
Elisa mendekati om Surya dan tante Siwi yang ada di ruang makan. Mereka mempersilahkan Elisa untuk segera duduk dan bergabung.
''Tadi aku sudah makan di rumah tante Winda, Om," jawab Elisa berdiri di samping om Surya. Ia semakin mendekat mengikus jarak antara keduanya.
''Ada apa? Apa kamu minta sesuatu?'' tanya om Surya di sela-sela makannya.
''Tante Siwi ikut menatap Elisa dengan tatapan Intens. Tidak biasanya gadis itu pulang kerja langsung menyusul mereka.
''Mungkin Elisa mau bilang kalau dia sudah punya cowok?'' goda tante Siwi.
Elisa menggeleng cepat. ''Bukan itu tante.''
''Lalu apa? Tidak biasanya loh kamu menyusul kami ke sini?''
Elisa masih tersenyum penuh teka-teki. ''Ini tentang ka Ayu Lestari.''
Seketika om Surya tersedak makanan yang hampir masuk ke kerongkongannya. Kedua bola matanya membulat sempurna seakan ingin lepas. Begitu juga dengan tanpa Siwi yang nampak tercengang dengan nama yang disebut Elisa.
''Ayu Lestari?'' ulangnya dengan nada gugup.
''Iya Tante, tadi aku bertemu dengan Kak Ayu Lestari. Katanya dia anaknya om Haidar sama tante Rengganis. Tapi kenapa nakanya nggak ada di buku besar?'' tanya Elisa polos. Ia pun ingin tahu penyebab dari semua itu, sebab Ayu tak mau menceritakan masalah yang menimpa keluarga mereka sebelumnya.
''Di mana kamu bertemu dengan dia?'' Om Surya minum segelas air putih hingga kandas.
Dadanya terasa sesak. Rasa sesal menyelimutinya teringat tangisan anak kecil kala itu membuatnya tenggelam dalam sebuah kesalahan besar.
''Ternyata kak Ayu adalah calon istrinya kak Angga,'' terang Elisa
''Apa?'' pekik om Surya semakin tak percaya.
Aku nggak mau pisah dengan Elisa, Om. Papa mama jangan pergi. Aku ingin tinggal di sini bersama Elisa.
Rengekan itu terngiang-ngiang menghiasi telinga om Surya. Mengingat betapa jahatnya dulu, dan kini semua hanya tinggal sebuah penyesalan.
__ADS_1
''Apa kamu tahu di mana rumahnya Ayu?'' tanya om Surya dengan suara lemah. Seolah tak ada sedikit semangat pun yang menyelimuti.
Elisa meletakkan kertas di atas meja kemudian diambil oleh om Surya dan dibacanya.
''Kamu yakin ini alamatnya?'' tanya om Surya memastikan.
''Aku juga belum datang sih, Om. Tapi itu dari kak Ayu sendiri. Tadinya aku mau ikut, tapi sudah terlalu malam. Dan aku bilang pada dia besok-besok aja.''
Menghela napas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan.
''Aku akan ke sana sekarang.'' Berdiri dari duduknya.
''Aku ikut,'' ucap tante Siwi mengekori om Surya dari belakang.
Elisa pun mengikuti mereka berharap malam ini ia bisa bertemu dengan Ayu lagi serta anak-anak mereka yang belum ia kenal.
Mobil melaju begitu kencang menembus kegelapan malam. Hitam pekat menyelimuti benturan masa lalu yang begitu pahit menyesakkan dada membuat om Surya pasrah karena kehilangan arah.
''Jangan terlalu dipikirkan, Pa. Itu hanya masa lalu. Sekarang fokus saja sama Ayu dan anak-anaknya. Aku yakin dia pasti akan memaafkan kamu kok,'' ucap tante Siwi menenangkan. Berharap suaminya tidak terlalu larut dalam penyesalan yang menggebu-gebu.
''Jangan diungkit-ungkit lagi, itu kan hanya masa lalu. Sudahlah, aku yakin keadaan akan membaik seperti yang kita inginkan,'' sergah tante Siwi.
Om Surya menghentikan mobilnya di tepi jalan raya. Membaca lagi alamat yang tertera, sedangkan Elisa menghubungi nomor Ayu dan menanyakan alamat yang pasti tanpa menyebutkan bahwa saat ini ia bersama dengan om Surya.
''Ini sudah malam loh. Kamu nggak usah ke sini, besok kan bisa." Ayu terbangun lagi dari tidurnya. Berharap Elisa tidak datang malam-malam.
