Janda Tangguh

Janda Tangguh
Penjelasan Angga


__ADS_3

Angga merapikan jas yang sedikit kusut karena ulah Adiba. Membersihkan meja kerjanya. Menumpuk map dan meletakkan di lemari. Memungut bungkus jajan. Sesekali menatap ke arah pintu yang masih tertutup rapat. 


"Semoga mama gak curiga."


Suara ketukan pintu membuat Angga terkejut. Berkali-kali mencoba tersenyum  lalu bergegas membukanya. 


"Mama…" sapa Angga mencium punggung tangan sang Mama. 


Tidak ada jawaban, mata bu Winda menyusuri ruangan Angga yang nampak sepi. 


"Masuk, Ma!" Menggiring bu Winda ke sofa lalu meminta cleaning service untuk membuatkan minum, bahkan sikapnya kali ini berbanding balik dengan tadi pagi yang cuek. 


"Mama mau apa ke sini?" tanya Angga mendekati bu Winda dan duduk di samping nya. 


"Mama mau mengenalkan kamu pada seseorang," ucapnya tegas. Meletakkan tas tangannya di atas meja sembari menatap ke arah pintu. 


"Selamat pagi!" Suara lembut diiringi ketukan terdengar membuat Angga menoleh. 


Bu Winda tersenyum melambaikan tangannya ke arah seorang wanita yang berdiri di ambang pintu. 


"Sini, Sayang," ucapnya kemudian. 


Angga terdiam, ia sedikit menjauh dari bu Winda karena mencium bau-bau perjodohan telah tiba. 


"Perkenalkan ini anak tante, namanya Angga. Dia adalah pemimpin di perusahaan ini." Bu Winda menepuk paha Angga. 


"Ga, kenalkan ini Nara. Dia anaknya tante Ruli." Bu Winda bergantian memperkenalkan gadis itu pada Angga. 


"Namaku Nara." Mengulurkan tangannya ke arah Angga. 


"Angga," jawab Angga tanpa menerima uluran tangan Nara. 


"Aku sibuk." Angga berdiri dari duduknya lalu berjalan ke arah meja kerja, namun langkahnya berhenti saat melihat sepatu Adiba di bawah kolong meja. 


Gawat, kalau sampai mama tahu pasti dia marah. 


Melirik ke arah bu Winda yang asyik bercakap dengan Nara. Itu adalah  kesempatan  bagus untuk Angga. Kakinya segera  menendang sepatu mungil itu ke arah lemari. Setelah memastikan tak terlihat ia kembali melanjutkan langkahnya menuju meja kerja. 

__ADS_1


"Hari ini mama akan mengajak kamu makan siang dengan Nara," kata bu Winda. 


Angga membuka laptopnya. Kemudian menoleh lagi. "Gak bisa, Ma. Aku sibuk, lain kali aja," tolak Angga serius. 


"Jangan banyak alasan, pokoknya mama tunggu di restoran depan." Bu Winda dan Nara keluar dari ruangan itu. Wajahnya tampak kesal mendengar penolakan sang putra. 


Setelah punggung bu Winda dan Nara menghilang dibalik pintu yang tertutup rapat, Angga pun menutup laptopnya lagi. Berjalan pelan membuka pintu sedikit lalu menyembulkan kepalanya keluar. Memastikan bahwa bu Winda benar-benar pergi dari kantor. 


Menghela napas panjang sembari mengusap dadanya. 


"Aku akan memanggil Ayu." Angga keluar dari ruangannya beralih ke ruangan Riska, sang sekretaris. Menghampiri Ayu yang duduk manis sambil menyuapi Adiba makan. 


"Mama kamu sudah pulang?" tanya Ayu ketus. 


"Sudah, kita sudah aman." Angga mencoba meraih tangan Adiba, namun segera di tepis oleh Ayu. 


Riska yang masih ada di tempat itu pura-pura tidak melihat mereka berdua. 


"Kita harus bicara." Ayu keluar lebih dulu diikuti Angga dari belakang. Dilihat dari sikap nya, wanita itu memendam amarah. 


"Kenapa kamu menyembunyikan aku saat mama mu datang?" tanya Ayu tanpa basa-basi. 


Angga membisu, ia bingung mau menjawab apa. Di satu sisi tidak ingin membohongi Ayu, namun ia juga tak mungkin mengatakan yang sejujurnya. Takut, Ayu akan mundur dan menghindarinya. 


