
Perjalanan menuju Malang lumayan panjang. Di kendaraan itu Dirga dan istrinya, Fani, bercerita panjang lebar tentang pengalaman mereka sering berpetualang bersama jika ada kesempatan. Tawa mereka tak pernah habis. Canda dan gurauan juga terus saja mereka lepaskan. Elvan tidak merasa lelah, karena semangat kedua orang yang menolongnya itu begitu besar.
Walaupun usia mereka sudah lebih 40 tahun, mereka masih nampak segar, lebih muda dari kelihatannya. Mungkin karena mereka selalu gembira dan tertawa.
"Elvan, kenapa kamu bisa tersesat di hutan? Apa kamu pergi sendiri ke sana?" tanya Fani. Dia memperhatikan Elvan yang bersandar dengan santai di bangku belakang.
"Kalau saya ceritakan saya tidak yakin Pak Dirga dan Bu Fani akan percaya," kata Elvan. "Saya sudah sangat berterimakasih boleh menumpang. Padahal Pak Dirga dan Bu Fani tidak mengenal saya."
"Bagaimana kamu bisa tahu kami tidak akan percaya, padahal kamu belum cerita?" Pak Dirga berkata sambil terus menyetir.
"Hm, Bapak betul. Coba kamu cerita dulu," sahut Fani.
"Selama lebih sepuluh bulan saya hilang ingatan gara-gara jatuh dari jurang. Saya tinggal di rumah penduduk setempat yang sengaja menyembunyikan saya agar bisa menjadi pengganti anaknya yang telah meninggal." Elvan bercerita dengan tenang.
Fani dan Dirga saling memandang. Benar juga anak ini? Apa itu bisa dipercaya?
"Aneh memang. Saya sendiri rasanya juga tak percaya. Tidak masuk akal. Tapi mau bagaimana lagi, itu yang saya alami," lanjut Elvan.
"Tunggu... tunggu dulu..." ujar Fani. "Mas Dirga ingat waktu penjaga hutan yang antar kita pertama datang mengatakan pernah ada kejadian anak hilang?"
Dirga menoleh sekilas pada Fani lalu dia kembali melihat jalanan. "Yang dia bilang, anak itu seperti raib?"
"Apa jangan-jangan itu kamu, Elvan?" kata Fani.
"Raib bagaimana?" Ganti Elvan yang bertanya.
"Mereka bilang tidak bisa lupa peristiwa itu. Karena malam saat anak itu jatuh ke jurang mereka langsung turun mencarinya. Tapi anak itu tidak ada. Besoknya mereka beberapa kali berkeliling hutan, tidak juga ketemu. Sampai ada yang menyimpulkan anak itu dibawa makhluk halus. Karena hilang tak berbekas," cerita Fani.
"Jadi kamu bukan dibawa jin, kan?" tanya Dirga.
Elvan tertawa. "Tidak, Pak. Saya semacam ditawan oleh bapak yang menemukan saya. Dia tidak pernah mengijinkan saya keluar dari pekarangan rumahnya yang memang luas. Dia bilang tidak mau saya tersesat, karena di sekeliling rumahnya memang hanya hutan dan padang luas. Saya sangat percaya padanya. Karena dia begitu baik kepada saya. Mungkin terpicu karena saya tidak ingat apa-apa, jadi saya yakin apa yang bapak itu katakan pasti benar." Elvan menjelaskan.
"Lalu selama itu apa yang kamu lakukan?" tanya Fani.
"Berkebun dan mengurus ternak," jawab Elvan.
"Oya?" Fani hampir tak percaya. "Melihat tampangmu anak gedongan, kamu kasih makan ternak?" Fani tergelak.
"Hee... hee.. kalau ingat itu saya juga heran, kok bisa saya melakukannya. Padahal seumur hidup saya tidak pernah pelihara binatang." Elvan ikut tertawa.
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa kabur akhirnya?" Ganti Dirga yang bertanya.
"Ibu yang menolong saya kabur. Sejak awal dia tidak begitu setuju bapak menyembunyikan saya di sana. Tapi dia tidak bisa memberitahu orang lain soal saya. Karena suaminya bisa kena masalah. Dan tidak bisa menyuruh saya pergi karena saya masih belum ingat apapun dan tidak tahu mau ke mana kalau keluar dari rumah," jelas Elvan.
"Setelah saya ingat diri saya, Ibu mengatur supaya saya bisa pergi. Karena Bapak berencana menikahkan saya dengan anaknya yang perempuan. Dan Ibu tahu saya tidak mungkin menikahi anaknya," lanjut Elvan.
"Kenapa? Bagus juga kan bisa dapat istri? He... he..." Dirga tertawa.
"Ingatan saya kembali, justru karena saya ingat janji saya sama cewek," ujar Elvan sambil tersenyum lebar.
"Oo... kamu ada pacar?" celetuk Fani. "Wah, kekuatan cinta luar biasa, yaa..." Fani dan Dirga tertawa.
Dalam hati Elvan berbisik, bisa lebih ngakak kalau tahu dia ingat gara-gara nonton sinetron. Hee.....
Tidak terasa perbincangan itu membawa mereka sampai ke kota Malang.
"Pak, ini sudah di Malang. Bapak akan lanjut perjalanan ke Kediri. Jadi saya rasa saya sebaiknya turun di..."
