
Melati meremas kedua tangannya. Dia menatap laptop di depannya sambil sesekali menarik nafas, mendesah, atau menggeleng kesal. Elvan lebih tenang reaksinya tapi jelas wajahnya marah.
"Jadi, Harun selama ini tidak bekerja dengan benar. Dia hanya main judi, mabuk-mabukan, main perempuan, dan malak para tukang parkir di sekitar daerah dia tinggal. Macam preman jagoan saja. Pantas dia tidak mau Bondan pergi. Bondan dia peralat untuk cari uang dengan mengamen." Elvan benar-benar marah.
"Kalau Bondan tidak bawa uang yang banyak, dia dipukul, ditendang, ditempeleng. Dia bahkan tidak mikir apa anak itu sudah makan atau belum. Bondan juga sudah biasa kelaparan sepertinya," kata Delvin. "Hati saya sakit melihat itu, Pak. Tidak pantas seorang bapak memperlakukan anaknya begitu."
"Yang saya pikir, Harun itu depresi dengan hidupnya. Kalau pas mabuk dia panggil-panggil istrinya, panggil Bondan. Seperti ada rasa marah dan menyesal dengan apa yang dia alami. Kasihan juga sebenarnya," lanjut Delvin.
"Aku ga sanggup melihat ini, Mas. Kalau lebih lama Bondan di sana, bisa celaka dia nanti." Melati menatap Elvan.
"Ya, besok aku akan menemui Harun. Aku akan bicara dengannya," tegas Elvan.
Setelah mengatur segala sesuatu, mereka berpisah. Delvin kembali ke kantor, Melati dan Elvan lanjut ke Rumah Garuda. Sepanjang jalan keduanya hanya diam. Masih merasa sedih dengan apa yang tadi mereka lihat di laptop Delvin. Bahkan mobil Elvan sudah berhenti di parkiran Rumah Garuda keduanya masih diam.
HP Melati bergetar. Ddrrrttt... Melati dan Elvan tersentak. Melati mengambil HP dan melihatnya. Chat dari Lily.
"Siapa?" tanya Elvan.
"Lily." jawab Melati pendek.
"Oo..." ujar Elvan. "Ayo, turun..."
Elvan keluar dari mobil. Melati mengikutinya. Mereka menemui anak-anak. Hari itu latihan pertama mereka gabung baik yang musik, vokal, dan dance. Elvan dan melati menuju aula besar di tengah area. Mereka duduk menyaksikan saja. Pelatih yang lain kelihatan semangat karena anak-anak itu begitu antusias walaupun sudah diulang beberapa kali.
Sayang Bondan tidak ada di sana. Dia harusnya main ukulelenya. Dia juga mendapat kesempatan menyanyi trio dengan dua teman lainnya. Anak itu pasti masih ketakutan kalau akan datang.
Selesai anak-anak latihan, Elvan bicara dengan para pelatih memberitahu perkembangan rencana pagelaran yang akan mereka lakukan nanti. Hal-hal apa yang perlu disiapkan. Mereka bertemu hanya 30 menit, kemudian bubar.
"Kak, Bondan ga datang lagi. Kami akan tetap nyanyi sama dia atau yang lain akan gantikan?" Fandi mendekati Melati dan Elvan.
"Tunggu dua atau tiga hari lagi, nanti Kakak beri kepastian, ya," kata Elvan.
Iya, siap." Fandi mengacungkan jempol kanannya.
"Kamu masih sering dijenguk, Fan?" tanya Melati.
"Sudah lebih jarang, Kak. Ayah sudah kerja penuh dan ibu banyak ada pesanan kue juga," jawab Fandi.
__ADS_1
"Tapi kamu baik-baik, kan?" Melati melihat Fandi. Makin ganteng dia sekarang.
"Iya, Kak. Terima kasih." Fandi tersenyum. "Aku ke asrama ya, Kak."
"Oke." Melati tersenyum.
Lalu Elvan dan Melati pulang, hari sudah hampir jam 8 malam.
Keesokan harinya siang setelah jam makan siang Elvan dan Melati pergi ke rumah Harun. Mereka akan meminta Bondan secara baik-baik. Jika tidak mau maka hukum yang akan bertindak.
Tok tok tok tok....
Elvan mengetuk pintu. Tidak ada suara dan reaksi dari dalam rumah.
Tok tok tok tok... Lagi Elvan mengetuk pintu.
"Tunggu!" Terdengar sahutan dari dalam. "Siapa? Siang-siang ganggu orang tidur."
Pintu dibuka. Nampak Harun dengan wajah layu di sana. Dia menatap Elvan, mencoba mengingat apa dia kenal laki-laki di depannya ini. Kemudian dia menoleh ke Melati yang ada di sebelah Elvan.
"Ahhh.... haa... haa..." Harun tertawa. "Haa.. haa... masih balik lagi? Kalian benar-benar yaa..."
"Mau bicara apa lagi? Kalian tidak paham juga kalau aku tidak suka Bondan berurusan dengan kalian," kata Harun. Nada suaranya mulai kasar.
