
Senyum merekah menghiasi bibir Angga yang baru turun dari mobil. Ia melepas jas dan memberikannya pad ART yang menyambutnya. Kemudian menghampiri Ayu yang ada di taman bersama tiga anaknya. Terlihat kompak dengan penuh canda.
''Gak ada yang menyambut papa?'' ujar Angga berdiri sedikit jauh dari mereka bermain.
Ayu segera menoleh dan beranjak. Berjalan mendekati sang suami yang nampak merentangkan tangannya.
''Aku gak dengar mobil kamu, aku kira belum pulang.'' Mencium punggung tangan Angga seperti yang lakukan setiap hari.
Anak-anak pun melakukan hal yang sama.
''Iya, aku baru ganti mobil, bosan sama yang lama,'' ujar Angga merangkul Ayu dan kembali duduk di kursi yang ada di tengah taman.
''Tapi kalau istri, lama pun gak ada bosannya, kan?'' sindir Ayu serius.
Angga mengerutkan alis, mencubit dagu Ayu dengan lembut lalu mengecup nya saat anak-anak menghadap ke arah kolam ikan.
''Aku gak akan bosan, sampai rambut ku memutih dan kulit kita keriput, hanya kamu yang ada di hatiku, Sayang.'' Mencari kesempatan dalam kesempitan. Mencuri ciuman saat anak-anak pergi ke belakang.
Itulah yang ingin Ayu dengarkan setiap hari. Terkadang ia pun takut ditinggalkan oleh Angga yang lebih muda darinya. Meskipun kemungkinannya sangat kecil tetap saja rasa takut itu ada.
''Bagaimana pertemuan dengan istrinya pak Danu?'' tanya Angga mengalihkan pembahasan.
''Lancar, semua teman mbak Mirna itu baik, tapi mereka suka memamerkan kekayaan. Aku gak terlalu suka,'' ucap Ayu sinis mengingat tadi orang-orang saling menunjukkan perhiasannya masing-masing. Sedangkan ia dan Mirna hanya menjadi penonton.
''Biarin aja, itu urusan mereka. Yang penting istriku bukan bagian dari orang yang seperti itu. Bagaimana kabar anak kita?'' Lagi, Angga pun tak lupa menanyakan kabar anak-anaknya yang masih di dalam perut.
''Alhamdulillah hari ini lumayan baik. Tadi sempat mual, dan akhirnya reda setelah aku pulang dari cafe,'' terang Ayu.
Angga yang selalu possesif memang ingin mendengar setiap kejadian demi kejadian yang dialami Ayu. Memastikan bahwa istri dan ana-anaknya baik-baik saja.
Ponsel berdering. Ternyata bu Winda yang menelpon.
''Ada apa, Ma?'' tanya Angga serius.
Terdengar tawa kecil dari seberang sana. Sepertinya sang mama tidak sendirian.
''Ini Erlina mau dilamar. Kamu dan Ayu disuruh datang kerumah om Surya nanti malam. Ada yang mau dikatakan sama kalian,'' ucap bu Winda dari balik telepon.
__ADS_1
''Siapa yang melamar nya, Ma?'' tanya Angga balik.
''Mama belum tahu pasti, tapi kata mereka orangnya baik kok, datang saja. Mama tunggu di rumah tante Siwi, gak usah jemput.''
Angga memutus sambungan nya. Menatap Ayu dengan lekat. Menikmati setiap jengkal wajah cantik itu yang membuatnya lupa akan segalanya. Mengalihkan dunia hingga hanya gambar lope lope yang terlihat.
''Maaf, Mas. ini di luar.'' Ayu menahan bibir Angga yang hampir mendarat di pipinya. Malu jika sampai anak-anak atau yang lainnya melihat aksi mereka.
''Kalau begitu kita pindah ke kamar. Kamu gak lihat ada sesuatu yang minta jatah?'' bisik Angga menyeringai.
Ayu menatap ke arah bawah, di mana senjata itu nampak menonjol dan siap bertempur.
''Gak ah, bentar lagi maghrib takut terlambat.'' Ayu berdiri dari duduk nya dengan wajah yang sudah merah merona. Sedangkan Angga hanya sisa menelan sedikit kekecewaan saat punggung sang istri mulai menjauh.