''Aku cuma mau tahu aja, Kak. di mana alamatnya?'' tanya Elisa menekankan.
''Tadi kan aku sudah catat. Pokoknya nanti kalau ada tugu langsung masuk saja, tapi kalau mobil nggak bisa masuk. Kamu jalan kaki, aku tunggu di depan,'' terang Ayu.
''Oke, Kak.'' Elisa memutus sambungannya kemudian mengatakan pada om Surya bahwa ia berada di tempat yang benar.
''Di mana rumahnya?" tanya om Surya sembari membuka pintu mobil.
__ADS_1
''Kata kak Ayu masuk aja Om, dia akan nungguin di depan rumah."
Mereka berjalan saling beriringan. terdapat lampu penerangan jalan yang tak terlalu terang. Menoleh ke arah kanan kiri.
''Itu kak Ayu.'' Elisa menunjuk Ayu yang sudah berdiri di depan pagar.
Om Surya menghentikan langkahnya. Yang ia tahu dulu wanita yang berdiri tak jauh darinya itu adalah anak kecil yang sering merengek dan meminta uang jajan, namun sekarang berubah menjadi wanita yang dewasa yang cantik jelita. Penampilannya sungguh luar biasa, bahkan dari sekian keluarganya hanya Ayu yang memakai hijab seperti keinginan eyangnya.
Mata om Surya berkaca-kaca saat Ayu mendekatinya. Ia tak bisa berkata apa-apa, lidahnya terlalu kelu untuk mengucap. Sekujur tubuhnya membeku dan tak bisa digerakkan.
''Om Surya,'' sapa Ayu dengan bibir bergetar. Kakinya pun ikut terasa berat untuk melangkah, takut kehadirannya ditolak seperti waktu kecil
Mereka saling berhenti dengan jarak satu meter. Hening, tidak ada yang bersuara, tidak ada pula yang bergerak. Tante Siwi menatap manik mata Ayu yang persis dengan kakaknya. Ayu Lestari adalah gambaran Rengganis.
''Apa kamu tidak mau memeluk Om, Yu?'' Om Surya merentangkan kedua tangannya pertanda siap untuk memeluk sang keponakan. Ayu menangis bahagia dengan penuturan itu. Sebuah pelukan dari keluarga yang pernah ia dapat berpuluh-puluh tahun kini ia dapatkan lagi dari om Surya.
''Maafkan Om, Yu. Karena selama ini om hanya mengurus keluarga yang ada,'' papar om Surya dengan rasa bersalahnya.
''Aku juga nggak pernah mencari jati diri keluarga aku, Om. Aku tahu masih banyak keluarga. Karena saat menikah sudah tidak ada wali, jadi aku tidak mencari siapapun. Aku pikir menjalani kehidupan baru akan lebih baik daripada harus mengulang masa lalu seperti dulu. Tapi ternyata aku salah, keluarga adalah satu-satunya tempat untuk kita kembali. Sampai kapanpun dan sejauh apapun jarak memisahkan, ikatan tidak akan pernah putus. Om adalah Ayahku, dan aku adalah anak Om.''
Ayu beralih berdiri di depan tante Siwi lalu memeluk wanita itu seperti ia memeluk om Surya.
Karena sudah terlalu malam om Surya dan tante Siwi juga Elisa tidak bisa melihat ketika anak Ayu bermain. Mereka hanya bisa memandangi saat mereka tidur di atas pembaringan.
''Sejak kapan kamu tinggal di sini?'' Mata om Surya menyusuri setiap sudut ruangan yang nampak sempit dan buruk.
''Satu tahun lebih, Om. Semenjak aku tercerai dari Mas Ikram.
"Apa dia __" Ayu menggenggam tangan om Surya. Menghentikan pembicaraan pria itu. Ia tidak ingin membahasnya lagi dan akan menjalani kehidupan yang baru.
''Terima kasih karena Om dan Tante sudah mau datang ke tempatku.'' Ayu mengukir senyum.
''Kamu tinggal di rumah om saja, lebih nyaman dan luas,'' ajak om Surya.
__ADS_1
Ayu menggeleng, karena bukan hanya om Surya yang menawari seperti itu, tapi Angga juga. Akan tetapi, Ayu tetap kekeh pada pendiriannya. Ingin mandiri dan hidup di rumah itu sampai ia bisa membeli rumah sendiri.