
Masih di acara yang pertama. Rona bahagia terpancar di wajah semua orang yang hadir di pesta pernikahan Ayu dan Angga. Sejenak menyembunyikan masalah yang menerpa.
Kedua mempelai pun semangat menyalami tamu yang silih berganti naik ke pelaminan. Mereka hanya bisa mengukir senyum saat dibanjiri ucapan selamat dan doa dari mereka yang hadir.
Tak ubahnya yang lain, Ikram pun mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Bahkan ia sempat berpelukan dengan Angga beberapa menit, dan itu menjadi pusat perhatian bagi mereka yang sudah saling mengenal keduanya.
''Semoga kamu juga mendapatkan pengganti yang lebih baik lagi,'' doa Angga untuk Ikram.
''Terimakasih, Pak.''
Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Kini hanya ada saudara karena tersambung oleh anak-anak.
Ayu menundukkan kepala, namun tetap tersenyum. Kini ia sudah menjadi milik orang, itu artinya harus menjaga pandangan dari siapapun termasuk ayah dari anak-anak nya tersebut.
''Kamu tenang saja, nanti malam aku akan menjaga anak-anak. Biarkan mereka tidur di rumah dengan Rehana,'' ucap Ikram pada Ayu.
''Maaf Mas, merepotkan.''
''Gak papa, kamu nikmati saja bulan madu mu dengan Pak Angga.''
Saran yang cukup bagus menurut Angga yang saat ini sudah merindukan momen itu. Seandainya ada waktu sedikit saja ke kamar, pasti ia akan mencicipi sesuatu yang belum pernah dirasakannya. Namun sayang, mereka harus menunggu waktu beberapa jam lagi untuk melakukan itu.
Ikram menghampiri ketiga anaknya yang berada di tengah keluarga dari Angga.
''Kalian sudah makan?'' tanya Ikram duduk di samping Adiba.
''Baru diambilin sama Erlina. Kami di sini akan menjaga anak-anakmu dengan baik," jawab tante Siwi yang duduk tak jauh dari Ikram.
''Kamu belum menikah lagi?'' tanya om Surya.
Ikram tersenyum kecut.
Ia memang sudah hampir tiga tahun menduda, namun belum ada wanita yang mampu menggugah hatinya. Seakan ingin menyendiri untuk menghilangkan trauma akibat kegagalannya kedua kali.
''Masih nyaman sendiri, Om. Kayaknya aku mau mengurus anak-anak dulu.''
Hanan menepuk pundak sang papa layaknya seorang sahabat. Umurnya yang sudah dewasa memang kerap kali ikut bersikap dewasa.
''Papa harus segera menikah, kalau gak bisa mencari calon istri, aku bisa nyariin. Biar ada yang ngurus kalau mau kerja,'' ujar Hanan menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
Semua yang ada di ruangan tertutup itu bergelak tawa mendengar ucapan absurd Hanan.
''Gak semudah itu, istri bukan barang. Jadi gak bisa dicari, dia akan datang sendiri bila Allah memang sudah mempertemukan.'' Om Surya menimpali.
Hanan tersenyum malu. Ia yang belum pernah menjalin asmara dengan seorang gadis ternyata salah menilai.
''Permisi.'' Erlina datang membawa makanan di tangannya. Diikuti wanita cantik yang juga membawa makanan.
Ikram mengerutkan alisnya saat melihat wanita itu lagi.
''Makasih, Kak Mel. Gabung di sini saja, oma kan sudah aman di kamar, '' Ajak Erlina menarik tangan Melati.
Melati tersenyum kikuk. Mereka memang bukan orang lain, tapi karena jarang bertemu membuatnya canggung.
''Gak usah, takut ganggu.'' Matanya berhenti pada sosok Ikram yang mulai menyuapi Adiba.
Bukan nya itu anak-anak mbak Ayu. Kenapa mereka mirip laki-laki itu? Jangan-jangan __
''Duduk, Kak!'' Suara Erlina membuyarkan lamunan Melati yang hampir menebak sesuatu.
Hanya ada satu tempat kosong, yaitu di samping Ikram. Terpaksa Melati duduk di sana.
