"Sayangnya pacarnya sudah kabur. Ini lagi melihat jalan ke arah princess yang lain," sambung Rainer. Jelas kasih kode.


"Wah, princess.. manis banget, tuh..." sambut Melati.


"Pinginnya sih, kamu yang jadi princess-nya." Rainer memajukan mukanya ke arah Melati.


"Hmm, Princess yang ini sudah punya pangeran di negeri antah berantah," tukas Melati. Dia menaruh sendok, mengambil es jeruk di depannya dan meneguk beberapa kali.


"Serius?" tanya Rainer. Dia tatap Melati. Melati mengangguk.


"Kamu sudah ada kekasih?" Rainer tanya dengan jelas.


"Iya, Rain. Di Malang cowokku," jawab Melati.


"Ah, patah hati lagi, nih..." Rainer garuk-garuk kepala.


Melati tersenyum simpul.


"Uda lama kalian pacaran?" tanya Rainer lagi.


"Hampir empat tahun." Melati mengambil tisu dan membersihkan bibirnya.


"Uuhh... sudah dalam tuh, sudah lama. Moga lancar sampai ke pelaminan," tandas Rainer. Jelas dia kecewa.


"Ga usah galau kali. Kita masih bisa berteman. Asal pada batasnya," kata Melati.

__ADS_1


"Yaa... why not?" Rainer mengangkat bahu dan tersenyum tipis.


Setelah itu Rainer mengantar Melati sampai depan gedung apartemen. Melati pun menuju ke apartemen dan dia menuju ke kamar untuk mandi. Selesai mandi dia melepas lelah berbaring di ranjangnya.


Dia raih HP dan menelpon ibunya. Senang sekali mendengar suara ibu. Suaranya menenangkan dan rasanya segala lelah dan penat langsung memudar begitu mendengar suara teduh dan penuh kasih itu.


"Tinggal sebentar lagi ya, Nak, tuntas sudah studi kamu. Ibu sudah kangen bisa kumpul semua. Ayah sudah di sini, malah kamu yang jauh," kata ibu.


"Iya, Bu. Ga terasa hampir 4 tahun ya Melati tinggalkan rumah. Pingin cepat balik pulang," ujar Melati.


"Sabar dikiiittt lagi," ucap Ibu.


"Hmmm... ya, Bu," sahut Melati.


"Eh, Ibu tutup ya. Ini adikmu minta dibantu belajar. Baik-baik, Nak..." Ibu menutup telpon.


Tangan Melati mencari kontak Elvan.


Melati


- Hai, El. Lagi apa? ☺


Masuk centang dua, tapi belum dibaca. Melati menaruh HP-nya. Elvan masih sibuk kayaknya.


Dan Elvan....


Begitu melihat chat Melati masuk, dia langsung merasa kacau.


"Mel..." katanya pelan. "Mel, maafkan aku. Aku ga bisa jaga diriku." Dan entah kenapa tiba-tiba dia menangis. Sampai sesenggukan. Dadanya terasa sakit dan sesak.


"Kenapa cobaan di hubungan kita harus seberat ini, Mel?" kata Elvan. "Kita tidak pernah ribut. Semua kita usahakan bisa diselesaikan dengan baik, tak perlu emosi. Tapi kali ini, Mel... aku takut, takut kehilangan kamu..." tangis Elvan belum berhenti. Dia berusaha suara tangisnya tidak sampai keras. Jadi dia ambil bantal dan menekan bantalnya ke wajah.


Setelah beberapa lama baru dia buka chat Melati.


Elvan


Maaf baru balas.


Bunga Cintaku


- Ga apa. aku mau cerita.


Elvan


- Cerita apa?


Bunga Cintaku


- Aku sudah bisa maju sidang skripsi. 😀


Elvan kembali menangis. "Ini saat bahagia kamu, Mel. Perjuangan kamu hampir berakhir. Lalu kita bisa sama-sama. Tapi... Fara... ah..."


Elvan


- Great job.. 👍😀


Bunga cintaku


- Dan, ada teman yang nyatain cinta sama aku. Jangan kuatir, langsung aku tolak. Aku bilang aku uda punya kamu di hatiku 😊


Elvan masih belum bisa menghentikan air matanya. "Mel... maafkan aku..."


Elvan


- Thank you. Thank you sudah jujur sama aku.


"Tapi bagaimana caranya aku katakan kalau aku dan Fara..." Elvan mengusap matanya. "Aku memang tidak yakin... Lalu bagaimana aku menyangkal semua ini? Aku sama sekali tidak ingat apa-apa." Hati Elvan seperti dicabik-cabik rasanya.


Kalau bisa Elvan ingin semua ini cuma mimpi. Seandainya semua kisah hidup bisa dia atur dan minta, dia akan minta diulang saat Tio mendesaknya ikut main di Club Bunga dan akan dia tolak.

