Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 69 - Lebih Baik Kabur


__ADS_3

Setelah pertemuan dengan Melati pagi itu, Elvan memilih diam di rumah. Lebih tepatnya di kamar. Dia hampir tidak keluar kecuali makan. Itu pun dipaksa. Orang rumah sampai bingung menghadapinya.


Bi Wanti bolak balik nangis, ngintip Elvan di kamar yang cuma bengong atau main HP. Farel, hanya bisa memasang wajah lesu sepanjang hari karena ingat kakaknya itu. Erika berusaha menghibur Elvan tapi tak ada gunanya. Tirta juga tidak tahu harus bagaimana supaya Elvan bisa lega menerima pertunangan ini.


Sesuai permintaan Elvan, hanya acara sederhana saja yang digelar. Tidak perlu ada acara besar. Tirta meminta pengertian keluarga Cornelius dengan permintaan Elvan. Yang penting Elvan mau bertanggung jawab sudah bagus. Karena dia juga marah dengan tingkah Fara. Bagaimanapun jika Fara menolak, kejadian di hotel itu ga akan terjadi, itu pikir Cornelius, papa Fara.


Fara jadi rajin kontak Elvan. Telpon sehari bisa berapa kali. Suaranya begitu gembira penuh kemenangan. Elvan akhirnya tidak mau balas chat dan tidak juga terima telpon Fara. Gara-gara itu Fara malah datang ke rumah Elvan.


"Kamu tega ya, sama aku. Masak chat ga dibalas. Telpon ga diangkat. Aku ini calon tunangan kamu, Elvan." Fara masuk ke kamar Elvan. Dia duduk di sebelah Elvan.


Elvan hanya menoleh sebentar lalu asyik main game lagi di HP-nya.


"Kamu tetap aja cuek, ya... Tapi mau ga mau kamu harus mau baik sama aku. Aku calon istrimu. Begitu selesai kuliah kita nikah, ya..." Fara merangkul pundak Elvan.


"Lepaskan tanganmu," geram Elvan.


"Kenapa sih? Pacaran tuh yang mesra, dong," tandas Fara.


"Aku mau minum." Elvan alasan saja. Dia ke dapur ambil minum lalu pergi ke ruang musik dan mengunci diri di sana.


"Hidup seperti apa yang aku jalani nanti? Neraka... ahh..." Elvan memukul kepalanya. Dia berpikir keras bagaimana supaya pertunangan ini batal.


Apa dia kabur saja? Bukankah rumah Pak Karno terbuka untuknya? Kenapa dia tidak pergi saja ke sana? Biar saja semua orang pusing. Dari pada sampai tua dia menderita hidup dengan wanita yang tidak dia cintai. Yang justru menjebaknya seperti ini.


Jadi, pada hari H, hari pertunangan, pagi-pagi sekali Elvan meninggalkan rumah. Masih belum jam 6 pagi. Orang rumah belum bangun. Baru Bi Wanti yang sibuk di dapur. Elvan membawa ransel dengan isi beberapa lembar pakaian saja. Di rumah Pak Karno dia bisa pakai baju Jaka lagi.


Elvan membawa motornya. Dia menyetir sambil melamun. Hatinya tetap saja pedih. Dia sadar lari kali ini juga cara yang salah. Dia menimbulkan masalah baru. Tapi dia tidak terima harus menerima pertunangan dengan Fara seperti ini, karena kesalahan yang tidak pernah dia buat.


Karena melamun, Elvan tidak begitu melihat jalanan. Ketika berbelok di satu tikungan dia hampir bertabrakan dengan seorang pengendara motor yang lain. Untung tidak celaka. Tapi dia berhenti memastikan pengendara motor itu juga tidak terluka.


"Maaf, saya tadi tidak fokus. Apa mas terluka?" tanya Elvan setelah menepikan motornya.


"Tidak. Saya tidak apa-apa." jawab orang itu. "Heii.. Elvan?"

__ADS_1


Elvan kaget orang itu tahu namanya. Elvan coba mengingat. "Ahhh... Hasan?"


"Yaaa... kamu masih ingat ternyata. Apa kabar?" tanya Hasan. Mereka salaman.


"Buruk," jawab Elvan. Hasan memandangi Elvan. Temannya yang ganteng ini memang kelihatan kusut sekali. Seperti orang habis begadang berhari-hari.