''Yang banyak kuah nya, Pa,'' protes Adiba tak terima.
''Kenalkan, Mel. Ini namanya Ikram, dia mantan suami Ayu.'' Tante Siwi menunjuk Ikram.
Pantas saja mirip, ternyata dia mantan suami mbak Ayu.
Melati menangkup kedua tangannya dan tersenyum menyapa.
''Melati,'' ucapnya menyebutkan nama.
''Ikram,'' jawab Ikram singkat.
''Dan yang ini mbak Harini, kakaknya mas Ikram.'' Menunjuk Harini yang duduk disebelah Hanan.
Melati menghampiri wanita itu dan memeluknya.
''Tadi kami sempat bertemu di depan. Jadi sudah saling kenal,'' ucap Harini melepaskan pelukannya.
__ADS_1
''Ini undangannya berapa sih, Mas? Kok gak selesai-selesai, aku cepek,'' keluh Ayu dengan suara lemah.
''Kalau gak salah lima ratus orang, tapi gak tahu juga,'' jawab Angga hanya mengira-ngira.
Ia menyelami tamu dengan sisa tenaga yang ada. Padahal, ini baru pesta pertama, namun sudah tak kuat. Apalagi nanti yang kedua, ketiga. Ternyata berat juga resiko menjadi istri seorang Angga.
Bagaimana dengan nanti, mana mungkin aku sanggup berdiri.
''Mas, apa aku boleh duduk?'' pinta Ayu mengiba.
''Duduk saja, pasti mereka juga paham kalau kamu capek.'' Angga memanggil pelayan dan memintanya untuk mengambil minum.
Aku harus kuat, kasihan mas Angga. Ini adalah acara penting bagi dia. Jangan hanya karena aku jadi kacau.
Ayu kembali berdiri. Bagaimanapun juga akan bertahan demi menjaga image sang suami. Terlebih tamu undangan adalah keluarga dan orang-orang penting.
Hampir lima jam berada di pelaminan, akhirnya pesta pertama usai. Ikram membawa anak-anak jalan-jalan, sedangkan Ayu dan Angga langsung ke kamar yang sudah disiapkan.
''Acaranya berapa jam lagi, Mas?'' tanya Ayu duduk di tepi ranjang.
''Dua jam lagi, kamu tidur saja. Nanti aku bangunin.'' Angga menghampiri Ayu. Mengangkat dagu wanita itu hingga netra keduanya saling bertemu.
Jangan-jangan mas Angga mau melakukan itu sekarang.
Ayu menelan saliva. Sebagai wanita yang pernah menikah, ia tahu bahwa pria yang saat ini ada di depannya itu memendam hasrat yang mendalam. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa selain menerima seandainya itu bakal terjadi.
Ada sesuatu yang hadir di tengah keheningan. Romansa cinta yang menggebu mampu membuat mereka terhanyut oleh suasana. Ruangan yang cukup luas dan indah itu menjadi saksi bisu, dimana pertama kali Angga bebas menyentuh Ayu.
''Aku boleh membuka jilbabmu, kan?'' tanya Angga penuh harap.
Ayu melengos. Menghindari tatapan Angga yang tak bisa diartikan. Mengangguk pelan sebagai tanda mengizinkan.
Satu persatu aksesoris terlepas. Angga melakukannya dengan sangat baik dan teliti. Sedikitpun tidak menyakiti ataupun membuat sang istri meringis. Hingga kini tinggal hijab terakhir.
Angga tersenyum lagi. ''Ini seperti sebuah mimpi, Sayang. Aku gak menyangka bisa menikmati seluruh tubuhmu dengan bebas.''
Ayu terdiam menahan dadanya yang semakin bergemuruh. Terlebih wajah Angga yang sangat dekat membuatnya grogi.
Angga melanjutkan aksinya. Ia membuka satu-satunya penutup aurat sang istri hingga kini bisa melihat seluruh wajah wanita itu dengan jelas, bahkan mahkota hitam yang masih terikat itu nampak gamblang.
__ADS_1
Tak berhenti disitu, Angga juga melepas ikatan rambut Ayu sehingga terurai panjang.
Ternyata dia lebih cantik dari yang aku kira.