
Setelah aksi kejar-kejaran selama tiga puluh menit di pemukiman warga, akhirnya Memet dan kawan-kawannya berhasil dilumpuhkan dengan senjata api. Mereka tak bisa berkutik lagi saat ditembak kakinya, terpaksa karena melawan polisi dan bahkan hampir mencelakai petugas dan Wendi. Pun, tidak ingin mereka lolos lagi dan berulah.
Kini sang asisten bisa pulang dengan membawa kabar baik untuk sang bos. Untuk pertama kalinya ia berhasil menjalankan tugas berat, bahkan lebih berat daripada harus memutuskan kerjasama dengan klien.
"Tapi __" Wendi memutus ucapannya yang belum tuntas.
''Tapi apa?'' Angga bangkit dari ranjang. Meninggalkan Ayu yang masih terlelap.
''Ternyata mereka itu tidak bisa membaca dan menulis, Pak. Saya kasihan,'' ucap Wendi ragu.
Sebenarnya di lapas pun kini bisa belajar apapun, namun tetap saja Wendi ingin Angga yang mengubah mereka menjadi lebih baik.
Bukan hal yang tabu banyak orang seperti itu, namun saat melihat Memet tak bisa membaca namanya sendiri tentu Itu adalah hal yang sangat rumit baginya.
''Kok aku kasihan lihat mereka ya, Pak,'' ucap Wendi menautkan kedua tangannya. Berharap ada jalan lain selain memenjarakan mereka.
''Menurut kamu apa yang tepat untuk ini?'' tanya Angga memastikan.
Wendi meneggelang. Ia bukan pemilik harta ataupun kuasa hingga tak bisa menentukan pilihan seperti Angga yang hanya tinggal menguap saja dan uang muncul.
''Baiklah, besok kita pikirkan lagi. malam ini kamu periksa rumah sebelum pulang, saya akan di sini menemani istri saya,'' ucap Angga menepuk lengan Wendi dan mengucapkan terima kasih.
Pintu ditutup Wendi yang baru keluar, sedangkan Angga langsung duduk di sofa, menatap sang istri yang tampak bergerak.
''Mas,'' panggil Ayu dengan suara pelan.
Angga segera berdiri dan menghampiri sang istri.
''Apa kamu butuh sesuatu, Sayang?' tanya Angga mengusap kening Ayu.
Ayu mengangkat tangannya mengelus rahang kokoh sang suami yang nampak ditumbuhi jambnag halus.
''Tadi sepertinya aku mendengar suara Wendi?'' tanya Ayu menatap pintu yang tertutup rapat.
''Iya, sekarang dia sudah pulang, aku menyuruhnya untuk mengecek rumah,'' ucapnya menjelaskan.
''Mas..." Ayu nampak ragu akan mengatakan sesuatu, namun tak baik jika diam saja.
__ADS_1
''Apa? Katakan saja! Aku gak akan marah kok.'' Angga memberikan ciuman lembut di pipi.
''Tasku hilang, ada beberapa kartu atm dari kamu di tas itu.'' Ayu menunduk. Menghindari pandangan Angga yang nampak menatapnya penuh arti.
''Gak papa, aku sudah blokir semuanya, gak usah takut. Lain kali jangan keluar rumah, kecuali denganku,'' pinta Angga melemah.
Bukan mengekang, namun ia tak ingin kejadian tadi terulang lagi dan akan membahayakan mereka berdua.
''Sekarang tidurlah, aku akan menemanimu.'' Angga mengambil ponsel yang berdering. Ternyata itu panggilan dari Hanan.
Ayu merapikan hijabnya dan duduk bersandar. Tak ingin terlihat lemah didepan putra sulungnya.
''Assalamualaikum, Ma. Kata om Wendi Mama ada di rumah sakit?'' tanya Hanan khawatir. Wajahnya nampak cemas saat mengatakan kabar sang mama.
''Waalaikum salam. Iya, Sayang. Nggak papa kok, besok juga sembuh. Kamu tenang saja,'' ucap Ayu melambaikan tangan dan tersenyum.
''Yakin gak papa? Keadaan adik-adikku gimana?'' tanya Hanan masih dipenuhi kecemasan.
''Dia juga baik-baik saja. Pokoknya kakak tenang saja, mereka akan selalu bersama mama dan akan berjumpa dengan kamu serta adik-adik.'' Ayu melambaikan tangannya lagi ke arah Alifa yang ikut nimbrung.
''Kalian tidur saja, sudah malam. Mama juga ngantuk mau tidur.'' Ayu menggeser layar ponselnya di depan Angga. Menghindari anak-anak saat air mata yang sudah menumpuk di pelupuk itu hampir jatuh.
