Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 45 - Kapan Kamu Pulang?


__ADS_3

Kamar Elvan masih sama seperti saat dia tinggalkan. Erika setiap hari masuk ke sana, menangis dan berdoa untuk anaknya itu. Azka dan Farel juga tidak lagi seceria dulu. Hampir tidak kedengaran lagi canda lepas dari mereka. Ring basket di halaman samping rumah sekali dua kali saja digunakan. Studio musik di rumah juga jarang dipakai Azka dan Farel untuk latihan.


"Kapan kamu pulang, Nak? Rumah ini seperti mati ga ada kamu. Kamu yang suka usil sama Farel. Kamu yang suka ganggu Mama. Kamu di mana sekarang?" Erika mengelus foto Elvan di dinding kamarnya. Senyumnya lebar, menunjukkan ketampanannya. Ada wajah Tirta dan dirinya di sana.


Farel masuk kamar itu, merangkul mamanya. "Ma, Kak El masih hidup, kan?" katanya. Suaranya sendu.


"Iya. Tentu saja. Dia masih hidup," jawab mamanya. Air matanya sudah mengalir. Mata Farel pun sudah basah. Kepalanya menempel di bahu mamanya, air matanya menetes membasahi bahu mamanya.


"Kita tidak boleh putus harap. Oke? Tuhan pasti dengar doa kita." Erika mengelus rambut Farel.


Farel masih memeluk mamanya cukup lama. Erika juga memeluk Farel tanpa bicara. Hati keduanya terasa pedih. Pikiran terbawa ke mana-mana pada semua kenangan bersama Elvan.


*


Di tempat lain di kafe...


"Adis, aku minta maaf, akhirnya rencana pertunangan kita harus ditunda. Padahal semua hampir siap." Azka menyentuh pundak Adista lembut.


"Kak, aku tidak apa-apa. Aku juga sedih dengan semua ini. Aku juga ingin Elvan bersama kita waktu hari bahagia kita," kata Adista. Dia sedih juga, tapi dia sangat paham apa yang dirasakan keluarga Edgar.


"Terima kasih kamu mau tetap di sini, di sisiku." Azka duduk di depan Adista dan menggenggam tangannya.


"Tentu, Kak. Aku akan tetap di sisimu," kata Adista lembut. Dia sangat mencintai Azka. Tidak ada pikiran sekecil apa juga untuk meninggalkan pria tampan dan baik di depannya ini.


Keduanya diam. Terbawa pikiran masing-masing. Sampai kapan mereka akan menunggu? Sudah berbulan-bulan. Tidak ada berita. Setiap bertanya pada pihak kepolisian, masih saja sama, belum ada perkembangan. Sebenarnya mereka bekerja atau tidak?


HP Azka berbunyi. Tirta menelpon.


"Ya, Pa?" kata Azka di telpon.

__ADS_1


"Bisa ke kantor Papa. Ada yang Papa mau minta tolong." Tirta menjelaskan maksudnya menelpon.


"Baik, Pa. Setengah jam lagi aku sampai kantor Papa," ujar Azka.


"O**ke. Papa tunggu. Thank you." Tirta menutup telpon.


"Om baik-baik kan, Kak?" tanya Adista.


"Baik tidak baik, Dis. Dia berusaha tegar. Tapi aku tahu hatinya hancur. Terus saja papa menguatkan kami untuk yakin Elvan akan pulang." Azka berdiri.


"Berangkat sekarang?" Adista memandang Azka yang sudah bersiap pergi.


"Iya, aku tidak mau Papa menunggu. Jam begini jalanan lumayan padat," kata Azka.


"Baiklah... Aku juga kembali bekerja saja sekarang." Adista ikut berdiri.


Azka meninggal kafe dan Adista kembali melanjutkan kerjanya di kantor. Kepergian Elvan membuat semua berubah. Tidak ada keceriaan seperti dulu. Seandainya ini hanya mimpi. Seandainya hari itu tidak pergi camping. Seandainya Elvan tidak usul buat api unggun. Seandainya dia tidak meninggalkan Elvan sendirian. Semua andai muncul di pikiran Azka.


