Janda Tangguh

Janda Tangguh
Kemungkinan


__ADS_3

''Astagfirullah hal adzim, Bu Ayu.'' Ais yang baru saja masuk terkejut melihat Ayu duduk bersandar di dinding dengan mata terpejam.


Kedua tangannya gemetar, bahkan sekujur tubuhnya ikut lemah melihat kondisi sang bos yang tak berdaya. Kakinya melangkah berat lalu berjongkok.


''Bangun, Bu,'' ucap Ais dengan bibir bergetar. Menepuk pipi Ayu dengan pelan.


Tidak ada respon sepertinya Ayu memang benar-benar pingsan.


''Aku harus menghubungi pak Angga.'' Merogoh ponselnya yang ada di saku kemeja kemudian mencari nomor Angga. Saking paniknya hingga ponsel itu beberapa kali terjatuh. Untung Ais masih sedikit tenang dan akhirnya menemukan nomor tuannya.


Tersambung, namun tak diangkat, Ais semakin takut. Terpaksa ia menghubungi beberapa pegawai kantor untuk segera datang membantunya.


''Cepat ke ruangan bu Ayu. Beliau pingsan,'' ucap Ais tergesa.


Tak lama kemudian tiga orang datang. Mereka mengangkat Ayu dan membaringkannya di ranjang.


''Kamu sudah menelpon pak Angga?'' tanya salah dari mereka yang ikut cemas. Pasalnya, wajah Ayu terlihat pucat dan membiru.


''Sudah, tapi tak diangkat, bagaimana dong? Apa aku telpon bu Winda?'' Ais meminta pendapat dari yang lain.


Mereka tak mungkin menghubungi Ikram yang saat ini berbulan madu. Sedangkan anak-anak pasti di sekolah.


''Sini biar aku telpon lagi.''


Nita merebut ponsel milik Ais dan kembali menghubungi nomor Angga.


Ternyata benar, tersambung tapi tak diangkat. Akhirnya mereka memutuskan mengirim pesan.


Pak, ibu pingsan cepat ke knator.


Begitulah kalimat singkat yang dikirim pada Angga.


''Selamat pagi, Pak,'' sapa karyawan saat melihat Angga baru turun dari mobil.


''Pagi,'' jawab Angga singkat, melihat layar ponselnya yang tadi berkali-kali berdering.


''Ais, kenapa dia menelpon sampai sepuluh kali?''


Angga tak peduli itu, ia membuka beberapa pesan masuk, salah satunya juga dari Ais.


Tas yang ada di tangannya jatuh seketika setelah membaca pesan singkat yang sedikit ada typo itu. Ia bergegas keluar dari kantornya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Kenyataan itu seperti hantaman ombak besar hingga membuatnya terlempar ke pesisir pantai. Separuh jiwanya terasa hampa, tak bisa membayangkan kondisi sang istri saat ini.


Semoga dia hanya masuk angin.

__ADS_1


Hati Angga semakin kalut saat terjebak kemacetan panjang. Menghubungi Ais dan meminta wanita itu menelepon dokter, meski begitu ia pun berusaha untuk segera tiba.


Ya Allah, lindungilah istriku dari segala mara bahaya.


Berkali-kali Angga membunyikan klakson, hatinya makin tak karuan. Bayang-bayang Ayu terkapar melintas di ingatannya.


Aku harus cari jalan lain.


Angga turun dari mobil. Menoleh ke arah kantor Ayu yang lumayan dekat. Kayak di film-film. Ia berlari menyusuri rute jalan untuk segera tiba di tempat sang istri.


Hampir lima belas menit, akhirnya ia sudah menginjakkan kakinya di halaman. Angga bergegas masuk menuju ruangan Ayu.


''Bagaimana keadaan istri saya?'' tanya Angga pada beberapa orang yang berdiri di depan ruangan Ayu.


Mereka terdiam dan menggeleng membuat hati Angga berkecamuk. Ia masuk dan langsung berhamburan memeluk sang istri yang berbaring masih tak sadarkan diri. Sedangkan ada beberapa orang menjaganya.


''Kenapa dokternya belum datang?'' Angga menggenggam tangan Ayu dengan erat.


Belum sempat menjawab, wanita ber jas putih datang. Dia membawa perlengkapan medis diikuti seorang suster dari belakang.


Semua karyawan keluar memberi ruang pada dokter untuk lebih leluasa saat memeriksa.


''Maaf Tuan, tadi macet,'' ucapnya merasa bersalah.


Angga berpindah posisi mengizinkan dokter memeriksa tensi darah Ayu.


