Janda Tangguh

Janda Tangguh
Masakan khas


__ADS_3

Ayu memberanikan diri datang ke rumah Angga. Ia tahu pasti bu Winda tidak akan menyambutnya dengan baik, namun kesehatan wanita itu lebih penting dan harus dijaga.


Ada mobil mewah terparkir di halaman. Terdengar juga suara tawa menggelegar. Sepertinya di rumah memang ada tamu yang membuat Ayu ragu untuk masuk ke dalam. 


''Aku gak papa direndahkan, tapi jika ada orang lain aku gak bisa. Lebih baik aku pergi.'' 


Baru saja memakai helm, bu Winda keluar dan melambaikan tangan ke arah nya. 


Ayu turun lagi dan menghampiri Bu Winda yang ada di teras. 


"Kebetulan sekali kamu ke sini, tolong buatin minum untuk tamu tante, bibi dan yang lain lagi sibuk membuat makanan.'' 


"Baik, Tante,'' Ayu menerimanya tanpa banyak bicara.  


Baginya itu adalah perintah yang wajib dijalankan.  


Bukan apa-apa, bu Winda adalah ibu dari orang yang berarti dalam hidup Ayu. Namun, ia menganggap itu adalah perintah orang tua pada anaknya.


Ada beberapa orang di ruang tamu. Ayu hanya melihatnya dari jauh tanpa menoleh ke arah mereka yang sibuk bercakap.  


Ayu meletakkan tas nya lalu membuat tiga minuman dan memotong kue yang ada di meja makan.  


Memangnya siapa itu, sepertinya bukan Lili? Perempuan mana lagi yang akan dijodohkan dengan mas Angga. 


Ah, jika mengingat nama itu Ayu kesal plus jengkel. Untuk hari ini tidak mau membayangkannya lagi. 


"Nanti sekalian kamu masak ya!'' perintah Bu Winda yang baru datang.  


"Baik, tante,'' jawab Ayu tanpa protes. Ia menghubungi bu Ninik untuk menjaga anaknya. 


Ayu merapikan penampilannya lalu keluar membawa minuman. Ia membungkuk ramah. Menyapa lalu meletakkan minumannya di atas semua. 


"Mbak Yu gak usah telepon Angga, nanti dia malah gugup.'' 


Ayu menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara yang agak familiar itu. Ingin sekali ia mendongak menatap pria yang duduk di dekatnya, namun keberaniannya sangat kecil hingga ia hanya bisa merasakan getaran sang pemilik suara. 


"Gak. Dia sudah ada di perjalanan kok,'' ujar bu Winda santai. 


"Memangnya Angga biasanya pulang jam berapa mbak?'' 


Lagi-lagi Ayu seperti mengenal suara itu, namun ia lupa. 


Apa aku pernah mengenal keluarga Mas Angga, atau __


Ayu kembali ke belakang dengan berjuta pertanyaan.  


Ia mengintip menatap punggung seseorang yang menurutnya tak asing. 

__ADS_1


Mungkin ini cuma perasaanku saja. 


Ayu segera mengambil celemek dan memakainya. Ia bergegas menjalankan perintah dari bu Winda sebelum pulang ke rumah. 


Kali ini Ayu memasak makanan khas yang dulu sering dihidangkan keluarganya saat ada pertemuan. Selain rasanya yang enak juga tak membutuhkan banyak biaya. Dan Ayu yakin pasti keluarga Angga akan menyukainya. 


"Menurut kamu Angga itu bagaimana?'' tanya Bu Winda pada Elisa yang duduk di samping nya. 


Elisa tersenyum malu-malu. Meskipun umurnya sudah menginjak dua puluh lima tahun, ia belum pernah dekat dengan pria dan itu membuatnya tak bisa menilai. 


"Kak Angga itu baik, dia penyayang dan juga sabar. Itu dulu sih, gak tahu yang sekarang. Mungkin saja dia sudah berubah," jawab Elisa seperti yang ia ketahui.


"Masih sama kok."


Perbincangan itu terdengar renyah di telinga Ayu. Meskipun dari kejauhan ia masih bisa mendengar meskipun tak sepenuhnya. 


Tin Tin


Bunyi klakson terdengar. Ayu membuka jendela memastikan siapa yang datang. 


Ternyata mas Angga, kenapa dia gak mengajak Rani pulang. Takut diomelin tante Winda.