"Tunjukkan alamat rumahmu. Aku antar kamu pulang," kata Dirga.
"Ya? Bapak antar saya?" Elvan tak yakin apa yang dia dengar.
"Iya, Pak. Boleh," jawab Elvan cepat. Justru dia senang sekali.
Mobil itu melaju menuju perumahan keluarga Elvan. Jam lima lewat sore itu mereka sampai.
Di dalam rumah Tirta dan Erika sedang berdoa di kamar. Azka baru sampai dari jemput Farel di tempat lesnya.
Mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah, Azka dan Farel balik ke teras melihat siapa yang datang. Mobil yang parkir itu nomornya bukan dari Malang.
Ketika pintu mobil dibuka...
"Kak Elvan pulang!!!" Farel berteriak sekerasnya. Azka juga terbelalak tak percaya. Farel sampai melompat menghambur ke pelukan Elvan. Tangisnya pecah. Dia dekap Elvan kuat sekali. Sampai Elvan merasa agak sesak di dadanya.
Azka juga hanya bisa menangis melihat adiknya itu. Dia memeluk Elvan dari punggung adiknya itu. Dari dalam rumah muncul Bi Wanti, diikuti Erika dan Tirta. Mereka hampir tak bisa bicara. Bahkan tidak bergerak.
Elvan yang menyadari mama papa menatapnya, melepas pelukan Azka dan Farel mendekati orang tuanya. Dia peluk mereka erat. Tangisan Tirta dan Erika pecah. Bi Wanti juga menangis dengan keras.
Dirga dan istrinya menatap haru pemandangan di depan mereka. Tak disangka mereka ikut merasakan kebahagiaan ini. Petualangan mereka kali ini sungguh luar biasa. Lebih dari yang pernah mereka alami sebelumnya.
__ADS_1
"Kamu sehat, Nak?" tanya Tirta. Erika masih menggenggam tangan Elvan. Rasanya tidak ingin dia lepaskan untuk apapun.
"Aku baik, Pa. Aku sehat. Lega rasanya bisa pulang." Elvan tersenyum lebar.
"Siapa mereka?" Tirta menunjuk ke Dirga dan istrinya.
"Om Dirga dan Bu Fani. Mereka mengantarkan aku pulang," kata Elvan.
Dirga dan Fani berjalan ke arah Tirta dan Erika. Mereka menjabat tangan orang tua Elvan.
"Terima kasih banyak. Entah bagaimana kami membalas kebaikan bapak dan ibu." Tirta menjabat tangan Dirga erat.
"Kami hanya mengantar. Tunggu sampai Elvan bercerita tentang pengalamannya selama hilang. Saya saja hampir tidak percaya. Seakan kisah dalam film," ujar Dirga.
"Jika begitu, kita sambut hari bahagia ini. Kita rayakan bersama." Tirta mengajak mereka masuk. "Tolong, jangan menolak."
Dirga menoleh pada istrinya. Fani mengangguk setuju. Mereka masuk dalam rumah. Erika dan Bi Wanti segera memasak di dapur. Sedang di ruang tengah Elvan diinterogasi oleh Tirta, Azka dan Farel. Berulang kali mereka terbengong-bengong, terbelalak, tertawa, dan macam-macam lagi ekspresinya mendengar cerita Elvan.
Kemudian mereka makan malam bersama. Tak lupa diawali doa syukur karena Tuhan sudah mengantarkan Elvan pulang. Selesai makan malam, Dirga dan Fani pamit melanjutkan perjalanan mereka. Lalu ketiga saudara itu berkumpul di kamar Elvan, melanjutkan melepas rindu.
"Bisa saja kita laporkan Pak Karno ke polisi. Dia menyandera kamu itu namanya," kata Azka.
"Aku dijadikan anak, Kak. Bukan disandera." Elvan membetulkan kata-kata Azka.
"Ya, dia sengaja menahan kamu di sana," ujar Azka. "Heii, tunggu. Apa rumah itu dikelilingi pagar bambu yang tinggi? Di pekarangan luas banyak sayuran. Rumahnya lebar, bagian bawah tembok dan bagian atas kayu?"
"Betul, Kak," tandas Elvan. "Kak Azka tahu?" Elvan jadi heran.
"Kami ke sana pada hari ketiga setelah kamu hilang. Aku bertemu bapak itu. Tubuhnya tidak terlalu tinggi tapi tegap. Dia kelihatan sangat kuat."
"Ya, itu Pak Karno," sahut Elvan.
"Dia melihat fotomu. Dia tahu aku mencari kamu ke sana." Azka mengingat kejadian hari itu. "Tak disangka dia yang menyembunyikan kamu."
"Aku paham alasannya. Aku tidak akan melaporkannya, Kak. Dia seorang bapak yang luka kehilangan anaknya. Semisal hari itu aku tidak dia temukan, bisa saja terlambat aku mendapatkan pertolongan," kata Elvan.
Azka terdiam. Mengingat hari itu dia berhadapan dengan Pak Karno, tapi pria itu membohonginya. Ini membuatnya marah. Tapi melihat Elvan sekarang dengan sikapnya ini, dia tahu Elvan baik-baik di sana.
"Hei, kamu tidak kangen Melati?" tanya Azka tiba-tiba.
__ADS_1
Elvan memandang kakaknya.