"Bondan adalah anak binaan kami dan kami punya kewajiban memperhatikan kehidupan Bondan secara penuh," kata Elvan.
"Apa maksudmu? Aku yang punya kewajiban atas dia. Bukan kalian yang baru kenal berapa hari sama Bondan. Aku bapaknya!" Makin marah Harun mendengar kata-kata Elvan.
"Bisakah kita bicara dengan baik, secara dewasa, jika memang bapak menginginkan yang baik untuk anak Bapak?" ucap Elvan.
Harun menatap Elvan. Apa maksud anak muda ini?
"Saya tahu bapak sebagai orang tua pasti sayang kepada Bondan. Tentu juga ingin memberi yang baik untuknya. Jadi kita sebenarnya punya tujuan yang sama. Tidak perlu kita bertengkar, tetapi lebih tepat kita bicara menemukan titik temu apa yang paling baik untuk Bondan." Dengan berani Elvan memandang Harun dan dia pastikan Harun mendengar apa yang dia katakan.
"Oke. Masuk." Akhirnya Harun mempersilakan Elvan dan Melati masuk.
Mereka duduk di ruangan yang kotor dan berantakan.
__ADS_1
"Maaf, di rumah ini tidak ada perempuan. Jadi..." Harun agak canggung juga ketika Elvan memandang sekeliling ruangan itu.
"Baik, tidak masalah," kata Elvan.
"Pak Harun, pertama saya ingin sampaikan bahwa tujuan saya kemari ingin menawarkan sesuatu yang baik untuk Bondan. Pendidikan di sekolah yang dia terima selama ini pasti menolong. Tetapi Bondan punya kelebihan yang bisa menjadikan dia orang sukses di kemudian hari. Kami menemukan mutiara dalam dirinya yang perlu diolah agar dia berhasil kelak," tambah Elvan.
"Kami ada tempat untuk Bondan belajar dan mengembangkan kemampuan dia. Saya minta ijin Bapak untuk membawa Bondan tinggal di sana. Kami akan fasilitasi semua keperluannya hingga dia bisa lulus sampai SMA setidaknya. Bapak tidak perlu kuatir kami tidak akan minta imbalan apa-apa untuk itu," jelas Elvan lebih lanjut.
Harun menatap Elvan. Anak muda di depannya ini nampak serius, cerdas, dan tahu apa yang dia lakukan. Dia tahu apa yang ditawarkan Elvan sesuatu yang sangat bagus.
"Itu artinya Bondan akan meninggalkan aku?" Harun memandang Elvan.
"Kapan saja Bapak mau menengok Bondan, silakan saja. Bapak orang tuanya dan akan terus seperti itu," ujar Elvan.
"Masalahnya Bondan itu bekerja membantuku..."
"Pak, Bondan masih terlalu kecil untuk bekerja. Tanggung jawab orang tualah memenuhi kebutuhan anaknya. Itu menyalahi aturan, Pak. Ada undang-undang yang mengatur hal itu. Apalagi jika orang tua bertindak kasar, melakukan kekerasan pada anak. Bisa dipidana." Elvan mencoba menekan Harun.
"Jangan bawa anakku pergi. Aku tidak bisa tanpa dia. Cuma dia yang ada di rumah ini selain aku. Aku tidak perduli jika itu melanggar hukum. Aku hanya mau dia bersamaku," tandas Harun. Nada suaranya Riska sekasar tadi. Tapi jelas dia agak marah.
"Dan dimanfaatkan untuk mencari uang untuk bapaknya bersenang-senang, berjudi, dan mabuk-mabukan. Sementara anak sekecil itu bahkan sering kelaparan sekalipun dia bekerja dengan tangan dan keringat setiap hari." Elvan balas memandang Harun.
"Aku tidak memanfaatkannya. Aku mau dia membantuku," sanggah Harun.
"Saya minta maaf. Saya punya cukup bukti untuk membawa Bondan secara hukum jika saya melaporkan tindakan Bapak ke komisi perlindungan anak dan kepolisian," ancam Elvan. Dia tetap berusaha setenang mungkin mengatakannya.
Melati yang hanya duduk mendengar pembicaraan dia pria ini tidak henti berdoa supaya tidak ada pertengkaran dan Harun bisa dengan rela memberikan Bondan ke yayasan.
"Kamu justru bersalah ketika memisahkan anak dari bapaknya," kata Harun dengan ketus. "Semestinya ada hukum yang melarang orang mengambil anak orang lain."
"Bukan masalah mengambil anak orang lain. Ini masalahnya apakah anak itu hidup baik dan bahagia dengan orang tuanya?"
"Kak..." Terdengar suara kecil memanggil.
Elvan, Melati, dan Harun menoleh ke pintu. Bondan di sana, berdiri dengan seragam sekolahnya. Wajahnya terlihat letih dengan keringat di dahinya. Cuaca hari ini memang panas.
Wajah kecil itu menatap Elvan dan Melati. Lalu melihat ke arah Harun. Tatapannya menunjukkan rasa takut dan cemas.
__ADS_1
"Kak..." ucapnya lirih.