Angga masuk seorang diri, itu artinya orang itu pulang tanpa wanita genit itu. 


Jika biasanya Angga langsung ke kamar, kali ini pria itu ke ruang makan setelah menatap tamunya. 


"Bibi...'' teriak Angga sembari melepas sepatu. 


"Bibi gak ada,'' jawab Ayu dari dapur. 


"Aku haus ambilin minum!'' balas Angga teriak. 


Ayu membuka lemari pendingin tanpa melepas pisau di tangannya ia mengambil satu gelas air putih lalu membawanya ke ruang makan. Memberikannya pada Angga yang nampak lelah. 


"Lain kali bisa ambil sendiri jangan merepotkan orang lain,'' tutur Ayu ketus. 


Angga meneguk minumannya tanpa protes pada Ayu yang sudah berani ngomel. Ia menganggap itu hanya kicauan burung yang melintas. 


"Aku lapar, Bi," teriak Angga lagi. 


"Sudah dibilangin. Bibi pergi masih aja rewel,'' gerutu Ayu sembari memasukkan potongan bawang ke dalam wadah dan dipindahkan ketempatnya. 


"Ternyata kamu di sini?'' seru bu Winda menghampiri Angga." Elisa mau bertemu dengan kamu.''


"Aaaww…."


Tiba-tiba suara Ayu merintih membuat Angga panik dan segera ke belakang. 

__ADS_1


"Kamu kenapa?" Tanya Angga 


Angga berdiri di belakang Ayu yang berjongkok sambil membalut tangannya dengan ujung jilbab.  


"Sini aku lihat!'' Angga ikut berjongkok sementara bu Winda hanya melihat mereka dari ambang pintu. 


Angga meraih tangan Ayu secara paksa lalu membukanya kemudian mencuci jarinya yang dipenuhi dengan darah.  


"Lain kali kalau motong jangan melamun. Untung ada aku kalau gak siapa yang akan menolongmu?'' cetus Angga.


Ayu menarik tangannya lagi menolak bantuan dari Angga.  


"Aku tidak butuh bantuanmu. Dimana kotak obatnya?'' tanya Ayu menahan perih yang mulai menjalar.  


Angga tak menjawab, ia pergi dan kembali membawa kotak yang diinginkan Ayu. Mengobati tangan wanita itu dengan pelan, takut kesakitan. 


"Ini rumahku, aku gak mau kamu terluka di sini.'' Angga melepaskan tangan Ayu yang sudah dibalut dengan plester lalu keluar. 


Sedangkan Ayu melanjutkan masaknya yang hampir selesai. 


Hampir dua jam, akhirnya Ayu sudah selesai masak, ia mencari seseorang namun tidak ada satupun di sana, sedangkan bu Winda dan Angga ada di ruang tamu.


Gadis itu namanya Elisa, seandainya dia __, Ah, sudahlah ngapain aku mengingatnya lagi.  


Ayu keluar dari pintu belakang lalu pulang tanpa pamit.  


Angga yang mendengar suara motor segera keluar. 


Ternyata Ayu sudah pulang, itu artinya dia sudah selesai masak. 


Angga keluar dari arah berbeda. Ia masuk lewat pintu dapur. Benar saja, ternyata Ayu meninggalkan pesan di meja dapur.  


Selamat makan, semoga semuanya suka dengan masakanku, Kalau ada yang kurang bisa komplain.


Angga memanggil keluarganya, karena ia pun sudah sangat lapar. Terlebih saat mencium aroma masakan Ayu perutnya meronta-ronta meminta jatah. 


"Wah, ternyata asisten rumah tangga mbak masak makanan kesukaanku,'' ucap Om Surya dengan mata berbinar-binar. 


"Kamu suka?'' tanya Bu Winda menyiapkan makanannya. 


"Ini masakan khas keluarga kami Mbak. Kalau kami ngumpul pasti ada makanan seperti ini,'' ujarnya menjelaskan.  


Angga langsung melahap makanannya tanpa banyak bicara. 


Baru satu sendok memasukkan makanan itu ke dalam mulut, Om Surya langsung teringat dengan seseorang yang tak asing. Begitu juga dengan Siwi.


"Di mana asisten rumah tangga, Mbak Yu?" tanya Om Surya.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu bibi masuk dari pintu depan.


Ternyata aku salah orang.


__ADS_2