
Entah alasan apa yang akan dibuat Hanan, saat ini ia berada dalam fase yang sangat membingungkan. Antara jujur dan membuat Ayu marah serta mendapat hukuman, atau berbohong tentang kejadian tadi pagi. Sungguh, tak menyangka ia melakukan hal itu. Padahal, sudah berjanji tidak akan pergi dengan Chika kecuali ada hal yang penting, namun nyatanya tetap saja melanggarnya.
Bagaimana kalau mama datang ke sini?
Melihat jam yang menggantung di dinding. Berharap jarumnya berputar lebih cepat hingga pagi menyapanya lagi.
Tok tok tok
Bunyi ketukan pintu dari luar. Hanan hanya menatapnya saja. Jantungnya berdegup kencang bak lari maraton.
''Ah, itu pasti oma.'' Meyakinkan dirinya sendiri.
Perlahan, Hanan menyibak selimut yang sudah menghangatkan tubuhnya semenjak dua jam yang lalu. Masih dipenuhi keraguan ia mengayunkan kakinya mendekati pintu yang terkunci.
''Tapi bagaimana kalau ini mama?''
Menurunkan tangannya yang hampir menyentuh knop.
Dalam hati terus berdoa bahwa sosok yang ada di balik pintu itu adalah bu Winda, bukan Ayu.
Apapun yang terjadi aku harus menghadapinya.
Hanan membuka pintu, mengusir rasa takut yang membuat nya tak tenang.
Bernapas dengan lega. Ternyata yang mengetuk pintu adalah bibi.
''Aden ditunggu nyonya di ruang makan,'' ucap bibi ramah.
Hanan mengangguk. Ia keluar memenuhi panggilan itu. Seharusnya malam ini makan malam dengan keluarganya. Di sisi kiri dan kanan ada kedua adiknya lalu di kursi depan ada papa, sedangkan di depannya ada Ayu, namun terasa aneh saat hanya bisa menatap bu Winda seorang.
''Tadi siang kamu gak makan. Sekarang makan yang banyak.'' Bu Winda menyiapkan sepiring nasi lengkap dengan lauk kesukaan Hanan.
''Baik, Oma,'' jawab Hanan tegang.
Ia mulia menyuap makanan ke dalam mulut. Melupakan sejenak masalah yang menimpa. Tanpa terasa hampir setengah ia habiskan.
''Tadi mama mu nelpon,'' ucap bu Winda.
Seketika Hanan tersedak makanan yang hampir masuk ke kerongkongannya. Bu Winda segera memberikan segelas air putih.
''Pelan-pelan, gak ada yang minta,'' tegur nya serius.
Membantu Hanan mengambil tisu. Lantas, kembali duduk di tempat semula. Menatap snag cucu dengan tatapan curiga. Seolah memang ada yang dipendam lelaki itu.
''Kalau ada masalah jangan dipendam sendiri, ceritakan sama oma,'' kata bu Einda sambil mengunyah makanannya.
''Gak gak ada kok Oma.'' Hanan mengucap dengan gugup. Keringat dingin bercucuran membasahi wajahnya yang membuat bu Winda semakin curiga tingkat tinggi.
__ADS_1
''Besok kamu pulang atau menginap disini lagi?'' Bu winda memecahkan keheningan.
''Pulang, Oma,'' jawab Hanan singkat.
Sebab, ia harus ganti seragam, sementara di rumah bu Winda satupun tidak ada seragamnya yang tertinggal.
Ketakutan macam apa ini? Aku laki-laki, tidak seharusnya aku takut sama mama. Aku harus menghadapinya, ya aku memang bersalah dan tidak sepatutnya menghindar. Ini hanya akan membuat keadaan semakin rumit.
Hanan mengusir ssgala ketakutannya. Harus berani menghadapi semua yang diciptakan sendiri. Meskipun ia tahu resikonya sangat besar.
Dalam beberapa jam, Hanan bisa terlelap dengan tenang, bahkan ia sempat bermimpi indah sebelum dering ponsel itu membuyarkan tidurnya.
''Siapa sih, pagi-pagi gini menelpon?'' gerutunya.
Tangannya mengulur meraih benda pipih yang diletakkan di nakas. Menggeser dengan asal, karena sudah hafal letak lencana untuk menerima.
''Halo,'' ucap Hanan mengawali pembicaraan.
Tidak ada jawaban dari seberang sana.
Hanan merasa orang yang menghubunginya kali ini juga bangun tidur sama sepertinya. Ah, ini sangat mengganggu sekali.