''Maaf saya harus membukanya.'' Menyingkap hijab Ayu dan memeriksanya.


''Detak jantung nya juga normal.'' Beralih ke perut. Sedikit lama dan sesekali menatap Angga yang penuh kecemasan.


Mengetuk-ngetuk dengan jarinya di sisi kiri dan kanan.


''Bu Ayu baik-baik saja, mungkin hanya kelelahan. Sudah berapa bulan tidak menstruasi?'' tanya dokter antusias.


Angga menggeleng pelan. Ia tak pernah tahu, namun beberapa kali Ayu memang tidak mau berhubungan dengan alasan datang bulan.


''Saya lupa,'' ucap Angga singkat.


Dokter itu tersenyum tipis kemudian memberikan tespeck pada Angga.


''Semoga ini bisa membantu menjawab. Lebih utama nya dilakukan saat bangun tidur tapi jika buru-buru, gak papa langsung dipakai setelah bu Ayu sadar, silahkan di coba.'' Tersenyum lagi, ''semoga positif.''


Angga hanya membolak-bolikkan benda kecil nan panjang itu. Ia mulai mencerna setiap ucapan dokter.


''Makasih, Dok,'' ucap Angga tanpa pindah dari tempatnya.

__ADS_1


''Sama-sama, Tuan. Permisi.'' Dokter itu berlalu meninggalkan Angga yang masih dibalut rasa gelisah.


''Ais...'' Angga memanggil sang asisten yang berdiri di depan pintu.


Ais menghampiri Angga yang masih memegang tespeck dari dokter.


''Bapak membutuhkan sesuatu?'' tanya Ais serius.


''Apa ini?'' tanya nya bodoh.


Aia menahan tawa. Tidak mungkin ia menertawakan sang bos, takut dipecat.


''Itu tespeck, Pak. Alat untuk mengetes kehamilan.''


''Aduh...'' keluh Ayu menghentikan Angga yang hampir bicara.


Seketika tespeck itu terlempar entah ke mana Angga tak peduli, yang penting saat ini adalah kesehatan Ayu yang sedikit memburuk, baginya.


''Kamu gak papa, Sayang? Apa kita harus ke rumah sakit?'' tanya Angga bertubi-tubi.


Ayu menggeleng. Memijat pelipisnya yang masih terasa nyut-nyutan. Seolah ruangan itu sedikit redup. Entah matanya yang rabun atau memang lampunya, ia pun masih bingung.


''Aku kenapa ya Mas, kok akhir-akhir ini pusing banget, apa mungkin kurang darah?'' tanya Ayu menebak.


Angga teringat benda yang beberapa saat di jatuhkan tadi. Terpaksa ia turun dari ranjang untuk memungutnya. Ais memilih keluar membiarkan mereka berdua untuk memecahkan teka-teki.


''Katanya semua normal. Tadi dokter memberikan ini.'' Menunjukkan pada Ayu.


''Tespeck?'' Kini Ayu baru sadar bahwa sudah dua bulan ia tak datang bulan. Mungkinkah dirinya tengah hamil? Atau itu hanya kebetulan saja.


''Katanya lebih akurat jika dipakai bangun tidur, tapi kalau mau dipakai sekarang juga gak papa,'' ucap Angga mengikuti ucapan dokter tadi.


Ayu tersenyum, mengusap rahang kokoh sang suami yang ditumbuhi jambang halus.


''Kamu sendiri yang bilang kalau tanpa anak akan tetap bahagia, jadi jangan kecewa kalau hasilnya negatif,'' ucap Ayu antisipasi, ia takut mengecewakan Angga yang nampak penuh harap.


Angga mengangguk setuju, itulah janjinya dan tidak akan diingkari, hanya saja sedikit berharap mendapatkan keturunan.


Ayu bangkit dan berjalan ke kamar mandi dengan bantuan Angga. Berjalan sedikit pelan karena masih terasa sedikit pusing. Tak hanya mengantar, Angga pun membantu Ayu. Mengambil gelas plastik dan juga menemaninya layaknya anak kecil. Sedikitpun tak ingin melewatkan momen tersebut. Meski belum sepenuhnya yakin akan positif, namun Angga tetap bahagia.


Lima belas menit Ayu kembali mendekati alat yang ada di dalam gelas. Akan tetapi, tangannya yang mengulur ditahan oleh Angga


''Tiga puluh menit saja, mungkin hasilnya akan lebih akurat.''


Ayu hanya terkekeh, entah bagaimana jalan pikiran suaminya tentang cara kerja tespeck.

__ADS_1


.


__ADS_2