Janda Tangguh

Janda Tangguh
Tak akan goyah


__ADS_3

Ayu mempersilakan Alice masuk. Walaupun dari tatapannya sudah menunjukkan permusuhan tidak masalah baginya, tetap menanamkan kebiasaan baik pada setiap orang yang berkunjung. 


''Ais, buatin minum untuk mbak nya!'' suruh Ayu mendekati karyawannya tersebut. 


''Baik, Bu.'' Ais bergegas meninggalkan aktivitasnya demi memenuhi perintah sang bos. 


''Ada apa kamu ke sini? Bukankah tadi mas Angga sudah datang menemuimu?'' cetus Ayu tanpa aling -aling. 


Bukan saatnya untuk basa-basi hanya untuk menutupi sesuatu yang akan menghambat pekerjaannya. 


Mata alice mengelilingi setiap sudut ruangan yang dipenuhi barang-barang jualan juga mainan milik Adiba Dan Alifa. 


''Itu dijual juga?'' tanya Alice menunjuk mainan yang berserakan di ruang lain. 


''Tidak, itu mainan anak saya.'' 


''Kamu sudah punya anak?'' tanya Alice cepat seolah menatap Ayu dengan tatapan rendah. 


Ayu mengangguk tanpa ragu. Sedikitpun tak malu mengakui nya. 


''Apa mas Angga gak bilang kalau dia akan menikahi seorang janda yang memiliki tiga anak?'' Sengaja membocorkan statusnya yang tak lain adalah seorang janda demi membuat Alice semakin kepo.


Alice menyunggingkan bibirnya. 


''O, jadi kamu menggunakan anak-anakmu untuk menjerat Angga,'' tuduh Alice sambil melipat kedua tangannya. 


''Terserah apa kata kamu, kalau tidak ada kepentingan lagi silahkan pergi dari sini. Saya masih banyak pekerjaan,'' usir Ayu menunjuk ke arah pintu. 


Alice berdiri dari duduknya memakai tasnya. Menatap Ayu lekat-lekat. ''Aku yakin Angga menikahimu hanya karena kasihan melihat keadaanmu saja, jadi jangan besar kepala.''


Ayu tersenyum tipis dan ikut berdiri hingga keduanya saling berhadapan. 


''Apapun alasan mas Angga menikahi ku, itu bukan urusanmu jadi gak perlu sok tahu, urus saja dirimu sendiri. Jangan sibuk ngurusin orang lain.'' Ayu membantah dengan tegas.


Alice mengeratkan gigi. Kedua tangannya terkepal sempurna, namun tak bisa berbuat apa-apa selain memendam amarah yang membuncah. 


Ais datang membawa segelas minuman dingin. 


''Oh iya, tamunya sudah mau pulang bawa ke belakang lagi,'' suruh Ayu sengaja menyulut emosi. 


Meskipun kesal dengan perbuatan Alice, Ayu tetap memasang wajah santai dan berwibawa. Ia tak mau terbawa oleh suasana. Tidak ada alasan yang membuatnya goyah. Setinggi apapun halangan yang menghadang akan ia runtuhkan demi sebuah kebahagiaan. 


Terpaksa Alice pergi meninggalkan toko dengan membawa kekecewaan. 

__ADS_1


Ada-ada saja, dia pikir aku anak kecil yang bisa dihasut. 


Sudah cukup perjuangan Angga selama ini. Kesetiaannya tak perlu diragukan lagi. Lima tahun adalah bukti yang kuat bahwa pria itu bukanlah seperti yang ucapkan Alice. Kasih sayangnya yang tulus bukan hanya kedok semata. 


Tak berselang lama Alice pergi, Angga datang. Seperti biasa, pria itu langsung masuk tanpa mengucapkan permisi. Menghampiri Ayu yang ada di ruang tengah bersama dengan pegawai. 


''Sibuk gak?'' tanya Angga dari ambang pintu. 


''Gak, tapi gak bisa diganggu.'' Ayu tersenyum kecil saat melihat kekesalan di wajah sang calon suami. 


''Tadi Alice ke sini,'' lanjut Ayu memberi kode pada kedua pegawainya untuk keluar. 


''Ngapain?'' Angga masuk dan duduk di samping Ayu yang sibuk memeriksa pemasukan. 


''Sepertinya dia sangat mencintaimu, sampai bela-belain datang ke sini hanya untuk memisahkan kita. Memangnya sejak kapan kamu mengenalnya?'' tanya Ayu bertubi-tubi. 


Angga menarik napas dalam-dalam. Menceritakan awal pertemuannya dengan Alice sehingga mereka memutuskan untuk menjadi sahabat sekaligus partner kerja. 