"Parah, San," kata Elvan lagi.


"Apa itu sebabnya kamu suka mabuk sekarang?" tanya Hasan.


"Mabuk?" Elvan justru aneh dengan pertanyaan itu.


"Ya... terakhir kali aku lihat kamu mabuk parah. Aku ga percaya kamu berubah jadi kayak gitu. Padahal waktu SMA kamu salah satu siswa terbaik. Apa keluarga kamu bangkrut?" ujar Hasan.


"Kapan kamu lihat aku mabuk? Aku ga pernah minum, kok." Elvan pikir Hasan pasti salah orang.


"Di hotel di Club Bunga. Malam yang ada pesta besar di sana, belum lama ini," kata Hasan.


"Aku kerja di sana, El. Sudah hampir 3 tahun. Hari itu aku shift malam. Pas baru datang, ada cewek memapah pria. Dia kesulitan gitu karena prianya tinggi dan kayak sedang sakit. Aku bantu la. Aku papah sampai kamar, 109. Begitu aku baringkan, aku lihat pria itu ternyata kamu," kata Hasan.


"Hasan... kamu tahu kejadian malam itu berarti?" tanya Hasan.


"Kejadian apa?" Hasan jadi bingung.


"Aku butuh bantuanmu. Sangat mendesak. Harus hari ini. Dan itu ada hubungannya dengan malam di hotel itu. Kalau aku tidak urus hari ini, masa depanku bisa suram dan aku bisa mati muda," kata Elvan.


"Ada apa, sih?" Hasan masih ga paham.


"Ikut aku, akan aku jelaskan semua. Please..." bujuk Elvan.


"Okelah. Hari ini aku off, jadi waktuku longgar," kata Hasan.


Akhirnya Elvan mengajak Hasan mencari tempat tenang untuk bicara. Elvan membutuhkan kejelasan dari Hasan tentang kejadian malam itu.

__ADS_1


"Kamu benar-benar seperti mati. Tidak ada tenaga. Sempat ngomong sesuatu, sih... aku mau pulang, itu yang aku tangkap. Pas sudah aku baringkan, kamu ga bergerak."


"Kau penyelamatku, Hasan. Bisakah kamu ikut aku, jelaskan ke keluargaku soal ini?" pinta Elvan.


"Hm, kamu sekarang yang ikut aku," ajak Hasan.


"Hah? Ke mana?" tanya Elvan.


"Ambil barang bukti," jawab Hasan. Hasan berjalan cepat menuju motornya. Elvan juga ambil motornya.


Ternyata Hasan mengajak Elvan ke Club Bunga. Dia minta ijin ke atasannya untuk cek CCTV pada kejadian malam itu. Hasan ternyata cerdas juga. Dia mencari gambar saat dia membawa Elvan ke kamar. Lalu dia minta dicari video waktu Elvan dan teman-temannya sedang makan. Saat Fara ambil minuman. Minuman apa yang dia pilih. Semua kelihatan jelas.


"Pantas saja kamu kayak mati. Itu alkoholnya lebih 30%. Karena kamu ga pernah minum langsung sudah tepar," kata Hasan.


"Hasan... Hasan.. terima kasih, ya..." Elvan memeluk erat Hasan. "Kalau kamu perempuan sudah aku cium kamu."


"Ihhh... jijay..." kata Hasan sok geli. Elvan tertawa. Akhirnya setelah sekian lama Elvan bisa tertawa.


Elvan melihat jam di tangannya. Hampir setengah 2 siang. Acara tunangan jam 5 sore di rumah Fara. Dia harus agak cepat pulang. Dia ambil HP di tasnya. Puluhan telpon masuk, chat juga. Dari papa, mama, Azka, Farel. Semua bingung mencarinya karena tiba-tiba hilang.


Chat Azka masuk


- kalau kamu ga pulang aku cari kamu, Elvan. Aku bisa cari lokasi kamu.


Elvan langsung mematikan HP-nya.


"Gimana?" tanya Hasan.


"Oke, kita jalan," kata Elvan.


Hasan tersenyum lebar. "Ketemu kamu hidupku terasa hidup. Ini petualangan seru, hee... hee..." Hasan terkekeh.


Keduanya kembali naik ke motor masing-masing dan meluncur menuju rumah keluarga Edgar.

__ADS_1


__ADS_2