Hanya lelaki itu yang mampu menjaga adik-adiknya selama ia dan Ayu ada di luar.
Angga mematikan ponselnya lalu duduk di sisi ranjang. Menatap Ayu yang masih sibuk mengusap air mata nya.
''Gak papa, Sayang. Nangis saja, mungkin itu bisa membuatmu lega.'' Angga memeluk Ayu, membiarkan wanita itu menumpahkan air matanya.
''Sayang, aku cuma mau minta pendapat sama kamu, boleh?'' tanya Angga ragu-ragu. Meskipun delapan puluh persen ia tahu jawaban Ayu tetap saja ingin bertanya.
''Tentang apa?'' tanya Ayu mulai tenang.
''Ini tentang orang yang mencopet dompetmu.''
Ayu mengernyitkan dahi. ''Memangnya kenapa dengan dia?'' Ayu terlihat serius menanggapinya.
''Ternyata mereka hanya anak-anak terlantar yang tidak pernah sekolah, dan aku punya rencana akan membangun tempat untuk mereka supaya bisa belajar. Terutama membaca dan menulis. Mungkin ini terdengar terlambat. Tapi aku yakin kedepan nya mereka akan lebih baik,'' ucap Angga panjang lebar.
__ADS_1
Ayu tersenyum mencium pipi Angga dengan lembut.
''Itu niat yang mulia. Lakukan saja!aku akan selalu mendukung. Pakai saja uangku. Aku gak keberatan kok.'' Ayu duduk dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Angga. Menikmati sentuhan hangat yang sangat menenangkan jiwa.
''Makasih ya, Sayang. Kamu memang tahu apa yang aku mau. Tapi aku akan tetap memakai uangku sendiri. Kata Wendi tadi komplotannya ada yang tertembak. Mungkin lusa aku akan mengurus semuanya dan mencabut tuntutan pada mereka.''
Lantunan adzan terdengar merdu. Ayu dan Angga sudah menjalankan kewajibannya seperti biasa. Mereka selalu berjamaah saat bersama. Kemudian menghubungi Hanan untuk membangunkan dia dan adik-adinya, takut mereka melewatkan Shubuh.
''Hari ini aku mau pulang. Bosan di sini.'' Ayu melepas mukena dan melipat nya, sedangkan Angga yang menggulung sajadah dan meletakkan di tempatnya.
''Iya, semalam aku juga sudah bicara dengan dokter. Katanya kamu sudah boleh pulang.'' Angga kembali menghubungi Wendi dan menceritakan rencananya pada pria itu. Ingin secepat mungkin mereka mendapatkan tempat yang layak dan bisa meniti masa depan yang cerah.
''Pagi ini mau sarapan apa, Sayang?'' tanya Angga menunjukkan beberapa menu makanan dari layar ponsel.
''Aku pingin bubur ayam saja, Mas. Kayaknya enak tuh.''
Angga langsung memesan dua porsi bubur ayam tanpa protes dan berpikir panjang. Apapun yang diinginkan Ayu akan dipenuhi selama itu baik untuk tubuhnya.
''Setelah ini kita jalan-jalan dulu atau langsung pulang?'' tanya Angga menawarkan diri, karena ia siap kemanapun menemani sang bidadari.
''Pulang aja, aku pingin istirhat,'' jawba Ayu dari ranjang.
''Ya sudah, tapi swbelum pulang kita periksa kandungan dulu ya, aku takut terjadi apa-apa dengan bayi kita.''
Ayu hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman kecil.
Mereka sarapan bubur ayam yang dibeli melalui online. Karena Ayu bosan dengan makanan rumah sakit yang terasa hambar. Terlebih membuat nya mual jika melihatnya.
Usai mengantarkan Syu pulang, Angga langsung ke kantor polisi bersama dengan Wendi. Ia mengurus tentang empat orang yang ditangkap, namun sebelum memberi keputusan ia pun menghakimi mereka secara terbuka dan lembut.
Disaksikan beberapa polisi dan juga pengacara serta orang-orang penting yang nantinya akan terlibat mengurus mereka.
''Sekarang pilihan ada ditangan kalian. Mau tetap tinggal di sini atau di tempat saya? Tapi kalian harus janji tidak akan mengulanginya lagi dan akan belajar dengan sungguh-sungguh,'' ucap Angga serius.
Dari lubuk terdalam ia pun ingin membangkitkan jiwa pemuda supaya tanah air tetap jaya dan ingin mereka menjadi penerus yang berbakat seperti impian negara.
''Baiklah, kami akan ikut Baak,'' jawab salah satu di antara mereka setelah saling senggol.
__ADS_1
Angga tertawa kemudian berbicara dengan polisi untuk mengurus semuanya.