''Siapa ini?'' imbuhnya memastikan. Masih sama, tidak ada jawaban atas pertanyaan singkatnya.
Terpaksa Hanan membuka matanya yang masih terasa berat, kemudian menatap nama yang tertera di layar.
''Mama,'' ucapnya lirih.
''Waalaikumsalam,'' jawab Ayu datar.
''Maaf, Ma. Aku baru bangun.'' Hanan turun dari ranjang.
''Mama gak tanya,'' cetus Ayu masih bernada datar.
Bau kemarahan sudah tercium. Meskipun hanya melalui ponsel Hanan tahu jika mamanya sedang marah.
''Sebentar lagi aku pulang, Ma.'' Hanan mematikan teleponnya dengan cepat. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Meminta pada Dzat yang selalu memberi jalan terang pada orang-orang tersesat seperti dirinya saat ini, yang terperosok dalam kebohongan.
Hanan turun dari motornya. Kakinya melangkah enggan menghampiri bibi.
''Mama masih ada, Bi?'' tanya Hanan memastikan.
''Masih, Den,'' jawab bibi yakin.
Padahal, tadi aku sengaja lama, tapi kenapa mama belum berangkat kerja.
Hanan menghembuskan napas pelan. Membuang jauh rasa takut sebelum ia masuk.
__ADS_1
Nampak Ayu dan Angga berada di ruang tengah, sudah diprediksi mereka sedang membicarakan tentang Hanan yang semalam tak pulang juga tidak izin.
''Pagi, Pa, Ma,'' sapa Hanan sopan.
Melepas tas punggungnya lalu bersalaman dengan Angga dan Ayu bergantian.
Suasana terasa berbeda. Pagi yang seharusnya diwarnai dengan keceriaan baru justru berubah mencekam. Seakan ada permusuhan yang tercipta antara ibu dan anak tersebut.
Hanan duduk tanpa disuruh. ''Aku minta maaf, Ma,'' ucapnya mengiringi.
''Untuk apa?'' jawab Ayu ketus. Menambah volume tv saat ada siaran tausiyah yang membahas tentang anak durhaka.
Maka, bagi kalian yang sering berbohong ataupun membuat ibu Kalian marah segeralah bertaubat sebelum ajal menjemput.
Sebuah kebetulan ucapan itu menusuk dada Hanan hingga tembus ke jantung.
Seketika tv langsung padam, hanya ada suara kecil dari arah kamar Alifa yang terdengar.
''Bukan maksudku membohongi Mama,'' ucap Hanan dengan bibir bergetar.
''Lalu apa?'' pekik Ayu yang kehabisan kesabaran.
''Tenang, Sayang. Kamu gak boleh terlalu tegang seperti ini,'' bisik Angga menenangkan.
''Tapi Hanan sudah keterlaluan, Mas. Dia sudah berbohong dan melanggar janjinya sendiri,'' bentak Ayu yang tak bisa mengontrol emosi.
Hanan bersimpuh di depan Ayu. Meraih tangan wanita itu dan menciumnya.
''Aku minta maaf, Ma. Aku janji gak akan mengulanginya lagi.'' Hanan menitihkan air mata.
Ia bisa merasakan apa yang dirasakan Ayu, pasti sangat sedih memiliki anak yang tidak penurut sepertinya.
''Jangan pernah berjanji kalau kamu tidak menepati. Mama butuh bukti dari kamu.'' Menarik tangannya seolah tidak ingin disentuh oleh Hanan.
Hanan mengangguk mengerti. Ia menundukkan kepala, tidak punya nyali untuk sekedar melihat wajah sang mama yang pasti dipenuhi amarah.
''Sekali lagi kamu melakukan kesalahan. Maka, jangan panggil aku mama,'' ucap Ayu dengan tegas lalu pergi.
Entah, dadanya terlalu sesak untuk menampung rasa kesal yang kian merasuk.
Hanan terdiam. Mencerna setiap peringatan dari sang mama.
''Maafkan papa, Hanan. Ini hanya demi kebaikanmu. Papa juga tidak ingin kamu terlalu bebas di luaran sana. Banyak kasus yang membuat papa cemas punya anak remaja.''
Menepuk punggung Hanan dengan pelan.
''Papa harap kamu mengerti.''
__ADS_1
Hanan memeluk sang papa dan mengucapkan terimakasih sudah diingatkan.
Hanan mengangguk lagi. ''Makasih, Pa,'' ucapnya.