__ADS_1


Tio? Ya, Tio... mungkin dia tahu sesuatu.


Bunga Cintaku


- iya ☺☺


Elvan


- aku mandi dulu ya, lalu ada mau ketemu teman.


Bunga Cintaku


- oke. dah...


Elvan kontak Tio dan janjian ketemu dengan cowok itu. Mereka janjian di alun-alun depan Balai Kota. Sejam kemudian Elvan sudah di sana. Menunggu 10 menit Tio muncul.


"Tumben minta ketemu. Biasanya aku yang kejar-kejar kamu." Tio bergurau.


Elvan menatap Tio datar. Tidak ada senyum di wajahnya. Justru sedikit tegang.


"Hei.. kamu kenapa? Ada masalah?" Tio duduk di sebelah Elvan. Di bangku taman menghadap kolam ikan yang besar.


"Ti, kamu ingat malam kita abis nge-band di Club Bunga, nggak?" tanya Elvan.


"Ingat la.. itu malam penampilan paling asyik tapi yang terakhir sama kamu. Emang ada apa dengan malam itu?" Tio balik tanya.


"Waktu itu kita dikasih minum apa, sih?" Elvan juga tidak menjawab, tapi juga malah bertanya.


"Minum?" Tio sekarang mulai mikir.


"Yang Fara bagi ke kita," kata Elvan. "Itu dia kasih satu satu ke kita, kan? Bukan kita ambil dari nampan."


"Hmmm... iya... iya, aku ingat. Aku lagi makan, lalu dia kasih gelas. Aku sempat taruh sendok yang aku pegang. Maksud kamu gimana, sih? Aku belum nyambung, deh." Tio jadi bingung.


"Aku curiga yang aku minum beda sama minuman kamu dan yang lain," kata Elvan.


"Beda gimana?" Tio makin ga paham.


"Ga lama abis aku minum aku sakit kepala. Benar-benar kayak mau pecah kepalaku. Kamu ingat apa yang terjadi sebelum masuk kamar?" tanya Elvan.


"Itu... Dodi sama Reno duluan. Ya, kamu uda ngeluh sakit kepala... Dan, aku sempat bilang kamu nginap aja karena mau pulang, kan? Ya soalnya kamu bilang sakit kepala aku ngajak nginap. Kan emang kita harusnya sekamar," kata Tio.


"Lalu?" ujar Elvan. Dia minta Tio melanjutkan ceritanya.


"Tunggu... aku bilang Fara buat temani kamu. Karena kamu masih ngotot mau pulang. Terus aku masuk. Udah," ucap Tio. "Emang ada apa?"


"Setelah itu aku malah rasa mual. Pingin muntah tapi badanku benar-benar lemas. Rasanya berdiri aja ga sanggup... Aku ingat aku hampir jatuh... Fara memegangku... lalu... aku ga bisa ingat apa yang terjadi..." cerita Elvan.


"Dan, paginya... aku bangun, ada di kamar sendirian. Tanpa baju. Telanjang dada. Aku masih pakai jeans-ku lengkap dengan ikat pinggangku. Aku bingung, kok bisa? Karena ingat janjian sama Mama, tanpa pikir panjang aku ambil baju, pakai, dan pulang," lanjut Elvan. Tio menatap Elvan.


"Dan... Fara datang, dia minta aku tanggung jawab atas kejadian malam itu di kamar," tambah Elvan.


"Tanggung jawab?" Tio mengernyitkan dahinya. "Hei... paginya, sebentar, aku ketemu Fara, dia ke lobby ambil minum. Aku hanya say hello, lalu pas balik ke kamar, aku sempat liat kamu keluar dari kamar Fara."


"Apa? Kamu lihat?" tanya Elvan.


"Iya. Aku sempat pikir, akhirnya runtuh juga iman kamu kan... aku ajak tidur di kamar malah milih sekamar sama Fara... Jadi apa yang kalian lakukan?" Tio memandang Elvan lekat.


"Aku ga ingat. Sama sekali," tegas Elvan. "Tapi Fara bilang kami uda melakukan hubungan gitu laa..."


Tio tersenyum, lalu tertawa "Haa....haa... asli... konyol banget kamu. Masa enak-enak ga ingat. Elvan..." Tio geleng-geleng sambil tertawa.


"Tio, ini bukan hal yang lucu, yaa..." Elvan berkata marah. "Kamu tahu aku ga mungkin berbuat gila kayak gitu."


"Upss... sorry..." ujar Tio. Tawanya langsung hilang.


"Itulah aku tanya di awal, kamu minum apa malam itu? Aneh ga rasanya kalau cuma aku yang tiba-tiba sakit kepala, lalu jadi linglung kayak gitu."


Tio memandang Elvan. Dia coba mencerna semua percakapan mereka.

__ADS_1


__ADS_2