Janda Tangguh

Janda Tangguh
Masa depan


__ADS_3

Angga masuk ke ruangannya. Memastikan bahwa gedung itu benar-benar aman dari wartawan. Sedikit saja kecolongan maka akan berakibat fatal dan pasti Ayu marah besar padanya. 


"Kamu ke ruanganku sekarang!" suruh Angga pada Riska melalui sambungan telepon. 


"Baik, Pak." Riska bergegas keluar dari ruangannya menuju ruangan sang bos. 


"Permisi, Pak. Sebelumnya saya ucapkan selamat datang kembali. Saya bangga dengan keberhasilan Bapak. Semoga kedepannya lebih sukses lagi."


"Terima Kasih. Kamu periksa di luar, apa masih ada wartawan atau tidak." Angga mengucap dengan hati-hati.


Riska tak bertanya lagi, ia langsung keluar memenuhi perintah pria tersebut. 


Sedangkan Angga sendiri, ia menghubungi Tuan Louis dan menyuruhnya untuk menunggu sebentar, karena setelah ini ada pertemuan khusus antara dirinya dan pria itu untuk jamuan makan siang. 


Tak lama kemudian, Riska melapor bahwa keadaan kantor sudah aman. Semua wartawan pergi dari tempat itu.


''Baiklah, sekarang kamu selesaikan pekerjaanmu. Nanti siang datang ke rumah, karena kita ada acara makan siang dengan klien dari luar negeri.'' 


Angga keluar dari ruangan. Tetap dengan kehati-hatiannya, ia menuju ruangan dimana Ayu berada. 


"Sayang, sini!" ucap Angga dari arah luar sembari melambaikan tangannya ke arah Ayu. 


Bibirnya terus mengulum senyum melihat ekspresi datar wanita itu. 


''Jangan marah-marah, nanti aku sebarkan ke sosmed kalau kamu adalah calon istriku,'' ancam Angga dengan suara lembut, namun membuat Ayu kesal. 


Tidak seperti saat masuk, saat ini mereka terlihat blak-blakan pada semua karyawan kantor. Berjalan saling bersejajar dengan diselingi canda kecil. 


"Tapi untuk kali ini kita tidak bisa menghindar lagi." Angga menghentikan langkahnya diikuti Ayu. 


"Aku akan tetap memperkenalkanmu pada Tuan Louis. Dia sangat ingin mengenal calon istriku," ucap Angga serius. 


Ayu mengangguk setuju. Mungkin itu lebih baik daripada harus membuat Angga mencari alasan lain. 


"Nanti rencananya aku akan mengajak Tuan Louis singgah di rumah kita yang baru, dia pengen makanan lokal, aku akan meminta bibi untuk memasak."


Angga membuka pintu mobil untuk Ayu. 


"Gak usah, aku saja yang masak. Sekarang kita belanja sambil nungguin Adiba dan Alifa pulang." Dengan senang hati Ayu akan menunjukkan keahliannya yang juga pintar di bidang kuliner. 


Mereka langsung ke supermarket untuk membeli bahan makanan. 


"Menurut kamu apa makanan kesukaan Tuan Louis, Mas?" tanya Ayu mengambil beberapa minuman kaleng di rak. 

__ADS_1


"Kurang tahu sih. Kami biasanya makan steak. Aku juga jarang makan dengan dia." Angga ikut membantu Ayu mengambil bahan yang dibutuhkan. 


Layaknya suami istri, Angga mendorong troli sedangkan ayu memilih belanja yang dibutuhkan. Bahkan, mereka menjadi pusat perhatian saat Angga terus menggoda Ayu dengan gombalan nya. 


''Malu didengar orang." Ayu menepuk lengan Angga. Wajahnya pun tampak merona. Terlebih mengingat ucapannya tadi saat di depan semua orang. Dadanya terus berdebar-debar layaknya jatuh cinta pada pandangan pertama. 


''Kenapa harus malu sih?'' tegur Angga tersenyum menggelitik. Setiap kali bersama Ayu jiwa serius nya pasti akan lenyap dan digantikan dengan lawaknya. 


Angga membayar belanjaan nya kemudian menyuruh karyawan toko untuk membawa barang-barangnya ke mobil. Saat mereka keluar, tanpa sengaja bertemu dengan Ikram yang baru turun dari mobil. 


Berbeda dengan Ayu yang nampak kaku, Ikram tersenyum dan membungkuk ramah. 


Menghampiri Angga dan Ayu yang berdiri tak jauh darinya. 


"Selamat atas keberhasilannya, Pak. Saya salut dengan, Anda," ucap Ikram mengulurkan tangannya ke arah Angga. 


Ayu memilih untuk pergi menghindari mereka berdua. 


"Terima kasih." Angga menerima uluran tangan itu. Matanya fokus pada perubahan wajah Ayu yang mendadak merengut. 