Azka menyetir dengan gamang. Sesekali hilang fokus. Untung otak sudah hafal tuannya ini mau ke mana. Jadi tanpa disuruh dia menuju tujuan yang benar, kantor Tirta.


*


Melati masuk kamarnya di apartemen. Dia ambil gantungan kunci hitamnya. Dia tatap lama, dia perhatikan. Setiap hari dia akan lakukan itu. Untuk mengobati rindunya pada Elvan. Untuk membangkitkan semangatnya menanti Elvan pulang.


Dia bahkan sempatkan pulang di tengah semester menemui Azka, Erika, Tirta dan Farel. Dia memastikan mereka sudah baik-baik saja. Erika sangat sayang padanya. Dia merasakan penuh kelembutan seorang ibu darinya.


"Apa kamu akan terus menunggu Elvan, Mel?" tanya Erika waktu Melati berkunjung.


"Iya, Tante. Saya sudah janji pada Elvan. Saya akan terus menunggu. Elvan pasti pulang," kata Melati.

__ADS_1


"Maaf, Sayang. Maaf, kamu harus mengalami ini." Erika memeluk Melati dan mengecup keningnya dengan kasih yang besar.


Ingat itu Melati kembali menangis. "El, kapan kamu pulang? Air mataku terkuras berbulan-bulan. Ayo, El... pulang..."


Ketika di luar rumah Melati terlihat lebih kuat. Apalagi Ranita dan Alfaro selalu saja punya cara untuk membuatnya tersenyum.


Dia merasa sepertinya Alfaro agak berlebihan akhir-akhir ini. Selalu saja memperhatikan dirinya. Kadang dia rasa risih. Apakah dia mulai ingin mendekati Melati lagi? Tapi kan ada Ranita? Sedang Ranita dia biasa saja. Tidak marah. Entahlah apa itu hanya pikirannya saja.


Melati keluar dari kamar dan mengambil minum di dapur. Dia mendengar ada yang masuk apartemen. Ranita pulang. Tapi kedengaran dia bicara dengan seseorang. Hm, Alfaro juga datang.


"Melati sudah mau dekat sama kamu, Al. Kenapa kamu tidak tembak dia? Mau tunggu apa lagi?" Itu suara Ranita.


Melati menajamkan telinganya. Dia mendengar namanya disebut. Alfaro dan Ranita duduk di ruang depan.


"Aku tahu, Ran. Dia memang tidak pernah nolak aku ajak jalan, aku bantu apa saja. Malah dia kadang yang datang nemuin aku. Tapi aku belum yakin," kata Alfaro.


"Coba saja Al, dia pasti masih ada rasa sama kamu. Kalau kamu di sisinya dia akan bahagia."


Alfaro diam saja mendengar itu.


"Heeiii.. aku ini gadis yang beken. Nanti aku bisa dapat pacar lagi. Yang lebih keren dari kamu," ujar Ranita. Sambil tersenyum lebar.


"Kalian bicara apa?" Melati muncul. Dia mendengar jelas apa yang Ranita katakan.


Alfaro dan Ranita seketika menoleh. Mata mereka terbelalak. Melati di sana. Berdiri dengan wajah marah. Raut mukanya ketus, matanya menatap tajam pada Ranita dan Alfaro bergantian.


"Mel...." ujar Ranita gugup.


"Sekarang jelaskan apa yang terjadi? Apa yang kalian rencanakan?" Nada suara Melati meninggi. Jelas sekali dia emosi.

__ADS_1


"Ehh... aku... Mel..." Ranita bingung harus berkata apa. Dia melirik Alfaro yang juga terlihat bingung.


"Alfaro.. kamu bisa katakan sesuatu?" Mata Melati menatap tajam pada cowok yang juga tak berani bergerak itu.


__ADS_2