"Jawab, Ga! Kenapa kamu menyembunyikan aku saat mama mu datang?" tanya Ayu yang kedua kali dengan mata berkaca-kaca. 


"Aku __" Angga tak sanggup melanjutkan ucapannya, ia tak kuat melihat kesedihan di wajah Ayu. Hatinya bak diremas ketika orang yang disayang berlinang air mata. 


"Aku sudah tahu jawaban nya. Terimakasih atas kebaikan mu. Mulai sekarang jangan lagi kamu datang ke rumahku. Jangan dekati anak-anak." Suara Ayu semakin pelan. Tak bisa membayangkan jika itu terjadi, pasti ketiga anaknya akan kecewa. 


Angga menggeleng, mana mungkin ia sanggup melakukan itu. Ia sudah terlalu larut dalam alunan cinta yang menggebu. Jangankan untuk sehari, sedetik pun tak mampu berpisah dari anak-anak dan wanita yang saat ini berdiri di depannya. 


"Sebenarnya ini bukan karena mama gak setuju, tapi dia belum mengenalmu," jelas Angga meyakinkan. 


"Lalu kenapa kamu tidak mengenalkan aku padanya?" bantah Ayu dengan suara tinggi. 


Adiba yang ada di gendongan mencengkram erat lengan sang mama sembari menatap Angga. Seolah ia melihat pertengkaran seperti kala itu. 

__ADS_1


"Jangan keras-keras, Yu. Kasihan Adiba." Angga memelankan suaranya. 


Ya Allah, Ga. Aku gak tahu harus bicara apa sama kamu. Ini sangat membingungkan bagiku. Disaat aku marah pun kamu masih sabar dan berkata lembut. 


Ayu tak bisa berkata apa-apa melihat sikap manis Angga. Seolah ia ikut hanyut dalam gelora kasih yang diberikan pria itu. 


"Sini, biar aku yang gendong Adiba." Meskipun hatinya kalut, Angga sekuat tenaga meredam emosi yang menjalar. Mencoba mendinginkan hati Ayu. Tak  ingin menyakiti wanita itu hanya dengan masalah kecil. 


"Kita bicara baik-baik. Aku akan menjelaskan semuanya." Menggiring Ayu ke sofa. 


Suasana sudah lebih tenang. Ingin sekali Ayu pergi dari kehidupan Angga, namun ia sudah terlanjur memberi sebuah harapan pada pria tersebut. 


"Sekarang apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Ayu lirih. 


Angga menatap manik mata Ayu dalam-dalam. "Aku menyembunyikan kamu dari mama bukan karena dia tidak setuju dengan hubungan kita, tapi ini bukan waktu yang tepat." Berhenti sejenak menghela napas. 


"Tapi kamu bisa mendapatkan perempuan yang lebih muda dan cantik dariku, Ga. Pasti banyak yang menyukai mu." 


Angga mendaratkan jarinya di bibir Ayu. Ia tak ingin terus-menerus tenggelam dalam suasana yang menyebalkan seperti ini, jiwa lawaknya sudah meronta-ronta mencari candaan. 


"Kamu yang terbaik, Nyonya. Jangan pernah berbicara apapun, apalagi membahas orang lain. Lebih baik kamu diam, tungguin aku kerja. Karena setelah ini kita akan menjemput Alifa di sekolah."


Angga mendudukkan Adiba lalu bergelut kembali dengan pekerjaannya, hanya dengan begitu Ayu akan berhenti menyalahkan diri sendiri.


Hampir satu jam Ayu duduk menuruti permintaan Angga, Adiba menguap pertanda bocah itu ngantuk.


Angga yang sadar akan hal itu memanggil salah satu pegawai kantor untuk datang.


Seorang wanita berseragam biru menyapa Angga dengan ramah.


''Kamu bersihkan kamarku. Anak dan calon istriku ngantuk,'' ungkapnya yang membuat Ayu mengernyitkan dahi.


Lagi-lagi Angga meruntuhkan hatinya yang sedikit mengeras karena kejadian tadi.


''Selamat tidur ya, Sayang. Nanti kalau sudah selesai aku bangunin. Tapi kalau kamu ngantuk banget, aku sendiri yang jemput Alifa.''


Sedikitpun Angga tak memberi celah pada Ayu untuk bicara. Bahkan, wanita itu bagaikan burung yang terperangkap dalam sangkar emas saat berada di dekat pria itu.

__ADS_1


__ADS_2