''Boy, kamu kenapa sih selalu bangun. Padahal mangsanya masih memakai baju tertutup. Kamu harus ingat tempat dan siatuasi, boy.'' Merutuki adik kecilnya yang sudah menuntut minta jatah.
Ayu hanya bisa tertawa menggelitik melihat sang suami yang nampak komat-kamit kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selain menjadi keluarga, Angga pun harus memastikan calon suami Erlina adalah orang baik, cukup Melati yang pernah kecolongan karena waktu itu ia berada di Jerman, dan tak bisa menilai pria yang menikah dengan sepupunya.
''Selamat datang keponakan om yang paling tampan.'' Om Surya memeluk Angga dan menepuk punggungnya.
Ayu pun langsung menemui tante Siwi yang sibuk menghidangkan makanan di meja makan.
''Malam, Yu. Gimana kandungannya sehat, kan? Rewel gak?'' Tante Siwi menarik kursi dan mempersilahkan Ayu duduk.
''Baik, Tante. Akhir-akhir ini juga sudah normal makannya, hanya saja terkadang sering merasa kram.'' Ayu mengucap pelan, takut Angga mendengar karena ia masih menyembunyikannya dari pria tersebut.
''Sudah periksa?'' tanya Siwi lagi.
Ayu mengangguk tanpa suara. Melirik lagi ke arah suaminya yang nampak ramah menyongsong tamunya yang baru datang.
''Jadi kamu calon suaminya Erlina?'' tanya Angga memastikan.
Pria tampan yang duduk di depan Angga itu pun mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Dilihat dari tampilannya yang memakai jas bermerek serta jam tangan mahal seperti nya pun orang berkelas, namun Angga belum mengenalnya.
''Kerja di mana?'' tanya Angga memastikan.
''Di perusahaan berlian, tapi hanya sebagai HRD, Mas,'' jawab pria itu nampak malu-malu.
''Itu sudah sangat bagus, saya hargai kamu. Keluarga kami tidak peduli dengan itu, yang penting kamu setia dan bisa membahagiakan Erlina.''
Om Surya terdiam mengikuti pendapat Angga.
Erlina yang mengintip di balik dinding hanya bisa menahan air matanya yang hampir luruh mendengar ucapan Angga. Tak menyangka, pria itu langsung menyetujui meskipun calon suaminya tak kaya seperti dirinya.
''Namanya siapa?'' tanya Angga melanjutkan. Seolah mengintimidasi yang membuat tersangka gemetar.
''Teguh, Mas,'' jawabnya lagi.
Seorang wanita yang dari tadi duduk di samping Teguh pun hanya diam saja mendengar obrolan kecil mereka yang tak dimengerti.
''Baiklah, malam ini aku sebagai kakak tertua dan om Surya sebagai paman, menerima lamaranmu. Kami tidak akan menuntut apapun kecuali kesetiaan.''
Teguh mengangguk lalu memeluk wanita yang ada di sampingnya.
''Bu de seneng banget, akhirnya kamu menemukan wanita yang kamu cintai.'' Teguh mengusap air matanya yang berhasil lolos. Kini ia sudah tak sabar ingin segera meresmikan ke jenjang yang terakhir, yaitu di depan penghulu.
''Kamu senang?'' tanya Ayu mengejutkan Erlina yang masih berdiri di belakang ruang tamu.
Gadis itu mengangguk. Di usianya yang menginjak tiga puluh tahun, tentu saja terkadang gelisah belum menemukan jodohnya. Namun, malam ini ia bahagia menemukan lelaki tulus yang mau menerimanya.
''Semoga hubungan kamu dan dia diberi kelancaran sampai hari pernikahan tiba.''
''Aamiin...''
''Kalau menurut saya lebih cepat akan lebih baik, toh kamu dan Erlina sudah sama-sama dewasa. Urusan pesta dan persiapan biar saya yang tanggung,'' papar Angga menjelaskan.
Ia pun tak mau mengulur waktu dengan hubungan mereka yang belum halal.
''Baiklah, saya akan menikahinya bulan depan,'' jawab Teguh yakin.
__ADS_1