"Mas cepetan! Keburu Alifa dan Adiba pulang," teriak Ayu menggagalkan Ikram yang hampir berbicara. 


Angga mengangguk dan bergegas pergi. Dari sikap mantan suami istri itu, ia tahu ada sesuatu yang ganjil di antara mereka. 


Angga langsung masuk ke mobil setelah menutup bagasi. 


Di tengah perjalanan, Angga menoleh ke arah Ayu yang nampak melamun.


''Kenapa? Apa kamu dan Ikram masih ada masalah?" tanya Angga dengan suara pelan. 


Ayu menghela nafas berat. Setiap kali mengingat permintaan Ikram yang  mengajaknya rujuk membuatnya benci pada pria tersebut. 


Aku harus cerita pada mas Angga. Sebelum nantinya dia salah paham. 


''Tapi kamu jangan marah ya, Mas?" pinta Ayu sebelum menjawab pertanyaan Angga. 


''Kenapa harus marah?" Angga memasang telinganya dan siap mendengarkan cerita dari calon istrinya itu. 


''Sebenarnya mas Ikram bercerai dengan Rani,'' ungkap Ayu sedikit ragu. ''Dan mas Ikram ngajak aku rujuk lagi,'' lanjutnya. 


''Kamu mau?" tanya Angga pura-pura ketus. 


Ayu menggeleng cepat. ''Lagipula aku dan dia sudah talak tiga, itu artinya gak bisa menikah lagi, kecuali aku menikah dengan orang lain, baru __" 

__ADS_1


Ayu menghentikan ucapannya saat melihat Angga manggut-manggut.


''Bukan gitu, Mas. Aku cuma menjelaskan seperti apa yang kamu mau," ucap Ayu dengan rasa bersalahnya karena sudah menyinggung perasaan Angga. 


"Tapi kamu tidak ada niat seperti itu, kan?" tanya Angga menyelidik. 


Ayu menggeleng lagi. 


"Untuk apa? Itu hanya akan mengulang masa lalu yang buruk, sedangkan ada masa depan yang cerah di depanku.'' 


Bak tersiram air es, sekujur tubuh Angga terasa dingin seketika. "Aku butuh penghangat, Sayang." Angga menghentikan mobilnya. Sebab, tanpa terasa mereka sudah tiba di rumah masa depannya. 


''Kamu berdiri saja di bawah terik, nanti juga hangat." Secepat kilat Ayu membuka pintu mobil dan keluar, takut dengan Angga yang hampir menggigit nya. 


Tak lama mereka masuk, Bu Winda dan dua asisten rumah tangga datang disusul ketiga anak Ayu yang baru pulang sekolah. 


"Ini rumah siapa, Pa?" tanya Hanan menyusuri setiap sudut ruangan yang nampak luas dan mewah. Adiba dan Alifa langsung memeluk Angga dan duduk di pangkuan pria itu. 


''Rumah kita, Nak. Setelah papa dan mama menikah nanti kita semua akan tinggal di sini.'' Angga menjelaskan. 


Bu Winda tak menyangka, tanpa sepengetahuannya ternyata Angga sudah memiliki rumah idaman seperti yang diimpikan. 


"Wah, ternyata papa sudah menyiapkan rumah untuk mama?" 


Angga hanya menanggapinya dengan senyuman. 


''Hanan cepetan ganti baju! Bantu adik-adik juga,'' teriak Ayu dari arah belakang menghentikan Angga yang hampir menyentuh guci. 


Hanan melambaikan tangannya ke arah kedua adiknya lalu ke kamar diikuti Angga yang akan membantu mereka untuk mengganti baju. 


''Masak apa saja, Yu?" tanya Bu Winda menghampiri Ayu yang mulai sibuk bergulat dengan bumbu dapur. 


''Masak serba ikan laut, Tante. Kata mas Angga tuan Louis minta makanan lokal, dan semoga saja dia menyukai masakanku." 


Bu Winda menepuk bahu Ayu lalu berdiri di samping wanita itu. 


''Jangan tunda lagi, kamu dan Angga sudah sama-sama dewasa. Apalagi yang kamu tunggu, cepat menikah.'' 


Ayu menundukkan kepala dan tersenyum paksa. 


''Bagaimana kalau saya tidak bisa memberi cucu untuk, Tante?" tanya Ayu memastikan. 


Sebab, selain mereka beda umur dan status, Ayu juga takut tidak bisa memberi anak untuk Angga. Dan itu pasti akan membuat pria itu kecewa. 

__ADS_1


''Kita sudah punya Hanan, Alifa dan Adiba. Jadi kamu gak usah memikirkan apapun," sahut Amgga yang berdiri di mabang pintu. 


Baginya, ketiga anak itu sudah cukup. Namun, akan lebih bahagia jika Allah masih memberinya amanah. 


__ADS_2