''Tapi aku gak ada perasaan apa-apa sama dia. Hanya kamu yang ada di sini.'' Menempelkan telapak tangannya di dada. 


Wajahnya tampak memelas takut Ayu tidak percaya dengan kejujurannya. 


''Aku percaya sama kamu, jadi gak perlu khawatir. Seandainya ada lagi Alice yang selanjutnya aku tidak akan mundur.'' 


''Loh Mas, kamu sudah sehat?'' tanya Ayu antusias. 


Wajah Angga kembali redup karena tak bisa berduaan. Akan tetapi, bukan berarti ia tak suka dengan kedatangan mereka. 


''Sudah, aku bosan di rumah. Tadinya mau jalan-jalan ke taman, tapi Hanan ngajakin ke sini.'' Ikram tersenyum tipis.


Ia pun merasa sungkan sudah mengganggu kebersamaan Angga dan Ayu. 


Semenjak kecelakaan, Hanan memang sering datang ke rumahnya hanya sekedar menemani.


Ayu berbicara kecil dengan Angga. Mereka membahas perihal pernikahan yang belum sepenuhnya selesai. 


Hanan masuk ke kamar untuk mengganti baju sebelum nantinya pergi lagi.


''Bagaimana perusahaan kamu?'' tanya Angga mengalihkan pembicaraan. 


''Alhamdulillah baik, Pak. Semoga saja tahun depan semua hutang saya sudah lunas. Ikram menundukkan kepala.


Malu pada Angga karena belum bisa membayar hutang pada pria tersebut.

__ADS_1


''Gak usah dibayar. Aku sudah menganggapnya lunas. Nanti kalau butuh sesuatu datang saja ke kantor. Tapi, untuk satu bulan kedepan aku belum bisa mengurus pekerjaan.'' 


Ikram mengangguk mengerti. Sebagai calon pengantin baru pasti Angga dan Ayu akan menghabiskan waktu bersama. Terlebih mereka sudah sangat lama menjalin hubungan, pasti di antara keduanya sudah tak sabar untuk saling memiliki. 


''Kamu juga gak usah mengkhawatirkan Hanan dan adik-adiknya karena mereka sudah menjadi tanggung jawab ku penuhnya,'' imbuhnya meyakinkan. 


Sedikitpun tak ingin merepotkan Ikram dan akan merawat mereka seperti anak kandungnya sendiri.


Angga tak hanya menunjukkan kasih sayang nya dengan uang. Namun, ia juga sering meluangkan waktu untuk ketiga anaknya. Sesibuk apapun pekerjaannya tetap mementingkan mereka jika ingin bertemu. 


''Maaf Bu Ayu, apa kita bisa bertemu sekarang?''


Ayu membaca pesan masuk dari nomor yang tak dikenal. 


''Ini siapa ya?'' balas Ayu dengan pesan teks. 


''Saya pelanggan Ibu yang waktu itu memesan seragam kantor. Maaf ini nomor baru saya.'' 


Banyak sekali yang memesan seragam kantor di toko Ayu hingga dia tak banyak tanya dan langsung menyetujui. 


''Dimana?'' tanya Ayu memastikan antusias.


''Di cafe Lorengga.''


Ayu merapikan hijab lalu berdiri dari duduknya. 


''Maaf Mas, aku harus pergi ada klien yang ingin  bertemu,'' pamit Ayu pada Angga. 


Angga ikut berdiri. ''Aku antar,'' jawabnya cepat. 


''Gak usah, pasti kamu capek seharian ini sudah mengurus pekerjaan,'' tolak Ayu dengan lembut. 


Namun tidak bagi Angga, ia tetap kekeh dan akan mengantar Ayu ke manapun pergi. 


''Oh ya Mas, tolong jaga anak-anak sebentar ya, aku pergi dulu,'' pinta Ayu pada Ikram.


Pria itu mengangkat kedua jempolnya tanda setuju. 


Mobil melesat dengan kencang. Nama cafe Lorengga memang tak asing dan sudah sangat tenar, namun lokasinya lumayan jauh dari toko dan melewati beberapa tempat sepi hingga memakan beberapa waktu. Terlebih, hari sudah mulai berganti dengan malam membuat Angga harus ekstra hati-hati.  


''Namanya siapa sih?''


Ayu menepuk jidatnya. ''Aku lupa.'' Ia merogoh ponselnya lagi, namun harus menelan kekecewaan karena tidak ada signal. 

__ADS_1


''Ya sudah lain kali kamu harus memastikan nya lebih dulu sebelum datang,'' tutur Angga. 


__ADS_2